“Kau berbuat masalah lagi?”
Kalista mendengus jengah dengan tangannya yang terlipat. Ia mengalihkan tatapannya ke arah lain, tak sudi untuk menjawab pertanyaan basa-basi itu.
“Kalista?”
Mendengar namanya disebut membuat sang gadis menghela napasnya pasrah. Ia tahu wanita setengah abad di hadapannya ini tidak suka diabaikan. “Kurasa kau telah mendengarnya dari beberapa penjaga.”
“Haruskah kau berlaku sejauh ini?”
“Ia yang mencari gara-gara denganku terlebih dulu.” Kalista melakukan pembelaan diri.
“Lagi-lagi kau membuatku rugi dengan tingkah pongahmu itu!”
Sang wanita dengan riasan tebal itu menghembuskan asap nikotin yang tengah dinikmatinya tepat ke wajah Kalista—membuat sang gadis terbatuk seketika. Sesungguhnya Kalista membenci asap rokok, namun orang-orang di lingkungan kerjanya memang mengharuskan ia tahan dengan batang nikotin yang hanya membuat sesak saluran pernapasannya tersebut.
“Apa susahnya melayani para tamu VIP itu, huh?”
“Kau sudah jelas tahu peraturanku, Madam. Aku bersedia melayani para tamu sialan itu hanya untuk menemaninya minum. Tidak ada permintaan lain.”
“Cih!” Sang Madam pemilik bar berdecih seraya tersenyum kecut. “Lagi-lagi tentang harga diri, huh?”
Kalista kembali bungkam. Sesungguhnya ia bukanlah gadis sok suci yang mengedepankan egonya sendiri.
Setidaknya ia memiliki prinsip, dan itu yang ia pegang hingga detik ini. Bahwa ia tidak boleh mengecewakan orang-orang tersayangnya lebih jauh dengan semakin jauh terjerumus dalam gelimang dosa duniawi yang memabukkan.
Ini semua Kalista lakukan bukan semata-mata untuk dirinya sendiri. Melainkan menjaga kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya yang tidak tahu pekerjaannya yang sebenarnya—yaitu menjadi penyanyi bar elit dengan bayaran fantastis.
Kalian pikir gadis itu sudi menjadi penyanyi bar dengan segala perlakuan tidak sopan para tamu? Walaupun sudah jelas-jelas Kalista hanya memberikan pelayanan tambahan untuk menemani seorang tamu untuk minum, namun tetap saja banyak pria b******k yang memaksa untuk menyeretnya ke ranjang. Benar-benar keterlaluan!
Menjadi Kalista adalah kesalahan terbesarnya dua tahun lalu. Berkat bantuan seorang karib, ia yang awalnya seorang penyanyi kafe ditawari untuk menjadi penyanyi di bar kelas atas.
Bayarannya mahal, itu sudah jelas menjadi faktor menggiurkan bagi sang gadis yatim piatu yang saat itu membutuhkan pekerjaan tambahan untuk menerima tawaran ini. Sekali tampil, namanya sudah meledak di kalangan tamu VIP dan kemudian permintaan manggung dari bar elit itu terus berdatangan.
Sekali terjerumus ke lembah panas, maka kau tak akan mudah untuk keluar. Begitu pula dengan Kalista.
Awalnya ia hanya ingin coba-coba, namun lagi-lagi faktor ekonomi yang membuatnya harus terjerumus lebih lama daripada perkiraannya. Ia berjanji setelah tabungannya cukup, maka ia akan segera keluar dari sana, namun apa daya?
Hingga kini, selalu saja banyak kebutuhan yang tak terkira yang berhasil menguras tabungannya lebih dalam. Terlebih, ia juga malah terlilit hutang dengan Madam Rose—sang pemilik bar sekaligus lintah darat yang bersiap menyedot habis darahnya.
Kalista terpaksa berhutang padanya saat harus membiayai sang ibu kepala panti asuhan untuk operasi pengangkatan kista di rahimnya. Hingga saat ini, biaya perawatan hingga biaya pengurusan panti menjadi beban Kalista yang harus pontang-panting bernyanyi hingga melayani tamu.
Jika tidak seperti ini, semua biaya itu tidak akan tercukupi. Kalista memiliki hutang budi yang harus ia bayar penuh setelah semua pengorbanan ibu kepala panti padanya yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.
Hidup sebatang kara tidaklah mudah. Terutama bagi dirinya yang menjadi anak terbuang semenjak usianya yang kelima di depan panti yang akhirnya ia tinggali hingga saat ini. Entah apa yang membuat kehadirannya tidak diterima bahkan oleh ibu kandungnya sendiri.
Kalista masih tidak mengerti, dan sebaiknya memang tidak harus mengerti. Mengingat kejadian masa lalu kelam itu hanya membuat ulu hatinya serasa diremas dengan perlahan hingga menyesakkan rongga dadanya.
“Andai saja kau lebih pintar, kau bisa saja membayar hutangmu padaku lebih cepat jika bersedia berkencan dengan para ladang emas itu.”
“Seberapa ingin aku melunasi hutangku hingga menguras seluruh sel-sel di tubuhku, kurasa kau tidak akan melepaskanku semudah itu.”
Kalimat penuh sarkas itu membuat Madam Rose tertawa lantang. Tak ada bantahan, karena memang begitulah adanya.
Tidak peduli seberapa keras Kalista bekerja di bar miliknya, Madam Rose akan terus memeras tenaganya dengan alasan keterikatan hutang di antara mereka. Kalista bahkan tidak pernah tahu berapa bayaran pasti dirinya dalam semalam untuk bernyanyi, ditambah upah menemani para tamu.
Madam Rose tidak pernah ingin memberitahunya, dan terus berkata jika bayaran hariannya yang ia terima telah dipotong dengan hutang plus bunga padanya. Pada akhirnya, Kalista hanya mampu menurut saja.
Ia tahu risiko berhutang pada lintah darat—tidak akan pernah ada ujungnya. Namun lagi-lagi ia tidak memiliki pilihan lain. Entah Kalista mampu bertahan sampai kapan, namun hanya inilah pekerjaan yang mampu ia ambil demi mencukupi segala kebutuhan hidupnya.
“Inilah yang selalu kusuka darimu. Tidak tahu sopan santun! Benar-benar menjadi daya tarik yang memikat.” Madam Rose tertawa renyah.
Ya. Meski Kalista sering membangkang, bahkan terkadang membuat barnya merugi dengan segala tingkah pongahnya, pada akhirnya Madam Rose tidak akan sudi melepaskan ladang penghasilannya yang satu ini.
Kalista adalah salah satu ketertarikan yang paling dominan di barnya. Gadis itu jual mahal, dan itu yang membuat kehadirannya selalu ditunggu-tunggu para tamu VIP. Melihat Kalista bernyanyi saja, para tamu itu harus merogoh dalam isi dompetnya, apalagi jika memiliki permintaan tambahan untuk ditemani minum.
Terlepas dari segala prinsip hidup seorang Kalista yang membuat Madam Rose terkikik geli—menjunjung harga diri, kehormatan, dan lain sebagainya—Kalista merupakan ladang penghasilan menggiurkannya yang tidak akan ia lepas hingga ketenarannya redup digerus waktu.
Selama para tamu masih menginginkan kehadirannya, maka selama itu pula Madam Rose akan mempertahankannya. Karena sebesar apa pun kerugian yang dialaminya seperti malam ini, sama sekali tidak sebanding dengan keuntungan yang didapatnya dari penghasilan harian akan bayaran para tamu hanya untuk melihat sang penyanyi beraksi di panggung melantunkan suara indahnya.
“Mana bayaranku?” todong Kalista tegas yang langsung direspons dengan beberapa lembar uang yang diserahkan oleh sang Madam. Kalista mengernyit heran saat menghitung lembaran bayarannya itu yang lebih tipis dari biasanya. “Hanya ini?”
“Masih untung kau kubayar setelah membuatku hampir kehilangan tamu VIP-ku.”
Kalista merotasi maniknya. Lagi-lagi ia diakali dan tak mampu berbuat apa-apa untuk membela diri. “Lain kali, carilah tamu yang lebih berkelas! Bukan pemuda m***m yang hanya menatapnya saja mampu membuat asam lambungku naik karenanya.”
“Pemuda m***m yang kau hina itu bahkan bisa melunasi hutangmu dalam hitungan detik, Nona! Tahu dirilah!”
“Aku tidak peduli! Sekali m***m, tetap saja mesum.”
“Ya, dan ia kaya raya. Sekali kaya raya, kau mampu menggenggam dunia di tanganmu. Berhati-hatilah! Aku tidak ingin kau memiliki risiko yang dapat merugikanku lebih banyak dari ini.”
Kalista menulikan telinganya, sibuk memasukkan upahnya ke dalam tas lusuhnya. Sudah tengah malam, dan kini ia harus bersiap untuk pulang.
“Jelita?”
Pergerakan sang gadis terhenti. Nama aslinya didengungkan sang madam dengan lantang, membuatnya menoleh dengan seringaian mematikan sebelum membuat darah sang lawan bicara seketika naik akibat ucapannya. “Ya, Madam Rosita?”
“Rose, astaga!”
Kalista mengulum senyum. Ia memiliki sedikit senjata untuk hiburannya jika tengah sebal dengan sang madam—menyebutkan nama aslinya yang tak sengaja ia lihat di kartu tanda pengenal milik sang atasan.
“Ya, Madam Rose?”
Sang madam berdecak sebal sebelum menatap Kalista dengan penuh keseriusan. “Kau tahu kan harga dirimu telah tergadai sejak kau menyetujui bernyanyi di bar milikku?”
Madam Rose memberi sang gadis sebuah tamparan agar sadar akan realita. Ia tahu Kalista memiliki harga diri selangit, namun pada akhirnya itu tidak akan berguna dengan statusnya yang masih terikat dengan sebuah lembah hitam penuh maksiat.
Harus diakui, bahwa lama-kelamaan lembah ini dilingkupi pesona memikat bagi orang-orang yang telah terjerumus di sana. Bukan tidak mungkin, jika nantinya Kalista akan tidak sadar diri dan berakhir dengan terperosok semakin jauh tanpa kehendaknya.
Ya. Kemungkinan itu selalu ada. Miris, bukan?
“Karena tak peduli seberapa keras kau menjunjung segala prinsip hidupmu yang tak berguna itu, mau tak mau kau akan tetap terciprat getahnya.” Madam Rose memutar ujung batang nikotinnya ke asbak, mengepulkan satu asap terakhir yang membuat Kalista menegang di tempat. “Pada akhirnya, uang yang kau terima tetaplah uang haram. Benar, bukan?”