DRAMAQUEEN 05

1533 Words
Bandara International Seokarno Hatta Qatar Airways, Jakarta - Paris Jelita ternganga memandangi wanita cantik yang usianya sudah tidak muda lagi tapi juga belum setua neneknya Akbar, berjalan dengan gaya anggun menjinjing tas Pradanya melewati barisan demi barisan tempat duduk di lorong pesawat mengarah ke tempat di mana dia berada. Sumpah demi apapun, melihat Kanjeng Mami berada di dalam pesawat jurusan Jakarta - Perancis siang ini tidak ada dalam agendanya. Niatnya semula menerima tawaran Nge-DJ di salah satu club malam Perancis hanya untuk menjauh sebentar dari penatnya Jakarta, sekaligus liburan dan satu alasan lain yang baru-baru ini dia tambahkan yaitu melarikan diri dari hasutan demi hasutan yang dilancarkan si Kanjeng agar mau menerima cinta calon menantu kesayangannya, Ikhsan. Tapi, melihat beliau berdiri di depannya seraya melepas turun sedikit kacamata hitamnya dengan gaya cantik, memandanginya yang sudah pasti cengok seraya menarik satu sudut bibirnya ke belakang membentuk senyuman yang bagi Jelita serupa dengan seringaian penuh kelicikan, dan kembali memakai kacamatanya tanpa mengatakan apapun lalu mengibaskan rambut panjangnya ke belakang, duduk di kursi yang bersebrangan dengan kursinya. WHAT THE— "Ahh, akhirnya bisa liburan juga ke Perancis," desah sang Kanjeng yang sudah duduk cantik menyilangkan kaki di sana membuat Jelita jelas melotot mendengarnya. Ingin sekali rasanya Jelita mengumpat serapah untuk Pretty yang duduk memunggunginya dengan gaya acuh tak acuh, terlihat membuka-buka majalah fashion sebagai tameng. "Pretty—" Geram Jelita. "Kamu seenaknya merubah jadwal penerbangan kita yang seharusnya nanti malam menjadi siang ini sampai aku harus buru-buru berkemas dan meninggalkan Haristama di hotel terkapar begitu saja karena kamu harus membawa Tante yang duduk di sebelah itu?" ucapnya pelan tapi penuh penekanan di belakang telinga Pretty. "Tante yang di sana itu yang sudah brojolin kamu ke dunia ini, ingat?" Jelita memonyongkan bibirnya, Pretty menutup majalahnya, menolehkan sedikit kepalanya ke tempat di mana Kanjang duduk yang langsung mendapat lambaian cantik dari beliau disertai dengan kalimat. "Pretty, sayang. Anak Tante yang cantiknya ulala. Makasih loh ya, Tante sudah diajak liburan ke Perancis." Ohh gitu, jadi saat ini aku nggak dianggap anak. Okeh. Jelita mendengus mendengarnya lalu mendelik sangar ke arah Pretty yang terkekeh dipaksakan seraya membalas lambaian tangan beliau. "Oh iya dong Kanjeng. Dinikmati ya penerbangannya." "Oh iya jelas. Kamu juga ya." Pelototan Jelita tambah lebar menuntut penjelasan. Pretty duduk bersandar lagi di kursinya dan meringis saat mendapat cubitan sangar Jelita di tangannya. "Kamu kan tahu aku mau liburan yang bebas," bisik Jelita penuh penekanan. "Enak banget ya yang liburan sendirian, nggak ajak-ajak." Yang menjawab bukan Pretty melainkan tetangga sebelah. Jelita menoleh dengan kesal. "Jelita di sana itu mau kerja, Mam. Kenapa nggak ambil liburan aja sama Papi sih—” Jelita mingkem saat sosok Papi Superman muncul dari arah depan dengan senyuman lebar membuat Jelita tambah cengok. "Papi superman ngapain di sini?" tanyanya dengan ekspresi kaget dan langsung mendapat toyoran di kepala dari samping oleh Kanjeng membuatnya manyun seketika. "Loh, Papi diajak Honeymoon sama Mami kok. Katanya kamu yang biayain. Papi sih senang-senang aja dapat rezeki begini." Jelita memijit pelipisnya. "Lumayan lah siapa tahu pulang-pulang bisa nambah anak lagi di rumah." Jelita ternganga. Pretty di sampingnya sudah terbahak dan berusaha menutup tawanya dengan tangan. "Aduh kepalaku sakit," gumam Jelita memegangi kepala melihat Papi yang ngeloyor duduk di sisi lain Kanjeng dekat jendela pesawat. "Ingat ya sayang—" Jelita masih bisa mendengar suara Papinya di sebelah. "No drama Korea." Jelita memutar bola mata dan berdua dengan Pretty melihat adegan yang pasti membuat wanita yang belum menikah iri dan pengen cepat-cepat minta dikawinkan. SENGAJA BANGET SUMPAH, ASTAGA!!! Kanjeng menoleh sekilas ke arah mereka dengan lirikan maut, memeluk sebelah lengan Papi Superman dan merebahkan kepalanya dilekukan bahunya sementara Papi dengan gaya gentle seperti lelaki masa kini langsung mengelus kepala istrinya tersayang dan tangannya yang bebas menggenggam erat tangan Mami yang berkata lirih. "Iya sayang. Pokoknya di sana waktu untuk kita berdua kok dan nggak akan mikirin semua Oppa Mami. Pokoknya hanya Papi seorang." Oke, perut Jelita melilit rasanya. "Kita nikmati indahnya bulan madu berdua." Suaranya sengaja dibesarkan sedikit. "Biar aja semua yang lihat baper dan kepengen cepat-cepat nikah. Belum tahu aja gimana enaknya," sindir Kanjeng di sana membuat Jelita makin keki. "Sudah dikasih calon yang Uughh masih aja sok-sokan banget nggak mau. Sebel banget!” Kepala Jelita tambah berasap mendengarnya. "Apa yang Kenjang tawarkan sampai kamu berkhianat seperti ini, huh?!" ucapnya ke Pretty. "Calon suami yang Uuggh," Pretty nyengir lebar. "Kan aku juga mau dicarikan Ikhsan-Ikhsan yang lain. Capek ih sama yang suka PHP terus." "Kenapa kamu nggak minta dikawinkan sama si Ikhsan itu aja," desisnya. "Ehh, Nak Ikhsan itu nasibnya jadi menantu Mami," sela Kanjeng tidak terima. "Ah sok tahu Mami. Duh pusing kepala Incess kalau begini," desahnya seraya melepas cekalannya dan segera menutup wajah dengan tangan. Sebenarnya nggak apa-apa sih kalau mereka ikut dan punya agenda sendiri tapi Jelita tahu kalau di sana mereka pasti cuma akan ngerecokin dia. Honeymoon cuma kedokan Kanjeng doang supaya dia nggak macam-macam. "Sayang, saranghae." Jelita mendelik dan menoleh ke samping saat mendengarnya. Papi Superman garuk-garuk kepala, "Apa? sarangan? saringan? apa artinya itu?" Mami langsung mencubit pinggang Papi yang sedikit memekik manja dan berbisik. "Sudah bilang aja iya." "Ahh gitu. oke coba diulangin." "Saranghae," ulang Maminya dengan manja. "Iya sayang. Sarangan too," ucap Papanya dengan pelafalan yang jelas tidak sama dengan si Mami tadi tapi Jelita sudah keki berat saat akhirnya Maminya mengecup pipi Papinya dengan sumringah. Luar biasa dua orang tua yang lupa sama umur itu. Jelita memegangi kepala dan mengalihkan tatapan ke samping membiarkan saja kedua pasutri dimabuk asmara itu melanjutkan drama mereka sendiri. "Maaf Nyai," bisik Pretty disertai cengiran. Wajahnya sudah merah karena sejak tadi mencoba menahan ketawa. "Gajimu bulan depan potong setengah," balas Jelita cuek membuat Pretty manyun berat. Jelita merabahkan punggungnya di kursi saat terdengar pengumuman di seluruh cabin kalau pesawat akan segera Take Off. Apalagi yang bisa diperbuat Jelita selain pasrah dengan nasib karena harus dibayangin kedua pasutri itu. Saat Jelita menoleh ke samping, Maminya tersenyum dan menggerakkan kedua jari telunjuk dan tengahnya ke mata lalu ke arahnya yang artinya kalau beliau akan benar-benar mengawasinya. Jelita menggembungkan pipinya dengan kesal dan mengalihkan tatapannya ke depan. Mungkin sebaiknya, dia kabur aja nanti dan pulang-pulang bawa lelaki Perancis aja sekalian sama cucu. Kesel deuh Incess!! *** Paris, Perancis Tama duduk di salah satu bangku taman yang ada di sekitaran Menara Eiffel yang menjulang tinggi di kejauhan. Kemegahannya yang memukau tentu saja membuat siapapun yang melihatnya terkagum-kagum. Wisatawan yang datang dari berbagai belahan dunia mengabadikannya bersama dengan yang terkasih. Tama tadi bahkan melihat beberapa pasangan sedang melakukan photoshoot preweeding sedangkan dia hanya lewat dengan wajah kusut dan sendirian. Wajahnya sudah mupeng banget tapi juga ngenes banget pokoknya. Yah, beginilah resikonya kalau jalan-jalan sendirian di Negara yang dipenuhi dengan cinta bertebaran di mana-mana. Kasihan bangat. "Sudah pulang aja ke Indonesia kalau memang dia sama sekali nggak mau menemuimu," desah Raga yang kali ini ikut prihatin mendengar usahanya yang nihil dalam mencari Clara. "Aku harus menemuinya bagaimanapun caranya dan meminta penjelasan masuk akal meskipun dia sibuk dengan jadwalnya dan tidak mau diganggu." "Apartemennya?" Tama mendesah, "Kosong. Dia sudah pindah." Raga terdiam di sebrang sana membiarkan Tama melamun memandangi area rerumputan hijau tidak jauh dari kolam air mancur di depannya dan melihat pasangan pasutri yang usianya sudah tidak muda lagi nampak menggelar acara piknik dengan mesranya. Rasanya dia tidak asing dengan Tante cantik yang duduk dengan gaun kembang-kembang itu. Kepalanya yang tertutup topi lebar membuat Tama tidak yakin karena dia hanya melihatnya dari samping. "Itu artinya, kalau dia memang serius mencampakkanmu dan sibuk sendiri dengan kariernya di sana." Tama hanya diam. "Kalau urusan Rama sudah selesai di Indonesia, dia akan segera kembali dan membantumu mencari adiknya itu." "Aku akan mengusahakannya sendiri supaya dia bisa melihat keseriusanku." "Terserah kamu sih. Dasar keras kepala! Aku cuma bisa mendoakan yang terbaik. Jaga dirimu di sana." "Makasih ya. Titip Ibu Suri ya." “Berapa lama kamu di sana?” “Entahlah. Aku sudah ambil cuti full jadi gak ada masalah.” “Ya gak ada masalah kalau kamu dulu terlalu gila kerja sampai gak punya waktu buat memanjakan diri.” Tama tersenyum, “Sampai jumpa lagi di Jakarta." "Oke kalau begitu. Good luck." Tama lalu memutuskan sambungan teleponnya dan menghela napas panjang. Tama hanya bingung, apa alasan sebenarnya Clara menolaknya untuk diajak menikah sementara wanita lain pastinya akan mengiyakan permintaannya kalau saja Tama mencoba melakukannya. Yeah, siapa sih yang menolak di lamar lelaki ganteng? Ada. Satu orang. Clara. Tama berdecak dan menyapukan jemarinya di sela-sela rambut hitamnya, memilih memandangi pasutri itu saja dari pada pasangan lain tidak jauh dari sana yang sedang berciuman panas. Melihat betapa bahagianya mereka suap-suapan puding dan tertawa-tawa bahagia. Sampai akhirnya Tama yang mulai jengah, berdiri dari duduknya dan memutuskan untuk berkeliling dan langkah kakinya terhenti saat dia melihat prosesi acara lamaran romantis tidak jauh di depan sana. Oke, semakin lama hatinya semakin nyut-nyutan. Apa tidak ada yang mengerti kalau saat ini dia sedang patah hati? Manik matanya menyurusi area sekitar dan terdiam memandangi punggung perempuan yang sedang mengarahkan ponselnya seperti merekam ke Menara Eiffel dan sekitarnya. Dia seperti mengenali tapi juga tidak yakin. Dari pada pusing karena baper dia memutuskan berbalik arah dan pergi dari sana, menjauh. Yang ada dalam bayangannya tadi adalah sosok Jelita Maharani. Apakah dunia sudah semakin sempit? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD