"Tuan, mobil sudah siap."
Supir kelurga masuk dengan tergopoh gopoh. Membuat semua pelayan menyingkir dan mengikuti Alex yang tengah menuntun Meida. Melihat itu Angel ikut bangkit dan tiba-tiba menyuarakan keinginannya.
"Kau, antar aku terlebih dahulu ke rumah sakit!"
Hening! Tak ada yang menganggap kata-kata Angel. Semua tampak tak mengindahkan perkataan gadis cantik tersebut. Seakan akan Angel tak pernah ada dan sama sekali tak terluka. Melihat tanggapan itu, Angel melangkah dengan cepat. Darah dari kepalanya mulai berhenti mengalir. Membuat tatapan matanya jelas meski noda darah membuat wajahnya tampak sedikit mengerikan.
"Ayah, hidungku rasanya sangat sakit. Ayah, ayah," tangisan Meida kian terdengar keras saat merasakan denyut sakit itu kian terasa. Terlebih darah itu tetap mengalir tanpa bisa dihentikan.
"Angkat kepalamu ke atas. Ayo kerumah sakit. Kita harus melihat lukamu,"
"Ayah, rasanya sangat sakit."
"Berhenti mengeluh, dan ayo kerumah sakit."
Alex dengan sangat perhatian memapah Meida dengan lembut. Membukakan pintu mobil saat sang supir telah masuk ke bangku kemudi.
"Naiklah."
Alex menyingkir sedikit memberikan ruang pada putrinya agar bisa masuk. Saat Meida baru saja melangkah untuk masuk, tiba-tiba Angel menerobos dan merebut jalan Meida yang Alex siapkan. Membuat Meida tersingkir dan terdorong lalu berakhir jatuh sekali lagi.
"Ayah...."
"Meida," panggil Alex tak percaya. Matanya menatap nyalang pada Angel yang baru saja masuk. "Angel! Apa yang kau lakukan! Keluar!"
Namun Angel terlihat tenang dan seakan tak terganggu. Tangannya dengan santai menutup pintu mobil dan menatap ke depan.
"No-nona," panggil sang supir terkejut karena melihat kehadiran Angel yang tiba-tiba. Terlebih wajah Angel juga telah berdarah darah hingga terlihat mengerikan. Membuatnya sedikit takut dan jijik.
"Jalan,"
"Tapi No-nona,"
"Jalan! Kau tak lihat? Kepalaku juga berdarah,"
Tatapan dingin menghujam sang supir dengan kilatan emosi yang tertahan. Angel terlihat keberatan saat sang supir akan membukankan pintu untuk Alex karena tangisan Meida kian keras. Tatapan matanya kian dingin, membuat sang supir bergerak takut tanpa sadar. Sungguh, dia sangat terkejut dengan ekspresi yang baru saja nona mudanya tunjukkan. Selama menjadi supir keluarga Excel, ini baru pertama kalinya dia melihat Angel bertindak memerintahnya tanpa takut.
Akhirnya, sang supir menjalankan mobilnya pelan. Tak mempedulikan bagaimana cacian Alex dan kekesalan yang terlontar. Sang supir hanya fokus pada jalanan dan sesekali melirik Angel dari kaca di atas kepalanya.
"Apakah nona baik-baik saja?" tanya sang supir sedikit khawatir.
Angel mengangkat kepalanya sedikit dengan tatapan tak peduli. Dia membuka matanya dengan malas. "Apa aku terlihat baik-baik saja di depan matamu?"
Sang supir menggeleng refleks. "Aku akan menambah kecepatan sedikit agar nona cepat sampai ke rumah sakit.
Angel tak menjawab. Dia hanya memejamkan matanya agar rasa pusingnya berkurang. Melihat itu sang supir tak lagi berani mengatakan apa pun. Hanya melajukan mobil sedikit lebih cepat agar segera sampai di rumah sakit. Dua puluh lima menit berlalu. Kini mobil telah sampai di lokasi parkir rumah sakit. Sang supir membangunkan Angel dengan pelan.
"Nona, kita sudah sampai."
Angel membuka matanya lalu turun. Dia tersenyum tipis pada sang supir dan berujar pelan. "Terimakasih,"
Kemudian dia mulai melangkah memasuki rumah sakit. Beberapa perawat datang dan memeriksa lukanya. Di tengah perawatan, dia samar-samar mendengar tangisan dan rengekan Meida yang sangat akrab. Jika dia tak salah, pasti Meida ada di balik ruangan yang terpisah kain panjang dari ruangannya.
Hal itu membuat Angel tersenyum tanpa sadar. Dia mendengar teriakan kesakitan Meida sebelum seorang dokter datang dan membawa gadis itu pergi. Mendegar hal itu sudut mulut Angel berkedut. Dia melirik seorang perawat yang baru saja datang untuk membantu satu perawat yang tengah membersihkan lukanya. Minatnya bangkit, jadi dia bertanya dengan ringan.
"Suster, apa yang terjadi dengan pasien di sebelah?"
Mendapati pertanyaan itu sang perawat tersenyum lembut. "Oh, maksud Nona, Nona Meida? Saya tak tahu pastinya tapi sepertinya jika saya tak salah dengar, dokter mengatakan bahwa tulang hidung nona Meida patah."
"Patah?" tanya Angel memastikan sekali lagi. Ada riak bahagia di matanya. Kegirangannya bahkan tak dapat di sembunyikan dengan baik.
Sang perawat mengangguk. Dia melirik Angel dan bertanya. "Apakah nona kenal dengan nona Meida? Dia putri dari pemilik rumah sakit ini,"
"Putri dari pemilik rumah sakit Excel?" tanya Angel menekan nama keluarganya untuk memastikan kabar yang baru saja dia dengar.
Dua perawat di hadapannya mengangguk. "Benar, dia putri dari pemilik rumah sakit ini," jawab salah seorang dari mereka berdua.
Satu sudut bibir Angel terangkat sedikit. Dia baru menyadari hal ini. Bahwa Meida selalu di kenal baik sebagai dirinya karena menghadiri seluruh rapat penting atas nama keluarganya. Sedangkan dia selalu tersingkir dan terasingkan. Meida selalu menggunakan posisinya sebagai pewaris keluarga Excel hingga terkenal baik di mata semua orang. Sedangkan dia bukan siapa-siapa.
Memikirkan hal itu, ekspresi Angel mendingin. Kenapa pemilik tubuh ini sangat lemah dan bodoh? Kenapa begitu mudah di manfaatkan? Kenapa bisa orang asing menempati tempatnya dengan sangat mudah? Semakin dipikirkan, semakin membuat dendam di hatinya berkobar. Dia tak bisa seperti ini. Dia harus bergerak dan merebut semua miliknya pelan-pelan. Dia tak akan membiarkan siapapun menggertak atau menempati tempatnya.
"Angel,"
Sebuah suara yang tampak sangat khawatir terdengar. Membuat Angel menoleh dan mendapati wajah yang terlihat sangat terkejut.
"Paman," senyumnya terkembang. Angel menatap Luke yang mendekatinya dan mengambil alih tugas perawat untuk memberikan perban di kepalanya.
"Apa yang terjadi? Aku baru saja mengantarmu pulang setengah hari ini, dan kau kembali kesini dengan kepala terluka?"
Angel tertawa kecil. Dia jelas mendengar nada kesal juga khawatir secara bersamaan dari bibir Luke. Membuat perasaannya menghangat karena merasakan bahwa di kelahirannya kali ini, dia masih memiliki anggota keluarga yang mengkhawatirkannya.
"Ini kecelakaan kecil. Paman, aku baik-baik saja."
"Gadis nakal. Kau berdarah dan masih bisa mengatakan baik-baik saja? Apa kau bertengkar dengan Meida?"
Angel tak menjawab dan hanya tertawa ringan. Namun itu sudah memperjelas jawabannya di hadapan Luke.
"Aku melihat Meida di ruang operasi. Lalu aku juga mendengar Alex memaki namamu. Jadi aku berlari mencarimu."
"Apakah hidungnya benar-benar patah?" tanya Angel hati-hati.
Luke menggangguk. Dan kepastian itu membuat mata Angel berbinar senang. Hal itu tak luput dari perhatian Luke. Membuatnya menjadi sedikit pertanyaan dengan semua kejadian.
"Apa yang terjadi?"
"Tak banyak. Dia yang memulai duluan. Aku tak bersalah. Aku hanya membalasnya,"
"Huh?" ucap Luke tanpa sadar. Dia tak mengerti tapi saat melihat kilatan rasa benci di mata keponakannya dia menjadi miris. "Jika begitu, ayo pulang bersamaku. Tantemu telah menunggu."