DRAMAQUEEN 08

1817 Words
"Kau, sok-sok minggat dari Kanjeng tapi kenapa larinya ke sini sih,Jel!"  Matias Vella, lelaki jadi-jadian, terlihat macho di luar tapi berjiwa setengah wanita di dalam, teman baik Jelita sejak dulu saat sama-sama meniti karier menjadi seorang makeup artis di Los Angeles sebelum Jelita sukses dengan karier Dj-nya, melirikkan matanya sekian detik ke samping di mana Jelita duduk dengan gaya yang sama dengannya di sofa panjang apartemen yang menghadap langsung ke pemandangan Menara Eiffel melalui dinding kaca. Meluruskan kaki di atas meja dengan kepala mendongak di sandaran sofa, asyik maskeran wajah tengah malam. “Menyusahkan aja!!" Sungutnya kesal, memerengkan bibirnya sekian inci, mencibir. Tangan lentiknya memegang pelan pinggiran wajahnya memastikan maskernya masih aman meskipun saat ini dia sedang kesal. Tiba-tiba saja tidak ada angin atau hujan salju, Jelita datang ke apartemennya saat dia bersiap melakukan ritualnya supaya besok pagi wajahnya halus lagi. "Awas mukamu retak kalau ngomel begitu," balas Jelita cuek. Kepalanya langsung ditoyor dengan tangan gemulai milik Matias. "WOII!!!" Jelita memekik, mengambil kaca di sampingnya memastikan maskernya aman. Sayup-sayup lagu the Beatles menggema dari pemutar musik. Tadinya kegiatan ini akan membuat malam Matias begitu syahdu tapi pengusik hidupnya  tiba-tiba datang tanpa diprediksi.  "Kau pikir ini muka aspal jalan raya, retak!!" "Sekali-sekali beramal-lah. Kalau kau nanti mati, nggak bakalan membawa harta tapi kebaikan-kebaikan kecil seperti ini karena menolong orang yang lagi kesusahan," ucap Jelita sok berceramah. Matias mendengus, "Halah, yang ada kau ngelunjak. Lagian, susah dari mana kalau isi dompetmu yang tebal itu aja jejeran kartu mengkilat yang apa-apa tinggal gesek! Kalau ngomong suka asal ya." Jelita menggoyang-goyangkan kaki di atas meja. "Coba kau ngertiin aku sedikit yang sedang dalam suasana melarikan diri, dari pada buang-buang uang menginap di hotel, ya sudah aku numpang aja semalam di sini." "Yakin hanya menginap semalam?" sindirnya. Kakinya iseng menendang kaki Matias, gemas. Gantian, Matias menarik rambut indahnya. Sejak dulu, dia sangat iri dengan rambut bergelombang milik Jelita yang super badai. Beranda-andai sendiri, kapan dia bisa memiliki rambut semenawan itu walaupun yah, orang-orang yang melihatnya akan shock tujuh turunan. Lelaki berjambang kok ya rambutnya kayak barbie. Keinginan itu hanya sebatas hayalan belaka. Jadi, dulu rambut Jelita sering dia jadikan korban  untuk dia rubah aneka bentuk. Itu salah satu kegiatan Vella, panggilannya di luar sana, yang paling mengasyikan. Hanya Jelita seorang yang masih memanggilnya dengan Matias. Katanya sih, dia akan memanggilnya dengan nama Vella kalau dia sudah memutuskan memakai rok ke mana-mana. Sialan memang!!! Dia masih ingin tampilannya terlihat macho di luaran walaupun kegemulaiannya tidak bisa ditahan lama-lama di dalam dirinya. Entahlah, makhluk apa sebenarnya dia ini? Hanya Tuhan yang tahu. Kalau siang nge-gym, kalau malam rajin luluran dan maskeran. Jelita sering mengatainya dengan manusia jejadian. "Hanya semalam, Matias sayang." Jelita mengerling sedikit. "Maybe." Matias memutar bola matanya. "Aku hanya numpang bobo cantik, numpang makan, numpang mandi, numpang maskeran—" "Kau minggat tapi nyusahin orang!!" desisnya. "Aku cuma nyusahin kau aja kok." Matias mendengus. "Kenapa tiba-tiba bersikap kekanak-kanakan begini?" Lengannya terulur di belakang kepala Jelita dengan santai. "Kanjeng itu sosok Ibu yang perhatian. Kau aja yang nggak bersyukur. Beliau sudah buang malu nyariin kau pandamping yang oke tapi kelakuanmu malah begini. Kalau aku punya anak seperti kau, sudah nggak laku-laku, nyusahin, banyak banget maunya. Ihh, mending aku gadaikan." Jelita mengerucutkan bibirnya maju, tatapan matanya lurus memandangi kerlipan lampu Eiffel. "Awalnya aku hanya minta waktu sebentar untuk menenangkan diri sebelum benar-benar melepas hidupku untuk lelaki itu tapi Tuhan malah memberiku alasan lain untuk berpaling lebih jauh." "Itu sih alasanmu aja yang memang nggak mau dijodohkan dengan pilihan Kanjeng. Jadi perawan tua,kapok!!" Jelita menoleh, "Ih kok doanya jelek gitu. Jangan lah!!!" Jelita mengalihkan tatapannya ke depan. "Cocoknya itu sebutannya kembang perawan. Walaupun belum laku tapi masih bersegel." "Tetap aja mengenaskan ,Jel!!" Jelita mengelus punggung kaki Matias dengan kakinya sendiri yang langsung di tepis menjauh. Sama sekali tidak risih dengan kenyataan kalau Matias masih seorang lelaki. Onderdilnya masih bisa ngembang kalau dipancing dan dia masih doyan d**a melon walaupun yah, dia berubah gemulai kalau sudah mendandani  seseorang. "Aku merasa seperti jalang saat ini," desah Jelita. Matias menaikkan alisnya, memilih memandangi langit-langit apartemen mencoba menikmati alunan Hey, Jude disela curhatan Jelita. "Awalnya aku sama sekali tidak mengharapkan dia menjadi suami masa depanku karena kesempatan itu sama sekali tidak ada. Aku sadar banget dengan hal itu tapi tiba-tiba dia datang lagi dan memberiku sedikit harapan. Jadi, aku mengikuti kata hatiku sekarang. Mengejarnya." Sosok Tama berkelebat di pelupuk matanya. "Dengan bantuan semesta, aku yakin kalau dia memang ditakdirkan untukku.” "Apa kita sedang membicarakan seorang lelaki di sini yang membuat wanita wonder sepertimu menjadi jalang dalam sekejap?" "Lelaki—" desah Jelita. "Seratus persen." Matias memutar bola mata. Sindirannya ih. "Nggak setengah-setengah. Macho dan tampan." "Ya terserah kaulah tapi aku akan membela diri kali ini. For your information, aku memang gemulai tapi hujamanku di atas ranjang sehebat Thor dalam menghantamkan palunya membuat siapapun wanita itu akan melayang ke antariksa—" Jelita reflek menoleh, lalu tawanya menyembur. Lupa maskernya. "BUAHAHAHA!!!" Sialan memang!!! Peduli amat dengan masker yang sudah mulai retak, Matias memeluk  pinggang Jelita dengan kedua lengannya, menarik Jelita mendekat sampai wajah masker mereka berhadapan. Jelita mengerjapkan mata kaget dan reflek mendorongnya kuat ke belakang sampai dia terbalik keluar dari sofa, menghantam lantai apartemènnya sendiri dengan kaki di atas. BRUKK!!! "Awwwww—" erang Matias. Hidung mancungnya melesak, kakinya mengayun-ayun dan dia rebah ke samping, terlentang. "Aduhhh Nyaii. Tidur di luar sana!!!!" Umpatnya di sela rintihannya. "Matias, aku ini lagi curhat serius," desah Jelita yang melipat kakinya di atas sofa. "Kau dengerin dulu dong." Tidak ada niat sama sekali membantu Matias bangun. "Peduli amat Jel!" ucapnya keki, berdiri dengan tangan memegang pinggang dan hidung. Separuh maskernya retak dan sisa-sisanya menempel di jambangnya. Hancur sudah malam syahdunya. Matias rebah lagi di samping Jelita dan meluruskan kaki lalu membersihkan wajahnya dari sisa-sisa maskernya yang menempel. "Takdir itu bullshit. Mungkin kau awalnya berpikir kalau sudah pasti dia jodoh karena kebetulan-kebetulan itu berpihak padamu tapi bisa saja nantinya, kau mendapati kalau takdir itu ternyata malah berbalik menyerang hayalan manismu. Hati-hati!!" "Kau ini ngomong kadang bener tapi kadang ngawur. Heran deh!!" "Ya nggak usah curhat kalau begitu," desisnya. Jelita menarik napas dan menggembungkan pipinya sebelum kembali berbicara. "Aku tahu kalau aku punya kesempatan karena wanita pilihannya tidak peduli padanya. Aku mau dia itu sadar kalau ada wanita lain yang menginginkannya dan mencintainya. Apa aku salah?" Matias mengambil wadah maskernya dan menyerahkannya ke Jelita supaya kembali menambal wajahnya. Jelita mengambil alih dan duduk saling berhadapan dengan tangan memegang kuas, siap mengoles. "Kapan kau bertemu pertama kali dengannya?" "Dua tahun lalu dan BUMM—" Jelita berteriak mengagetkan Matias tepat di depan wajahnya. "Aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Hebat kan!!" "Biasa aja sih, seperti anak ABG yang baru sadar kalau lawan jenisnya menarik. Apa yang membuatmu jatuh untuk pertama kali padanya?" Sapuan tangannya di area bulu-bulu halus Matias di dagu terhenti. "Aku pikir dia sexy." "Just it?" "Lelaki yang sangat menarik hati."  Jelita tersenyum membayangkan sosok Tama di kepalanya. "Oh ayolah Nyai. Just it? Apa kau pikir aku tidak menarik dipandang mata? Hei, biar kadang-kadang aku suka bertingkah seperti perempuan tapi aku ini masih dalam tampilan lelaki yang sexy kalau kamu perhatikan dengan seksama. Lalu apa bedanya aku dengan dia?" "Bedalah!!" Jelita tidak terima. "Kalau dia machonya memang luar dalam hot menggoda." "Apa aku perlu membuktikan?" ucap Matias dengan separuh wajah berbalut masker dengan serius. Sama sekali tidak sexy. "Kau mau aku tendang sampai Antariksa!!" desis Nyai, lalu menggelengkan kepalanya kesal. "Ah nggak tahulah. Aku tidak bisa menjelaskannya." "Kau benar-benar mencintainya?" Jelita terhenyak mendengar pertanyaan itu. "Bukan sebentuk kekaguman atau obsesi semata?" Jelita diam. Matias mengamati. Mereka saling berpandangan. Jelita tidak bisa menjawab. Matias menarik mundur kepalanya dan mengambil alih kuas Jelita juga wadah maskernya dan kaca lalu mengolesinya sendiri. "Kau mengejar lelaki yang kau cintai, itu sama sekali tidak salah tapi kalau itu semata karena alasan lain seperti kagum, terobesesi memilikinya, iri dengan siapa yang dicintai lelaki itu, aku pikir kau harus mundur supaya kau tidak semakin mempermalukan dirimu lebih jauh." Jelita menghempaskan punggungnya dan menghela napas panjang. "Well, aku ada di sini sekarang sama kau sibuk maskeran bukannya ada di dalam hotel lelaki itu yang artinya, maybe, aku tidak punya kesempatan lagi untuk mendekatinya karena aku sudah membiarkannya pergi." "Pasrah aja sudah dijodohkan tapi kalau kau nggak mau sama calon suami pilihan Kanjeng, kau nikah sama aku aja." Jelita menoleh dengan pelototan. Matias dengan cuek duduk santai  lagi dengan masker barunya menutupi permukaan wajahnya. "Aku bisa kasih kau pukulan Thor paling dahsyat supaya nanti kau langsung bunting dan aku punya anak perempuan yang rambutnya bisa aku kepang dan bentuk-bentuk lucu seperti rambutmu." "Ihh, kok aku geli ya dengarnya." Jelita merinding. "Dibuntingin cuma untuk mendapatkan rambut cantikku." Jelita menggelengkan kepalanya. "Terus tiap malam kita bisa maskeran gitu berdua ya. Medicur dan pedicur. Luluran dan spa bareng." Jelita bergidik. "Terus kalau anak itu nanya, kenapa bapaknya bisa berubah feminim, gimana?" Matias menoleh, "Ya bilang aja, bapaknya serba bisa." Lalu tertawa ngikik sendiri. "Sinting!!!" "Makanya kau pikirkan itu baik-baik dan jangan ganggu aku dulu. Ini sudah lewat tengah malam nanti magic-nya hilang.  Besok aku harus tampil bersinar saat demo supaya dapat kontrak jadi perias di agensi IMG models." "AGENSI WHAT!!" Jelita memekik kaget seraya menarik lengan Matias yang langsung kaget dan terduduk. "IMG Models?" "Kau belum tuli kan?" ucapnya kesal seraya melepas cekalannya tapi Jelita malah maju memeluk lengannya membuat Matias heran. "Aku ikut. Clara ada di agensi itu." "Clar—?" Matias melotot. "Maksudmu Clara Prisilia Ananta?" Jelita mengangguk. "Loh, bukannya dia sudah mengundurkan diri dari Agensi sebulan yang lalu ya?" Jelita mengerjap, "Maksudmu pindah?" Matias menggeleng. "Aku kenal salah satu perias di sana yang suka membicarakan para model-model IMG yang mencolok dan seingatku dia bilang Clara itu mengundurkan diri dari sana dan vakum jadi model untuk waktu yang tidak ditentukan. Yang artinya dia tidak akan berjalan di catwalk manapun." Jelita membulatkan matanya. "Seriusan?" "Sepertinya sih begitu." Jelita langsung memeluk leher Matias yang terkaget dan maskernya kembali berantakan. "Bawa aku masuk ke sana, aku harus cari tahu informasi itu." "Kenapa kau mau tahu urusannya orang?!" "Ini penting, Matias. Aku yakin kalau hubungan mereka itu pasti penuh kejanggalan terutama tentang Clara. Tama harus tahu Clara membohonginya kalau memang apa yang kau bilang itu benar. Ini jelas pertanda kalau aku masih punya kesempatan kan?" Jeli menelengkan kepalanya. "Aku bukan pelakor tapi aku hanya berusaha membuat supaya Tama sadar aja." "Ck. Gila!!!"  Matias menjauhkan wajah Jelita dengan telapak tangan menekan kening Jelita. "Tanggung akibatnya nanti kalau ternyata semua usahamu ini tidak ada artinya malah ujung-ujungnya bikin sakit hati." "Ayolaah Matias sayang," rayu Jelita dengan kedipan mata. "Yang penting aku berusaha." Matias menaikkan alis, melipat lengannya di d**a dan mengangkat dagunya. "Hmm, bisa aja sih tapi bayarannya harus setimpal!!" Matias tersenyum miring penuh akal bulus, Jelita menyimpitkan mata waspada dan mendengar bisikan Matias. "Bersiaplah jadi barbie menawan besok." Jelita langsung mengacak masker wajah Matias dengan kesal begitu juga sebaliknya sambil tertawa. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD