Yuni memang sangat pandai mengambil hati Irfan, dia tetap memijat bahu Irfan meskipun Irfan sudah selesai bicara dengan klien pentingnya. Untungnya Yuni menyuruh Irfan tetap mengangkat panggilan klien tersebut, ternyata ada informasi penting terkait proyek yang sedang berjalan di bengkel Irfan. “Apa kataku, jangan sampai terlewatkan panggilan mereka, Mas,” ucap Yuni, yang kini tidak lagi memijat, malah meraba-raba d**a Irfan dari belakang. “Hmmm, aku lapar, tapi sepertinya ada yang lebih lapar,” ujar Irfan dengan maksud tertentu. Yuni tertawa renyah. “Makan dulu, Mas. Nanti malah keliyengan kalo lagi begituan.” “Alah, sok tau kamu, Yun.” Yuni memeluk leher Irfan dari arah belakang, memberi ciuman mesra di pipi Irfan, dan Irfan menoleh ke belakang, membalas ciuman mesra Yuni. “Buka ce

