Pertengahan September

1085 Words
Bab 2 Saat ini, ramai sekali karyawan yang memperhatikannya. Aku langsung berjalan menuju ke arahnya. Ternyata benar, itu dia, pria asing tadi. Semua orang saat ini menatap ke arahnya. Aku menggenggam tangannya dan mengajak berjalan menjauhi pintu masuk kantor itu. Sekarang kami sudah cukup jauh. Aku harus bertanya padanya kenapa dia mengikutiku. “Mengapa kamu bisa ada di dekat pintu masuk kantor?” tanyaku padanya. “Apa kamu terus mengikutiku sampai sana?” “What? I cannot.... Bahasa." “미안해 (maaf),” katanya dengan nada bicara yang tegas. “Haaaa?!” Aku benar-benar terkejut sekarang. Setelah berbicara bahasa Inggris, sekarang dia menggunakan bahasa Korea. “Apa asalmu dari Korea?" tanyaku. “Korea mana? Selatan atau Utara?” Menunggu dia mengatakannya membuatku kesal saat ini. Wuaaaahhh... sudahlah. Tidak ada waktu sekarang. Aku bingung dan terkejut, tapi aku harus menghadapinya. “Okay. Just a moment. Please wait here. I need to do my fingerprint, okay,” kataku terburu-buru. Aku harus kembali ke kantor, karena tadi aku belum menyelesaikan absensiku. “Okay,” katanya singkat. “Don’t go anywhere. Just wait for me here’” pintaku. Dia tetap berdiri di pinggiran gedung kantorku dan terus menatap ke arahku saat aku pergi. Aku harus bergegas sekarang, karena waktunya sudah hampir terlambat untuk absen. Aku berlari menuju lift. Untungnya pintu lift cepat terbuka. Langsung kutekan tombol ke lantai 12. “Aku beruntung tidak terlambat. Pukul 08.00. Aku tepat waktu,” helahku sambil melihat jam tangan. Jika terlambat, gajiku akan dipotong hari ini. Sungguh sangat beruntung aku. Oke, pertama-tama aku harus menemui Salsa. Dia temanku yang selalu bisa kuandalkan. Aku harus memintanya untuk bilang ke bos bahwa hari ini aku akan jumpa klien di luar dari pagi sampai sore. “Pagi, Salsa. Tolongin aku hari ini. ya. Aku harus ketemu klien." "Karena aku harus pergi sekarang, aku tidak bisa bilang ke Bu Irene langsung. Dia belum datang. Tolong sampaikan kepadanya kalau mencariku,” kataku pada salsa yang sedang merapikan meja kerjanya. “Baiklah Rish. Tapi jangan lupa besok bawakan aku sarapan, ya,” pintanya. Karena aku sering membawakannya sarapan jika aku minta tolong, hari ini dia menagihku. “Siap, bestie. Besok aku bawakan. Aku pergi dulu,” kataku sambil melambaikan tangan padanya. Aku buru-buru keluar kantor setelah menyelesaikan absensi dan minta tolong pada Salsa. Kalau aku tidak meminta Salsa memberitahu Bu Irene, pasti dia akan menghubungiku seharian ini. Dia akan mengomeliku dan aku tidak punya waktu sekarang. Aku sangat beruntung bekerja di sini. Tugasku hanya bertemu klien untuk meminta persetujuan mereka, jadi aku sering keluar kantor. Keadaanku saat ini bisa untuk mengurus kejadian yang terjadi antara aku dan pria asing itu. Dia membuat aku dalam masalah saat ini. Wajahnya tidak cukup untuk membuatku memaafkan apa yang terjadi hari ini. Aku harus cepat turun ke bawah. Aku menekan tombol lift lobi. Aku harus mendengar penjelasaannya, mengapa dia mengikutiku. Semoga saat di lobi tadi tidak ada gosip soal dia hari ini. Karena wajahnya sangat tampan, mereka pasti bertanya-tanya siapa dia, apalagi tidak pernah melihatnya ada di kantor ini. Perusahaan juga tidak sedang mencari karyawan baru. Aku berjalan menuju tempat aku meninggalkannya tadi. Dia masih menungguku dengan tenang. Matahari pagi ini sangat cerah. Wajah tampannya yang terkena sinar matahari membuatnya terlihat semakin tampan. Sejenak aku benar-benar terpikat. Tapi aku tidak tahu siapa dia sebenarnya. “Ayo, kita harus pergi dari sini,” kataku. “Where should we go?” tanyaku lagi. “Aku akan mengantarmu. Dimana tempat tinggalmu?” Saat ini aku sedang bebas karena sudah izin dengan bosku, jadi tidak masalah aku menawarkan untuk mengantarkannya. Tiba-tiba dia berhenti berjalan dan berkata, “I’m lost. Can you help me?” Aku juga berhenti. Seketika pupil mataku membesar. “What?” kataku dengan sangat terkejut. “Lost?” Apa maksudnya dia tersesat?" tanyaku dalam hati. Ah, Mengapa hari ini begitu banyak kejutan yang kualami. Kupikir antara aku dan dia sudah selesai di bus tadi. Aku menghela napas. “Okay. Do you know where your hotel is? Your home?" “I don’t know," lalu dia mengeluarkan ponselnya. Dia berbicara melalui penerjemah “그래서 저는 계속 당신을 따라가요." (Aku tidak tahu, makanya aku terus mengikutimu). Dia menyodorkan ponselnya padaku agar aku mengerti apa yang dia katakan. Itu sebabnya dia terus mengikutiku sampai kantor, Apa yang harus kulakukan sekarang? Tadinya kupikir aku hanya perlu jadi orang baik dan mengantarkannya ke alamatnya. Tapi setelah dia bilang tidak tahu di mana dia tinggal, aku jadi berpikir kembali. Apa ini hanya modus penipuan terbaru? Mengaku tersesat lalu menghipnotisku? Apa penipuan zaman sekarang semengerikan ini? Hmmm .. aku menundukkan kepalaku, berpikir sejenak. “Tapi kamu punya ponsel. Kenapa tidak menghubungi temanmu?” kataku. “Aku tidak punya teman di sini. Dan aku tidak bisa menghubungi manajerku, karena ini ponsel baru dan tidak ada nomor dia atau siapa pun,” katanya. “Manajer?” kataku terkejut lagi. Siapa sebenarnya pria ini? pikirku. “Ya,” katanya dengan raut wajah lesu. Karena pembicaraan kami juga sulit, kami harus terus menggunakan penerjemah. “kalau begitu, tidak mungkin manajermu tidak menghubungi. Dia pasti punya nomor ponsel ini,” kataku dengan tegas. Bagaimana mungkin seseorang tidak punya nomor orang sepenting itu di ponselnya, walaupun ponsel baru? pikirku. Atau jangan-jangan dia memang sedang menipuku. Bagaimana ini? “Mungkin aku sengaja ditinggalkan oleh manajerku di sini,” katanya berusaha menjelaskan. “Tapi aku tidak tahu mengapa dia melakukan itu. “Tadi pagi pukul 06.30 kami pergi jogging. Aku tidak bawa air dan memintanya membelinya di toserba dekat halte. Lalu dia tidak pernah datang kembali.” “Awalnya aku mencoba kembali lewat rute jogging tadi, tapi aku tersesat dan terus berputar di daerah itu. Akhirnya aku untuk naik bus karena ingin kembali ke hotelku. Tapi aku juga tidak tahu alamat hotel itu,” katanya. Apa aku harus mempercayai ceritanya? Tapi jika itu benar, mengapa ada orang yang tega melakukan hal seperti ini pada orang lain? Apa aku harus menolongnya atau membiarkannya saja? Tidak...aku sudah menolongnya sekali. Aku seharusnya tidak menolongnya lagi. Tapi membiarkannya begitu saja juga akan mengganggu pikiranku seharian, dan aku pasti tidak bisa fokus bekerja. “Aaaaghh... baiklah,” kataku. “Aku akan membawamu ke kantor polisi sekarang. Kamu sepertinya orang hilang, atau lebih tepatnya, tersesat tanpa tahu di mana kamu tinggal. Apalagi kamu WNA ,dan aku tidak bisa sembarangan membantumu.” jelasku. Kami masih berbicara menggunakanGoogle Translate Indonesia–Inggris-Korea. Dia hanya menurut dan mengangguk saat aku menjelaskan. Memang sulit, tapi aku dan dia berusaha agar bisa saling mengerti dan menemukan jalan keluar dari masalahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD