"Heh, kamu di mana sih? Aku sudah sampai di hotel nih."
Jelita memarkirkan mobilnya di area parkir hotel mewah bintang lima di Jakarta tepat saat panggilan teleponnya di angkat sama Pretty.
"Duh, aku baru sampai rumah sakit," gerutunya.
Jelita merapikan rambut dan lipstick merahnya di depan kaca lalu mendengus kasar, "Ngapain di sana? kamu loh ini yang punya hajatan dan niat menghancurkan malam terindah pacar playboymu itu tapi kenapa aku yang beraksi sendirian!"
"Ini emergency juga sista. Nenek lagi kontraksi—"
"Hah!!" Jelita yang sudah membuka pintu mobil berniat keluar kaget mendengarnya. "Kontraksi? Sejak kapan Nenekmu hamil?"
"Dodol. Nenekku umurnya sudah delapan puluh lima tahun mana mungkin hamil."
"Kamu tadi bilang kontraksi!!"
Jelita ngotot, mengambil tas tangannya dan keluar dari sana. Angin malam berhembus cukup dingin karena dia hanya memakai gaun yang bagian pundaknya terbuka berwarna merah membara.
"Maksudnya, perutnya lagi bermasalah. Nanti kalau Mamaku sudah menyusul ke rumah sakit, aku langsung ke hotel. Kamu sudah di sana kan?"
"Baru aja sampai."
Jelita mengunci mobil, berdiri menyandar di bodinya seraya memandangi area parkiran hotel yang ramai. Ada sepasang kekasih yang melintas di depannya dan yang lelaki mengedip ke arahnya dengan tatapan nakal padahal ceweknya sedang asyik ngoceh di sampingnya. Jelita balik mengedip nakal dan melambai yang langsung di balas dengan lambaian tapi apesnya si cewek memergoki dan menarik telinga cowoknya menjauh dan Jelita langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain seraya mendengus. Dasar lelaki amfibi.
"Sesuai rencana kan?"
"Iya. Pokoknya opening-nya kamu harus ekstra dramaqueen malam ini. Totalitas. Hancurkan makan malamnya. Aku yakin, kalau kamu muncul, dia pasti tahu kalau aku yang ngirim kamu ke sana. Nanti aku yang closing." Berasa kayak mau meeting bulanan.
Jelita manggut-manggut. "Kalau bukan karena kamu sudah seperti saudara perempuanku sendiri, ogah banget aku ikut campur seperti ini."
"Kamu yang terbaik, sistah wonder woman-ku. Kalau perlu kasih tendangan cinta aja sekalian."
"Beres lah. Laki-laki seperti dia memang perlu di kasih hidayah supaya tidak seenaknya mempermainkan hati wanita." Jelita yakin Pretty di sebrang sana mengangguk-angguk. "Ya sudah kalau begitu, aku masuk dulu. Kamu cepetan."
"Iya, Mamaku sebentar lagi sampai. Lagian jarak rumah sakit ke hotel hanya 25 menit. Semangaat sistaaaaahh!" kalimat yang terakhir, dia meneriakkannya dengan lantang.
"Iya."
Jelita berjalan dengan anggun mengarah ke lobbi hotel. Lalu reflek menghentikan langkah kaki berbalut heels 10-cm warna hitamnya dan berbelok dari arah jalannya semula saat melihat mobil sport keren dan ngecling yang sepertinya tidak asing.
"Woi kenapa?" Tanya Pretty di ujung sana.
"Nggak apa-apa," katanya tidak fokus.
"Eh Mamaku sudah datang. Aku nyusul ke sana sekarang ya."
"Sipp." Jelita langsung mematikan sambungan telepon seraya mengamati mobil itu dengan cermat. "Ah, ini memang mobil sialan yang nyemprot aku malam itu." Dia berdecak. "Keren sih tapi yang punya nggak ada jiwa sosialnya!!"
Jelita mengenalinya dari coraknya karena mobil sport di depannya ini sudah dimodifikasi dan memiliki motif abstrak campuran hitam dan merah. Jelita reflek mengedarkan pandangan dan melihat area sekitar lalu senyuman antagonisnya muncul bak devil.
"Dikerjain aja sekalian deh."
Jelita berbalik ke arah mobilnya sendiri, mengambil sesuatu di sana kemudian kembali lagi dan berjongkok di dekat ban belakang mobil sport itu memberikan sayatan panjang yang indah dengan pisau kecil miliknya.
"Nah, beres. Cukup satu goresan dan aku senang." Lalu berdiri dan mengelus bodi mobilnya. "Siapapun pemilik mobil ini semoga beruntung ya." Jelita terkekeh sendirian lalu kembali ke mobilnya mengembalikan pisau itu dan cepat-cepat berjalan ke lobbi.
Jelita sudah tahu harus ke mana jadi dia langsung menuju ke lift dan menekan angka lantai 25 saat ada tangan lelaki yang tiba-tiba menahannya membuat lift kembali terbuka.
"Oopss, tunggu dulu," katanya seraya tersenyum, masuk dan menekan angka 15. Lelaki tampan yang rapi dan sangat berkelas. Kaca mata yang bertengger di wajahnya mengingatkannya pada sosok Blake Steven versi matang menggoda.
Mereka berdiri bersisian dalam diam menunggu lift naik sampai lelaki di sampingnya itu menoleh seraya mengendus-enduskan hidung di sekitarnya. Nggak sopan banget. Tentu saja membuat Jelita reflek mencium aroma keteknya. Harum parfum mahalannya tercium.
"Parfummu aromanya familiar mengingatkanku dengan seseorang," ucapnya kemudian dengan gaya santai.
Jelita menaikkan alisnya dan hanya menjawab seadanya. "Oh ya."
Lelaki itu mengangguk. Seingatnya parfum aroma terbarunya ini belum ada yang memakainya selain dia karena memang belum di launching. Hanya satu orang yang diberikannya sebagai hadiah bahkan Pretty memakai parfum aroma yang lain.
"Kamu kenal Clar—"
Ting. Bunyi lift terdengar dan berhenti di lantai lima belas dan lelaki itu melambaikan tangan seraya tersenyum dan keluar dari sana. Jelita menelan lagi pertanyaan yang menggantung di ujung lidah.
"Ih baru aja mau nanya dia kenal sama Clara atau nggak eh sudah pergi," gumamnya saat lift tertutup lagi dan membawanya naik ke lantai atas.
Jelita merapikan gaun merahnya yang berbelahan tinggi membuat kaki jenjangnya terekspos, menyisir rambut bergelombang kebanggaannya dan tersenyum manis lalu menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri, merenggangkan kaki dan tangannya seperti melakukan pemanasan. Dia siap memulai aksi teatrikalnya malam ini. Lelaki amfibi seperti Stevanus itu harus di sadarkan dengan cara ekstrim.
Lift berhenti di lantai yang dituju dan Jelita langsung keluar dari sana. Hanya ada dua pintu kamar yang tersedia dan saat dia menemukan pintu yang dituju, dia berdiri di sana, menekan bel berkali-kali kemudian menyingkir.
Saat pintu perlahan terbuka, Jelita langsung nongol, mendorong pintu hingga terbuka lebar dan dengan gaya bitchy; kaki jenjangnya dia perlihatkan, dadanya dia busungkan dan bertolak pinggang, kemudian berteriak lantang.
"SAYANG, AKU HAMIL!!"
Jelita yang semula tersenyum lebar perlahan memudar saat mendengar suara terkesiap kaget dua orang yang ada di dalam sana.
"WHAT!!” Pekik yang lelaki disertai pelototan.
"EH—" Jelita mengerjapkan mata dan menutup mulutnya kaget. "DOKTER HARISTAMA!!!" Pekiknya kemudian.
Jelita tambah melotot saat melihat siapa wanita bergaun hitam yang menatapnya kaget lalu terkesiap saat Clara berjalan mendekati Tama dan— Plak!!
"Kita putus Haristama. Jangan pernah mencariku lagi," desis Clara.
Jelita tambah bengong melihat Tama yang memegangi pipinya saat Clara pergi dan melewati Jelita begitu saja. Butuh waktu bagi Jelita untuk mencerna apa yang telah terjadi. Ah sial! Apa dia salah kamar?
Jelita melihat Tama yang merosot duduk seraya memegangi kepalanya ke lantai dan sadar kalau dia sudah melakukan kesalahan langsung berbalik keluar.
“Clara, tunggu dulu!!” pekik Jelita seraya mengulurkan tangan tapi terlambat karena pintu lift sudah tertutup membawa Clara turun ke bawah.
"Aduhh, bencana.” Jelita memukul kepalanya dan memilih berbalik lagi ke kamar Tama dan menemukan lelaki itu menghabiskan Champagne sekaligus dari botol.
"Tama, stop it!!!" Jelita menarik paksa botol itu tapi Tama menghempaskannya.
"Minggir!!!" Desisnya. "Lamaranku hancur!!" Ucapnya marah dengan mata merah. "Padahal tadi dia sudah luluh tapi kamu datang bawa bencana. Minggir!!" Katanya seraya mendorong Jelita menjauh.
"Tama, aku minta maaf. Aku yang salah. Aku akan memperbaikinya dan menjelaskannya ke—"
"PERCUMA!" Teriaknya, menghabiskan lagi minuman alkoholnya. "DIA SUDAH PERGI!!!"
"Aku akan melakukan apapun untuk memperbaikinya Tam," lirih Jelita seraya memegangi lengan Tama.
"Apapun?" kekehnya kemudian di bawah efek minuman keras.
Sepertinya Tama jenis lelaki yang gampang mabuk. Jelita mengangguk dan tanpa terduga tiba-tiba saja tubuhnya sudah dihempas dan tergeletak di atas ranjang yang ada taburan mawar merahnya. Jelita memandangi langit-langit kamar seraya mengerjapkan mata lalu pandangannya terhalang sosok Tama yang kini berada di atas tubuhnya dengan seringaian.
"Kamu mau apa?" Cicit Jelita.
"Mauku?"
Tama memandangi wajah Jelita seksama dengan ekspresi m***m. Alkohol sudah mempengaruhi akal sehatnya. Tama merunduk sedikit membuat jantung Jelita goyang disko dan merinding saat mendengar bisikannya.
"Mau nanam benih, kebetulan ada yang bisa dijadikan ladang tumbuh."
Jelita ternganga. Bahasa mesumnya sangat tidak romantis tapi membuat bulu kuduk dan bulu hidung meremang.
"Siap-siap aja bunting,” kekehnya kemudian seraya kembali mengangkat pandangannya dan tersenyum ala devil.
"Sadar Mas,” Jelita mengatakannya dengan intonasi ragu. Antara enggan menolak tapi juga gak mau pasrah gitu aja. Tama hanya tersenyum smirk, menurunkan wajahnya sementara Jelita memejamkan mata dan diam tidak bergerak. Menunggu dengan pasrah.
Sudah sinting dia meladeni lelaki mabuk tapi lelaki ini HARISTAMA!!!
Lelaki yang mencuri hatinya pada pandangan pertama dan masih bertahan diingatannya sampai saat ini.
Bolehkah Jelita berharap?
***
Ting Tong Ting Tong
Rama menghembuskan napasnya kasar sesaat setelah keluar dari kamar mandi dan mendengar suara bel kamar hotelnya berbunyi. Dia langsung memakai celana pendeknya seraya mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Nekat membuka pintu tanpa mengenakan baju. Sebelum mencapai pintu, dia mengambil kaca matanya di atas nakas lebih dulu. Kalau itu salah satu pegawai hotel palingan mereka akan gigit jari melihat tubuhnya.
Ting Tong Ting Tong
"Iya sebentar," ucapnya seraya membuka pintu agak lebar dan seseorang itu langsung menubruk lengannya dan berjalan melewatinya dengan tergesa.
"Besok pagi aku akan mengambil penerbangan pertama ke Paris."
Rama bergeming sesaat di sana sebelum tersadar dengan apa yang dikatakan Clara yang sudah duduk di pinggir tempat tidurnya.
"Secepat itu, Cla? Kamu bahkan baru aja sampai dua hari yang lalu?" Ucap Rama bingung seraya menutup pintu kamarnya.
"Tingkah Tama membuatku ingin cepat-cepat kembali ke sana," desahnya, ditatapnya Rama yang mendekat. "Dia melamarku."
"Oh ya—"
Rama sudah tidak kaget lagi dengan berita itu. Apalagi yang ditunggu sahabatnya itu kalau bukan momen saat Clara kembali dan dia akan mengajaknya menikah. Penantian panjang yang ditunggu selama beberapa tahun tapi sayangnya wanita pilihannya terlalu egois untuk menerima.
"Di mana letak salahnya? Seharusnya kamu sudah tahu kalau cepat atau lambat dia pasti akan mengajakmu menikah. Memangnya kamu tega membuatnya menjadi perjaka tua."
"Kita sudah pernah membahasnya." Clara mendengus seraya memegangi kepalanya dengan tangan. "Aku belum siap."
"Bullshit." Rama mendekat dan mengusap puncak kepala Clara. "Alasan klasik. Aku yang akan merasa bersalah seumur hidupku."
Clara mengabaikan ucapan Rama dan duduk saling berhadapan. "Kenapa dia menjadi sangat agresif seperti tadi. Kelihatan sekali niat jeleknya yang mau meniduriku. Astaga!!" Clara menggerang dan menutup wajahnya. "Dia menjadi lebih menggoda berkali-kali lipat dan aku tadi nyaris terlena kalau saja tidak ada—" Clara mengatupkan bibirnya rapat saat teringat dengan kedatangan tidak terduga seorang Jelita Maharani. Mencoba menerka-nerka di mana mereka bisa saling kenal?
Dan dia bilang apa tadi? Hamil? Anak Tama? HAH, yang benar saja. Tama tidak mungkin berselingkuh di belakangnya karena dia tahu kesetiaan seorang Haristama.
"Tidak ada?" Tanya Rama menunggu kalimatnya.
"Nothing." Clara menaikkan bahunya. "Aku sudah minta putus."
Rama tertegun lalu tertawa prihatin, "Putus? Semudah itu? Dia pasti menggodamu tadi sebagai usaha terakhirnya untuk menahanmu tidak pergi."
Clara berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi, "Usaha yang bagus tapi aku tidak suka caranya. Begini lebih baik. Oh ya, aku akan tidur di sini malam ini. Tama nggak tahu kan kalau kamu menginap di hotel ini juga?"
Rama mengalihkan pandangannya. "Tidak ada yang tahu aku di sini selain kamu."
Clara tersenyum mendengarnya dan berbalik masuk ke dalam kamar mandi membiarkan Rama duduk dengan pikirannya sendiri. Apa mungkin nanti Tama akan memaafkannya karena membiarkan Clara seperti ini?
***