LUKA TAK BERDARAH Sudah hampir satu jam berlalu, Narendra masih duduk dalam mobil sambil memainkan ponsel. Sebenarnya, pria itu paling benci bila harus menunggu. Namun, dibandingkan harus menemani Naya berbelanja, lebih baik dia berdiam diri di pelataran parkir. Ketukan yang terdengar di balik kaca mobil, membuat pria berkacamata itu menoleh. Kemudian, dia terpaksa membuka jendela dan memasang senyum lebar. “Sayang, kok, kamu ada di sini?” tanya Niken heran. Padahal, tadi pagi saat berbincang melalui telepon, Narendra mengatakan hanya akan beristirahat di rumah hari ini. “Hmm … a-aku diminta tolong Bunda buat beli sesuatu. Kamu sendiri tadi bilangnya mau ke bengkel, ternyata malah ke sini.” Narendra terlihat gugup. Raut wajah Niken berubah. Sesaat dia pun seperti sedang mencari alasan

