Numa tertegun melihat rumah yang sangat megah dikelilingi pagar tinggi warna putih. Rumah bergaya Eropa dengan taman indah di pekarangan depan yang sangat luas. Dia dengan cepat berpikir bahwa dulunya Timo memiliki kehidupan yang sangat sempurna. Dia sedikit tahu tentang Timo yang memiliki latar belakang keluarga kaya, tapi dijauhi karena diduga berkhianat. Melihat sikap Timo selama ini, dia percaya bahwa Timo hanyalah korban, dan dia yang justru dikhianati. Timo adalah sosok yang pengalah dan pekerja keras. Timo mengangkat ponselnya yang berbunyi. “Aku sudah di depan,” ujarnya setelah mendengar ucapan dari ujung sana. “Nggak, aku bawa mobil Irfan. Aku nggak perlu turun, Astrid. Apa? Ck, baiklah.” Timo lalu beralih ke Numa. “Kamu sebaiknya menunggu di sini saja. Aku harus bertemu Astrid

