Timo mau tidak mau menerima tawaran Irfan menggunakan mobilnya untuk mengantar Morgan ke bandara, karena Irfan yang memaksa. Tentu saja dia merasa tidak enak karena Irfan telah banyak membantunya selama ini. Dia pun merasa sangat bersalah, mengingat kembali hubungan rahasianya dengan Numa, bahkan berencana menikahinya Senin ini. Pagi ini Timo sudah siap dan penampilannya yang sangat gagah. Sebagaimana yang sudah direncanakan, setelah sarapan dia menemui Irfan di rumahnya. Baru saja Timo masuk ke dalam ruang tamu, Irfan langsung berdiri dari duduknya, menghampiri Timo. “Ah, Timo. Ck, maaf sekali. Aku ada pertemuan penting di hotel Maritim dua pagi ini juga,” ujar Irfan, yang juga sudah berpakaian sangat rapi. “Nggak apa-apa, Irfan. Aku bisa naik taksi.” “Jangan, Timo. Aku sudah bilang k

