Sore itu, Arkana menepati janjinya untuk mengantar Jelita ke dokter. Pria itu pulang, mandi sebentar, lalu mengajak Jelita untuk segera pergi dengannya. Berbeda dari kebiasaannya yang sering membantah, kali ini Jelita sudi untuk menurut. Ia duduk manis di samping Arkana yang tengah melajukan mobilnya di balik kemudi. “Tu… tunggu! Kau akan membawaku kemana?” Jelita yang sedari tadi larut dalam diamnya mulai angkat bicara. Raut wajahnya menunjukkan rasa panik yang begitu tiba-tiba. “Ke rumah sakit. Kau lupa?” Arkana sedikit jengkel. “Rumah sakit mana?” “Buana.” Deg! Pantas saja jalan ini terasa begitu familiar bagi Jelita. Sial! Dari sekian banyaknya rumah sakit yang ada, mengapa Arkana harus membawanya ke rumah sakit yang sama dengan tempat Raffa bekerja? “Mengapa kau tidak memberita

