"Ayo dansa." Fariz mengulurkan tangan, Jelita mendesah, meletakkan gelas minumannya di meja dan menerima uluran tangan kekasihnya yang langsung membawanya ke lantai dansa di antara para undangan. "Sudah puas ngobrol sama wanita berambut pirang itu," sindir jelita. "Kok ngomongnya gitu sih beb?" Fariz menarik pinggang Jelita agar merapat ke tubuhnya. "Fransiska hanya temanku." "Sejak datang tadi aku dicuekin," gerutunya. "Maklumin dong. Kami tadi sekalian nostalgia masa-masa sekolah.” Jelita menggelengkan kepala. Mereka berputar-putar di sana mengikuti alunan musik. Fariz tersenyum dan mengecup kening Jelita. "Jangan marah baby." Jelita tersenyum, memalingkan wajah ke samping saat Fariz semakin menariknya rapat. Dari balik bahunya, Jelita memperhatikan pasangan lain yang berdansa di

