Manik hazel itu membuka perlahan, mulai membiasakan cahaya yang masuk melalui retina matanya setelah sekian lama terpejam. Jelita mengerjap perlahan, sebelum mengerang saat pening mendera kepalanya dengan begitu dahsyat. “Kau sudah bangun?” Deg! Pandangannya yang sempat mengabur kini mendadak mendapatkan fokusnya saat suara itu terdengar. Maniknya melebar saat mendapati kehadiran seorang pria yang kini berada di hadapannya—Joseph. Sang pria berdiri menjulang dengan bersedekap, memperhatikan Jelita dengan senyum sinis yang terukir di bibirnya. Di detik itu, Jelita menyadari bahwa ia berada dalam bahaya. Ia kemudian berusaha untuk bangun meski dengan kondisi tubuhnya yang luar biasa lemas akibat efek obat tidur yang belum sepenuhnya hilang. Sayangnya, pergerakkan Jelita malah tertahan.

