Chapter 3

1031 Words
SURAT PERJANJIAN “Heh, saya bicara sama kamu! Bukannya menjawab, malah melamun!” bentak Narendra. “Hmm … aku dan Chandra ….” Di saat yang bersamaan, ponsel Narendra berdering. Dia bangkit dan berjalan menjauh setelah melihat nama yang muncul pada layar. “Halo. Oh, gitu. Iya ... oke … baiklah.” Narendra hanya menjawab seperlunya dengan pelan. Wajahnya terlihat agak pucat dan menghindari obrolan yang terlalu lama. Sesekali ekor matanya melirik ke arah Naya yang sudah merebahkan tubuh di kasur. “Sampai ketemu nanti,” pungkasnya sebelum menutup panggilan telepon itu. Kemudian, dia keluar dari kamar meninggalkan istrinya sambil membawa laptop. Rumah milik keluarga Danadipa terdiri dari dua lantai. Pada lantai atas terdapat dua kamar tidur yang masing-masing diisi oleh kedua putranya. Ada juga ruang santai yang dilengkapi dengan rak berisi koleksi buku dan dua buah bean bag besar berwarna abu-abu. Ruangan tersebut akan tembus ke arah rooftop garden yang dibatasi oleh pintu kaca yang lebar. Narendra yang lebih sering berada di rumah, seolah menjadi penguasa untuk area tersebut. Pria berkacamata itu meletakkan laptop di meja lesehan kayu dan mulai menyalakannya. Sudah menjadi kebiasaan Narendra menghabiskan waktu santai dengan membuat desain grafis. Dia bisa bertahan selama berjam-jam bahkan hingga larut malam. Namun, kali ini ada hal penting yang harus dia kerjakan untuk kelangsungan pernikahannya dengan Naya. Saat hendak membuka pintu kamar, Chandra menyadari keberadaan kakaknya yang sedang fokus menatap layar laptop sambil mengetik. Mengingat bagaimana responnya ketika di dapur tadi, membuat lelaki itu sungguh ingin marah. Akan tetapi, dia berusaha mengendalikan diri untuk menjaga perasaan Naya. Hubungan antara Chandra dan Narendra memang tidak terlalu akrab. Usia mereka terpaut empat tahun dan dibesarkan secara terpisah. Saat kecil, Chandra sempat tinggal selama beberapa tahun bersama neneknya di Yogyakarta. Sedangkan Narendra selalu ikut di manapun orang tuanya tinggal. Ketika sang ayah merintis usaha percetakan di Bogor pada tahun 2007 dan perekonomian keluarga mulai stabil, barulah mereka sekeluarga tinggal bersama. Meskipun berasal dari rahim yang sama dan memiliki wajah yang mirip, dua putra Danadipa itu memiliki watak yang berbeda. Mereka jarang sekali mengobrol, hanya ketika ada hal yang penting untuk dibicarakan. Chandra sengaja tidak menutup rapat pintu kamarnya. Sesekali dia mengintip dan mengamati apa yang dilakukan sang kakak. Sungguh aneh, malam pertama yang selalu dinantikan oleh pasangan suami istri justru dihabiskan untuk begadang seorang diri. Kecurigaannya semakin kuat bahwa sebenarnya pasangan itu memang terpaksa menikah. *** “Gimana malam pertamanya?” bisik Rima saat sedang berdua dengan Naya di dapur. Semburat merah tampak di wajah wanita berkulit putih itu. Dia tersenyum memaksa. “Ya … gitu deh, Bun. Naya malu, ah!” jawabnya pura-pura. Padahal di malam pertama itu, Narendra memilih begadang di luar dan baru masuk ke kamar sekitar jam tiga dini hari. Rima menatap penuh tanya. Dia mencoba menelaah jawaban yang diberikan oleh menantunya. Walaupun sempat ragu, tetapi wanita berusia 53 tahun itu berusaha optimis bahwa seiring dengan berjalannya waktu, mereka berdua bisa menjalani rumah tangga dengan baik. “Nay, Bunda mohon bersabarlah menghadapi Naren! Tidak ada orang lain yang Bunda percaya untuk jadi pendampingnya selain kamu.” Rima mengusap punggung Naya dengan lembut sambil memandang kedua netranya yang indah. Satu hal yang tidak pernah Rima lupakan dari Naya adalah sorot matanya, masih sama seperti saat pertama kali bertemu tujuh belas tahun yang lalu. Suaminya merupakan sahabat dekat ayah Naya dan mereka memiliki kesepakatan untuk menjodohkan anak-anaknya. Itulah alasan mengapa wanita itu berusaha keras menemukan Naya yang sempat menghilang setelah kematian kedua orang tuanya. Beberapa bulan lalu, Rima begitu tertarik untuk mengenal seorang penulis muda yang karyanya menjadi best seller di perusahaan penerbit miliknya. Ketika melihat biodata penulis tersebut, matanya terbelalak membaca nama Nayanika Rinjani yang memiliki profesi utama sebagai guru. Tanpa membuang-buang waktu, dia langsung membuat janji bertemu dengannya. Awalnya, Naya tidak percaya jika wanita yang dia temui adalah ibu dari Narendra karena tidak begitu ingat dengan wajahnya. Hatinya sempat risau mengingat wasiat yang pernah diberikan oleh sang ayah, bahwa dia telah dijodohkan dengan seorang lelaki bernama Narendra. Akan tetapi, demi memenuhi janji dan sebagai wujud baktinya, Naya ikhlas menerima pernikahan itu. Tersimpul sebuah senyum manis di bibir gadis itu, walau sebenarnya ada rasa perih dalam hati mengingat sikap Narendra padanya. Biar saja, cukup dia seorang yang tahu. Naya yakin bahwa semua ini pasti memiliki alasan. “Insya Allah, Bun,” sahutnya pelan. Sehari setelah pernikahan, Narendra dan Naya akan langsung pindah ke rumah baru. Dengan berbagai pertimbangan, Narendra menyewa sebuah apartemen sederhana yang terletak di pinggir kota. Lokasinya cukup dekat dari tempat istrinya mengajar dan juga dari perusahaan percetakan tempatnya bekerja. Ditambah lagi, agar Naya tidak perlu sering keluar jauh dari rumah sehingga pernikahan mereka tetap bisa disembunyikan. Setelah semua perlengkapan siap dibawa, mereka berpamitan pada Rima. Sang ibu memberikan beberapa nasihat untuk keduanya dan kembali memeluk dengan erat. Sebenarnya, berat sekali akan berpisah dengan putra dan menantu pertamanya itu. Ketika hendak masuk ke mobil, Naya sempat melirik ke arah balkon. Lalu, dia segera mengalihkan pandangan dan menutup pintu. Nelangsa kembali melanda saat melihat ada Chandra yang sedang berdiri menatap nanar ke arah mereka. Sepanjang perjalanan, Narendra hanya fokus memperhatikan jalan. Sama sekali tidak ada keinginan untuk mengajak istrinya mengobrol. Hanya terdengar suara radio dan klakson yang sesekali ditekan memecah kebekuan. Jarak dari kediaman orang tuanya di daerah Katulampa menuju apartemen yang terletak di Laladon memang cukup jauh. Sesampainya di sana, Naya dibuat terpukau oleh interior unit apartemen yang memiliki dua ruang kamar tidur tersebut. Walaupun tidak terlalu luas, tetapi sudah lebih dari cukup untuk ditinggali oleh mereka berdua. Dia mengekor di belakang suaminya melihat-lihat sekeliling. Jalannya sedikit pincang menahan sakit yang masih terasa di kaki. “Mulai hari ini, kita tinggal di sini. Kamu tidur di kamar itu dan saya di sebelah sana,” ujar Narendra. “Sekarang duduklah! Silakan baca surat perjanjian ini dengan teliti sebelum kamu tanda tangani,” sambungnya sambil meletakan dua berkas di atas meja. Mereka duduk sejajar pada sofa panjang berwarna hijau toska. Dengan tangan bergetar, Naya mengambil salah satu berkas dan mulai membacanya. Surat perjanjian yang disusun tadi malam itu berisi tentang batasan privasi, hak dan kewajiban masing-masing, serta konsekuensi apabila ada pihak yang melanggar. Bibir Naya ikut bergerak mengikuti kalimat demi kalimat yang dibaca dalam hati. Kelopak mata gadis itu sesekali berkedip, memperlihatkan daya tarik dari bulunya yang lentik. Dahinya tampak mengernyit saat membuka lembar terakhir. Narendra yang sempat memperhatikan ekspresi wajah gadis berhijab itu tiba-tiba membuang tatapan. Lantas, dia beranjak karena tidak ingin terbawa hanyut menikmati pemandangan yang ada di hadapannya. “Mas Naren ….” Panggilan itu membuat Narendra tertegun. “Talak saja aku sekarang!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD