PERNIKAHAN SANDIWARA
“Ah! Sakit, Mas!” keluh Naya saat tangannya ditarik cukup kencang, lalu tubuhnya dihempaskan ke ranjang.
“Kamu memang pantas diperlakukan seperti itu!”
“Apa maksud Mas Naren?” Naya tidak habis pikir kenapa sikap suaminya tiba-tiba berubah 180 derajat. Padahal, sebelumnya mereka tampak seperti pengantin baru pada umumnya.
“Puas kamu sekarang, hah? Dasar cewek matre! Kalau bukan demi Bunda, saya tidak mau menikah dengan kamu!” bentak Narendra meluapkan kekesalannya.
Sejak tadi dia berusaha menahan diri, berpura-pura tersenyum di hadapan para tamu bahkan merangkul pinggang istri barunya. Rasanya begitu muak saat harus terus berterima kasih mendengar ucapan selamat dari mereka. Setelah acara pernikahan yang hanya dihadiri oleh kedua pihak keluarga dan kerabat dekat itu berakhir, Narendra segera mengajak Naya pulang ke rumahnya.
Tidak pernah terlintas dalam pikiran Naya ternyata Narendra telah menipu semua orang. Tadi pagi, kalimat kabul telah diucapkan dengan lantang dan lancar oleh pria berkacamata itu. Mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Wanita berhijab itu bangkit dan meremas kain kebaya yang masih dia kenakan. Setetes bulir bening pun luruh dari kedua sudut matanya. Entah bagaimana cara menjelaskan alasan yang membuatnya mau dijodohkan dengan putra pertama keluarga Danadipa itu. Mungkin akan sia-sia juga karena Narendra sudah terlanjur membencinya.
“Kamu itu perempuan, punya hak untuk menolak lamaran. Seharusnya kamu pergi yang jauh biar ibu saya tidak bisa menemui kamu lagi!” Narendra menatap dengan sinis. Suaranya sengaja dipelankan agar tidak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka di kamar.
Naya yang duduk di tepi ranjang hanya menunduk. Ada sedikit rasa sesal yang muncul dalam hati.
“Maaf, Mas Naren. Tante Rima … hmm … maksudku, Bunda yang …”
“Halah, dasar munafik! Pasti kamu mau bilang kalau ibu saya yang memaksa kamu dengan alasan penyakitnya, ‘kan?” potong Narendra. “Tapi, sebenarnya yang kamu inginkan adalah hartanya. Dasar penipu!” tukasnya.
Naya mendongak. Sesaat matanya menatap ke arah Narendra yang sedang berdiri dengan jarak kurang dari satu meter. Dia segera menggelengkan kepala dengan cepat, lalu kembali menunduk.
“Dengar, Naya! Kalau kamu berharap pernikahan ini akan membawa kebahagiaan, maka itu salah besar. Kamu tidak akan mendapatkan apapun, apalagi warisan dari keluarga saya. Mulai sekarang, kita akan bersandiwara di depan semua orang dan kamu harus mengikuti semua perintah saya!” Lagi-lagi perkataan Narendra terasa begitu menusuk. “Malam pertama ini kamu boleh tidur di kasur dan saya di sofa. Setelah besok pindah rumah, kita tidur di kamar terpisah” lanjut lelaki bertubuh gagah itu.
Naya hanya menganggukkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Tidak ada keberanian untuk kembali menatap mata Narendra. Kedua tangan yang dingin terus saling meremas, bahkan terlihat ada sebuah luka kecil akibat terlalu ditekan oleh kuku.
Tiba-tiba tubuhnya tersentak saat mendengar suara pintu kamar mandi yang dibanting dengan keras. Kini, wanita itu dapat bernapas dengan lega ketika menyadari bahwa Narendra sudah hilang dari pandangan. Dihirupnya oksigen sebanyak mungkin untuk menetralkan debar jantung yang sempat tidak terkendali.
“Astagfirullah,” lirihnya sambil mengusap d**a. Deraian air mata sudah tidak bisa ditahan lagi. Hari pernikahan yang seharusnya membahagiakan justru menjadi hari pertamanya memasuki gerbang penderitaan.
***
Usai membersihkan diri, Naya keluar dari kamar dan meninggalkan Narendra yang sedang tertidur. Dia berjalan pelan menyusuri lorong lantai atas yang sepi sambil memperhatikan foto-foto yang dipajang di dinding. Langkahnya terhenti saat melihat salah satu foto masa kecil sang suami.
Narendra Danadipa yang dia kenal sekitar tujuh belas tahun lalu telah tumbuh menjadi seorang lelaki bertubuh tinggi dan gagah. Wajah tampannya tidak banyak berubah, hanya saja kini terlihat lebih dewasa dengan kacamata dan brewok tipis. Gaya bicaranya yang ketus juga masih sama seperti dulu.
Pandangan Naya berpindah pada sebuah foto keluarga yang mulai kusam. Ada seorang anak lelaki lain yang wajahnya mirip dengan Narendra. Jari lentiknya mulai meraba gambar itu. Jantungnya berdebar lebih kencang seiring dengan kabut bening yang perlahan berarak di kedua netra.
“Wajah kalian memang mirip.” Wanita itu membatin.
Tiba-tiba terdengar suara deham seseorang yang membuat Naya terkejut. Dia menoleh perlahan. Seketika bibir terasa terkunci saat melihat Chandra sedang berdiri tidak jauh darinya.
“Kenapa matamu sembab?” tanya lelaki berambut cepak itu.
“Hmm … mungkin karena belum terlalu bersih.” Naya terlihat salah tingkah sambil mengucek mata. Padahal wajahnya sudah berkali-kali dicuci agar make-up yang menempel bisa terhapus.
Chandra tersenyum tipis, sangat tahu bahwa Naya sedang berbohong. Hatinya terasa berdesir ketika memandang wanita yang dia cintai, kini sudah berganti status menjadi kakak iparnya. Andai waktu dapat diputar kembali, ingin sekali dia mengacaukan pernikahan itu dan membawa Naya kabur ke tempat yang jauh.
“Nayanika Rinjani ….” Panggilan itu terdengar lembut, bahkan terlalu lembut hingga terasa seperti angin yang menyusup ke dalam kalbu. “Apa kamu bahagia, Nay?” tanya Chandra pelan.
“Tentu.” Naya terpaksa berbohong lagi. Dia hanya ingin menutup masa lalu dan membuka lembaran baru.
Lelaki itu mulai mendekat. Parfum beraroma mint yang menjadi ciri khasnya perlahan semakin tercium. Sejak dulu tidak pernah berubah, bahkan wangi itu sering kali menenangkan perasaan Naya.
“Bila dia terpaksa menikahi kamu, aku akan dengan senang hati menggantikan posisinya,” ujar Chandra saat melintas di belakang Naya.
Mata wanita berhijab biru itu membulat. Perasaannya kembali terkoyak.
“Tolong lupakan masa lalu, saat ini aku adalah kakak iparmu!” tegasnya tanpa berani menatap.
“Tapi, cuma kakak ipar sementara karena pernikahan kalian hanya sandiwara!”
Sebelumnya, Chandra telah mendengar perkataan yang diucapkan oleh sang kakak dari balik pintu kamar. Lelaki itu tidak bermaksud menguping, tetapi sempat ada suara bentakan yang begitu menarik perhatian saat melewati kamar Narendra. Hatinya yang sakit terasa semakin tercabik saat tahu bahwa Narendra berani berbicara kasar pada wanita yang dicintainya. Tekadnya semakin bulat, dia harus bisa merebut Naya dari kakaknya.
“Oh, ya, Nay. Aku ingin tahu, di mana anak itu sekarang?” tanya Chandra.
Naya tersentak. Bayangan masa lalu kembali berputar dalam otaknya.
“Hey, apa yang sedang kalian bicarakan?”
***