“TIDAKKKKK!”
Asha bergerak naik dalam posisi duduk.
Kepalanya terasa berat sekali dengan bayang-bayang mimpi yang menempel begitu nyatanya ke setiap jengkal. Napas pun naik turun, sesak, tersedak, terkejut dan tidak menyangka.
Apalagi ini?
Bukannya masih banyak jenis mimpi indah yang bisa dikoleksikan untuknya?
Malah kisah hidup.
Tidak estektik, terpuji, apalagi epik.
Huft .... Asha pun mengembungkan pipi. Kesal.
Tak lama kemudian terdengar suara tergesa bertapakkan di lantai ubin.
Setelahnya, kurang dari 5 menit, menyembulah wajah wanita paruh baya yang nada auranya menenangkan seperti alamarhumah Sang Mama.
“Non Asha?” Entah itu sapaan atau pertanyaan. Yang jelas, ekspresinya terlihat khawatir. “Nggak papa?”
Asha pun langsung menganggukkan kepala, menyampir senyum, “cuma mimpi buruk, Bu.”
Dia tercengang, “Lagi?”
“Iya. Itu. Yang amat sangat aku ingin lupain.”
Bu Gran mengelus d**a lega. “Oalah, kirain apa. Huft ... syukurlah, Non, Ibu kira masalah serius,” ujarnya. “Ibu takut Non kenapa-napa apalagi dengar teriakan begitu. Kirain ada maling atau orang jahat menyelusup di sini mau macem-macem sama, Non.”
Aksha meledakkan tawa. “Mana bisa ada maling, sih, Bu Gran? Tuan Muda kesayangan Bu Gran itu, kan, udah nyewa bodyguard kelas atas, CCTV terbaru, belum lagi koleksi teknologi anti maling canggih yang entah dia borong dari mana buat kita. Mana mungkin kecolongan. Bu Gran ada-ada aja.”
Ibu ikut nyengir, “Iya juga, sih, Non. Udah kayak kantor intelejen. Bahkan kayak markas pusat militer. Keamanannya beuh ... jos gandos.” Bu Gran ngacungin jempol, Asha makin ketawa.
“Yaudah, Bu, aku mandi dulu, ya.”
“Eh, iya, Non Asha. Mau Bu Gran bikinin apa?”
Asha menggeleng. “Enggak usah, Bu. Nanti aku masak sendiri saja.”
Kini giliran Bu Gran yang balas menggeleng. Bedanya, hanya satu kali. Penuh ketegasan. “Non. Kemarin Non udah gantiin tugasnya Ibu bantuin masak sama kerjaan rumah, masa Non mau tiap hari kayak gitu ke Ibu?”
“Kan, Bu Gran Ibu saya. Satu-satunya yang bisa saya panggil Ibu. Masa iya Ibu sendiri dijadiin pembantu? Enggak berbakti itu namanya.”
“Non ...” Bu Gran nada membujuk. Asha pun menggeleng patah-patah.
“Lagipula, ya, Bu, perempuan harus bisa masak dan cekatan ngolah kebersihan rumah. Nanti kalo aku punya suami, suaminya bisa kabur karena aku bahkan nggak bisa apa-apa.”
Bu Gran mencubit pipi kananku gemas. “Siapa, sih, yang bakal tega ninggalin Non baik hati, manis, dan lucu ini? Tuan Muda Den Raka juga mikir seribu kali atuh, Non, buat buang Non.”
Asha balas senyum. Ah ... Raka. Bu Gran kemudian menepuk bahunya.
“Yaudah, Bu Gran siapin makanannya saja," putus Asha.
“Siap, Non!”
Setelahnya, Bu Gran pun melenggang keluar dari kamar Asha yang sementara itu bersiap-siap membersihkan diri dan memakai outfit pilihannya.
Pukul 08.00 pagi. Semalam Asha sibuk mengerjakan tugas kuliah hingga jam 3 dini hari hingga Asha bagun terlalu siang begini.
Ngomong-ngomong soal Raka, kalian jangan salah paham. Asha dan dia, meski Bu Gran mengenakan bahasa tinggal-menetap untuk mendeksripsikan hubungan dirinya dengan Raka, mereka 100℅ tidak memiliki jalinan apa-apa.
Kecuali status 'penolong-terbuang, evakuasi-terlantar, membawa-dibawa', itulah yang paling melekat di antara keuduanya.
Biar Asha ceritakan ...
Usai kecelakaan itu, Asha ditemukan di rumah sakit. Tentunya dalam kondisi luka bagian kepala yang cukup parah dan beberapa tulang yang patah.
Waktu itu juga, dirinya mendapat kabar dari suster yang tengah bergantian berjaga bisik-bisik bergosip ria bahwa dirinya saja satu-satunya yang entah bagaimana ceritanya, dapat keajaiban dari mana, SELAMAT.
Semantara ...
Ayah-Ibu Asha tewas di tempat dalam kondisi sangat mengenaskan.
Asha pun sangat hancur waktu itu. Asha kepikiran hutang mendiang Papa, kesempatan sekolahnya, masa depan di mana Asha janjikan pada dirinya dan Sang Mama untuk memperbaiki rona dunia kembalinya 'diri-mereka-yang-baru.'
Yang berteman dengan bahagia. Yang akrab dengan bangga. Yang selamat dari mara bahaya.
Tapi, kenapa takdir seolah tak memperbolehkan dirinya untuk mengecap sedikit saja satu langkah menjalani semuanya?
Kenapa?
Kenapa tidak lebih baik dia mati saja?
Kenapa?
Asha pun sampai menangis tersedu-sedu, memeluk lutut di ranjang kasur rumah sakit, terisak.
Sampai akhirnya sebuah map berwarna hijau menyentuh pergelangan kaki, membuat kepala Asha mendongak memperhatikan siapa pemiliknya.
“Kamu benar-benar pemilik beasiswa paling bermasalah yang aku tahu.”
Dia memakasi seragam SMA khas sekolah di mana Asha berhasil lolos masuk ke sana, berbalut jaket hoodie. Duduk di kursi. Di sampingnya.
“Udah gitu, cengeng, ya.”
Dia menggelengkan kepala bergantian, antara prihatin sama nggak habis pikir.
Sementara Asha ... mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat. Tapi, ia betul-betul nggak kenal siapa gerangan makhluk aneh bin ajaib ini.
Ini sungguh kali pertama Asha ketemu sama model wajah kayak dia.
Hingga ekor mata serta dagunya menunjuk mengode. Asha yang menangkap sinyalpun mengikuti titah tanpa suara tersebut. Yaitu, membaca isi map.
Hingga, beberapa jeda setelahnya. Asha menyentak, “KOK BISA?”
Awalnya dia terkejut. Ikut tersentak juga. Namun, beberapa detik kemudian, berhasil menormalkan wajah keterkejutan. "Nggak usah gas gitu juga kali." Giginya mendesis. Lalu menghela napas. “Emangnya ada sesuatu yang nggak mungkin di dunia ini?”
Sial. Dia malah balas tanya. Menganggapku orang paling bodoh seantero tata surya. Asha mencebik, “Maksudku, kamu dapat uang darimana ngelunasi ini semua?”
“Kamu nggak tahu kalo setiap orang punya tabungan?”
“Tapi, nggak mungkin 700 juta!”
“Mungkin, kok, kalo yang mampu.”
YA-TU-HAN!
“Atau jangan-jangan kamu, ya, client sebenarnya dari Almarhum Papaku yang ditugasin membeliku atau diwasiatkan untuk memiliki aku? Jadi slave, jadi s*x partner, jadi—”
“Orang yang kuadopsi, bagaimana?”
Asha pun terperangah, menutup mulut dengan tangan, “JADI, KAMU ITU SEBENERNYA YANG DAGANGIN ORGAN ILEGAL DI PASAR GELAP? IYA? BERARTI KAMU MAU MUTILASI TUBUHKU DENGAN ALIBI MENGAMBIL HAK ASUHKU BIAR NGGAK MENCURIGAKAN, DONG?”
Semua mata lantai itu pun sontak tertuju pada kami. Terkejut. Lalu berbisik kecil. Dari raut wajah yang masam jelas membicarakan kami.
Dia sedikit tersenyum membalas mereka lalu mengusap wajahnya gusar. “Kayaknya aku menolong orang yang salah.”
"Ya, maaf."
"Gini."
Hingga, dia pun menjelaskan runtut soal semuanya.
Namanya Raka Nugraha. Anak semata wayang keluarga pemilik yayasan sekolah tempatku diberi beasiswa.
Sejak kecil, dia diajarkan memanajemen keuangannya dengan berbisnis. Memutarbalikkan uang secara sehat sudah jadi makanannya. Intinya, dia itu ahlinya menggandakan pendapatan.
Raka adalah saksi pada kejadian kecelakaanku. Dia sedang tersesat di daerah kami dan tidak tahu jalan pulang. Awalnya, karena kami sempat bertemu di sekolah. Dengan title aku tes ujian masuk, sementara dia siswa di sana yang kebetulan sempat mengingat wajahku, hendak bertanya padaku.
Tapi tahu kondisi Papa dan Mamaku sedang asdfghjkl, alhasil, dia pun mengikuti kami dan menelepon polisi serta ambulans begitu tahu kami mengalami kecelakaan nahas, sekaligus membuat kami cepat ditangani.
“Makanya, daripada aku bantu setengah-setengah, lebih baik aku bantu sekalian saja. Kamu pasti nggak punya tempat tinggal, kan? Ya sudah, anggap saja kamu aku adopsi.”
“Jadi kamu Papaku gitu?”
“Ya, nggak gitu juga!” Dia menjabak rambutnya. “Temanmu, oke? Atau kalau perlu, kakakmu, kan, aku lebih tua 2 tahun darimu!”
Sekarang Asha cuma bisa ketawa sendiri.
Itu tiga tahun lalu. Sekarang umur Raka sudah 20, sementara Asha 18. Dia menjelma menjadi arsitektur terkenal sekaligus mahasiswa keren di bidangnya. Berbeda dengan Asha, baru saja lolos ujian masuknya, jurusan manajemen. Satu universitas lagi sama dia. Wah ... happynya.
Raka memang terbiasa tinggal sendiri dan memang lebih nyaman sendiri. Kalau ada kumpul keluarga biasanya Rakalah yang ke Amsterdam. Maklum, kedua orangtuanya begitu mencintai kincir angin dan sepeda hingga ingin menghabiskan banyak waktu di sana sepanjang masa tua. Itulah yang menyebabkan DIIZINKAN-nya Asha ada di sini.
Untuk membunuh sepi, maybe?
By the way, kalau mengingat lagi, rasa-rasanya, Rakalah yang membuatnya percaya bahwa nggak semua lelaki menyebalkan apalagi ke tahap lebih pantas mati daripada hidup seperti mendiang ayahku. Semenjak aku mengenal Raka, Asha jadi percaya, bahwa tidak akan habis tangan-tangan baik berhati hadir di muka bumi.
Ya, Asha, menyukai ... Raka