“Haruskah kita makan malam dulu di luar atau—” “Aku ingin pulang,” sela Jelita tanpa berpikir jika ada yang janggal dengan ucapannya. Ia berdeham sesaat sebelum meralat, “Maksudku… ke rumahmu saja. Aku telah mengabari Ibu jika besok aku akan pulang ke panti.” “Baiklah.” Arkana mengangguk lalu melanjutkan langkahnya dengan Jelita yang berada di sampingnya. Mereka saat ini berada dalam perjalanan menuju parkiran rumah sakit. “Jelita!” Deg! Jantung Jelita seolah baru saja dihantam suatu benda asing, membuatnya sempat berhenti berdetak untuk sesaat. Suara yang amat familiar itu menghentikan langkah sang gadis dengan telinganya yang meruncing. Jelita berharap ia salah dengar, namun rupanya tidak. Saat mendongak ke sumber suara, Jelita tahu ia tidak mungkin bisa melarikan diri. Doanya beb

