Jelita bisa merasakan hembusan napas seseorang yang berbau alkohol berada dekat dengan wajahnya, tubuhnya menempel pada tubuh seseorang dan dia sendiri sedang menutup matanya menunggu sesuatu itu datang mendekat. Padahal sebelumnya dia sama sekali tidak ada bayangan akan berada di posisi seperti ini dengan seseorang terlebih lagi seorang Haristama.
Kemudian dia menyadari kalau satu tangannya yang bebas sedang nangkring di atas p****t lelaki yang menindihnya. OMG! Buru-buru ditariknya telapak tangannya menjauh karena dia takut kebablasan ngusap-ngusap di sana.
Walaupun saat ini khilaf sangat bisa disalahkan karena posisi mereka yang jelas sangat intim dan panas. Jelita mencoba mengingat, kapan dia pernah ditindis sama lelaki seperti ini?
Hmm, jawabannya belum pernah karena sebelum mereka bisa melakukannya, Jelita akan memberikan jurus ninja hatori untuk samurai milik mereka.
Ah ya, dia pernah ditindis sama punggung berat adiknya si Dustin saat dulu dia menolak untuk pindah dari kamar adiknya ketika mereka sama-sama datang ke Jakarta untuk liburan yang berakhir dengan kemenangan telaknya karena berhasil menjungkir balikkan Dustin sampai mencium lantai dengan menendang pantatnya.
Tapi jelas hal itu tidak akan dia lakukan untuk lelaki yang memeluknya ini.
Jelita berusaha keras menemukan kewarasannya yang mengambang entah di mana dan saat wajah penuh amarah Tama saat melihatnya tadi terbayang, sontak membuatnya reflek membuka mata dan melihat bibir itu semakin mendekati permukaan bibirnya dan dia reflek memposisikan telapak tangannya menjadi penghalang hingga bibir seksi Tama mendarat di sana. Lelaki itu langsung membuka matanya yang sayu dan bibirnya tertarik lagi naik ke atas disertai keryitan di dahi kemudian turun lagi mengecup sampai bibirnya monyong dan mengulangnya hingga beberapa kali sampai terdengar bunyi cup..cup..cup.
Duh, telapak tangannya jadi basah dicipok-cipok.
"Kok rasanya bukan kayak bibir sih," gumam lelaki mabuk itu hingga membuat suaranya terdengar amat sangat seksi di antara ketidaksadarannya kemudian dia mulai mencoba cipok-cipok lagi.
Aduh mas, Jangan nyosor terus dong. Incess lama-lama nggak kuat. Incess balik nyosor neh.
Jelita menarik telapak tangannya, menangkup wajah Tama yang berniat kembali menyerangnya dan menahannya di sana. Kepalanya berada dalam kurungan tangan Tama yang menyanggah tubuhnya.
"Mas dokterku tersayang—" ucapnya lembut seraya memperhatikan seksama garis wajah Tama. Ternyata laki-laki ini memang nyata bukan hayalannya beberapa hari ini. Syukurlah, itu berarti Tama bukan ghost.
"Hmm," gumamnya. Perlahan jari telunjuk lelaki itu bergerak naik ke wajahnya dan membelai keningnya turun ke mata lalu hidung sampai mengelus berkali-kali permukaan bibirnya. Jelita jadi nggak fokus kalau digituin. Semeriwing gimana gitu rasanya. "Kamu cantik banget."
Seketika Jelita merona dan mengatupkan bibirnya.
Tahan Jel tahan jangan teriak hanya karena kamu di bilang cantik oleh Mas dokter walaupun yah, kalau dia sudah menemukan kewarasannya mana mungkin dikatain cantik.
Padahal Jelita bisa saja mendorong Tama ke samping untuk membebaskan tubuhnya tapi dia merasa belum menemukan motivasi mendesak yang mengharuskannya melakukan itu. Jadi katakan saja saat ini dia khilaf. Sedikit.
"Kamu ingat siapa aku?"
Kepalanya meneleng ke satu sisi nampak berpikir, "Hmm, Clara?" lalu hidungnya mengendus-endus wajah dan lehernya. Aduh kalau begini Incess beneran nggak sanggup. "Parfumnya aja aromanya sama." Lalu tersenyum dan menelusupkan tangannya yang tadi ke belakang punggung Jelita.
KANJEEENGGGG, INCESSS BOLEH YA ICIP SEDIKIIITTTT.
Jelita menggelengkan kepalanya mencoba menahan godaaan menggiurkan. "Bukan. Aku bukan Clara. Aku Jelita." Jelita menatap seksama Tama yang menatapnya dengan pandangan tidak fokus. Matanya merah dan sayu. "Aku minta maaf tentang yang tadi."
Tidak lama Tama mengeryit dan wajahnya nampak semakin kesal saat melihatnya.
"Jelita?" bisiknya. "Kok wanita itu ada di mana-mana sih?" Berarti aku ada dihatimu sayang. "Aku nggak mau ketemu sama dia." Tama menggelengkan kepalanya. "Aku nggak mau ketemu dia." Lalu tiba-tiba wajah Tama merunduk dan menyandar di atas dadanya.
Mabuknya parah banget astaga!!!
Jelita hanya mampu menggigit bibirnya. Posisi mereka sekarang sangat rawan terjadinya kekhilafan.
"Aku nggak mau ketemu sama Jelita. Dia membahayakan—" Lirihannya masih terdengar meski Jelita hanya bisa menatap rambut laki-laki itu saat tiba-tiba kepalanya terangkat sedikit menatapnya. "Tubuhmu dingin. Aku nggak suka. Kamu harus tetap hangat." Lalu memeluk pinggangnya erat sampai Jelita harus menahan napasnya sampai Tama menjatuhkan wajahnya ke bawah membuat Jelita menghembuskan napasnya kencang saat dia mendengar dengkuran halus laki-laki itu yang pipinya menempel empuk di atas belahan dadanya.
Lelaki bahkan saat mabuk pun tahu tempat paling nyaman buat tidur.
Jelita menatap langit-langit kamar. Dia juga bingung kenapa mereka bisa bertemu dengan cara drama begini?
"Wonderfull night," desah Jelita seraya memeluk kepala Tama dan memainkan rambutnya. "Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya tapi i like it. Maybe, kamu akan melihatku sebagai wanita yang desparate karena mengharapkanmu yang mencintai wanita lain tapi aku hanya mau kamu tahu—" Jelita mengelus rambut Tama lembut. "I really need you, Haristama."
Perasaan itu kuat, adanya bergemuruh hebat, darahnya berdesir, muncul banyak kepakan sayap kupu-kupu dalam perutnya dan rasanya nyaman. Seperti menemukan tempat untuk bersandar.
"Hah???" Kepala Tama terangkat lagi. Jelita jelas melotot kaget.
"Empuk," gumamnya lalu kepalanya kembali rebah dengan seenaknya.
"Yaiyalah empuk. Mendaratnya aja di tempat yang kenyal," desis Jelita lalu terkekeh geli sendiri mengabaikan rasa berat tubuh Tama.
Jelita tersenyum, mencoba meresapi malam yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya meskipun nantinya kenangan ini akan menjelma menjadi ilusi miliknya sendiri. Mengenaskan. Memang. Tapi begitulah cinta.
TING TONG TING TONG TING TONG TING TONG TING TONG
Rentetan bunyi bel itu mengangetkannya yang tadi sudah ingin terpejam dan reflek dia bangkit seraya mendorong dan menghempaskan Tama begitu saja ke samping hingga terguling dan terjatuh sempurna di lantai kamar.
Bukk!!
"Awww—" pekikan kecil laki-laki itu terdengar. "Eerrghh." Beserta erangan sakitnya.
"OH NO!!!"
Jelita menutup bibirnya dengan tangan dan melihat Tama yang tergeletak di lantai dengan keningnya yang merah.
"MAS DOKTEEERRRR!!!" pekik Jelita kemudian dan turun dari tempat tidur.
Dia akan mengutuk siapapun orang yang membunyikan bel gila itu tanpa jeda. Lecet dah Mas dokter gantengnya.
***
"WOII PRET!!"
Teriakan tidak mengenakkan di telinga itu sontak membuat Pretty yang semula bersemangat melangkahkan kakinya menuju ke arah lift langsung berhenti, menolehkan kepalanya ke sekeliling area lobbi hotel yang sedang ramai dan menemukan sosok Meli yang berjalan cepat ke arahnya seraya mengibaskan tangannya dengan ekspresi panik.
"Tunggu dulu!!'
"Apaan sih Mel? Aku mau ke atas nih mau ngelabrak itu si lelaki buaya. Kamu mau ikutan jadi pemandu sorak?"
Meli memutar bola. “Untung aja aku cegat kamu di sini sebelum naik ke atas. Kamu dari tadi ditelponin nadanya sibuk mulu.”
"Memangnya kenapa sih?”
"Jadi gini—" Meli menghembuskan napasnya perlahan. "Kemarin kan Stevanus booking kamar hotelnya sama aku tuh jadi informasi yang aku sampaikan ke kamu kemarin itu benar." Pretty mengangguk mencoba memahami ke mana arah pembicaraan mereka. "Tapi ternyata kemarin saat jam shiftku habis dan digantikan sama temanku, eh si Stevanus nelpon minta dipindah hari jadi besok malam. Jadi, bukan malam ini kamu seharusnya beraksi."
"HAH!!" Pretty sontak membulakan matanya, kaget. "SERIUSAN?!"
Meli mengangguk dan tersenyum seraya menepuk-nepuk bahu Pretty yang cengok. "Syukurlah kamu belum keburu naik ke atas soalnya kemarin ada yang langsung booking kamar hotel itu untuk acara lamaran gitu deh." Bola mata Pretty rasanya sudah hampir mau loncat keluar mendengarnya. "Soalnya dihiasnya pake bunga-bunga segala. Duh, kalau sampai kamu salah sasaran ya bubar jalan semuanya."
"MAMPUSS!!!" teriak Pretty membuat Meli rasanya hampir jantungan.
"Apanya yang mampus?"
"Sepertinya kerjaanmu terancam bubar jalan deh." Meli mendelik. "Soalnya, aku sudah ngutus panglima perangku duluan ke atas sebagai pembukaan buat ngelabrak dia baru aku belakangan."
"Siapa? Meli langsung terkesiap. "Jangan bilang kalau dia, Nyai Jelidrink?"
Pretty hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"OH NOOO!" Gantian Meli yang memekik seraya memengangi kedua pipinya dengan tangan. Shock. "Beneran Jelita? Dia ada di atas sekarang?" telunjuknya menunjuk ke arah atas. "OMG, GULUNG TIKAR!" pekiknya kemudian.
"ADUHH, BENCANA!!" Pretty ikutan panik tepat saat lift yang berada tidak jauh di depan mereka terbuka lebar membuat Meli dan juga Pretty sontak langsung saling bertatapan dan kemudian—
"TUNGGUUUU!!" pekik mereka bersamaan seraya berlari dengan gerak cepat hingga membuat beberapa pengunjung hotel terkesima melihat adu lari keduanya sampai tubuh keduanya bergantian masuk ke dalam lift yang kosong dan tertutup sempurna.
Pretty berharap lift bisa secepatnya melesat naik ke lantai atas dan berharap juga kalau Nyai belum melakukan aksinya. Mungkin, di jalan dia bertemu dengan lelaki tampan yang kebetulan lewat dan di ajak jalan-jalan atau masuk kamar dan lupa dengan misi mereka
Maybe. Pretty jelas hanya mampu berdoa.
***
"Dia pasti punya selingkuhan kan,Ram?"
Tiba-tiba saja Tama yang tadinya diam seribu bahasa sambil memijit keningnya yang nyut-nyut-an langsung menembakkan pertanyaan itu ke Rama yang langsung mendelik. Amarahnya sudah berhasil dia kuasai sejak keluar dari hotel tadi siang.
"Kamu yakin?" Rama malah bertanya balik.
"Itu jelas alasan masuk akal kenapa Clara sampai hati membiarkan seorang dokter tampan seperti dia tidak pernah menebar benihnya," Raga yang menyahut.
"Sialan!!! Otakmu m***m banget," umpat Tama seraya melepak kepala Raga. "Kamu juga ikut andil menghancurkan acara lamaranku."
"Hah, apa salah dan dosaku? Sudah bagus aku kasih saran paling jitu," dengusnya, duduk meluruskan kaki dan melipat lengannya dengan kesal. "Memang pada dasarnya kekasihmu itu tidak mau di ajak menikah."
"What's the reason?" Tanya Tama.
Tama tidak habis pikir, kata Mamanya, di luar sana dia punya banyak penggemar, banyak yang mau minta dikawinin terus digeret ke penghulu dan siap jadi teman hidupnya sampai maut memisahkan tapi kenapa menggoda kekasih sendiri aja nggak becus dan malah berakhir dicampakkan lalu ditinggal pergi lagi. What's the problem?
Jelas ada yang salah dengan hubungan mereka selama ini. Apa dia terlalu kaku, terlalu penurut, kurang garang, kurang menggoda atau kurang menunjukkan rasa cintanya. Kurang sexy?
Hmm, seharusnya Clara bisa melihat keseriusannya dalam berhubungan.
"Aku nggak sepenuhnya salah kalau berpikir kalau dia selingkuh di sana," desahnya. Mengalihkan tatapan ke arah luar memandangi gedung-gedung bertingkat saat hari sudah beranjak sore dari dalam apartemennya.
Tadi pagi dia bangun dalam keadaan mengenaskan dan sendirian. Kepalanya memar dan dia hangover berat dan segera menelepon Raga yang ternyata datang bersama Rama yang menampilkan tatapan prihatin. Lalu saat tahu kalau Clara sudah kembali ke Paris, Tama hanya bisa mengumpat kesal seraya menahan amarahnya. Apalagi teringat dengan sosok wanita yang semalam mengacaukan acaranya. Jelas, kalau dia akan menyalahkan keberadaan Jelita tidak peduli apapun alasannya.
Tapi bagaimana bisa wanita itu tiba-tiba nongol di depan pintu kamar hotelnya begitu saja dan berteriak kalau dia hamil. Memangnya kapan mereka pernah main kuda-kudaan?
Seakan semua penderitaan itu belum lengkap, ban mobil sportnya disayat orang tidak bertanggung jawab.
Shit! Apes banget.
"Ah, sial. Aku nggak bisa diam seperti ini."
Tama berdiri dari duduknya membuat Rama dan Raga menatap bingung.
"Mau apa kamu?" Tanya Rama.
"Aku akan pergi ke Paris malam ini menyusulnya. Aku harus berhasil menemuinya dan menanyakan alasan sebenarnya dia menghindar seperti ini. Kesabaranku sudah mulai habis."
Rama duduk tegak, "Seriusan?"
"Yah, begitulah yang namanya cinta," gumam Raga, mengibaskan tangannya seperti gerakan mengusir. "Pergilah wahai pejuang cinta, lebarkan sayapmu dan bawa pulang kembali ratu hatimu. Kami di sini akan mendoakanmu semoga kamu kembali dengan selamat," ucapnya dramatis.
"Geli banget," decak Rama.
"Dia memang sudah sinting!" Tama lalu berjalan ke arah kamar tidurnya dengan tergesa.
"Eh tapi mobilmu masih di bengkel. Gila ya sayatannya niat banget. Kayak aksi balas dendam gitu. Kamu pernah kualat sama orang ya?"
Tama garuk-garuk kepala. "Nggak ada tuh cuma memang aku pernah nyipratin banci kaleng depan kuburan pakai air bekas hujan. Ya siapa suruh dia melambai-lambai di pinggir jalan."
Rama tertawa mendengarnya. "Kualat kamu sama banci kalau begitu." Tama memutar bola matanya.
"Tam—" panggilan Rama membuat Tama tidak jadi masuk ke dalam. "Aku minta maaf karena tidak bisa menahan Clara untuk tetap tinggal. Kamu tahu kan kalau sudah berkemauan, dia sangat keras kepala."
"Clara itu pada dasarnya ambisius dan egois, Ram," sela Raga. "Aku nggak heran kalau dia milih ngorbanin cintanya."
"Pasti ada alasannya dan itu yang harus aku cari tahu. Tidak peduli kalau aku harus menjelajahi Paris untuk menemukannya. Aku tahu adikmu itu memang butuh diyakinkan."
Rama tersenyum, Tama berbalik masuk ke dalam kamar tapi di dalam kepalanya tidak hanya berputar tentang Clara tapi juga Jelita. Apa yang sudah mereka lakukan semalam saat dia mabuk hingga mendapatkan memar di wajahnya ini?
Tapi satu hal yang Tama tahu kalau dia harus jauh-jauh dari wanita itu.
***