[3] Kehidupan Si Bermuka Dua

1260 Words
“Ibu?” Sang gadis tersentak begitu memasuki rumah dan mendapati kehadiran wanita paruh baya di hadapannya. Meski ia telah berjalan mengendap-endap, rupanya sang ibu memang sudah terbangun sebelum kedatangannya. “Kau baru pulang?” Sang gadis mengangguk kaku. “Seperti biasa, kafe ramai sekali jika akhir pekan seperti ini, jadi aku terpaksa lembur.” Manda—sang ibu pemilik panti—hanya mampu mendesah seraya menatap khawatir. Matanya melirik jam di tengah ruangan yang menunjukkan pukul satu dini hari. Sang gadis di hadapan telah bekerja keras. “Kenapa Ibu masih bangun? Ibu tidak seharusnya menungguiku pulang.” “Ibu hanya terbangun dan baru saja dari kamar mandi,” kilah Manda yang sengaja berdusta. Padahal, ia memang belum tidur sejak semalam akibat rasa khawatir yang melanda karena sang gadis belum pulang. “Jelita?” Sang gadis yang hampir membantu Manda untuk duduk di sofa terdekat kini terhenti pergerakannya. “Ya, Bu?” “Duduklah dulu! Biar Ibu buatkan minum untukmu.” “Tidak usah, Bu. Biar Jelita sendiri yang—” “Duduk, Nak!” Jelita seketika tergugu saat perintah itu terlontar lantang. Ia kemudian mengangguk dan berusaha mengekori sang ibu yang bergerak ke arah dapur. Ia memilih untuk duduk di meja makan seraya menunggu Manda membuatkannya teh manis hangat. “Kau ingin mandi? Biar Ibu panaskan air untukmu.” “Tidak usah, Bu. Sepertinya Jelita hanya akan cuci muka saja.” Jelita terkekeh kecil, membuat Manda mengulas senyum segarisnya. Mereka saling tatap dengan kehangatan yang berarti, terlebih saat Jelita sudah menyeruput teh manis hangat miliknya yang baru saja disodorkan. Setelah merasa dirinya lebih baik, Jelita merogoh sesuatu di dalam tasnya dan menyerahkan sebuah amplop cokelat ke hadapan Manda yang kini duduk berhadapan dengannya. “Oh ya, ini uang untuk belanja mingguan.” “Jelita—” “Simpan, Bu.” Jelita bereaksi keras akan penolakan yang hampir terlontar. “Kau seharusnya menyimpan uang ini untuk tabunganmu, Nak.” “Sudah, Bu. Jelita sudah menyisihkannya. Ibu tenang saja.” “Tapi... kau seharusnya kuliah dengan hasil jerih payahmu ini.” Jelita menggeleng tegas sebelum mengulurkan amplop yang berisi lembaran uang itu pada genggaman Manda. “Bu, Jelita kan sudah bilang. Jelita tidak suka belajar. Terlalu memusingkan.” “Nak—” “Jelita tahu itu demi kebaikan Jelita, namun Jelita menikmati ini, Bu. Jelita suka bekerja demi mencari uang. Toh pada akhirnya, setelah lulus kuliah orang-orang akan berlomba mencari pekerjaan juga. Jadi untuk apa mengulur waktu seraya menghabiskan banyak biaya?” “Tapi setidaknya kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik kalau kau punya gelar sarjana.” “Tidak apa, Bu. Jelita sudah nyaman seperti ini. Yang penting, usaha Jelita selama ini tidak sia-sia jika melihat ibu dan adik-adik di sini sehat.” “Semoga hidupmu diberi keberkahan yang tak terkira, Nak. Ibu selalu mendoakan itu untukmu.” Manda mengusap bahu Jelita dengan penuh rasa sayang. Tatapannya berbinar haru, merasakan sebuah ketulusan dari sang putri yang bahkan tidak memiliki ikatan darah dengannya, namun sanggup melakukan hal-hal berarti untuk dirinya hingga detik ini. Manda selalu berterima kasih pada Tuhan karena mengirimkan gadis berhati malaikat yang datang ke depan pantinya dua puluh tahun silam. Walau kisah hidupnya penuh kemalangan, namun Manda selalu mendoakan segala hal yang terbaik bagi Jelita—sang gadis periang yang penuh kelembutan itu. Jelita adalah anak yang ditinggalkan ibu kandungnya di depan panti asuhan. Sebelum pergi, ibu kandungnya memerintahkan Jelita untuk menunggu di sana. Sang ibu berkata akan segera kembali. Hanya lima menit, begitu katanya. Namun hingga menit berubah menjadi jam, Jelita tidak melihat tanda-tanda kedatangan ibunya. Jelita terus menunggu dengan patuh di sana seraya menatap nanar jalanan di hadapan. Ia berharap ibu kandungnya akan segera datang dengan membawa permen kesukaannya, sesuai janjinya sebelum pergi. Ia terus berdiri di depan pagar panti asuhan hingga keesokan harinya Manda—sang kepala sekaligus pengurus panti melihatnya dengan tampang lusuh tak terurus. Ia bahkan tidak sudi beranjak saat Manda menyuruhnya masuk. Jelita masih berharap ibunya datang. “Tolong jaga anak ini. Namanya Gadis Jelita.” Hanya sepucuk surat itulah yang terselip di saku mantel sang gadis kecil. Ya. Gadis Jelita. Sebuah nama yang cantik. Persis seperti rupa orangnya, namun berkebalikan dengan nasibnya yang teramat menyedihkan. Pada akhirnya, ibu kandungnya tidak pernah kembali. Jelita ditinggalkan begitu saja. Miris. Dua puluh tahun berlalu, hanya Jelita-lah yang tidak ingin keluar dari panti meski banyak orang tua asuh yang bersedia mengangkatnya sebagai anak. Lambat laun, Jelita mulai beradaptasi di panti. Ia bahkan mulai menganggap Manda sebagai ibu kandungnya. Alhasil, Jelita selalu berteriak kencang saat ada orang asing yang berusaha mendekatinya—termasuk para orang tua yang mencari anak untuk diadopsi. Pada akhirnya, hingga usianya yang ke-25 kini, Jelita masih bertahan di panti. Ia memilih untuk mengabdikan dirinya di sana. Setelah lulus sekolah menengah, Jelita bekerja banting tulang untuk menghidupi panti usang yang minim donasi ini. Di tengah kerasnya kehidupan, Jelita berhasil menumpulkan sedikit demi sedikit pundi-pundi uang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan juga panti asuhan. Jelita bekerja keras untuk itu. Termasuk kini saat ia menambatkan pekerjaannya di suatu bar elit yang penghasilannya lumayan menggiurkan sehingga ia tidak terlalu kesusahan meski pada akhirnya harus terlilit urusan dengan lintah darat bergaya elegan seperti Madam Rose. Selama ini, Manda tidak tahu akan pekerjaan Jelita yang sebenarnya. Mulanya, Jelita tidak berbohong saat ia mengatakan bahwa ia bekerja di kafe sebagai pelayan, dan sesekali menjadi penyanyi sambilan di sana jika ada tamu yang meminta hiburan. Manda hanya tahu bahwa selama ini Jelita bekerja di sebuah kafe. Orang-orang di sekitarnya tidak pernah tahu tentang identitasnya sebagai Kalista di bar. Jelita telah bersumpah bahwa tidak akan ada orang lain yang tahu kehidupan malamnya yang penuh kepalsuan tersebut. Pendusta? Katakanlah seperti itu, namun apa boleh buat? Jelita hanya tak ingin terlalu jauh menjadi beban untuk Manda yang selama ini telah mengurusnya sedari kecil. Semua kebohongan ini bermula dari tawaran dari sang karib—Yasmine—yang mengantarkannya pada Madam Rose. Yasmine yang saat itu juga bekerja di kafe yang sama dengan Jelita menawarkannya untuk bertemu sang pemilik bar yang memang tengah mencari seorang penyanyi. Raut sangsi tergambar begitu pertemuan pertama itu terlaksana. Madam Rose melihat penampakan kusam dari Jelita yang saat itu datang dengan pakaian bau keringatnya seusai menjadi pelayan kafe. Namun dengan bantuan Yasmine, Jelita disulap menjadi sosok yang berbeda. Berbekal riasan seadanya yang ia pelajari secara otodidak, Yasmine yang mendukung penuh nasib Jelita agar lebih baik itu berhasil mendandaninya. Pada akhirnya, Jelita sang gadis kampung kemudian menjelma menjadi sosok penyanyi memikat yang tak akan mampu ditampik dalam sekali lirik. Sosok Jelita menjelma menjadi Kalista—sang penyanyi bar elit pusat kota berkat tangan dingin Madam Rose. Siang Jelita, malam Kalista. Begitulah Jelita menjalani harinya. Si orang bermuka dua yang memiliki dua kehidupan berbeda dan saling bertolak belakang. Jika dalam kesehariannya Jelita bertingkah manis cenderung polos, namun saat menjadi penyanyi bar, Kalista memiliki watak yang angkuh nan anggun demi melindungi dirinya. Entah sampai kapan semua penderitaan ini akan berakhir. Sesungguhnya Jelita sudah lelah. Ia juga ingin hidup normal seperti orang lain pada umumnya, namun hingga kini Jelita masih harus terus menjalani kehidupan penuh kepalsuan ini demi dirinya, juga orang-orang yang dikasihi di sekitarnya. “Segeralah cuci muka lalu tidur, Nak!” ucap Manda sebagai penutup percakapan mereka dini hari itu. Manda menepuk pundak Jelita lembut sebagai tanda pamit sebelum meninggalkannya yang masih terpekur di meja makan. Sepertinya ini sudah menjadi kebiasaan bagi Manda. Ia mampu tidur nyenyak jika telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Jelita sudah selamat sampai di rumah. Jelita mengangguk patuh, mengulas senyum terbaiknya seraya menatap punggung ringkih Manda yang berjalan menjauh menuju kamarnya. “Selamat beristirahat, Bu!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD