Chapter 2

984 Words
CURIGA “Oh, ya, Nay. Aku ingin tahu, di mana anak itu sekarang?” tanya Chandra Naya tersentak. Bayangan masa lalu kembali berputar dalam otaknya. “Hey, apa yang sedang kalian bicarakan?” Suara itu membuat Chandra dan Naya menoleh bersamaan. Keduanya menjadi kikuk. Naya begitu khawatir bila pembicaraannya dengan Chandra sempat terdengar oleh sang ibu mertua. “Hmm … Naya bilang, Chandra dan Mas Naren mirip Ayah, Bun!” sahut lelaki berkaos putih itu berusaha menutupi. “Oh, soal itu semua orang pasti setuju! Nay, mana Naren? Tolong ajak dia turun! Kita makan bareng, semuanya sudah disiapkan,” kata Rima sambil tersenyum. “Ba-baik, Bun,” jawab Naya terbata. Dia membuang napas lega dan segera berbalik melangkah menuju kamar. Aroma bunga melati tercium saat pintu ruangan dengan luas dua belas meter itu terbuka. Sesaat Naya terhipnotis oleh wangi semerbak dari hiasan kamar pengantin itu. Namun, sosok yang sedang terbaring di atas kasur membuat dirinya kembali tersadar akan kenyataan yang terjadi. “Mas Naren …, “ panggil Naya pelan sambil duduk di tepi ranjang. Tangannya hampir menyentuh pundak sang suami, tetapi dia menariknya kembali. Narendra sama sekali tidak bergerak. Dia tampak tertidur pulas dengan napas teratur ditambah suara dengkuran halus. Panggilan istrinya yang berulang kali membuatnya perlahan mulai membuka mata. “Ada apa sih? Ganggu aja!” Narendra merasa jengkel. “Bunda nyuruh kita ke bawah buat makan bersama, Mas,” jawab Naya dengan hati-hati sambil menunduk. Tanpa memberikan respon, Narendra bangun dan berjalan dengan malas ke arah kamar mandi. Lagi-lagi pintu yang dibanting cukup keras menjadi sasaran kemarahannya. Sambil menunggu suaminya selesai, Naya sempat bercermin dan memperhatikan penampilannya. Dia memakai sedikit bedak dan memoles bibir dengan lipgloss. Beberapa kali wajahnya membentuk lengkungan hingga menarik otot pipi agar tidak kaku saat berkumpul dengan anggota keluarga lainnya. Selang sepuluh menit kemudian, pria dengan brewok tipis itu keluar. Dia sudah berpakaian dan memasang kembali kacamatanya. “Kamu harus ingat, kita hanya bersandiwara!” tegas Narendra sebelum melangkah menuju ruang makan. Sesampainya di sana, Rima menyambut dengan hangat. Wajahnya tampak berbinar sambil terus tersenyum ke arah pasangan yang menurutnya begitu serasi. Usaha wanita itu mencari keberadaan Naya tidak sia-sia. Dia telah berhasil menyatukan putra sulungnya dan Naya. Narendra menarik kursi untuk istrinya terlebih dulu. Kemudian, dia duduk di sebelah kanannya. Perhatian kecil itu sengaja diberikan hanya untuk dilihat oleh sang ibu. Suasana makan malam terasa sangat canggung. Hanya suara denting sendok dan garpu yang terdengar beradu di atas piring. Menu daging sapi lada hitam yang disajikan membuat semuanya terlarut menikmati olahan tersebut dalam diam. Jantung Naya tiba-tiba berdetak lebih cepat saat merasakan ada seseorang yang menyenggol kakinya. Dia menatap lurus pada lelaki yang duduk di seberang. Kemudian, berpura-pura tidak tahu. Chandra pun sempat mencuri pandang, lalu kembali menyantap menu makanan. Diam-diam, seulas senyum terbentuk saat kaki kirinya diayunkan lagi. Dia sengaja ingin mencari perhatian kakak iparnya. “Kaki lo gak bisa diem amat!” sungut Narendra yang merasa terganggu. “Sorry, gak sengaja! Kaki gue pegel,” balas Chandra dengan santai. Padahal dalam hati sempat merasa khawatir bila kakaknya akan curiga. “Sudah-sudah! Masalah sepele, kok!” Rima ikut berkomentar. “Maaf ya, Nay. Mereka memang sering seperti itu, nanti juga kamu akan terbiasa,” sambungnya. Naya hanya memberikan senyuman pada ibu mertuanya. Setelah makan malam itu selesai, dia menumpuk piring-piring kotor dan membawanya ke dapur. Satu per satu perlengkapan makan itu dibersihkan, lalu dibilas dengan air yang mengalir. Tiba-tiba ada sebuah tangan meraih piring yang hendak dia simpan di rak. “Sini, biar aku bantu!” ujar lelaki berambut cepak berjambul. “Gak usah, Chan. Sebentar lagi juga beres.” Naya menahan piring yang masih basah itu. Bukan Chandra namanya, bila menyerah begitu saja. “Biar makin cepet beres, Nay!” desaknya seraya menarik kembali. Piring pertama berhasil ditaruh di rak. Kemudian, setiap ada yang selesai dibilas langsung dia ambil dari wanita itu. Sebenarnya Naya merasa tidak nyaman berinteraksi terlalu akrab dengan adik iparnya. Khawatir bila tiba-tiba ada yang melihat kedekatan mereka. Suaranya pun sengaja dipelankan saat mengobrol. “Ini impianku sejak dulu, bisa bantu kamu mengerjakan tugas rumah tangga. Tapi, sayangnya ….” Naya tersentak saat tangannya tanpa sengaja tersentuh. Dia langsung melepaskan piring yang dipegangnya sebelum diraih lelaki itu. Prang! “Aw!” jerit Naya karena merasa seperti ada beling yang terinjak. Saat piring itu jatuh, dirinya spontan mundur selangkah. “Maaf, Nay. Aku gak sengaja. Kamu diam dulu sebentar!” Chandra segera mengumpulkan pecahan-pecahan piring yang berserakan. Beling yang berukuran kecil pun disapu secara perlahan agar tidak ada yang tertinggal. Setelah memastikan lantai bersih, dia berjongkok memeriksa kaki Naya untuk melihat seberapa parah lukanya. “Aku bisa sendiri!” tolak wanita itu kembali mundur. “Kakimu terluka, Nay. Biar aku bantu bersihkan, takutnya ada beling yang masuk. Sekarang kamu duduk dulu!” Chandra menahannya. Dia tahu, Naya sangat takut melihat luka berdarah. Namun sayang, tangannya segera ditepis. “Wah, ada drama apa di sini?” tanya Narendra yang sedang berdiri sambil memangku kedua tangan. Sebelumnya, pria berkacamata itu sempat mendengar seperti ada suara perabot yang pecah. Narendra tidak ingin peduli dan meneruskan kegiatannya menonton acara televisi. Setelah cukup lama, kerongkongannya terasa haus. Dia beranjak ke arah dapur untuk mengambil air minum. Ternyata, di sana masih ada Naya yang sedang berduaan dengan adiknya. “Istri lo nginjek beling tuh! Cepetan bersihin lukanya, takut ada infeksi!” seru Chandra pada sang kakak. Naya terlihat begitu gugup. Entah sejak kapan suaminya berada di sana. Dia berusaha menghindar dan berjalan cepat walaupun harus tertatih menahan perih. Luka pada kakinya tidak seberapa dibandingkan rasa sakit di hati melihat suami yang tampak tidak peduli. Wanita itu kembali ke kamar. Meskipun sedikit takut, dia terpaksa membersihkan luka sendiri. Setelah telapak kakinya dibasuh, terlihat ada luka akibat beling yang menusuk. Masih terasa perih dan sakit bila ditekan, beruntung beling itu tidak masuk terlalu dalam dan bisa dikeluarkan. Selang beberapa menit kemudian, Narendra masuk membawa segelas air putih. Dia menaruhnya di meja nakas tanpa berbicara apa-apa. Matanya sempat melirik ke arah Naya yang sedang duduk memasang perban. Pikiran Narendra tidak bisa lepas dari kejadian tadi. Dia bisa membedakan bagaimana tatapan Chandra pada istrinya. Apalagi saat hendak memeriksa kaki Naya, perhatiannya terlalu berlebihan untuk saudara ipar. “Kamu dan Chandra apa sudah saling kenal sebelumnya?” tanyanya penasaran. Naya menelan ludah dengan kasar. Terdiam sejenak sambil memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan karena khawatir suaminya itu mulai merasa curiga. “Heh, saya bicara sama kamu! Bukannya menjawab, malah melamun!” bentak Narendra. “Hmm … aku dan Chandra ….” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD