Arsen tertegun untuk beberapa waktu dan masih tak bisa berpikir secara normal. Tidak, dia terlalu terkejut pada hal yang dia terima dan dengar. Tak menyadari bahwa sosok Angel telah pergi, dia masih duduk di posisi yang sama dan terlihat linglung. Entah kenapa rasa jemari Angel masih terasa di atas kulitnya. Dan kerlapan penuh cinta dengan tatapan memuja, membuat jantungnya seakan berhenti berdetak karena waktu yang tak berputar. "Arsen, aku mengalami kesulitan," Lagi, kata-kata sedih putus asa itu mengoyak hatinya. Tatapan penuh luka dengan mata berbinar seakan dia adalah satu-satunya orang yang bisa di harapkan, membuat sudut hatinya tergerak untuk mengasihi. Namun semu itu kian menjadi seperti mimpi saat kata-kata lainnya mengikuti. "Arsen, maukah kau menikah denganku."

