Angel menatap rumah besar di hadapannya. Dia melangkah dan membuka pintu tanpa menunggu pelayan membukan untuknya. Merasakan haus, dia berjalan menuju dapur dan hanya melirik seorang pelayan yang terkejut akan kehadirannya.
"Kau, kumpulkan semua pelayan di halaman." perintahnya jelas.
Pelayan itu mengangguk tanpa sadar. Dia masih tak dapat berkata apa-apa karena sangat terkejut. Terlebih saat melihat Angel pergi menaiki lantai atas. Di dalam kamar, Angel meneliti kamarnya dan tersenyum dingin saat tak mendapati satu barang berhargapun yang dia miliki. Kamarnya terlihat kosong dan biasa saja. Itu sangat berbeda dengan kamar Xin Narra saat di China.
Melangkah, Angel membuka lemari pakaiannya dan mendapati pakaian lama yang sangat tak masuk selera untuk seorang artis besar bernama Xin Narra. Helaan napas berat itu terdengar dengan gumaman kecil.
"Angel, seburuk apa kehidupanmu?sebagai seoran gadis kau harus memperhatikan pakaianmu. Ya Tuhan, kenapa semua pakaian ini untuk usia lanjut? Wah, aku benar-benar frustasi,"
Angel membuka seluruh pakaian yang tersimpan di lemari dan terus saja bergumam kesal. Kepalanya berkali-kali menggeleng karena
tak mendapati satupun pakaian yang pas. Dia istirahat sebentar dengan melemparkan tubuhnya di atas kasur. Menatap langit-langit kamar dengan enggan.
"Umurku sudah dua puluh satu tahun, tapi belum mendapatkan gelar apapun? Angel, sebenarnya apa yang sudah kau lakukan dalam hidup? Di umur ini kau harusnya sudah lulus kuliah dan mendapatkan gelar sarjana. Ya Tuhan, mulai besok aku harus mengejar ketertinggalan ini."
Angel menganggukkan kepalanya sekali, dia bertekat untuk pergi ke kampus dan menuntaskan kuliahnya dalam waktu singkat. Hal itu membuatnya membandingkan kehidupan Xin Narra dan dirinya yang sekarang.
Xin Narra, di umur dua puluh satu tahun sudah menamatkan gelar sarjananya dan memiliki karier yang cemerlang. Tumbuh sangat cantik dengan kecerdasan yang tinggi. Memiliki banyak teman dan sangat supel. Namun sayang, dia tak memiliki kisah cinta yang baik. Hidupnya berakhir buruk meski dunia awalnya sangat segan padanya.
"Huh, lalu apa bedanya diriku yang dulu dan dirimu? Kita sama-sama memiliki nasip yang malang. Tertipu dengan cinta dan janji manis palsu."
Angel mendesah, meletakkan tangannya di atas d**a dengan tatapan muram. Bibir tipisnya berucap pelan. "Angel telah mati karena tak memiliki semangat hidup. Tapi aku, Xin Narra, tak akan menyerah semudah itu. Aku tak bisa membiarkan mereka hidup bahagia. Jadi Angel, karena Tuhan mempercayakan tubuhmu padaku, maka akan aku gunakan untuk tujuan kita. Dalam kehidupan kali ini, aku akan memperbaiki hidupmu dan membalaskan dendamku."
Angel tiba-tiba bangun dan mematutkan wajahnya di depan cermin. Matanya melihat beberapa benda yang berada di atas meja riasnya. Tangannya menyentuh pelan dan matanya terpejam sesaat. Sebelum akhirnya Erangan muncul di bibir tipisnya.
"Bedak bayi? Selama ini kau hanya menggunakan ini? Angel, Ya Tuhan,"
Tubuhnya melorot dan terduduk di bangku rias. Tangannya bergerak membuka laci meja dan tertegun saat mendapati beberapa foto yang tergeletak. Tangannya terulur dan memungut foto tersebut. Menatap lama hingga tiba-tiba rasa rindu menyeruak di hatinya.
"Ayah, Ibu,"
Jemari lentiknya menelusuri wajah di dalam foto. Senyumnya terkembang tipis dengan mata berkilat rindu. Dia menahan napasnya sesaat dan mencoba berpikir normal. Orang dalam foto itu jelas bukan ayahnya, tapi ingatan dari tubuh yang ia tempati seakan memiliki emosi tersendiri. Merasakan itu dia tersenyum tipis. Baginya, itu cukup bagus karena setidaknya dia telah hidup menjadi Angel.
"Nona, kau di panggil oleh tuan Besar,"
Ketukan pintu diiringi dengan nada keras terdengar memecahkan kesunyian. Angel memejamkan matanya dan baru menyadari bahwa seluruh pelayan di rumah ini tak ada satu pun yang menghargainya. Dia beranjak setelah merapikan rambutnya sebentar dan berakhir dengan menggunakan bedak bayi di hadapannya.
Angel menuruni tangga dengan pelan, matanya melirik seluruh orang yang telah berkumpul di ruang utama dengan tatapan mengejek saat melihatnya turun.
"Oh, kau sudah sadar?"
Sapaan dingin itu terdengar saat kaki Angel baru saja berdiri di lantai ruang utama. Dia menoleh dan mendapati pria berumur lima puluh tahunan tengah menatapnya dari atas hingga bawah. Jika dia tak salah ingat, pria itu adalah paman dari pihak ayahnya yang bernama Alexander Blanche.
"Kau benar-benar beruntung selamat. Kupikir, kau sudah mati."
Tatapan Angel beralih pada gadis cantik dengan warna rambut merah maroon sepinggang. Kata-kata sapaan itu jelas membuatnya tersenyum senang. Gadis itu adalah sepupunya, Meida Aqueena Blanche. Yang juga merupakan selingkuhan kekasihnya. Mengingat itu minatnya tumbuh lebih subur. Jadi dia mengamati Meida dari atas hingga bawah. Dan lengkungan tipis terbentuk.
"Dia tak cukup cantik jika di bandingkan denganku saat menjadi Xin Narra," ucapnya dalam hati.
"Kau puas sudah membuat keributan? Kenapa kau mengumpulkan kami semua? Benar-benar tak berguna," caci Alex malas dengan raut kesal saat melihat Angel sama sekali tak berbicara. Dia beranjak dan melewati Angel begitu saja menuju ke lantai atas.
"Paman," tahan Angel merdu. Senyumnya lembut namun matanya berkabut pekat.
Meida yang mendengar itu hanya tersenyum mengejek. Dia ikut berdiri dan melewati Angel begitu saja. Sedangkan Alex tertahan dan membalikkan badannya. Menatap Angel dengan kemarahan yang mulai timbul di permukaan.
"Keluar dari rumahku," lanjut Angel jelas membuat langkah Meida juga tertahan.
"Apa?" tanya Meida seakan tak percaya pada pendengarannya.
"Perlu aku ulangi?" Angel membaliklan tubuhnya, berhadapan dengan Alex dan Meida. Matanya menatap nyalang seakan menantang mereka tampa takut. "Aku mau kalian keluar dari rumahku!"
"Hahahahaha,"
Tawa kemudian terdengar ramai. Itu adalah tawa dari beberapa pelayan yang terlihat geli dengan kata-kata Angel. Sedangkan Alex, menatap Angel kesal. Dia turun dua langkah dan tersenyun mengejek.
"Kepalamu pasti terbentur keras karena berani mengatakan itu,"
Meida ikut turun dan berdiri tak jauh dari Angel. "Biar, kuluruskan otakmu."
Plakkkk! Sebuah tamparan mendarat di pipi Angel dengan keras. Angel memegang pipinya yang terasa panas lalu menatap Meida yang tersenyum mengejek. Amarahnya mulai keluar dengan dua sudut bibir yang tertarik tipis.
"Kau menamparku?"
Meida tertegun saat tatapan tenang dan dalam tanpa takut itu mengintimidasinya. Dia jelas merasakan bahwa Angel sedikit aneh dan tak terlihat seperti biasa.
"Kembali ke kamarmu, dan jangan berulah," peringat Alex seakan tak menganggap kata-kata Angel. Namun detik selanjutnya dia terpaku saat melihat tangan Angel terangkat tinggi dan mendarat di pipi putrinya.
Plakkk!
Hening! Tak ada yang berani bersuara. Semua diam dan hanya melihat Angel yang berani menampar Meida.
"Kau!!!" teriak Meida emosi.
Namun Angel terlihat tenang dan berujar dingin. "Mata untuk mata. Dan tamparan juga akan sama,"
Alex ikut tertegun. Dia tak tahu sejak kapan tapi dia mulai menyadari bahwa keponakannya ini tampak berbeda. Begitupun dengan para pelayan. Mereka semua menunduk dan tak berani bergerak.