DRAMAQUEEN 03

1930 Words
"Sayang—" Tama tersentak kaget saat merasakan elusan tangan Clara di lengannya. "Kamu melamun ya dari tadi?" Tama tersenyum. "Gak apa-apa kok." "Yakin?" Clara menyendok es krimnya dan memasukkannya ke dalam mulut. Setelah dari tempat photoshoot tadi, Tama mengajak Clara makan siang dan sekarang mereka sedang menikmati hidangan penutup. "Ada yang sedang kamu pikirkan?" "Bukan sesuatu yang penting. Oh ya, berapa lama kamu berada di sini?" Tama memfokuskan perhatian ke Clara setelah sebelumnya memikirkan Jelita dan calon suami yang tidak sengaja ditemuinya tadi sebelum dia cepat-cepat keluar dari ruangan karena pemotretan selesai. Dia tidak mau Jelita melihatnya di sana dan membayangkan kehebohan apa yang akan terjadi. Tama memperhatikan ekspresi Clara yang hanya diam, sibuk dengan es krimnya, menyendoknya dan mengulurkannya ke Tama. "Coba deh sayang. Enak banget es krimnya." Tama terpaksa membuka mulutnya kemudian mengangguk. "Habis ini kita jalan-jalan ke mana lagi ya? Apa ke salon atau ke mall?" "Clara," panggil Tama. "Oh ya, gimana di rumah sakit?” "Kamu mengalihkan pembicaraan ya? Katakan saja langsung apa yang ingin kamu katakan. Tidak ada bedanya kamu mengatakan nanti atau sekarang." Tama melipat lengan di d**a dan menatap Clara. "Berapa lama kamu di Indonesia?" Clara menghela napas, "Sudah sampai sejauh ini, aku tidak mau merusak suasana." "Tadi malam kamu juga mencoba menghindar. Apa sebenarnya yang sedang kamu sembunyikan?" "Aku tidak menyembunyikan apapun." "Lalu kenapa kamu mengulur waktu?" Desak Tama. Clara meletakkan sendoknya, duduk menyandar di kursi, "Tiga hari lagi aku harus kembali." Tama jelas kaget, memajukan duduknya dan menatap Clara intens. "Tiga hari? Secepat itu? Aku pikir beberapa minggu supaya kita punya banyak waktu untuk melakukan banyak hal bersama." "Aku tidak bisa—" Clara mengalihkan tatapannya. "Aku akan dikontrak  agensi baru yang lebih terkenal di sana dan aku tidak akan membuang kesempatan itu jadi aku harus kembali dan bersiap-siap." Tama sempurna membeku, menatap Clara tidak percaya. Bagaimana bisa kekasihnya membuat keputusan sepihak tanpa membicarakan lebih dulu dengannya. "Memangnya kenapa dengan agensi yang sekarang?" "Tidak ada masalah sih tapi agensiku yang baru sudah terkenal di seluruh dunia. Tidak sembarangan model yang ditawari kerja sama di sana." Clara menggenggam jemari Tama erat tapi lelaki itu memilih membuang muka. "Kamu harus mengerti kalau ini penting buatku." "Lalu aku apa?" Tama menoleh dan bertanya balik. "Hanya selingan?" "Tentu saja tidak!!!" Bantahnya. "Kamu harus mengerti posisiku!" "Kurang ngerti apa aku selama bertahun-tahun ini, Clara," desah Tama. "Mama sudah memintaku untuk menikah tapi kamu masih sibuk dengan dirimu sendiri." "Jangan diteruskan! Kamu merusak hari yang seharusnya menyenangkan untuk kita." Clara nampak kesal membuat Tama terdiam. Seharusnya dia yang berhak marah. "Aku ini kekasihmu jadi wajar kalau aku— Ah, sudahlah.” Clara berdiri dari duduknya membuat Tama kaget karena dia tidak menyelesaikan kelimatnya. "Aku harus ke salon. Kamu pulang aja duluan dan kita bicarakan masalah ini nanti." Clara mengambil tasnya dan pergi dari sana meninggalkan Tama yang bertahan di tempatnya mencoba untuk menahan emosi di dadanya. Kepalan tangannya menguat saat Clara benar-benar keluar dari restoran. "Ah sial!!" Tama berdiri, berlari menyusul Clara tapi wanita itu sudah masuk ke dalam mobil taksi yang bergerak menjauhi tempatnya berdiri. "Aahhh, b******k!!!" Umpatnya seraya menendang bebatuan di sana, mengacak rambutnya dan berlari ke mobil. Dia butuh menanangkan diri dan gym adalah satu-satunya tempat dia bisa melampiaskannya setelah itu dia bisa kembali menemui Clara. "Cla, kapan kamu bisa mengerti perasaanku ini?" desah Tama seraya memukul setir mobil dengan frustasi. Sementara Clara terhenyak di taksi setelah meninggalkan Tama begitu saja. Padahal itu adalah kesalahannya dan tidak seharusnya dia marah. Diambilnya ponsel dari dalam tas, menekan sederet nomor lalu menempelkannya di telinga. "Halo?" "Rama, aku ke tempatmu sekarang." "Apa kamu berkelahi dengan Tama?" "Kepalaku sakit jadi jangan banyak tanya!” Tuut. Clara memutuskan sambungannya secara sepihak, menyandar di kursi dan memijit kepalanya. Dia tidak punya pilihan. *** "Tadi habis makan siang di mana?" Jelita menutup wajahnya dengan buku yang dibacanya membiarkan saja Kanjeng tertawa melihatnya. "Susah loh nemu lelaki seperti Ikhsan itu." Di sampingnya, Kanjeng nyemilin popcorn dengan tatapan lurus ke depan, di mana drama koreanya sedang berlangsung tapi terus aja nyindir Jelita tidak peduli anaknya itu berusaha mengabaikannya. "Pribadinya baik, wajahnya seperti ahjussi Korea gitu makin tua makin tampan." Jelita membuka halaman bukunya dengan gemas. "Kalau nikah sama dia kamu bisa jadi sosialita tuh." Jelita menoleh dengan wajah datar. "Mami persis banget kayak sales panci yang lagi nawarin dagangan ke ibu-ibu bokek yang mencoba untuk tidak tergiur." "Loh, kamu nggak tergiur sama dia?" Kanjeng duduk tegak. "Nih ya Mami kasih keunggulan yang lain." Jelita mencelos. "Dia itu olahragawan, sexy banget, punya roti sobek, suka sama anak kecil, setia—" "Mam, jangan membual deh." "Loh beneran itu. Mau lihat IG-nya?" "Nggak mau!!" Jelita balik badan dan mendengar helaan napas Maminya. "Mami bingung sama kamu Jel. Mau cari suami yang bagaimana sih?" "Yang profesinya dokter," ucap Jelita tanpa saringan. "Hah, dokter?" Kanjeng menarik bahunya agar berbalik. "Maksud kamu kayak si Tama itu?" "Hmm—" Jelita berdeham.  Kanjeng berdecak. "Padahal sudah lama banget tapi masih kamu ingat-ingat. Dia aja mungkin sudah lupa sama kamu." "Udah Mi, Jelita pusing!" "Apalagi Mami. Duh, obat sakit kepala Mami tadi mana ya?" Jelita memutar bola matanya. "Punya anak gadis satu aja begini banget. Apa ini ya perasaan Jeng Nara saat dulu Bianca ngejomblo nggak nikah-nikah?" Kanjeng memegangi kepalanya dengan gaya lebay seraya menyandar di sofa. "Lee min ho mana Lee min ho biar Mami nggak pingsan. Mami butuh asupan cogan bermata sipit." "Ahh, Mami nyebelinnya sama kayak si Ikhsan itu." "Awas loh ya jatuh cinta sama dia," sindirnya. "Tau ah!! Pusing kepala Incess." "Syukur-syukur dicarikan dan ada yang mau," gerutu si Kanjeng yang coba diabaikan Jelita. "NYAIIIIII!!!!" Tiba-tiba Pekikan Pretty menggema dari arah samping rumah. "Ini apa lagi sih ah!!" sungutnya kesal. Sore ini mereka memang memilih bersantai di rumah Kanjeng. "HELP ME!!! POKOKNYA HELP ME!!!" Pretty memposisikan dirinya di tengah-tengah Kanjeng dan Jelita lalu mengguncang-guncang bahu Jelita. "Stevanus—" "Hah, Tetanus," sela Kanjeng. Petty menoleh kesal. "Stevanus, Kanjeng Tante." "Oh." Kanjeng manggut-manggut. "Kenapa dia?" Jelita melepas paksa cekalan tangan Pretty di bahunya. "Temanku di Hotel Grand Hayt bilang kalau Stavanus pesan kamar untuk dinner romantis besok malam sedangkan tadi aku coba telpon dia katanya ya dia pulangnya baru minggu depan. Itu maksudnya apa coba?!" Pretty histeris. Kanjeng dan Jelita menggelengkan kepala bersama- kemudian masing-masing tangan mereka memegang pundak Pretty. "Sahabatku tersayang, dengerin Incess yang cantik ini ya. Si Tetanus—" Pretty mendelik. "Ah maksudnya, Stevanus itu sudah pasti berselingkuh. Tabahkan hatimu ya Nak, lelaki memang gitu kalau modelan seperti pacarmu itu." Kanjeng mengangguk setuju. "TIDAAAAAAAKKK!!!" Pekik Pretty tidak terima. Kanjeng dan Jelita langsung tutup telinga dan membalas pekikan Pretty bersama.  "DUH PUSING PALA INCESS NIH.”  *** Kenapa wanita sulit sekali dimengerti? s**t! "Sudah putuskan saja kekasihmu dan cari wanita yang lain." Sontak saja kalimat penghiburan dari seorang lelaki bernama Raga itu membuat hati Tama yang semula nyut-nyutan setelah kemarin bertengkar dengan Clara langsung seperti diremas-remas gemas. Raga adalah sahabat yang sangat pengertian. "Apa dari semua kalimat penghiburan, kata-kata mutiara yang bertebaran dan nasihat terbaik yang mungkin bisa aku dapatkan, kamu malah memberiku saran sinting model begitu!!!" Desisnya kesal seraya memijit pelipisnya. Mengabaikan hujan di luar yang masih menderas, Tama yang masih berdiam diri di dalam mobil di parkiran hotel bintang lima memilih untuk menelepon Raga dan menyesal telah melakukannya. Semalaman Tama mencoba menghubungi Clara dan mendatangi rumah serta apartemennya tapi wanita itu tidak ada di sana. Tama jelas bingung. Kepulangannya yang sudah Tama nantikan selama enam bulanan ini apakah harus sehancur ini dan berakhir dengan perpisahaan? Oh tentu saja tidak. Tidak peduli ada Raga-Raga yang lain yang mungkin akan menyarankan hal serupa, Tama tetap akan mempertahankannya dan melakukan usaha terbaik untuk memperbaikinya. Malu lah sama Mamanya. Masa iya lelaki umur tiga puluh tiga tahun tahun ditinggal pacar jadi supermodel dan akhirnya harus melajang lalu berakhir dijodohkan. Oh tentu saja tidak (2x) Menikah ala siti nurbaya tentu tidak ada dalam kamusnya. "Sebenarnya Clara itu sadar tidak sih kalau anak Mama ini sudah waktunya menanam bibit supaya jadi benih dan jadi seorang ayah. Wajah ganteng, bodi sangar, hobi ekstrim, hati hello kitty, setia kebangetan, cinta kokohnya seperti tembok cina—" Tama ingat betul ocehan Mamanya beberapa bulan lalu saat menanyakan progres drama percintaannya dan dia hanya bisa menelan semua perkataan beliau bulat-bulat sampai kenyang. "Pekerjaan juga sudah mapan jadi dokter. Memangnya dia itu nggak mau menikah? Heran Mama nih. Kalau saja Mama ketemu sama dia, Mama bakalan beberkan fakta di lapangan kalau anak Mama satu-satunya yang ganteng ini sudah diincar sama wanita lajang di luar sana. Mama aja sampai kewalahan ngadepinnya, belum lagi hadiah-hadiah sogokannya. Mereka bahkan rela di buntingin sama kamu duluan buat ngasih Mama cucu yang banyak." Tama hanya bisa tepok jidat. Nggak kuat dengan ocehan versi panjangnya lagi. "HAHAHHAHAAHHA—" "Sialan!! Nggak usah ketawa bahagia begitu. Dasar sinting!!" Geram Tama. "Kamu tahu sendiri aku bukan pujangga seperti Kahlil Gibran atau Tere Liye dengan segudang bait syairnya yang menyentuh hati juga kata-kata mutiaranya tapi demi kamu, Aku barusan aja guggling nih supaya dapat kata mutiara yang pas dan aku dapat satu. Mau dengar?" DEMI TUHAN!!!!  Tama menjedotkan kepalanya ke setir mobil, mengacak rambutnya frustasi. Seakan semakin melengkapi betapa mengenaskannya dia hari ini, kilat di luar terlihat menyambar-nyambar dan petirnya bergemuruh. Gelap banget auranya padahal masih jam sepuluh pagi. Lengkap sudah penderitaannya ditambah dengan sahabat gilanya disebrang sana. "Denger ya, hmm—" Dia sudah sangat pusing saat ini. "Untuk apa memperjuangkan seseorang yang semakin menjauh dan tidak peduli apa arti hadirmu. Dia hanya ingin bermain-main sementara kamu serius—" Tama membenamkan wajahnya dilekukan tangannya di atas setir. Menggerang frustasi. Raga menghayati sekali membaca quotes indahnya itu seperti memberikan perasan jeruk nipis di atas goresan lukanya. Perihnya nyelekit. "Beberapa orang datang bukan untuk melengkapi bukan juga untuk menetap dan menjadikanmu kuat. Dia hanya datang sekedar untuk singgah lalu akan menjadi kenangan yang membuat hatimu patah. Dia yang tidak bersedia memperjuangkan memang sudah sepantasnya dilupakan sebagai kenangan." Raga berdeham. "Hmm, sekian. Bagaimana?" "IDIOOTTTTT!!" Teriak Tama kesal. "Ya ampun telingaku. Sudah capek-capek searching tapi begini balasannya. Ck. Sangat tidak menghargai." Raga berdecak. "Kamu jadi mau ngelamar dia?" "Akhirnya kamu waras juga. Aku sudah  ada di depan hotel mau booking tempat. Pokoknya aku bakalan usaha maksimal supaya dia mau kembali padaku. Tahun ini, aku harus menikah. Titik!!" "Iyalah. Malu sama wajah. Ganteng tapi kok nggak laku. Cleaning Service rumah sakit aja sudah nikah tiga kali padahal wajahnya pas-pasan." Tama mencoba mengabaikan sindiran Raga dan berucap mantap. "Makan malam romantis dan momen lamaran yang menyentuh pasti akan membuat Clara terharu dan melupakan niatnya untuk kembali ke Paris." "Kalau dia gak terharu?" Raga bertanya balik. "Ah pasti terharulah. Wanita mana yang tidak akan bahagia kalau dikasih suprise begini." "Jawabannya adalah karena wanita itu Clara. Aku punya usul yang lebih bagus seandainya kamu ditolak." Tama menyandarkan punggungnya di kursi mobil dan memijit pelipisnya. Sangat stress. "Apa?" "Aku sih mengharap kamu putus saja karena kelihatan sekali kalau dia sama sekali tidak peduli padamu. Itu pengamatan dari kacamataku sebagai sahabatmu." "Apa idemu, cepetan?!" Sela Tama nggak sabaran. "Ah sialan. Pokoknya aku sudah mengingatkan." "Apaan?" "Gunakan samuraimu, bodoh!! Apa selama ini tuh samurai hanya jadi pajangan sampai akhirnya karatan?!" ucap Raga kesal di sebrang sana. Tama langsung duduk tegak. "Apa maksudmu?” "BUNTINGIN DIA, GERET KE KUA, SELESAI. DASAR i***t!!!" Teriaknya membuat Tama sedikit menjauhkan ponsel dari telinga lalu memutuskan sambungan secara sepihak membuatnya ternganga. Dinner romantic + red wine + Clara+ Bed room + Me + Samurai + Explisit scane ++ =  BUNTING = KUA = PERFECTO. Obat perangsang ( Additional = jika diperlukan ). Setelah kekagetannya tadi dan munculnya rumusan di kepalanya, perlahan senyuman di sudut bibirnya tertarik ke belakang membentuk seringaian. "Good idea," gumamnya kemudian. Usaha terakhir yang akan dia tempuh seandainya Clara menolak. Mama, tunggu cucumu di rumah ya. ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD