[5] Impian untuk Hidup Normal

1378 Words
“Jelita?” Aroma cokelat panas menyeruak ke seluruh ruangan begitu sang pria memasuki kamar itu dengan sebuah cangkir di genggaman, Raffa. Pria bermata indah nan teduh itu baru saja membuat minuman kesukaan sang gadis yang kini masih bergelung di tempat tidurnya. Jelita makin terusik tatkala gorden kamarnya dibuka lebar, membuat sinar mentari pagi menusuk matanya yang masih ingin terpejam lebih lama. Haruskah pria itu datang di saat yang tidak tepat seperti ini? “Hei, bangunlah!” Raffa membuka paksa selimut yang melingkupi tubuh Jelita, membuat gadis itu menggeram marah dengan bibir mengerucut. Bukannya kesal akan hardikannya, Raffa malah tertawa dan sengaja makin menggoda Jelita dengan menjawil hidung mungilnya. “Bangun, gadis pemalas!” “Ini masih pukul tujuh, astaga!” Jelita mengacak-acak surainya hingga tak beraturan, kesal karena dibangunkan dari tidur lelapnya. Sesungguhnya ia ingin tidur lagi, namun sudah pasti pria sialan di hadapannya ini tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jelita kemudian duduk di kasurnya dengan tampang memberengut. “Ada apa kau datang ke sini?” “Hei, kau tak senang akan kedatanganku?” “Jika kau datang hanya untuk mengganggu waktu tidurku, maka jawabannya sudah jelas tidak. Pergi sana!” Raffa mencebik lalu menyentil dahi Jelita perlahan. “Kau harus bangun pagi, Nona! Bagaimana kau akan menjadi kakak yang baik jika tidak memberi contoh yang teladan pada adik-adiknya, huh? Kau ingin mereka tumbuh menjadi orang yang pemalas dengan selalu bangun siang sepertimu?” Jelita menulikan diri dengan mengusap-usap telinganya yang hampir pengang. Ia begitu jengah mendapati siraman nasehat dari sang pria di pagi hari seperti ini. Pria itu bahkan baru saja pulang setelah sebulan penuh tidak menampakkan diri, namun kini kedatangannya malah merecoki Jelita dengan menceramahinya ini-itu. Dasar cerewet! “Ini akhir pekan. Aku datang sesuai janjiku.” “Baguslah. Kupikir kau tidak ingat jalan pulang.” “Terlalu merindukanku membuatmu merajuk, huh?” Jelita mendelik, namun mendapati senyum jahil di sudut bibir sang pria mau tak mau membuat hatinya tergelitik seketika. Alih-alih terbawa suasana, Jelita malah melemparkan gulingnya pada Raffa yang tak pernah bosan untuk menggodanya—seperti saat ini. Pada akhirnya, mereka tertawa bersamaan setelah adanya rintihan meminta ampun dari Raffa yang membuat Jelita menang telak. Raffa memang selalu memiliki sejuta cara untuk membuatnya tersenyum walau tengah kesal sekalipun dengan cara yang tergolong kekanak-kanakkan. Setelahnya, mereka berpandangan hangat seraya melempar senyum penuh arti. Tangan Raffa terangkat, dengan telaten merapikan rambut sang gadis yang sekilas tampak bak singa lapar. Jelita mengerjap lucu beberapa kali sebagai respons, melirik malu-malu Raffa yang kini tengah menatap lurus tepat ke arahnya. Astaga! Bisakah pria tampan itu tidak usah bersikap manis di saat keadaannya berantakan seperti ini? Membuat malu saja! “Aku membuatkan cokelat panas kesukaanmu. Sigat gigi dan cuci mukalah dulu, lalu minum selagi hangat,” ucap Raffa seraya menunjuk pada cangkir yang telah tersaji di nakas sebelah ranjang. Kepulan asap nampak di atasnya. Raffa sengaja menyajikannya untuk Jelita tepat setelah ia selesai membuatnya. “Kapan kau datang?” “Satu jam yang lalu, kurasa.” “Pagi-pagi sekali.” “Sengaja. Agar tidak macet di jalan.” “Dan agar bisa mengganggu waktu tidurku, begitu?” “Bukan sepenuhnya tujuanku, namun kurasa aku datang di saat yang tepat.” Jelita berdecih. Sementara sang pria di hadapannya makin memperlihatkan deretan rapi giginya, terkekeh melihat ketidaksukaan sang gadis. “Berhenti menatapku seperti itu!” Raffa mencubit kedua pipi Jelita dengan gemas. “Kudengar dari ibu, kau pulang larut lagi semalam?” Dengusan kecil terdengar dari bibir mengerucut sang gadis. Manda memang selalu mengadukan tingkahnya pada Raffa. Berharap agar setidaknya Raffa dapat menasehatinya. Namun nyatanya percuma saja. Toh, Jelita memiliki kepala yang batu jika sudah bertekad—seperti saat ini. “Apa boleh buat? Kau kan sudah tahu kalau akhir pekan aku biasanya lembur.” “Jam berapa kau pulang semalam?” “Sekitar jam satu? Aku tidak terlalu ingat.” Desahan jengah terlontar dari Raffa. Tangan kokohnya tiba-tiba mengelus rahang Jelita seraya menatapnya penuh iba. “Lingkaran hitam di bawah matamu menjelaskan semuanya.” “Jadi bisakah kau membiarkanku tidur lebih lama, hm?” “Lalu tak bisakah kau berhenti kerja saja dan menuruti keinginanku?” Jelita tergugu. Selalu saja seperti ini jika Raffa mulai menyinggung tentang pekerjaannya. “Kita sudah sering membahas ini, Raffa.” “Tapi aku sudah bekerja sekarang. Aku sudah memiliki gaji tetap dari rumah sakit. Aku sanggup membiayai kebutuhan panti, ibu, dan juga dirimu.” Jelita menggeleng. “Tabung saja gajimu itu! Bukankah kita berjanji untuk sama-sama menabung jika punya pekerjaan tetap?” “Aku tidak ingin kau merasa terbebani dengan apa pun, Jelita. Bukan kewajibanmu untuk mengurus panti, terutama ibu.” Raffa melunak, mencoba meraih simpati sang gadis. “Aku tidak terbebani dengan apa pun. Ibumu adalah ibuku juga, bukan?” Jelita balas menatap Raffa dengan kesungguhan. Ini bukan pertama kalinya mereka berdebat tentang masalah ini. Seharusnya Raffa sudah mengerti akan keinginannya. “Aku bekerja karena aku yang menginginkannya. Bukankah tabungan kita akan semakin cepat terkumpul jika kita bekerja bersama-sama?” “Aku tahu, tapi selama ini kau sudah bekerja terlalu keras… bahkan hingga mengorbankan keinginanmu untuk kuliah.” “Lagi-lagi kau berlagak bagai ibu!” Jelita berdecak. “Tidak ada yang aku korbankan di sini. Berapa kali aku harus mengatakan padamu bahwa aku memang benci belajar, huh?” Jelita sesungguhnya telah berdusta. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Jelita juga ingin berkuliah dan menyandang gelar layaknya Raffa. Namun, ia tidak ingin menjadi beban untuk keluarga Manda dengan bergantung pada mereka terus-terusan seumur hidup. Sejujurnya, Raffa pun tahu Jelita terlalu sering menutupi keinginannya. Mereka telah hidup bersama semenjak usia mereka yang kelima, bagai saudara kandung yang enggan terpisahkan satu sama lain. Sehingga Raffa jelas tahu akan keinginan terpendam Jelita yang tertarik dengan segala hal tentang dunia tata boga—terutama tentang pastry. Namun saat itu, Manda yang sudah lama menjanda akibat ditinggal mati sang suami hanya sanggup membiayai kuliah untuk satu orang, dan tentu saja itu haruslah untuk Raffa—putra semata wayangnya. Diluluskan hingga sekolah menengah atas saja sudah seharusnya untung bagi Jelita. Jelita tidak iri. Sudah seharusnya Jelita sadar diri. Memang sudah seharusnya Raffa yang berkuliah, karena itu adalah haknya. Jelita yang memutuskan untuk bekerja pada akhirnya juga sering membantu keuangan Manda dengan memberinya sedikit uang kala Raffa membutuhkan biaya tambahan untuk menyelesaikan akademi perawatnya. Kini, Raffa telah bekerja sebagai seorang perawat tetap di sebuah rumah sakit di pusat kota. Ia tinggal di sebuah kontrakan di dekat rumah sakit karena terlalu jauh baginya untuk bolak-balik ke rumah setiap hari. Di saat hari libur sekalipun, terkadang Raffa harus tetap bertugas di rumah sakit, sehingga ia memang jarang pulang. Seolah sudah menjadi kewajiban bagi Jelita untuk membalas bakti, setelah Raffa memutuskan untuk merantau, maka ia lah yang sekarang bertugas menjaga Manda untuk menggantikannya. “Jelita—” Jelita menatap penuh kelembutan, tersenyum walau tampak enggan sebelum meraih tangan Raffa untuk digenggamnya perlahan. “Tidak ingatkah kau tentang keinginanku untuk membuka toko kue? Sudah kubilang, aku akan keluar dari pekerjaanku jika tabunganku sudah cukup. Untuk sekarang, sepertinya aku belum ingin menyudahi pekerjaanku.” Ya. Sebuah keinginan kecil dari Jelita adalah membuka toko kue dan hidup normal setelahnya. Sebuah keinginan yang sangat sederhana, dan sebenarnya keinginan itu dapat diwujudkan olehnya sejak awal ia bekerja sebagai penyanyi bar. Bayarannya memang dapat dikatakan di atas rata-rata, namun dengan kondisinya yang masih serba kekurangan membuat Jelita harus menabung lebih banyak untuk masa depan. Jelita juga ingin membeli sebuah rumah untuk panti asuhan yang lebih besar dan layak dibanding rumah usang ini, lengkap dengan perabotan baru di dalamnya. Ia ingin pindah dari sini, mungkin bisa saja menetap di daerah yang cukup terpencil. Yang jelas, Jelita hanya ingin segera pindah dan memulai lembaran baru kehidupannya. Ia ingin meninggalkan kota penuh kekacauan yang membuatnya terjebak di lingkungan yang sama sekali tak pernah diduganya. “Tapi kau jadi sering kelelahan seperti ini,” ucap Raffa melemah dengan tatapan khawatir. “Aku bisa tidur sepanjang hari dan bekerja di sore hingga malam hari. Jadi bisakah kau menghentikan kebiasaanmu yang selalu membangunkanku tidur di pagi hari seperti ini? Kau benar-benar mengganggu waktu istirahatku!” Raffa mendecak sebal sebelum menyentil dahi Jelita, kali ini dengan kekuatan yang mampu membuat sang gadis meringis kesakitan dan mendelik tajam. “Lihat saja nanti! Jika tabunganku sudah penuh, aku akan menyeretmu paksa untuk keluar dari kafe sialan itu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD