Kenapa harus aku?

1055 Words
"Apa kau sudah tidak waras?" teriak Meida marah Alex menatap nanar Angel dengan tatapan yang sama sekali tak berkedip. Dia tak akan menggerakkan tangannya atau anggota tubuh lainnya karena dia tahu, keponakannya selalu patuh dan menjadi baik dengan sendirinya. "Keluar dari rumahku sekarang!" tekan Angel sekali lagi. Tatapannya sangat tenang dan tak bergetar. Jauh di lubuk hatinya, dia jelas merasakan takut yang luar biasa. Itu adalah refleks dari pemilik tubuh aslinya. Yang terbiasa lemah dan penakut. Hingga mudah ditindas dan tak bisa berbuat apa-apa. Tapi kini berbeda. Dia adalah Xin Narra. Dimana mental dan seluruh perbuatannya selalu dia pikirkan dengan baik. Secara naluri, dia jelas merasakan tubuhnya seakan ingin melarikan diri. Tapi kali ini, dia membalas tatapan Alex tanpa berkedip. Matanya yang hitam dan tenang tampak sangat damai dan berair. Menyembunyikan semua ekspresi dan ketakutan yang pernah ada. "Minta maaf," tegur Alex dingin. Mendengar itu,  dua sudut Angel terangkat ke atas sedikit. Ekspresinya datar dan tanpa emosi. Hanya memperlihatkan tatapan matanya yang muak dengan rasa jijik yang sesekali melintas. Bagaimana tidak, dua orang di hadapannya ini terlalu lama menindasnya hingga tak tahu tempat semestinya. Bahkan kali ini berani memerintahkan sesuatu yang menurutnya salah. "Kenapa?" ucap Angel dingin. Itu tampak seperti gumaman dengan rasa benci yang melintas. "Apa?" tanya Alex tak percaya. Mata Angel berkedip sekali. Bulu mata lentiknya tampak berkibar dengan menampilkan bayangn hitam di bawah matanya. Dua bibirnya yang terkatup kini terbuka sedikit. Dengan senyuman tipis yang terlihat dingin. "Kenapa aku harus?" ulangnya memperjelas. Tanpa aba-aba Meida yang geram sudah maju dan akan meraih kepala Angel. Hal itu di sadari oleh Angel hingga tubuhnya refleks bergerak ke samping dengan ringan. Membuat Meida menangkap udara kosong yang membuat tubuhnya terhuyung maju dari tangga dengan suara keras. Meida terjerembab! Di atas lantai yang keras. "Kau!!!" makian Meida kembali terdengar. Dia menatap Angel marah dengan kebencian yang tersulut. Para pelayan yang melihat itu mundur. Ada tawa sesaat yang terdengar namun kemudian kembali sunyi. Jelas, mereka semua takut pada tatapan Meida yang berapi api. Sedangkan Alex tak bisa membatu melihat putrinya yang terjatuh. Dia jelas melihat Angel bergerak dari posisinya hingga membuat putrinya jatuh terantuk lantai. Dia turun dan tangannya langsung mendorong Angel. Membuat tubuh Angel tersingkir kemudian. "Kau baik-baik saja? Bagian mana yang sakit?" Melihat adegan itu Angel tersenyum tipis. Dia menaiki satu anak tangga dan berujar pelan. "Itu juga  bukan karena aku," "Angel!!!" teriak Alex menggelegar tak tahan. Dia menatap marah pada sikap Angel yang sangat aneh hari ini. Awalnya dia tak percaya, saat satpam rumah memberikan kabar bahwa Angel kembali dan terlihat aneh. Satpam itu juga memberi tahunya bahwa Angel terlihat berbeda dan tak mudah untuk di hadapi. Tapi saat ini, saat dia telah melihat semuanya, dia mulai merasakan hal yang satpam itu katakan. Meida yang bangun di bantu ayahnya menatap Angel murka. Tangannya bergerak seakan ingin mencakar Angel namum semua terhenti saat suara dingin Angel terdengar. "Coba saja. Maka aku akan membuatmu menyesal," Hening! Semua menatap Angel dengan tatapan tak percaya. Dalam benak mereka semua, itu jelas terlintas sebuah pertanyaan besar. Mereka semua bertanya-tanya, apakah gadis yang terlihat tenang dan tak mudah digertak itu adalah nona muda mereka. Yang biasa terlihat takut dan pendiam. "Kembali ke kamarmu!" bentak Alex kehabisan kata-kata. Angel tersenyum lagi. Kali ini sedikit lebar, menampilkan giginya yang putih dan rapi. "Paman, aku tak bercanda. Keluar dari rumahku sekarang!" "Apa kau tahu apa yang kau katakan?!" balas Alex muak. Angel mengangguk. "Aku pasti sudah gila sebelumnya karena membiarkan kalian tinggal di sini!" "Kau!" satu tangan Alex terangkat namun itu masih tertahan. Tubuhnya perlahan tertegun saat melihat mata keponakannya yang sama sekali tak berkedip. Seakan menantangnya tanpa takut. Melihat Alex yang kehilangan kata-katanya, Angel turun dan melewati Meida. Dia berencana menelepon pengacara ayahnya untuk bertindak lebih lanjut. Namun itu belum selesai. Saat dia merasakan tangan asing menarik rambutnya keras hingga membuat tubuhnya tertarik ke belakang. Lalu menghempaskan tubuhnya hingga dia jatuh terantuk tangga. Kepalanya jelas terasa sakit dengan luka di kepala yang terbuka dan mulai mengeluarkan darah. "Ahk," teriakan kecil itu terdengar dari mulut para pelayan yang mulai tertutup karena terkejut. "Sepertinya aku harus membenturkan kepalamu agar kau sadar dimana tempatmu!" maki Meida puas. Dia bergerak cepat hingga Alex tak bisa menahannya. Dia mendekati tubuh Angel yang masih terduduk dengan tangan memegangi kepala. Rasa pusing yang kuat di iringi rasa sakit yang cukup menyakitkan. Lalu aliran darah yang mulai mengalir di wajahnya itu cukup membuat Angel terganggu. Dia melirik saat desiran angin sepoi terasa dengan aroma parfum yang begitu kuat. Jelas, dia tahu bahwa Meida akan bergerak menyentuh kepalanya lalu membenturkan pada lantai tangga sekali lagi. Dan dia tak akan membiarkan itu terjadi. Jadi dia bergerak cepat. Mundur dengan tergesa. Lalu tangannya meraih rambut Meida yang tergerai dengan kuat. Membuat Meida terhuyung karena sama sekali tidak siap. Angel menekankan tenaganya pada tangannya. Meraih kepala Meida dengan gerakan kilat. Lalu tangannya mendorong kepala Meida ke lantai hingga suara 'Duk' terdengar cukup keras. Selanjutnya sebuah teriakan kesakitan diiringi tangisan terdengar. "Nona Muda," teriak para pelayan histeris. Begitupun juga Alex, yang tampak sangat terkejut dan segera mendekati Meida. Angel tertatih, dia mencoba bangun dan memegang kepalanya. Darah itu tak bisa berhenti mengalir. Membuat pandangan matanya tampak sedikit kabur. Tapi dia jelas melihat para pelayan terlihat panik saat mendapati Meida terluka. Hal itu membuatnya tersenyum kecut. Kenapa kali ini dia merasa dunia tidak adil padanya? Dia adalah nona muda di rumah ini. Pemilik seluruh kekayaan Excel dan tengah terluka. Namun tak satu pun dari mereka terlihat panik dan mencoba membantunya. Kepanikan itu kian menimbulkan suara ribut yang riuh. Angel jelas kian mundur dan duduk di bangku ruang utama. Matanya jelas mengamati bagaimana kehebohan semua pelayan di rumahnya melihat Meida yang terus menangis dan meraung. Tak ada yang mencoba membantunya. Jadi dia jelas menikmati pemandangan kesibukan ini dengan rasa nyeri yang mulai merayap ke jantungnya. "Rumah sakit. Panggilkan supir sekarang. Meida harus membutuhkan dokter dan rumah sakit," Itu adalah suara kepanikan Alex. Dan seluruh pelayan mulai bingung karenanya. Meida mulai bangun dengan tangan yang terus memegang setengah dari mukanya. Darah tampak menetes dari sela jarinya. Membuat lantai bersih itu kini mulai terhiasi dengan noda berwarna merah. Hal itu tak luput dari tatapan Angel. Dia jelas menikmati pemandangan di hadapannya. Melihat Meida yang menangis dengan tangan menutupi sebagian wajahnya, ada rasa puas tersendiri. Bibirnya bahkan tanpa terasa mulai terangkat ke atas sedikit. Membentuk senyum tipis yang terlihat kejam!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD