Bab 1
Hari ini, seperti biasa, aku menjalani hariku dengan bekerja.
Pagi ini cuacanya sangat cerah. Aku pergi lebih cepat. Lalu lintas juga tidak terlalu padat. Meskipun rutinitasku sama seperti hari-hari lainnya, hari ini terasa berbeda, sepertinya aku akan mendapatkan keuntungan. Ini seperti sebuah firasat baik.
Yaah....
“Apa aku akan bertemu jodohku?” bisikku.
Umurku sudah hampir tiga puluh tahun dan aku belum pernah pacaran. Bukan karena aku tidak cantik, iya, kurasa bukan itu. Tapi lebih karena aku tidak cukup berani berkenalan atau melakukan kencan buta.
Hmmm, aku menghela napas, memikirkan hubungan percintaanku.
Harusnya tidak kulakukan, karena sebenarnya aku merasa cukup bahagia. Lagipula, harinya sangat cerah.
Oh, busku datang. Aku naik seperti biasa, men-tap kartu, lalu duduk di kursi bagian kiri, nomor tiga dari belakang sopir. Tapi bus itu tidak kunjung jalan.
“Ada apa ini?”
Aku melihat ke depan. Ada seorang pria yang berdiri di dekat mesin tap kartu itu. Sepertinya ada masalah.
Dia mengeluarkan uang seratus ribu rupiah dan memberikannya kepada Pak sopir.
“Tolong, Pak, beri uang kecil. Uangmu terlalu besar untuk membayar tarifnya. Saya tidak punya kembalian” kata Pak sopir.
Pria itu menatap wajah Pak sopir, mencoba memahami apa yang dikatakannya.
Tapi wajah Pak sopir terlihat kesal, karena penumpang lain juga sudah menunggu bus jalan.
“I’m sorry, sir. I don’t have any more money. This is all i have,” katanya sambil menunjukkan uang itu.
Aku memperhatikan pria itu.
“Pak sopir pasti tidak mengerti apa yang dia katakan sekarang,” gumamku.
Kalau ku perhatikan, pria itu sangat tampan. Sepertinya masih muda, tapi gestur tubuhnya terlihat dewasa, dan wajahnya sangat kecil.
Aku pikir dia warga negara asing, karena dia berbicara menggunakan bahasa Inggris.
Aku yang duduk tidak jauh dari Pak sopir melihat suasananya semakin canggung. Penumpang lain juga mulai terlihat kesal.
Aku maju ke depan dan lalu men-tap kartuku lagi.
“Tiitt...” bunyi mesin kartu.
“Ini untuk dia, Pak,” kataku.
“Baiklah,” jawab Pak sopir.
Aku kembali ke tempat dudukku dan mengalihkan pandangan ke luar jendela.
“Sudah dibayar, Pak. Kamu bisa simpan uangmu,” kata Pak sopir kepada pria itu.
Seolah mengerti, pria itu menyimpan uangnya lalu duduk di kursi kosong sebelah kananku.
Dia menatapku dengan wajah datar. Bahkan dia tidak tersenyum atau mengucapkan terima kasih.
Padahal kalau dia mengucapkannya dalam bahasa Inggrispun, aku akan mengerti.
“Sebenarnya dia senang atau tidak, ya? Aku sudah membantunya," pikirku.
“Kukira dia ramah, nyatanya tidak.” Hmmm.... aku terlalu berekspektasi.
Aku turun di halte Bus Yos Sudarso. Banyak penumpang turun di sini karena terdapat banyak gedung perkantoran.
Aku berjalan santai menikmati hari yang cerah ini. Aku juga masih punya banyak waktu sebelum masuk kantor, karena hari ini aku berangkat lebih awal dan lalu lintas sangat lancar.
“Hanya ada sedikit masalah dengan pria asing itu saja tadi,” bisikku.
Sesaat aku menoleh ke belakang. Aku tidak melihat pria tadi. Mungkin dia tidak turun di halte ini.
“Semoga hari ini aku benar-benar dapat jackpot. Belakangan pekerjaanku lancar.”
“Apa aku akan dapat bonus?” hahaha...... aku tertawa sendiri.
Aku hampir sampai kantor.
Tiba-tiba seseorang memanggilku dari belakang. Suara seorang pria. Suara yg tidak asing, seperti baru saja kudengar.
Langkahku terhenti. Aku menoleh ke belakang.
“Hai,” katanya.
Itu pria yang tadi aku bantu di bus. Ternyata dia juga turun di halte yang sama.
“Dia dari tadi mengikutiku?”
Sekarang dia menyapaku. Padahal tadi aku mengeluhkan sikap dinginnya di bus.
Aku terdiam canggung.
“Kamu memanggilku?” tanyaku.
“Yes, i’m sorry for following you. And i want to thank you,” katanya.
Bukankah tadi dia terlihat dingin? Ternyata dia ramah dan sekarang mengucapkan terima kasih.
"Oh... it’s okay. I just want to help you. Don’t worry,” kataku sambil tersenyum.
“Baiklah, kalau begitu, aku harus pergi bekerja” kataku.
“Bye,”
Aku langsung melangkah pergi sambil tersenyum.
Kalau kupikir-pikir, hari ini ternyata tidak sepenuhnya lancar. Ada sedikit kejadian, tapi tidak apa-apa.
Itu hanya masalah kecil saat aku bertemu pria asing tadi.
Walaupun jarang terjadi padaku, apalagi terjadi di hari dengan firasat baik seperti ini.
“Lagipula aku juga beruntung bertemu dengannya, karena dia sangat tampan,” gumamku sambil tertawa kecil.
Aku akhirnya sampai di pintu masuk lobi kantorku, Jaya Group Company.
Aku menuju lift, karena kantorku ada di lantai 12. Aku melihat ke kanan dan kiri, mencari rekan kerja yang lain.
Namun tiba-tiba mataku tertuju ke luar, tepat di depan pintu masuk gedung.
Berdiri seorang pria yang terlihat tidak asing.
“Itu... dia?”
Aku menyipitkan mata, menatap lebih jelas.
“Hah... ternyata benar. Itu pria asing dari di bus tadi.
“Apa pria itu terus mengikutiku sampai ke depan lobi kantor?” bisikku dengan wajah pucat dan mata membelalak.