Kalista mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, meneliti dengan saksama dan tidak menemukan siapapun di sana selain dirinya. Kemana tamunya? Malam ini lagi-lagi ada tamu yang mengharuskannya menemani hingga tengah malam.
Kalista sesungguhnya membenci ini. Membenci situasi dimana ia harus berpura-pura tersenyum manis dan melayani dengan sopan para tamu sialannya yang rata-rata mengarahkan tatapan tak pantas pada dirinya, namun apa boleh buat?
Merekalah ladang emas bagi Kalista—sumber pendapatannya agar segera melunasi seluruh hutangnya yang entah kapan akan berakhir pada sang madam rentenir. Uang lagi-lagi yang berbicara di sini, bukan?
“Menunggu lama?”
Kalista terbelalak begitu menoleh ke sumber suara, mendapati tanya dari sosok pria familiar yang baru saja masuk ke ruangan tersebut. “Kau?!”
“Kau masih mengingatku rupanya.”
Pria itu tersenyum miring seraya berjalan anggun dengan ketukan sepatu pentofel hitam mengkilat nan mahal, menghampiri Kalista untuk kemudian mengambil tempat kosong di sebelahnya.
“Senang bertemu lagi denganmu, Nona Kalista.”
Arkana kembali tersenyum dengan lengkungan khasnya, namun kali ini lengkung di sudut bibir itu bukanlah senyum penuh kesan arogan seperti sebelumnya. Senyum itu… berbeda.
Senyum itu seolah mampu membuat hati siapa pun luluh lantak karena pesonanya yang menguar tanpa terkendali. Tanpa sadar, Kalista dibuat terkesiap selama beberapa detik.
“Kenapa diam saja? Bukankah tugasmu untuk menemaniku minum?”
Kalista mengerjap kaget tatkala mendapat teguran tersebut. Sial! Ia malah kehilangan fokus akibat satu senyuman sang pria yang memabukkan. Kalista kemudian buru-buru meraih whisky di hadapannya dan menuangkannya ke gelas untuk sang pria.
“Kau tahu namaku?”
“Aku hanya mengingatmu sebagai salah satu teman si b******k itu.”
Sang pria tertawa lantang lalu menenggak segelas kecil whisky yang disuguhkan Kalista. “Kau masih dendam rupanya?”
“Aku benci pria yang tidak sopan. Bukankah seharusnya tamu yang bijak adalah yang sudah mengerti peraturannya?”
“Ya. Tentu. Kuharap aku adalah salah satu tamu bijak itu yang mampu menerima pelayanan baik darimu.”
“Selama kau tidak membuatku muak, aku tidak akan mengguyurmu dengan minuman mahal ini, Tuan.”
“Terima kasih untuk setidaknya masih mengingatku. Kau bisa memanggilku Arkana.”
Kalista mengangguk singkat sebelum mengisi kembali gelas Arkana yang tengah betah memperhatikan segala gerak-gerik kecil Kalista dari ujung matanya. Mulanya gadis itu mengukir senyum manis, namun lama-kelamaan ia juga merasa tak nyaman dengan tatapan Arkana dari iris elangnya yang pekat.
Merasa risih akibat tatapan yang tak kunjung berhenti dari sang pria, Kalista menghentikan pergerakannya sebelum akhirnya netra mereka bersibobrok. “Kau ingin melubangiku dengan tatapan tajam seperti itu, huh?”
“Melubangi?” Arkana nampak tertarik dengan kata yang baru saja terlontar dari sang gadis. Alisnya menukik tajam. Senyuman mematikan kembali tersungging di sudut bibir tipisnya. “Terdengar ekstrem, tapi menggairahkan di saat yang bersamaan.”
Di detik setelahnya, Kalista merotasi matanya jengah. Oh, dasar pria c***l!
“Mungkinkah… kau takut?” tanya Arkana.
Kalista mengerutkan alisnya. “Untuk apa?”
“Mungkin saja kau merasa aku kesini untuk membalas perbuatanmu atas Joseph.”
Senyum segaris khas terukir di bibir mungil Kalista, merasa lucu dengan pernyataan tiba-tiba dari pria rupawan di hadapannya. “Ingin sebuah kejujuran, Tuan Arkana?”
Arkana mengangguk.
“Aku tidak perlu tahu alasanmu datang kemari. Ini sudah menjadi tugasku, dan aku hanya perlu menemanimu minum hingga tengah malam. Setelah itu, aku akan pulang setelah menerima bayaranku dengan pantas. Aku tidak perlu khawatir dengan niat busukmu sekalipun. Jika kau macam-macam, maka penjagaku sudah bersiap siaga di luar.”
“Profesional, huh?”
“Tentu saja.”
“Lalu... bagaimana jika aku memberikan bonus dua kali lipat untuk menemaniku satu jam lebih lama?”
Penawaran itu membuat telinga Kalista meruncing. Menemani satu jam lebih lama? Tanpa embel-embel menyeretnya ke ranjang?
Cukup menggiurkan. Namun, Kalista selama ini tidak pernah melanggar aturannya sendiri meski demi uang sekalipun. Dan itu adalah prinsip yang masih ia pegang teguh hingga detik ini.
“Tiga kali lipat?” tawar Arkana lagi yang membuat Kalista tertawa kecil.
“Kau tahu aku bukanlah gadis yang mudah dirayu dengan cara seperti itu, Tuan. Aku mempunyai peraturan, kau ingat?”
“Kau benar-benar pintar mempermainkan hati pria, huh?”
Kalista mengendikkan bahunya tak acuh, membuat Arkana tambah intens menatapnya dengan tatapan menelisik. Semakin ditatap, maka Arkana merasakan sensasi yang selama ini tidak pernah dirasakannya pada gadis lain.
Kalista benar-benar luar biasa! Bagaimana mungkin gadis itu bisa terlihat menggairahkan dengan sepotong kain merah menyala yang melekat di tubuh mungilnya?
Gaun itu bahkan tidak memiliki model terbuka, namun lekukan di tubuhnya membuat pikiran liar Arkana tambah berkejaran membayangkan hal gila yang mampu dilakukannya di detik ini. Seperti merobek kain itu dengan paksa, misalnya?
“Jika aku ingin memaksa, bagaimana?”
“Lalu kau ingin berakhir sama seperti temanmu tempo hari?”
Arkana mendecak pasrah sebelum mengangkat kedua tangannya, menunjukkan tanda menyerah. Mengingat bahwa penjaga Kalista memang selalu berada di luar ruangannya membuat ia memutuskan untuk meredam keinginan rimbanya. Sial!
“Ceritakan sedikit tentangmu!”
“Aku?”
Arkana mengangguk. “Ya. Kau, Nona Kalista.”
“Haruskah? Untuk apa?”
“Aku hanya ingin mengetahui sedikit cerita tentangmu. Bukankah hanya menemaniku minum di sini terasa bosan?”
“Kurasa tak ada yang harus aku ceritakan padamu, Tuan. Bagaimana jika kau saja yang bercerita padaku?”
Arkana tersenyum masam, lagi-lagi ia mendapat penolakan. “Kenapa? Kau mulai penasaran denganku?”
“Sedikit.”
“Tapi aku lebih penasaran tentangmu.” Arkana berusaha merajuk, namun dengusan Kalista membuatnya tahu bahwa itu merupakan tanda penolakan—lagi. “Kalau begitu, bagaimana dengan usiamu?” Arkana tidak ingin menyerah semudah itu.
“Dua puluh lima,” jawab Kalista mantap.
“Kalista. Kutebak, itu bukan nama aslimu?”
Kalista menaikkan alisnya dan hanya tersenyum sebagai respons. Sebuah jawaban ambigu, namun Arkana tahu bahwa tebakannya memang benar. Gadis ini benar-benar memiliki tarif selangit dengan kelakuan jual mahalnya!
“Kau tidak akan memberitahuku nama aslimu, bukan?”
Sebuah senyuman misterius diulas bibir merah merona menggairahkan itu, membuat fantasi Arkana semakin bergerak tak terkendali. Berbagai pengandaian menghampiri benaknya saat ini. Andai saja, bibir itu mampu diraupnya dengan rakus dalam sekali gerakan cepat—
Berhenti!
Oh, astaga! Arkana mungkin sebentar lagi akan sinting jika terus membayangkan hal yang tidak-tidak sehingga memenuhi benaknya dengan begitu liar.
“Sudah berapa lama kau bekerja di sini?”
“Dua tahun.”
“Biar kutebak lagi, keluargamu tak tahu kau bekerja di sini?”
Kalista menggeleng perhalan. Terlalu gemas dengan perlakuan sang pria yang gemar tebak-tebakan. “Aku tak punya keluarga.”
“Benarkah?”
Anggukan menjadi respons Kalista selanjutnya. Baiklah, setidaknya Arkana kini mengerti bahwa berbicara dengan Kalista mengharuskan ia memutar otaknya. Ia harus mampu memilih pertanyaan yang tepat untuk tahu sedikit cerita tentang gadis menawan di hadapannya.
Daya Tarik Kalista memang tak tertandingi. Hanya sang gadis yang mampu membuat seorang Arkana datang kembali ke bar ini dan menghabiskan kocek yang tak sedikit untuk sekadar ditemani minum.
Sejujurnya, Arkana sudah tahu tentang kehadiran gadis memikat ini sejak lama karena banyak sekali orang di sekelilingnya yang memperbincangkannya—termasuk Joseph. Sang sahabat yang dimabuk kepayang semenjak melihat Kalista menyanyi di bar.
Terlebih, Arkana juga mengelola satu buah club malam yang jaraknya tak jauh dari bar ini. Tentu kehadiran Kalista menjadi buah bibir yang mengesankan dari mulut ke mulut.
Namun hingga malam mereka dipertemukan, Arkana tidak pernah ingin tahu wujud sang gadis yang membuat banyak orang berdecak kagum akan suara dan penampilannya. Arkana pikir Kalista hanyalah penyanyi bar biasa yang menjual tubuhnya untuk dipertontonkan.
Dan kini, tebakan Arkana salah. Kalista terlalu berbeda dengan gadis kebanyakan. Gadis itu terlalu unik dengan daya tarik luar biasa yang menjerat.
Bahkan hanya dengan satu kali pertemuan mereka saat itu tanpa saling sapa, Arkana merasakan magnet kuat dari sang gadis. Bak kutub utara menemukan kutub selatannya. Seketika Arkana tertarik dengan begitu kuat.
“Lalu kau bekerja di sini untuk menghidupi kebutuhanmu sendiri?” tanya Arkana yang semakin tak mampu membendung rasa penasarannya terhadap asal-usul sang gadis yang mencuri seluruh perhatiannya semenjak pertemuan mereka.
“Tidak.”
“Lalu?”
Kalista mengumpulkan tatanan rambut terurainya ke arah samping, menampilkan tulang selangkanya yang tanpa sadar membuat Arkana semakin tersiksa di tempat. Oh, sial! Kendalikan dirimu, Bung!
Gadis itu menghela napas jengahnya. Ia pikir Arkana berbeda—dilihat dari tatapannya yang tak memandang rendah—namun rupanya pria itu sama saja dengan tamu lainnya. Terlalu penasaran tentang dirinya dan membuatnya risih setengah mati.
Arkana masih menatap Kalista, menanti dengan sabar jawaban yang akan terlontar, namun sayangnya Kalista terlalu cerdik untuk berkilah.
Kalista mencondongkan sedikit wajahnya, mendekati telinga Arkana sebelum berbisik pelan di sana, “Kau terlalu ingin tahu, Tuan.”
Damn it!