Timo tahu Numa sangat merindukannya. Dalam beberapa minggu terakhir dia memantau keadaan Numa, mendapat informasi Numa yang kini bekerja di Kementrian Luar Negeri, pekerjaan yang pas buat Numa yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang Hubungan Internasional. Numa pernah bercerita kepadanya tentang impiannya bisa berkeliling dunia, mengenal banyak budaya dari berbagai negara. Keduanya tertawa bahagia setelah cukup lama berpelukan, khususnya Numa yang seolah tidak mau melepas Timo lagi, dia memegang kuat lengan Timo. “Om berubah banget,” ucapnya sambil melap pipinya yang basah karena air mata bahagia. “Makin ganteng atau sebaliknya?” Numa tertawa lepas, “Aku nggak tau—“ “Atau kamu suka aku yang dulu?” Numa menggeleng, lalu menatap Timo dengan perasaan rindu yang mendalam. “Aku s

