"JELITA MAHARANI. KAMU GILA YA?!"
Tuh kan, belum ada satu jam dia keluar dari apartemen setelah meninggalkan selembar surat syahdu nan mengharukan, bukannya mengkhawatirkan keadaannya yang entah berada di mana dan bersama siapa juga sedang melakukan apa eh dia malah dikatain gila.
"Nggak. Aku cuma stress!!!" jawab Jelita acuh. Duduk sendirian di sudut meja bar depan bartender yang sedang meracik minuman beralkohol di salah satu pub kecil yang tidak terlalu ramai di kota Paris.
"Eh, kalau stress jangan keliaran sendirian!!!"
"Kenapa? Apa Kanjeng sudah menjerit dan memekik saat melihat suratku? Apa beliau panik mencari anak gadisnya?"
"Alah boro-boro panik. Ngelihat suratmu aja nggak!!" Dengus Pretty.
Jelita mendelik dan duduk tegak, "Loh kok gitu sih? Anaknya minggat loh ini minggat."
"Mereka lagi asyik noh karokean nyanyi lagu kemesraan duet berdua. Bener-bener kompak banget, astaga." Jelita bertopang dagu dengan malas. "Mungkin besok pagi baru sadar kamu nggak ada."
"Ah, menyebalkan!!!!"
"Tapi bisa-bisanya kamu minggat sendirian tanpa mengajakku?!" Suara Pretty mulai meninggi. "Demi lelaki bule yang hot, apa kamu lupa kalau aku ini juga jomblo. Jomblo mengenaskan sama seperti kamu, Jel. JOMBLO!!"
Pretty yang tahu kebusukan Stevanus di belakangnya memilih memutuskan laki-laki itu duluan dari pada semakin sakit hati. Jadi, saat ini mereka sama-sama menyandang status jomblo.
"Apa itu jomblo? Aku single elegan ya."
"Single elegan jidatmu!" umpat Pretty. "Kamu di mana sih, aku juga mau ikutan minggat. Aku bisa pingsan karena baper di sini."
Jelita menegak cola dinginnya padahal bartender di depannya sibuk meracik minuman beralkohol. Baginya, minuman cola dingin lebih enak dibandingkan semua minuman beralkohol itu pada saat ini. Lebih adem. Dia tidak butuh minuman panas menggelora yang membangkitkan hasrat di saat dia sedang dalam keadaan kegerahan.
"Ada deh."
"Ini suratmu modelan apa sih?" Gerutunya. "Dear, kedua orang tuaku tersayang. Jangan cari anakmu yang cantik ini karena dia ingin berkelana bebas mencari belahan jiwanya sendiri. Duduk manis saja di sana sampai aku kembali membawa calon menantu dan juga cucu. Jangan coret aku dari kartu keluarga dan surat warisan. Yang terkasih, anakmu yang cantik jelita." Pretty di sebrang sana membacakan surat yang tadi asal ditulisnya. Intinya dia hanya mau Maminya tahu kalau dia ingin mencari pencerahan sendiri. "Dengan catatan, aku akan kembali kalau sudah sangat putus asa. Tapi kalau aku tidak kembali dua minggu kemudian tolong cari aku ya."
Jelita terbahak mendengar Pretty berdecak kesal. "i***t!! Kalau mau minggat ya minggat aja jangan setengah-setengah." Jelita menegak lagi colanya. "Kamu di mana sih?"
"Jangan tanya aku ada di mana karena aku tidak akan memberitahukanmu. "
"Sialan!!! Kalau begitu aku mau ke rumah saudara Mamaku aja yang ada di Nice."
Jelita mengeryitkan alis. "Lalu siapa yang menjaga mereka?"
"Untuk apa menjaga pasangan yang lagi dihantam gelombang cinta puber kesekian. Biarkan ajalah mereka mau ngapain. Aku akan berkemas dan memberitahukan tentang suratmu ini."
"Hmm, terserahlah."
"Kamu itu benar-benar wanita yang i***t! Ikhsan yang modelan kayak gitu kamu lewatkan begitu saja lamarannya." Jelita memutar bola mata dan memandangi botol-botol minuman yang tersusun rapi di belakang sang bartender. "Dia, lelaki yang kamu harapkan itu belum tentu jodohmu. Dia milik orang lain dan dia bisa saja mustahil kamu miliki dan kamu dengan bodohnya berharap. Kamu sadarkan sama apa yang kamu lakukan?"
"I know that very well," desah Jelita. "Aku masih berharap."
Pretty menghela napas panjang. Lagi. "Tolong jaga dirimu baik-baik dan telepon aku kalau kamu sudah sadar. Aku akan senang sekali mengataimu i***t lagi. Kalau mau susul aku ke Nice silahkan. Kita tetap akan pulang seperti jadwal yang seharusnya, dua minggu lagi."
"Thanks," ucap jelita. "Untuk semua kata-kata penyemangatmu itu," kekehnya kemudian. Lalu terdiam sesaat dan berucap serius. "Tapi aku harus melakukan ini sebelum kembali ke Indonesia. Aku harap kamu mengerti."
"Kalau itu penting bagimu, aku akan mendukung dan aku akan mencoba memberi pengertian Kanjeng kalau kamu masih butuh waktu."
"Terima kasih."
"Jaga dirimu. Ah ya lupa. Kamu kan wonder woman."
Jelita tertawa bersama Pretty di sana lalu memutuskan sambungan mereka meninggalkan Jelita yang menghela napas panjang.
"Hai, babe."
Jelita menoleh saat mendengar sapaan itu dan menemukan seorang lelaki Perancis sudah duduk di kursi sampingnya yang memang kosong dengan tatapan mengerling nakal.
“Sendirian?”
Jelita berdecak, membalasnya dengan nada malas dalam bahasa Perancis yang fasih. “Ya, seperti yang kau lihat. Tapi aku sedang tidak ingin diganggu.”
“Kenapa? Aku bisa menemanimu di sini.”
“Lebih baik kau jauh-jauh dariku.”
"Duh, jutek banget.” Lelaki itu memasang wajah genit. “Jangan seperti wanita pemalu begitu.”
Jelita memalingkan wajah, menegak colanya yang hampir habis. Dia hanya butuh waktu untuk sendiri tapi sepertinya lelaki di sampingnya ini jenis lelaki pemaksa yang tidak akan berhenti sebelum mendapat tonjokan di wajahnya. Lengannya ditarik paksa hingga berbalik dan berhadapan dengan d**a bidang lelaki itu yang berdiri sangat dekat di depannya. Jelita mengangkat pandangan dan menemukan tatapan nakal di mata abu-abunya. Tampan sih tapi minta ditonjok.
"Bagaimana kalau kita pindah tempat yang lebih santai di pojokan yang lain?"
"Hai dear—" ucap Jelita seraya balas menantang. "Do you not understand what I say, huh?"
"Kalau aku tidak mau pergi, memangnya apa yang akan kau lakukan?" ucapnya dengan senyuman miring. "Biasanya wanita kesepian memang begini, awalnya saja menolak untuk ditemani tapi pada akhirnya tidak mau berpisah." Lelaki itu berdecak. "Terlalu munafik."
Eh sialan. Belum tahu kekuatan wanita kesepian yang lagi naik darah ya.
"Bung, kau salah memilih lawan kali ini." Jelita meletakkan kaleng colanya dengan gerakan kasar dan mengayunkan kepalan tangannya—BUK!!
"Arghhh, wanita sialan!!!” umpatnya seraya mundur memegangi area hidungnya yang berdarah dengan tatapan tajam.
Syukurin lo!!
"GO AWAY!!!" teriak Jelita seraya mengibaskan tangan, membuat beberapa orang yang ada di sana menatap mereka ingin tahu.
Saat lelaki itu berniat maju ingin membalas Jelita yang sudah siap pasang kuda-kuda, bartender berbadan besar yang ada di sana langsung menghalangi.
"Hugo, go away from her!!" desisnya galak.
Lelaki itu nampak kesal, menatap tajam Jelita penuh dendam dan pergi begitu saja.
"Dasar lu buaya gila!!" umpat Jelita dalam bahasa ibunya dengan kesal seraya duduk lagi di tempatnya.
Satu botol cola tiba-tiba ada di depan wajahnya membuat Jelita mengangkat pandangan dan menemukan bartender itu tersenyum singkat untuknya. "Good Job, lady. That's for you. Free."
Jelita tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya. "Thanks Bro!!"
Bartender mengangguk kemudian sibuk dengan racikan minumannya lagi. Jelita menatap kaleng sodanya dengan senyuman prihatin, membukanya dan meminumnya. Dia memang benar-benar terlihat seperti wanita yang mengenaskan dan pantas saja lelaki yang tadi ngotot menggodanya. Jelita memilih menopangkan dagu, memandangi pasangan mesra yang b******u di pojokan. Dengan kesal, Jelita menegak colanya dan menahannya di mulut sampai pipinya menggembung saat mendengar suara itu.
"Tequila, please."
DEG!! Jelita reflek langsung menoleh ke samping dan bertemu tatap dengan iris mata hitam lelaki yang dikenalnya dan bodohnya dirindukannya beberapa hari ini yang juga sedang menatapnya dengan ekspresi luar biasa kaget— mungkin dia sedang mengumpat di dalam kepalanya saat ini. Apa ini yang disebut dengan jodoh pasti akan bertemu lagi?
BRRUTTTT!!
Reflek Jelita menyemburkan minuman yang tadi ada di dalam mulutnya tepat mengenai wajah dan baju Haristama yang menutup matanya. Jelita tidak sengaja melakukannya sangking bahagianya dia melihat lelaki itu.
"Oopps!!" Jelita menutup mulutnya dengan tangan lalu nyengir cantik. “Maaf.”
"What the hell are you doing?!" ucapnya kesal seakan ingin menguliti Jelita hidup-hidup.
Jelita sontak berdiri melihat Tama yang mencoba membersihkan wajahnya dengan tisu di bawah tatapan binar Jelita yang tidak menyangka dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini.
"Are you Haristama Alvaro?"
Sudah tahu iya, Jelita malah bertanya lagi.
"No, I’m batman. PUAS!!!"
Demi Dora the explorer, dia benar-benar Haristama!!!
Jelita rasanya ingin salto saat itu juga meski Tama di depannya terlihat ingin membuang Jelita ke sungai Seine.
***
Keputusan Tama untuk keluar dari hotel malam-malam berniat duduk diam di dalam pub langganannya setiap datang ke Paris ternyata bukanlah keputusan yang bijak.
Oke, bayangkan kalau seandainya sedang berada di posisinya saat ini. Kenapa dia harus bertemu lagi dengan seorang Jelita Maharani di Negara yang jauh dari Indonesia?
Kalau melogikakan dengan perbandingan, kemungkinannya itu kecil. Seakan hal itu belum cukup mengagetkan, Jelita malah menyemprotkan minuman cola yang tadi ada di dalam mulutnya yang menggembung tepat mengenai wajah dan kaosnya.
Takdir?
Bullshit!!!
Kebetulan?
What the hell!!!
Jodoh?
Oh come on, are you kidding me like this?
Tama menolak untuk percaya ketiga alasan itu. Mungkin dia lagi apes harus berurusan dengan wanita dramaqueen ini.
Tama berhenti melangkah di sepanjang tepian sungai Seine setelah keluar dari pub tidak jadi minum-minum karena moodnya sudah hancur lebur dan reflek berbalik membuat wanita yang ngintilin dia seperti anak hilang ikut berhenti dengan senyuman secerah matahari di sana. Sayangnya, senyumannya itu belum bisa membuat kejengkelan seorang Tama surut.
"Sebutkan satu alasan yang bagus kenapa kamu belum aku buang ke sungai Seine sekarang juga?" tanyanya dengan tatapan tajam yang dibalas dengan tatapan puppy eyes.
Errghh, Tama mencoba mengabaikannya.
Jelita menggenggam erat tali tas selempang kecilnya seperti berpikir. Tanpa sadar, Tama memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah. Wanita itu hanya memakai kaos tipis dibalik jaket denimnya dan celana hitam yang robek di bagian lutut, mengikat ke atas rambut bergelombangnya dan mengenakan sepatu converse. Jelita terlihat seperti gadis belia belasan tahun.
"Waktumu habis. Cepat katakan!!!"
Hidup benar-benar nggak adil. Di saat dia berusaha menghindari jenis wanita di hadapannya ini tapi dia malah muncul lagi dan lagi. Jelita ini punya banyak kloningan ya.
"Karena aku cantik dan kamu tidak akan tega membuangku ke sana," katanya dengan pedenya seraya menoleh ke arah sungai Seine lalu menatapnya disertai senyuman lebar ala iklan pasta gigi. Siapa juga yang mikir kamu jelek.
"Begitu?" Tama menaikkan alis melihat Jelita mengangguk bersemangat. "Mari kita buktikan."
Tama bergerak maju, merunduk dan menggotongnya di bahu layaknya abang-abang pemanggul beras 25 kilo di pasar yang membuat Jelita sontak kaget dan melotot ketika Tama berjalan membawanya ke pinggiran sungai Seine.
"NO..NO..NO..NO..aku belum kawin, Demi Tuhan, Mas dokteeeeeeer!!!" jerit Jelita seraya mengayunkan kakinya tapi Tama tidak peduli karena dia tetap berjalan ke sana dengan langkah pasti. "Jangan buang ke sana, please. Aku belum mau mati muda. Buang saja aku ke tempat tidurmu!!"
"Kamu sudah tua dan tempat tidurku hanya ada dalam mimpimu!!" Tama membalas dengan kenyataan membuat Jelita manyun. Tubuhnya berayun-ayun indah di atas bahu lelaki gagah itu. Andaikan saja dia sedang berayun-ayun indah di bawah tubuh kekarnya—eh.
"JANGAAAAANNN!!" jeritnya saat Tama menjatuhkan tubuhnya lagi di bumi secara tiba-tiba membuatnya oleng.
"Kamu tahu, aku sudah menantikan momen melamar Clara sejak dua tahun yang lalu tapi kamu datang menghancurkannya. Apa kamu tidak merasa bersalah sedikitpun?"
"Aku—"
Tama mengacak rambutnya jengkel, "Jadi, dengarkan kalimatku baik-baik. Jangan mengikutiku lagi dan membuat kesabaranku habis!!" Setelah itu berbalik pergi menjauh.
"Pasrah aja Mas kalau kita ini mungkin berjodoh."
“BULLSHIT!” umpat Tama tanpa berbalik dan terus berjalan, memilih tidak mau meladeninya.
"Ini hanya kebetulan belaka dan yang namanya kebetulan tidak akan terjadi berkali-kali. Jadi—" Tama bergumam sendiri. "Aku yakin setelah ini kami tidak akan bertemu."
“Wanita asia. Dia menonjok wajahku sampai berdarah."
Tama terdiam di tempat saat mendengar percakapan lima lelaki Perancis yang berjalan semakin mendekati tempatnya dari arah berlawanan.
“Dia memang cantik seperti barbie dan duduk di bar sendirian. Padahal aku hanya berniat menemaninya tapi dia memukulku seperti ini."
“Wow, dia harus diberitahu sedang berhadapan dengan siapa," ucap lelaki yang berjalan di sampingnya dan mereka melewati Tama begitu saja.
"Dia harus mendapatkan balasannya."
Tama menggelengkan kepala, mencoba bersikap masa bodoh dan kembali berjalan mengabaikan firasatnya.
“Itu dia. Yang berdiri di tepi sungai Saine. Ayo dekati dia."
DEG!!
Tama menghentikan langkah kakinya saat mendengar seruan itu tapi enggan berbalik. Dia mengepalkan tangan, menutup matanya, berdiri diam entah memikirkan apa lalu mengacak rambutnya.
"Bukan urusanmu Tam," ucapnya untuk dirinya sendiri lalu membuka mata dan kembali melangkah pergi menjauh. Tama mencoba mengabaikan bayangan Jelita.
"Kenapa aku jadi memikirkannya," decak Tama, melipat lengannya di d**a dengan kesal lalu langkahnya berhenti saat melihat mobil ambulance lewat mengarah ke tempat di mana dia meninggalkannya tadi. Tanpa pikir lagi, Tama langsung balik badan dan berlari dengan kecepatan tinggi menyusul mobil itu dengan pikiran kalut.
Dia baik-baik saja kan? Ah iya pasti begitu.
Sampai di sana, Tama tercengang. Mobil itu berhenti di dekat kerumunan orang yang berdiri di dekat tepian sungai Seine terlihat mengamati sungai tersebut.
Tama berjalan dengan patah-patah mendekat. Jangan katakan kalau Jelita— Ah sial!!
Tama menyadari, sepertinya wanita itu punya magic. Pengaruhnya akan menghantuinya seumur hidup sama seperti sebelum mereka bertemu tadi.
Apa dia beneran hanyut di sungai Seine?
NO, THIS IS NOT REAL, PLEASE!!!!
***