Numa makan lahap sore itu di ruang makan, berupa nasi dengan lauk ikan bakar dan sayur lodeh. Hesti dan Yuni terlihat memperhatikannya beberapa saat, lalu Hesti membuka percakapan. “Numa, bagaimana dengan pekerjaanmu?” “Lancar.” Perasaan Numa mendadak kurang baik, dia selalu merasa kurang semangat jika mamanya hadir di rumah ini. “Hm, kamu … apa nggak terpikir untuk membuka hati. Molly sudah menikah, mantan kekasihmu juga,” ujar Hesti hati-hati. Numa menghentikan suapannya, melirik Yuni yang terdiam penuh makna, dan Numa mengerti isyarat dari ekspresi wajah Yuni. “Mama mau ngenalin aku sama seseorang?” tanyanya. “Ya, Edric namanya. Dia sebelumnya kuliah di Boston, sekarang bekerja di kantor pemerintahan juga di kementrian perdagangan,” ujar Hesti. Numa mendengus. “Dulu aku juga dijod

