DEG!!
“Ayo dekati wanita yang berdiri di pinggir sungai Seine itu!"
Tama menghentikan langkah kakinya saat mendengar seruan itu tapi enggan berbalik. Dia mengepalkan tangan, menutup mata, berdiri diam entah memikirkan apa lalu mengacak rambutnya.
Dia bisa saja tidak peduli dengan apapun yang terjadi pada wanita dramaqueen itu, yang sepertinya dikirimkan Tuhan untuk menguji kadar kewarasannya dan mengusik ketentramannya dengan takdir yang lucu dari beberapa kali pertemuan mereka yang bisa Tama hindari sehingga membuatnya merasa seperti diikuti dan sukses membuatnya pusing.
Namun sepertinya malam ini dia tidak bisa berkelit lagi seperti sebelumnya. Dari banyaknya pub di Paris, kenapa mereka harus berakhir duduk di meja bartender yang sama, Tama bahkan masih ingat dengan jelas ekspresi wajah Jelita yang seperti terpanggil saat mendengar suaranya, menoleh dengan gerak cepat, bengong, mata terbelalak, pipi menggembung yang ternyata isi mulutnya itu cola.
Tapi kalau dia pergi, Tama bisa membayangkan dengan jelas apa yang akan terjadi nantinya. Jelita hanyut di sungai Seine dan Tama akan dihantui rasa bersalah seumur hidupnya.
Wajah ganteng, bodi sangar, hobi ekstrim, hati hello kitty— Ah, sial!!!
Kenapa dia harus selembek ini. Mungkin besok-besok dia harus pakai pita pink di kepala.
“Bagaimana kalau kita lempar ke sungai Seine?"
Seruan itu menyentak Tama dari lamunannya yang tadi sempat membayangkan apa yang akan terjadi seandainya dia mengambil pilihan meninggalkan Jelita begitu saja membuatnya langsung membuka mata dan balik badan. Dilihatnya lima lelaki itu masih jauh dari tempat di mana Jelita berada tapi yang jelas sedang mengarah ke sana.
"s**t!!!" umpat Tama yang langsung berlari bak pengeran negeri dongeng tanpa kuda poni untuk melakukan tindakan heroik penyelamatan putri kerajaan dari kemungkinan hanyut di sungai yang katanya banyak dijadikan pilihan untuk tempat bunuh diri juga tempat yang bagus membuang mayat seseorang untuk menghilangkan jejak.
Duh, pikirannya sudah jelek-jelek pokoknya. Membayangkan Jelita ngambang—
"Jelita—" panggilnya panik.
Bukan, dia bukan sedang melakukan aksi penyelamatan untuk wanitanya yang terancam bahaya seperti di film-film hollywood itu tapi dia sedang mencegah aksi pembunuhan. Tentunya sesama warga negara Indonesia harus saling membantu demi terpenuhinya makna Pancasila. Jadi Tama sebut ini sebagai kegiatan sosial, menolong wanita cantik yang belum menikah dari kemungkinan mati muda.
Kira-kira dia masih perawan nggak ya?
Bukannya apa sih tapi kan kasihan, masih muda,yah, walaupun usianya pasti sudah tiga puluh tahun ke atas, belum nikah dan belum ngerasain diterbangkan ke bulan eh malah ngambang di sungai Seine jauh dari tanah kelahirannya.
Itu alasan Tama untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau apa yang dilakukannya saat ini benar.
WUSSSSHHH!!
Tama melewati kelima lelaki itu begitu saja yang tentu saja kaget melihatnya yang tiba-tiba melintas dengan kecepatan tinggi. Tama tidak peduli karena dia harus secepatnya membawa Jelita pergi. Mencari masalah dengan penduduk lokal di Negara orang itu namanya cari gara-gara.
Saat hampir sampai di tempat Jelita, Tama melambatkan langkah kakinya dengan mulut ternganga melihat apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu dan langsung berseru panik.
"Woi..woi..woi...woi, jangan bunuh diri!!" teriaknya seraya berlari mendekat.
Jelita yang sudah naik di pembatas besi sungai Seine menolehkan kepalanya saat mendengar seruannya lalu tatapannya berbinar.
"Mas—" Jelita berdiri di sana lalu tangannya bertaut di depan dadanya nampak bahagia. Tama yang panik jelas kesal melihatnya. "Mas datang lagi buat Incess?"
"Kamu jangan bunuh diri dulu," ucapnya dengan napas tersenggal sehabis berlari dan melambaikan tangannya supaya Jelita mau turun, menoleh ke belakang dan melihat kelima lelaki yang sudah melihatnya berlari mendekat. "Paling tidak jangan lakukan disaat kamu habis ketemu sama aku. Sekarang turun dan kita pergi dari sini. Nyawamu dalam bahaya."
Jelita hanya menelengkan kepalanya dengan bingung. Duh, Tama jadi gregetan sendiri. Bisa-bisa dia yang nyeburin sendiri Jelita ke sungai. Tinggal dijorokin ke depan, nyemplung, udah beres.
"Ke mana Mas?" tanya Jelita masih dalam posisi yang sama tidak berniat untuk turun.
“Cepat tangkap mereka!" teriakan salah satu dari lima lelaki itu terdengar.
"s**t!!" Tama menatap bergantian Jelita dan kelima lelaki itu dengan panik. "Ayo cepat turun!!"
Jelita tersenyum lebar menanggapi permintaannya. “Mas, tangkap Incess ya.”
“Halah tinggal turun aja ngapain pakai ditangkap segala.”
“Biar dramatis. Incess gak mau turun kalau Mas gak mau nangkep.”
Sungguh, ini adalah perdebatan batin yang menguras emosi bagi Tama. Di satu sisi dia enggan berurusan lagi dengan Jelita tapi di sisi lain dia tidak bisa mengabaikannya kalau itu menyangkut hidup dan mati.
Tama mengumpat, mengacak rambutnya lagi lalu merentangkan tangannya supaya Jelita loncat dan bisa ditangkapnya.
Jelita jelas merasa seperti berada di alam mimpi. Tama yang tadi meninggalkannya begitu saja entah kenapa malah kembali lagi dan merentangkan tangan untuk menyambutnya. Hati Jelita berbunga-bunga. Yang tadinya dia kesal dan ingin curhat dengan berteriak melampiaskan kekesalannya di hadapan sungai Seine sampai dia harus menjat-manjat seperti ini jadi menghilang tanpa jejak. Mas dokternya kembali.
"Mas, tangkap Incess ya. Jangan dilepas kalau perlu digendong sekalian bawa lari ke penghulu—"
"Berisik!! Cepetan loncat nggak usah banyak ngomong," desis Tama tidak sabaran dan merentangkan tangannya.
Jelita mengangguk dan tiba-tiba saja loncat dengan indahnya dengan kekuatan penuh seraya merentangkan tangan dan namplok di d**a Tama yang menyambutnya tapi tidak memprediksi kalau Jelita akan loncat dengan bersemangat hingga membuat tubuhnya oleng dan terjatuh ke belakang dengan Jelita dalam pelukannya. Untung saja dia masih bisa menahan kepalanya agar tidak membentur kerasnya jalanan.
Bukk!!!
"Aww, empuk," rintih Jelita di atasnya menempel di d**a dan memeluknya erat.
"Enak ya mendaratnya," sindir Tama kesal dan merasakan badannya remuk di tindis. Kalau dia yang nindis sih nggak apa-apa palingan Jelita yang keenakan—Eh.
Jelita mengangkat kepalanya dan nyengir dengan tatapan malu-malu. "Iya Mas. Sandarable banget. Jadi betah!!!"
"Kamu bisa pelan-pelan nggak sih loncatnya?!" Nada suaranya naik satu oktaf.
"Maaf Mas, Incess terlalu bernafsu tadi loncatnya."
Tama memutar bola mata. "Cepetan berdiri!!! Keenakan kalau posisimu begini."
"Mas mau tukaran posisi?" tanya Jelita dengan senyum lucu dan wajah merona. Damn!!! Habis sudah kesabarannya. Tama langsung memegang kedua lengan Jelita dan menghempaskan wanita itu ke samping agar tubuhnya terbebas dan dia bisa berdiri.
"Aduhhhh, Kanjeeeng!!" rintih Jelita yang berguling ke samping.
"Makanya jangan kebanyakan ngayal. Cepatan berdiri!!" ucapnya seraya menarik Jelita untuk bangkit.
"WOOII!!" teriakan itu semakin dekat.
Tama dan Jelita menoleh ke sumber suara. Tama berdecak, Jelita celingukan memandangi lima lelaki yang sudah hampir mendekat.
"Siapa tuh kok malam-malam lomba lari?" ucapnya dengan polos.
"Bukan lomba lari tapi mereka yang mau hanyutin kamu ke sungai," jawab Tama, menarik lengan Jelita yang masih belum ngeh memandangi kelima lelaki itu dan membawanya pergi dari sana.
"AAWWW," pekik Jelita saat Tama menariknya pergi dan seperti yang ada di film-film romantis yang pernah ditontonnya, mereka berlari bergandengan tangan di sepanjang jalanan sepi yang indahnya lagi berada di tepian sungai Seine dengan pemandangan Menara Eiffel yang menjulang di kejauhan dengan lampunya yang berpendar cantik.
Nikmat mana lagi yang coba aku dustakan, ucap Jelita dalam hatinya dengan perasaan riang gembira.
Jelita berusaha mengikuti langkah kaki Tama yang masih belum dia sadari apa sebenarnya yang mereka lakukan ini tapi masa bodolah, selama yang membawanya lari adalah dokternya yang tampan maka Jelita akan dengan senang hati mengikuti kemana pun lelaki itu membawanya. Ke penghulu sekalipun, Jelita ikhlas lahir dan batin. Sebut saja Jelita gila kerena cinta.
"Aku harap ini yang terakhir kalinya kita bertemu dan aku tidak mau di susahkan lagi denganmu seperti ini. Heran ya, kamu tuh selalu aja bawa masalah untukku," gerutu Tama seraya menoleh sekilas ke belakang dan melihat Jelita yang terlihat sangat bahagia.
Jelita tidak mendengar semua perkataan Tama karena dia terlalu fokus menatap punggung lebar lelaki itu dan tangannya yang bebas menempel di pipinya yang menyunggingkan senyuman lebar. Ah, indahnya.
"WOI!!!" teriak Tama di sela lari mereka membuat Jelita kaget dan manyun.
"Ih, Mas merusak suasana," ucapnya dengan kesal.
"Kamu ini dengar nggak sih apa yang aku bilang tadi?"
"Hah? Memangnya Mas ngomong apa?"
Tama menghembuskan napasnya kesal, mencoba menahan kesabaran yang sepertinya sudah berada di ambang batas saat melihat tingkah Jelita. Apa wanita itu tidak takut dengan apa yang akan terjadi padanya nanti?
Wanita yang ajaib.
BUK!!!
Tama yang melihat ke depan tiba-tiba berhenti dan Jelita yang tidak siap langsung menubruk punggungnya dan hampir saja terjungkang ke depan kalau saja Tama tidak memegangi pinggangnya.
"Kenapa Mas? Kok olahraganya udahan?"
"Kita nggak lagi olahraga!!" desis Tama yang menolehkan sedikit kepalanya lalu menarik Jelita agar berlindung di balik punggungnya. Jelita mengerjapkan mata, mengintip dari balik bahu Tama dan melihat segerombolan preman yang berjumlah lima orang menghadangnya di depan.
Sudah tengah malam dan disekitar mereka lenggang karena tidak berada di pinggir jalan raya besar.
"Akhirnya, kalian nggak bisa ke mana-mana lagi."
Tama dan Jelita menoleh ke belakang mendengar seruan lega itu dan melihat lima lelaki yang mengejarnya tadi sudah berada di sekelilingnya dengan seringaian.
"Loh, kau kan lelaki yang aku tonjok di bar tadi?" Jelita menunjuk lelaki yang bergerak ke depan bergabung dengan para preman."Hmm, siapa namamu tadi?" Jelita mencoba mengingat. "Buaya atau Gugo atau Dugo—"
"Hugo!!" sela lelaki itu dengan wajah menahan amarah.
Tama berdecak, wanita di belakangnya ini kelihatannya memang suka menciptakan masalah.
“Kedua orang ini yang cari gara-gara sama bos ya?" ucap lelaki plontos bertato yang duduk di atas motor besar.
"Kalian hajar yang lelaki tapi wanita cantik itu urusanku," jawabnya membuat Tama langsung waspada, menghalangi pandangan lelaki bernama Hugo itu ke Jelita.
"BANCI BANGET WOI MAINNYA KEROYOKAN!!" teriak Jelita cari mati.
Tama langsung menoleh ke belakang disertai pelototan dan bentakan. "Kamu bisa diam nggak sih!!"
Jelita nyengir. "Maaf Mas, emosi ngelihat mereka." Lalu berlindung lagi di belakang punggungnya dengan malu seraya menggenggam jaket kulitnya. Tama mendengus dan kembali fokus ke depan.
"Dengar kalian semua!! Apapun yang dilakukan wanita ini sebaiknya kalian tidak macam-macam," ucap Tama tajam dalm bahasa Perancis yang fasih. "Aku peringatkan dari sekarang!"
"Cih, nggak usah sok jagoan. Satu lawan sepuluh dan kau pasti akan berakhir tenggelam di Seine malam ini," balas Hugo dengan sombong.
"Oh ya." Tama merenggangkan ototnya. Jelita senyum-senyum sendiri. "Jangan remehkan kekuatan satu orang karena kalian tidak akan pernah menduga apa yang akan kalian dapatkan." Tama menyeringai jahat.
"Yeaaaaayy, Mas Tama pahlawankuuuu!!" Jelita berteriak disertai tepukan tangan menjadi tim hore untuk Tama. Sama sekali tidak merasa takut dengan keadaan mereka yang terkepung. "Hajar aja Mas hajar. Jangan kasih ampun!!!"
Tama sudah menyimpulkan kalau wanita di belakang punggungnya ini memang tidak waras dan memutuskan setelah ini dia harus jauh-jauh. Tama sepenuhnya berbalik dan menatap Jelita lekat yang langsung terdiam, tertegun, berbinar dan berdebar.
"Jelita—" ucap Tama dengan pelan. Jelita mengerjapkan matanya.
"Iya Mas. Aku di sini bersamamu," balas Jelita lembut. Saling menatap. Peduli amat dengan para preman di sekitar mereka.
Tama menutup matanya menahan kesal dan kembali memandang Jelita agar wanita itu mengerti dengan apa yang diucapkannya. "Kamu bisa kan jangan berisik selama aku melawan—"
"MENUNDUK MAS!!'" tiba-tiba Jelita berteriak dan dikageti seperti itu tentu saja membuat Tama reflek menunduk dan saat itulah kepalan tangan Jelita melayang keras untuk Hugo yang tadinya diam-diam mau memukul Tama dari belakang.
BUK!!!
"ARGGHH!!!" Hugo sukses tumbang dengan erangan keras sambil memegangi wajahnya.
Tama cengok, kembali berdiri tegak seraya memandangi antara Jelita yang tersenyum sombong ke Hugo yang merintih kesakitan karena hidungnya berdarah untuk yang kedua kalinya dari Jelita malam ini dan ditarik mundur sama anak buahnya.
"Eh, gila. Kamu bisa bela diri?" tanya Tama takjub seraya mengambil kepalan tangan Jelita yang tadi digunakan untuk memukul dan mengamatinya bolak balik.
"Alhamdulillah Mas, sabuk hitam," Jelita tersenyum dengan bangganya.
Tama langsung memasang wajah datar, menjatuhkan tangan Jelita dan menoyor jidatnya dengan telunjuk karena kesal setengah mati. Jelita manyun seraya mengelus jidatnya yang seksi.
"Kenapa nggak bilang dari tadi!!" desis Tama. Melipat lengannya di d**a. "Jadi aku kan nggak perlu repot-repot panik dari tadi. Pantas aja kamu tenang-tenang aja. Kalau wanita yang lain dihadapkan pada situasi seperti ini pasti akan menjerit-jerit takut dan menangis."
"Ya Mas nggak nanya sih jadi jangan salahin Jelita dong!!" Jelita membela diri. Tama mengacak rambutnya kesal dan rasanya pengen ngamuk aja.
"Ya tapi kamu inisiatif dong ngasih tahu—"
"Maju!!"
Tiba-tiba Hugo berteriak untuk anak buahnya. Jelita dan Tama langsung balik badan dengan punggung saling menempel. Jelita sudah mengepalkan tangannya begitu juga Tama yang waspada dengan sekeliingnya di mana para preman mengepung mereka.
"Kalau kita selamat dari sini—" bisik Tama seraya bergerak seirama dengan Jelita berputar di tempat.
"Iya Mas, aku mau jadi kekasihmu."
"Bukan!!" Sela Tama kesal.
Jelita menoleh sedikit, "Loh bukan ya, ih padahal aku sudah senang. Biasanya di film-film kan gitu." Para preman bergerak mengelilingi mereka mengambil ancang-ancang tapi keduanya malah asik berdebat sendiri. "Jadi apaan dong?"
"Aku yang akan nyeburin kamu ke sungai itu!!" ucap Tama kesal.
"Ihh, kejam!!" gerutu Jelita. "Tapi nggak apa-apa sih Mas. Lagian aku juga juara umum lomba renang sejabotabek."
"Gila!!!" Umpat Tama yang kesal meladeni Jelita.
"Makasih," balas Jelita.
“Habisi mereka berdua!!"
Setelah seruan Hugo itu, kesembilan preman maju bergantian dan Jelita melawan mereka begitu juga dengan Tama. Berkali-kali tendangan dan kepalan tangannya dilayangkan Jelita untuk musuhnya begitu juga Tama yang menumbangkan lawannya. Sampai akhirnya mereka kembali saling bersentuhan punggung saat lawan mereka beberapa mulai bangkit walaupun ada juga yang sudah KO.
"Ih, mereka merusak kencan orang aja!!!" Gerutu Jelita.
"Kencan, jidatmu lebar!!!" Balas Tama kesal.
Jelita memutar bola mata. Lalu beberapa preman maju lagi dan Jelita menghajar semuanya yang datang keroyokan sampai seseorang menendang punggungnya hingga terjengkang ke depan tapi Tama dengan sigap menangkapnya sampai mereka bertubrukan dan terjatuh bersama di jalanan.
Dukk!!!
"Awwww!!!!" Jelita menggerang di atas tubuh Tama. "Astaga, punggungku!!!"
"Kamu nggak apa-apa?" ucap Tama khawatir padahal punggungnya juga sakit.
"Nggak apa-apa kok Mas. Jelita kuat kok." Jelita memasang wajah baik-baik saja. "Tapi nanti gendong lagi ya?" Lalu memasang wajah puppy eyes. Tama berdecak Lalu bangkit dan mengerutu.
"Kalau gini terus cuma bikin capek," ujar Tama.
"Hantam mundur aja Mas, jangan kasih ampun. Aku sudah butuh ranjang nih," balas Jelita.
"Oke, bersama," ucap Tama.
"Hah? Bersama di atas ranjang?" Jelita mengerjap.
Tama meraup wajahnya dengan kesal. "Otakmu bermasalah ya!!!!"
Jelita manyun dan mereka berkelahi lagi dengan pukulan telak yang membuat hampir semuanya terkapar di jalan. Tama sempat mendapat pukulan di wajahnya saat dia lengah melihat Jelita yang bergerak dengan lincahnya di sana memukul mundur dua preman sekaligus. Sampai akhirnya, semuanya tumbang kecuali Hugo yang dari tadi cuma jadi mandor.
"YEEAAAAY!!!!" Jelita bersorak. Tama mengusap darah di sudut bibirnya dan merapikan jaketnya dan kaget saat Jelita memeluknya sambil loncat-loncat.
"s**t, b******k KALIAN!!!" Umpat Hugo dan maju.
"JELITA, DIBELAKANGMU!!!" Teriak Tama yang langsung memeluk Jelita yang mengerti dan sambil berpegangan dengan Tama, Jelita diangkat dan diputar lalu kakinya bergerak menendang Hugo dengan kerasnya di d**a. Bukk!!!!
"ARGHH!!!" Hugo terkapar. Game over.
“Yeaaaaaaayyyyy.” Jelita memekik dalam pelukan Tama setelah berhasil menumbangkan lawannya bersama-sama lalu turun dengan senyuman lebar yang perlahan memudar saat dilihatnya ekspresi datar Tama.
“Mas—”
“Jangan mendekat!” ucap Tama tegas. Jelita diam membeku.
“Kenapa?”
"Kita harus berpisah di sini. Aku nggak mau berurusan lagi sama kamu!!" Ucapnya pedas. “Kamu selalu aja datang membawa masalah.”
"Tapi Mas—"
"Kita nggak punya hubungan apa-apa dan karena kamu—" Tama berjalan mundur menjauhi Jelita. "Aku tidak bisa menikahi Clara. Aku membencimu, Jelita."
Tama melambaikan tangan dan yakin kalau Jelita bisa menjaga diri langsung berbalik pergi dari sana meninggalkan Jelita yang berdiri mematung nampak kecewa.
Tama berjalan dengan langkah cepat dan buru-buru menjauh karena tidak mau berurusan dengan Jelita lagi seraya melihat tangannya yang merah lalu mengacak rambutnya kesal.
"Memang seharusnya begini," gumamnya sendiri.
Masuk ke salah satu jalanan kecil yang mengarah ke pinggir jalan berniat mencari taksi. Paris malam hari terasa hening baginya. Tama hanya butuh mandi dan tidur. Saat akan menyebrang jalan, di kejauhan dia melihat arakan dua mobil polisi dan saat melintas di depannya, muncul kepala wanita di kaca mobil salah satunya dan berteriak.
"Mas Tamaaaaa, tolong bebasin Incess dooooong!!!" Teriaknya seraya melambai-lambaikan sesuatu. Tama bengong.
"Jangan lama-lama ya Mas datangnyaaaa," ucapnya lagi dan melambai lagi saat mobil itu perlahan menjauh.
Tama memijit pelipisnya. "Bodo amat Jel!!!"
Saat akan berbalik, dia menyadari sesuatu, langsung meronggoh saku belakang celana jeansnya dan mengumpat. "SIALAN!!"
Tama yakin kalau yang dipegang sama Jelita dan dilambaikannya tadi pasti dompetnya.
Seharusnya ya Tama menceburkan saja Jelita ke sungai Seine dari awal kalau begini akibatnya.
***