Adakalanya, dalam fase mencintai, seseorang bisa berpikir tidak masuk akal.
Katakan saja Jelita i***t, d***o dan b**o karena sedang mengalami fase gila mengejar cinta seseorang yang jelas-jelas mencintai orang lain dan dia akan masa bodoh dengan ejekan itu, karena anehnya hatinya mengatakan kalau dia merasa berhak untuk memperjuangkan keyakinannya itu. Mungkin saja mereka berjodoh walaupun hanya memiliki persentase keberhasilan sekian nol dikali banyak. Hal itu didukung juga dengan memihaknya alam semesta belakangan ini dalam mempertemukannya lagi dengan lelaki yang sejak dia lihat pertama kali beberapa tahun yang lalu menjadi sosok yang ternyata bersemayam di sudut hatinya bagaikan jin iprit.
Eh, gila! Dia bahkan bawa-bawa semesta. Apakah dia bisa meminta bantuan elemen air, api, udara dan tanah seperti milik avatar untuk membantunya lagi mencapai tujuannya membuat Tama terkesan, terpesona dan terkesima padanya hingga lupa siapa itu Clara?
Karena sepertinya Tama eneg banget ngelihat mukanya. OMG, padahal kurang apa coba seorang Jelita Maharani?
Mungkin kewarasannya yang perlu dipertanyakan.
Pertemuan mereka malam ini adalah sesuatu yang tidak disangkanya, siapa yang mengira kalau dia bisa bertemu lagi dengan sang dokter tampan padahal dia sama sekali tidak membayangkan hal semacam ini terjadi. Niat awalnya dia hanya mau menyendiri tapi ternyata ulala banget dokter Tama muncul seperti sapuan magic.
"Ah, dokter Tama—" desah Jelita yang masih berjongkok di antara erangan para preman yang tergeletak babak belur. "Bagaimana caranya kita akan bertemu lagi setelah ini." Jelita manyun, menopangkan dagunya di kedua tangan memandangi ruang kosong tempat di mana Tama menghilang dan meninggalkannya. "Siapa yang akan membantuku kali ini?"
Jawabannya muncul dari arah belakang dengan ributnya. Jelita tersentak dari rasa putus asanya saat mendengar suara sirene mobil polisi yang mendekat ke tempat di mana dia berada. Jelita sudah akan ambil langkah seribu tapi nyatanya dia kalah cepat, dua mobil itu berhenti di depannya dan seorang polisi Perancis berperawakan besar keluar dari sana seraya mengedarkan pandangan.
Ah, apakah malam ini dia akan menginap cantik di penjara?
“Selamat malam, apa anda tidak apa-apa?" Tanyanya ramah, sementara tiga polisi yang lain mendekati para preman.
"Aduh, Pak. Saya di sini yang jadi korbannya jadi tolong jangan masukin ke penjara ya?"
Jelita menempelkan telapak tangannya di depan wajah disertai tatapan puppy eyes. Siapa coba yang akan menebusnya dipenjara.
Kanjeng?
Ih, mana sudi dia. Yang ada malah diketawain dan disukurin. Kapok lo kena batunya, siapa suruh minggat?
Jelita sudah tahu akan begitu jadinya.
Polisi di hadapannya tertawa. "Tidak. Kami justru mau berterima kasih pada anda karena sudah memberikan mereka pelajaran. Preman-preman ini sudah sering keluar masuk penjara karena meresahkan para wisatawan yang kebetulan melintas di daerah sini. Apa anda terluka?"
Pak polisi mengamati Jelita mencoba mencari semacam luka dan sebangsanya tapi mulus-mulus aja.
Jelita langsung menghembuskan napasnya penuh kelegaan. Aman. "Saya nggak apa-apa kok Pak."
Pak polisi mengangguk disertai seulas senyum ramah. "Syukurlah kalau begitu. Anda wanita yang kuat ya."
"Titisan wonder woman," Jelita nyengir. Pak polisi itu tertawa.
"Anda dari Negara mana?"
"Indonesia."
Polisi itu mengangguk. "Nanti saya akan melihat surat-surat berpergian Anda tapi sekarang anda harus ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan." Jelita manyun. "Hanya sebentar saja kok."
Jelita berdecak. "Ya udah deh Pak."
Pak polisi tersenyum, berbalik untuk membuka pintu mobil di samping kemudi sementara Jelita menggenggam erat tas selempangnya dan berjalan mendekat berniat masuk saat seruan polisi lain menginterupsi.
"Pak, ada dompet terjatuh di sini—" Jelita langsung menoleh. "Tanda pengenalnya dari Negara Indonesia."
"KYAAAAAAA!!!" Keempat polisi itu langsung terlonjak kaget mendengar pekikan Jelita. "TERIMA KASIH SEMESTA. TERIMA KASIH PAK POOOOOL!" Pekiknya lagi dan berlari mendekati polisi yang memegang dompet kulit berwarna coklat itu dan mengambilnya untuk melihat lebih jelas. Memang benar kalau dompet itu milik dokter Tama yang mungkin terjatuh saat berkelahi tadi.
Ih apa-apan nih foto. Cibirnya dalam hati saat melihat foto Clara yang mencium Tama. Jiwa nenek sihirnya keluar.
"Punya Anda?" Tanya Pak Polisi.
Jelita langsung mengangguk dengan senyuman yang semakin lebar. "Ini punya calon suami saya Pak. Makasih banyak ya." Ngarepnya sih gitu.
"Oh,oke. Kalau begitu ayo ikut kami."
Jelita tanpa ragu lagi langsung mengikuti Polisi itu masuk ke dalam mobil dan membawanya pergi dari sana beserta beberapa preman yang masih tersisa karena tidak kuat berdiri termasuk Hugo yang menatap Jelita penuh kebencian. Tapi yang dipandangin masa bodoh karena dia terlalu sibuk memandangi dompet di tangannya dengan perasaan cinta seperti dia memandangi wajah dokter Tama lalu memeluknya di d**a.
"Ahh, senangnya," desahnya lega. Lalu senyumannya melebar saat dilihatnya lelaki yang dirindukannya berdiri di pinggir jalan besar tidak jauh di depan sana.
Akhirnya. Ada lagi satu alasan yang membuatnya bisa bertemu dengan dokter Haristama.
***
Edan. Jelita edan.
Sebelumnya, Haristama sempat terkesima dengan kemampuan berkelahi Jelita. Wanita itu sungguh sangat mengejutkan. Tampilan luarnya sih cantik, anggun dan yah tipe-tipe dramaqueen gitu dan Tama yakin kalau Jelita pasti seseorang yang manja luar biasa. Tapi pemikiran itu langsung dipatahkan dengan adegan bak wonder woman tadi. Tama sempat beberapa kali terkena pukulan karena fokusnya terbagi. Takut kalau Jelita kewalahan tapi nyatanya wanita itu santai-santai aja menghajar preman-preman itu.
Luar biasa menyebalkan. Kalau tahu gitu, ngapain dia panik sendiri sampai membayangkan yang tidak-tidak.
Sekarang Tama kembali frustasi karena harus mencari Jelita yang membawa dompetnya. Bukan uangnya yang Tama pedulikan tapi surat-surat berharganya juga selembar fotonya dan Clara.
Tadi Tama sudah mendesah lega saat akhirnya dia bisa terbebas dari sosok Jelita Maharani. Rasanya kalau melihat wanita itu dan ingat hancurnya lamarannya kemarin membuatnya jengkel setengah mati. Anehnya, seperti disengaja, dia harus mengalami kesusahan lagi, pontang panting mencari taksi, singgah dari satu kantor polisi ke kantor polisi yang lain karena tidak tahu Jelita di bawa ke mana. Mungkin langsung di bawa ke sel tahanan berkeamanan tinggi karena dianggap membahayakan.
Ya, membahayakan hidup Tama ke depannya yang pasti.
Hidupnya kisruh seketika. Dia tidak pernah menduga kalau pertemuannya dulu dengan Andreas Dustin juga Bianca akan membawanya pada Jelita sampai seperti ini. Eh, tapi kalau dipikir-pikir, Bianca lebih menghebohkan lagi. Dia masih ingat dengan jelas histerianya saat adegan melukin mayat orang yang dia kira suaminya.
Dramaqueen itu penyakit turunan ya? Poor buat seorang Andreas Dustin.
Tama mengedarkan pandangan ke sekitar cafe kecil nyaman yang masih ramai bahkan saat hampir mendekati tengah malam. Tatapannya jatuh pada seorang wanita yang duduk sendirian di sudut ruangan. Mengusap peluh di keningnya, Tama mendekat dengan aura kekesalan yang nyata. Salah seorang anggota polisi memberinya pesan kalau Jelita menunggu di cafe sebrang kantor polisi.
Brak!!!!
"Uhukk...uhukkk."
Jelita langsung menegak minuman dinginnya dengan cepat setelah batuk-batuk karena Tama menggebrak meja di depannya.
"Aduh Mas, pelan-pelan dong. Jelita sampai keselek nih. Nanti kalau koit gimana?"
"Ya bodo amat. Mana dompetku?" Jelita manyun dan bertopang dagu.
Tama mengulurkan tangan dengan tidak sabaran. "Aku mau dompetku sekarang, Jelita!!"
"Memangnya nggak bisa duduk dulu sebentar. Kita kan bisa ngobrol dulu siapa tahu akrab, siapa tahu cocok, siapa tahu jodoh, siapa tahu—" Tama sudah sakit kepala mendengarnya.
"Siapa tahu kamu sebentar lagi aku lempar ke sungai dan kali ini aku tidak akan berpikir dua kali untuk melakukannya. Jadi, kembalikan dompetku karena ada bapak-bapak tua di luar sana yang menungguku membayar jasanya untuk mencari wanita gila yang mencuri dompetku hanya untuk dijadikan alibi."
Jelita melotot mendengarnya. "Aku gak nyopet."
"Mana dompetku?!" Tama mengatakannya penuh penekanan.
Jelita mendengus, mengeluarkan dompet Tama dari tas selempangnya dan membukanya membuat Tama mendelik. Tangannya langsung terulur untuk merebutnya tapi Jelita dengan sigap menepisnya hingga mereka harus saling sikut mengundang ingin tahu orang-orang di sekitar mereka.
"Nih—" Jelita mengeluarkan beberapa lembar Euro dan menyerahkannya ke tangan Tama yang dicekalnya. "Aku janji akan mengembalikan dompet ini tapi kita harus bicara lebih dulu."
"Apa kamu lupa kalau kita sudah tidak punya urusan lagi?"
Jelita meletakkan dompet itu di bawah bokongnya membuat Tama ternganga. "Mas bayar aja dulu taksinya lalu kembali lagi di sini dan temanin aku makan. Pasti laparkan habis menghajar orang."
"Sekarang rasanya aku ingin menghajar kamu," desisnya. Jelita nyengir.
Tama mencoba menahan umpatannya dan tidak mau berdebat dengan seorang wanita yang dengan seenaknya menduduki dompetnya di bawah b****g sintalnya—aduh.
Tama langsung balik badan, sempat mendengar kekehan Jelita yang membuat kepalanya berdenyut. Aduh mak, anakmu dijajah dengan tidak berperikemanusiaan.
"Waktumu hanya lima belas menit," ujar Tama yang muncul lagi. Duduk dihadapan Jelita dan melipat lengannya di d**a. Dia sudah tidak bisa lagi menghindar jadi dia mencoba untuk mengikuti permainannya Jelita.
"Aku minggat dari apartemen Mas."
Tama menaikkan alisnya, mencoba untuk terlihat masa bodoh. "Lah terus, aku harus peduli gitu?"
"Curhat sedikit aja sih. Siapa tahu ada yang mau ngajak aku bermalam."
"Jangan mimpi!!!" Desis Tama nampak tidak sabaran.
"Kamu sadar gak sih Mas kalau kita ini dipertemukan terus bukan hanya kebetulan belaka. Contohnya dompetmu, Aku nggak nyopet loh ya seperti yang kamu tuduhkan tadi tapi memang jatuh di sana dan Pak Polisi yang nemuin. Itu artinya—"
"Nggak ada arti apa-apa. Hanya kebetulan semata. Jadi jangan berpikiran aneh-aneh. Aku capek Jel, jadi apa yang mau kamu bicarakan?"
"Aku akan membantumu menemui Clara."
Mereka bersitatap dalam diam. Tama mencoba mencerna apa yang dikatakan Jelita.
"Kamu merasa bersalah?"
Jelita menggelengkan kepala. "Aku punya pemikiran ada alasan lain dibalik sikap Clara yang berlebihan malam itu. Dia bisa saja menanyakan hubungan kita tapi dia malah pergi. Seharusnya kalau dia percaya sama kamu, kejadiannya tidak akan seperti kemarin. Yah, aku memang salah karena masuk di kamar hotel yang salah tapi aku sama sekali tidak tahu kalau kamu yang ada di sana. Jadi bisa dibilang aku tidak sepenuhnya salah."
Setelah mengatakannya, Jelita tersenyum, memutar sendok di spaghettinya dan memakannya di depan Tama yang terdiam. Benci mengakui kalau Jelita benar.
"Jadi, apa untungnya buatmu kalau aku menerima bantuanmu?"
"Aku hanya berharap kamu melihat kalau aku sungguh-sungguh ingin berhubungan denganmu. Jangan mengatakan apapun—" Jelita memasukkan bundelan spaghetti dalam mulut Tama yang terbuka untuk membantah kata-katanya membuat Tama kaget dan reflek mencubit hidung Jelita kencang.
"Awww." Jelita menggerang. "Setidaknya kasih aku kesempatan."
"Siap-siap aja patah hati," ucap Tama setelah menelan spaghettinya membuat Jelita terdiam mendengarnya. "Dan itu bukan tanggung jawabku."
Jelita menghabiskan makanannya seraya memandangi Tama yang langsung mengulurkan tangan ke pipi Jelita dan menolehkannya ke arah lain. Enggan ditatap. "Aku siap dengan konsekuensinya begitu juga kamu yang harus siap membuka hatimu untukku."
"Omonganmu makin ngaco tapi aku nggak butuh bantuanmu dan membiarkanmu berada di sekitarku. Kamu tuh ada hanya nambahin masalah. Kembalikan dompetku!" Tama berdiri dari duduknya.
"Mas?"
"Cepat!"
Jelita terlihat kecewa sembari menyerahkan dompetnya.
"Urusan kita selesai. Selamat malam," ucap Tama dingin.
"Aku iri dengan Clara." Tama yang sudah berbalik pergi terdiam di tempat mendengar gumaman Jelita. "Dia memiliki lelaki yang setia tapi dengan bodohnya mengabaikannya begitu saja. Sampai aku merasa memiliki kesempatan seperti ini."
"Kamu nggak punya kesempatan sama sekali, Jel." Tama menolehkan sedikit kepalanya ke samping lalu pergi meninggalkannya begitu saja di bawah tatapan Jelita yang berharap.
"Ah menyebalkan," desahnya seraya meminggirkan piringnya dan menjatuhkan kepalanya di atas meja. "Kenapa dia setia banget sih orangnya?"
Jelita memandangi ornamen cafe dengan frustasi.
"Twinkle twinkle little star, beri aku keajaiban lagi supaya Tama kembali menjemputku," ucapnya ngaco seraya menutup wajahnya dengan tangan masih dengan kepala yang menempel di meja dan lengan yang memeluk tubuhnya sendiri yang hanya mengenakan kaos.
Pluk!!!
Jelita tersentak kaget dan reflek mengangkat kepalanya saat seseorang menutup kepalanya dengan jaket hitam. Jelita tersenyum sumringah melihat siapa yang kembali berdiri di depannya.
"Pake itu," ucapnya singkat lalu pergi lagi meninggalkannya.
"MAKASIH YA MAMAS DOKTER," teriak Jelita lalu senyum-senyum sendiri.
Jelita mendesah penuh binar di sana. Jaketnya memang dia berikan untuk ibu-ibu yang tadi ada di kantor polisi yang terlihat kedinginan selama menunggu kabar tentang anaknya yang hilang. Tidak menyangka kalau Tama memperhatikannya.
"Aahh, manis banget. Makin cinta."
***