Timo terheran-heran dengan pertanyaan Numa barusan. “Marah gimana?” “Cemburu kalo aku bertemu Daniel tadi.” “Iya dong, jelas aku cemburu.” Timo mendekap pinggang ramping Numa dengan erat. “Kalo aku ada di sana, sudah aku usir dia.” Numa senang melihat kecemburuan Timo, juga nada suara Timo yang menggeram. “Makanya aku langsung mau pulang, dan nggak mau ngobrol lama sama dia. Aku takut dia yang malah nekat.” “Ya, kita yang harus tegas, nggak usah memancing atau terpancing. Seperti yang aku lakukan kepada mamamu yang terus mengharapkan aku—“ “Dan Om yang bikin mama menangis.” “Aku nggak berniat membuatnya sedih, aku hanya ingin dia nggak lagi berharap. Kamu tahu, dia itu orangnya sangat gigih dan keras kemauan. Jadi, aku harus menghentikan harapannya, dan aku yang sudah begitu sayang k

