Belum selesai dengan masalah fisiknya yang lemah, Timo sudah harus menceraikan Numa. Kepalanya masih terlilit perban saat berucap talak melalui telepon. Ini kedua kalinya dia bercerai di bawah paksaan, dalam keadaan yang sama pula, ketika mertua sedang gila uang. Bedanya, jika sebelumnya Astrid memang menginginkan perceraian, tapi Numa tidak. Timo sangat sedih saat mengingat isak tangis Numa ketika dia talak, sebuah tangisan pasrah dan lelah. Dia mengerti keadaan Numa, seandainya Numa harus menikah dengan pria pilihan Irfan, dia tidak akan mempermasalahkan. Satu hal, dia yang akan tetap mengenang Numa sampai kapanpun. Dan dia senang telah menikah dengan Numa, serta merasakan cinta yang sesungguhnya dari gadis itu. *** Timo benar-benar terpuruk, tidak tahu ke mana arah hidupnya lagi. Tap

