Bab 1 - SELEB ANI-ANI
“Indria Verlita. Film-nya tiga kali berturut-turut gagal total. Lagian casting director-nya waras nggak, sih? Bisa-bisanya sekuter alias seleb kurang terkenal dijadikan pemeran utama. Jelas nggak laku film-nya!”
“Dia memang menang cantik doang, sih. Bakat nol. Akting juga kaku. Casting director, sutradara sama produsernya plenger kali ya,” kekeh yang lain.
“Padahal pasti seru ya kalau reuni begini, terus salah satu di antara kita ada artis terkenal. Bisa minta endorsement gratis atau minimalnya bisa pamer IGS ‘nih gue punya temen seleb nih’. Sayangnya Indria nggak terkenal, nggak ada yang bisa dibanggakan.”
“Dia semenjak filmnya nggak laku semua, katanya udah nggak main film lagi?”
“Iya, dia hiatus. Publik juga nggak peduli, sih, misalnya dia nggak main film lagi selamanya.”
“Tapi BTW, kapan hari ketemu dia di mal. Sumpah, gayanya hedon banget. Barang-barang yang dia pakai branded semua. Tentengan belanjaannya pun kanan kiri full logo merek terkenal. Aku sampai mikir ... gila ya, duitnya pasti banyak banget. Meskipun udah nggak main film lagi, kayaknya endors dia ramai terus.”
“Jangan terlalu polos. Kamu percaya itu hasil endorsement doang? Aku, sih, nggak. Apalagi ada desas-desus dia jadi simpanan om-om pejabat alias ani-ani.”
“Masuk akal kalau ini. Gila aja se-hedon itu dari endorsement doang? Siapa yang percaya? Kecuali dia seleb terkenal yang rate card-nya pasti gede. Masalahnya dia ini sekuter.”
“Miris ya? Zaman sekarang muka cantik badan bagus malah terjun jadi ani-ani.”
“Duitnya gede, instan lagi.”
“Gilaaa, pantesan dia nggak nikah-nikah. Pacar pun nggak ada. Ternyata simpanan om-om!”
“Enggak nyangka, sih, kalau Indria ending-nya bakal jadi mainannya para gadun.”
“Tapi ini infonya valid nggak, sih? Takutnya malah fitnah loh.”
“Astaga, beneran!” ucapnya menggebu-gebu. “Salah satu g***n-nya itu temennya bosku. Udah aki-aki, tapi memang tajir melintir.”
“Maksudnya dia beneran punya g***n lebih dari satu?”
“Kayaknya tiga atau bisa jadi lebih, who know? Gila nggak, sih? Kerjaan dia telanjang terus ngasih service terbaik sama mereka. Setelah itu, saldo rekening bertambah, barang-barang mewah juga dibayarin.”
“Dih, pantesan aja dia sering banget jalan-jalan ke luar negeri. Meskipun sekuter, gayanya itu udah kayak wanita karier sukses plus independent woman, eh ternyata tukang mendesah di bawah kungkungan aki-aki.”
Gelak tawa pun terdengar.
“Sekalipun demi duit, aku sih ogah banget ena-ena sama aki-aki. Kok dia sanggup, ya?”
“Demi duit lah. Kebayang nggak, tuh, pas lagi nyusuin aki-aki. Mau ilfeel, tapi demi duit. Jadi harus menampilkan ekspresi menikmati. Gilaaa.”
“Dia bilang, ‘Om, enak banget. Lagi Om, terus....’ hahaha’.”
Semuanya kembali tertawa.
“Gila, menghayati banget. Pengalaman, ya?”
“Aku hanya berimajinasi, membayangkan Indria kalau lagi kerja.”
“Hahaha, udah deh udah. Jangan mencela orang lagi cari nafkah. Aku yakin dia nggak punya pilihan lain.”
“Enggak punya pilihan lain apanya? Ada banyak pilihan di dunia ini, tapi dia lebih memilih jalan termudah tapi menjijikkan.”
“BTW dia kira-kira datang ke sini nggak? Kita harusnya pelan-pelan loh ngobrolnya. Kalau dia tiba-tiba datang, gimana?”
“Kalau jadi dia, aku nggak akan datang soalnya malu.”
“Di antara kita ... dia jadi satu-satunya yang belum nikah, kan?”
“Bener, aku sempat was-was kalau Indria nikah berarti aku yang terakhir nikah. Tapi ternyata aku nikah duluan. Lega rasanya.”
“Seharusnya kamu nggak perlu was-was. Dia nggak akan nikah-nikah sampai kapan pun.”
“Aku mau pura-pura kaget aja misalnya dia hamidun.”
“Bukannya pemain biasanya lebih jago? Kontrasepsinya kenceng lah.”
“Hari apes siapa yang tahu? Tiba-tiba jadi, bapaknya siapa pun bingung.”
“Tapi terlepas dari itu semua, aku kagum sama hidungnya. Cantik banget gilaaak!”
“Oplasnya mahal dan berhasil.”
“Bukannya asli? Dia dari zaman kita masih sekolah hidungnya udah se-bagus itu.”
“Sttt, orang yang kita omongin udah nongol. Ayo bahas yang lain dan bersikap biasa aja, jangan bikin curiga.”
Mereka pun mulai membahas hal lain. Kompak sekali, bukan? Seolah ada tombol otomatis untuk mengalihkan pembahasan yang tadinya membahas tentang Indria, kini mereka membahas tentang nostalgia masa-masa SMA hingga pencapaian demi pencapaian yang berhasil mereka dapatkan saat ini.
Suara high heels terdengar teratur seiring langkah Indria yang semakin mendekat ke arah teman-temannya. Indria mendengar semuanya, tapi dengan elegan wanita itu melangkah seolah tidak mendengar apa-apa.
Indria tersenyum saat topik pembicaraan teman-temannya sungguh berubah seratus delapan puluh derajat. Tunggu, teman? Setelah mendengar mereka bergunjing di belakangnya ... bisakah ia tetap menganggap mereka teman?
“Iya teman, tapi teman setan!” umpat Indria, dalam hati.
“Hai, kayaknya aku terlambat. Maaf ya,” ucap Indria, sengaja berbasa-basi.
“Enggak telat, kok. Sini duduk,” ajak salah satu di antara mereka.
Indria kemudian duduk di kursi yang kosong.
“In, apa nih kesibukan kamu sekarang? Jarang lihat kamu main sinetron lagi.”
Indria tersenyum ramah. “Aku lagi istirahat aja, sih.”
Sumpah demi apa pun, Indria bisa melihat bombastic side eyes mereka satu sama lain.
“Kalau kalian, sibuk apa?” tanya Indria, bersiap melontarkan pertanyaan secara berurutan dan yang pertama adalah ke teman yang tepat di sampingnya, lalu terus bergiliran sesuai tempat duduk.
“Kamu masih kerja di Forena? Betah, kan? Syukurlah, aku punya kenalan di sana dan ikut happy kamu bisa masuk ke sana atas rekomendasi aku.”
Seketika suasana menjadi canggung. Namun, dengan santainya Indria beralih pada temannya yang lain, “Ah Denna, waktu kamu nikahan maaf banget aku nggak datang. Tapi suvenir-nya kamu suka, kan? Maaf cuma bisa transfer mentahan sama sponsorin seribu unit aja suvenir handuk premium-nya.”
Indria beralih pada yang lain, “Kalau kamu gimana? Bisnisnya lancar? Investor yang aku kenalin ke kamu itu orangnya baik banget loh.”
Lagi, Indria beralih, “Ah, proses cerai kamu udah beres, kan, Beb? Maaf cuma bisa bantu kirim pengacara aja. Tapi dijamin dia terbaik di bidangnya. Jangan khawatir, kamu pasti dapat harta gono-gini yang adil.”
Lanjut....
“Kalau kamu gimana? Udah nggak kesulitan bayar sewa rumah lagi, kan? Sori ya waktu itu cuma bisa bantu bayarin sebulan aja. Tapi sekarang aman, kan?”
Sungguh, suasana mendadak hening. Hanya Indria yang berbicara, sedangkan mereka yang tadi bergunjing dengan penuh semangat ... kini hanya bisa terperangah dengan wajah memerah menahan malu sekaligus sakit hati.
“Ya ampun, lihat kamu aku langsung ingat perkara mobil. Aku sama sekali nggak pakai mobilnya loh pas kamu gadein ke aku. Sumpah, ibaratnya kamu titip parkir doang,” kekeh Indria.
Dan seterusnya, ada yang Indria bantu biaya rumah sakit anaknya, pemakaman keluarganya ... semuanya Indria kupas tuntas tidak ada yang terlewat.
Segala ultimatum yang Indria berikan, tentu membuat mental mereka tersentil sampai-sampai tak ada yang berani berbicara. Lagi pula mereka yang lebih dulu membuat Indria kesal, makanya Indria tanpa ragu mengungkit-ungkit kebaikannya.
Pada dasarnya, mereka pernah di posisi yang sangat butuh bantuan Indria, tapi bisa-bisanya bergunjing seperti tadi. Apa namanya kalau bukan kacang yang lupa kulitnya? Tidak tahu terima kasih!
Setelah puas membuat semua orang tercengang, Indria memundurkan kursinya lalu beranjak berdiri.
“Mau ke mana?”
Indria hanya tersenyum lalu menempelkan ponsel ke telinga seolah-olah menjawab telepon. “Halo om? Aku ke sana sekarang.” Indria bahkan sengaja mengeraskan suaranya agar mereka semua mendengar.
Silakan berasumsi sesuka hati kalian....
***
Indria berjanji ini adalah terakhir kalinya ia datang ke reuni SMA sekalipun diadakan di hotel mewah seperti sekarang. Setelah meninggalkan tempat acara, Indria naik lift menuju rooftop, berharap bisa menyendiri sekaligus mencari udara segar di sana. Ini adalah salah satu hotel favorit Indria dan ia beberapa kali menikmati suasana malam di rooftop-nya.
Tiba di rooftop, Indria langsung menyadari keberadaan seorang pria yang sedang berdiri sambil memperhatikan pemandangan di bawah sana. Tentu saja Indria tidak peduli dengan keberadaan siapa pun termasuk pria itu. Makanya tanpa ragu ... ia mengeluarkan sebungkus rokok yang masih tersegel dan sebuah korek.
Indria agak kesulitan membuka segel rokoknya, sampai kemudian ia berhasil dan langsung berusaha menyalakannya menggunakan korek di tangan kanannya. Konyolnya, Indria terus-terusan gagal menyalakan apinya.
Apa koreknya rusak?
Tanpa diduga, pria yang tadi sempat dilihat Indria kini sudah berdiri di hadapannya, merebut korek dari tangannya. Dengan tenang, pria itu menyalakan api dan membantu menyalakan rokoknya.
Uhuk, uhuk, uhuk!
Padahal baru satu isapan, tapi Indria sudah terbatuk-batuk. Sialnya, batuknya tak kunjung berhenti, membuatnya refleks mengambil alih tumbler di tangan pria itu. Ia akan meminta izin sekaligus berterima kasih setelah batuknya berhenti. Sekarang yang penting ia butuh minum saja dulu.
Lagi pula, bukankah seharusnya pria itu yang berinisiatif menawarkan minuman tersebut? Bisa-bisanya hanya menonton orang terbatuk-batuk padahal membawa minuman.
Indria kemudian meminumnya dan begitu cairan itu menyentuh lidah, rasa panas langsung menjalar ke tenggorokan.
Sial, minuman apa ini?
Tak lama kemudian, kepala Indria mulai terasa ringan, seolah-olah melayang tertiup angin. Pandangannya berputar, lampu-lampu kota di bawah sana tampak bergeser seperti pusaran cahaya. Hal terakhir yang ia sadari adalah tubuhnya yang oleng, tapi dengan cekatan ditangkap oleh pria tampan di hadapannya.
Setelah itu, kesadarannya perlahan memudar. Gelap. Semuanya gelap. Kesadaran Indria telah hilang sepenuhnya.