Kelam

1215 Words
 PAK! Sang Papa memukul kepala belakang Mama Asha dengan botol birnya. Menjambaknya sekali lagi. Belum puas, ditariknya menuju mobil sedan di mana Asha menggigil sudah gemetaran seratus persen serta menitikkan air mata tak tahan melihat apa yang tengah terjadi saat ini. “Kan gue suruh lo bayarin semua hutang gue, b**o! Masa buat bayar judi 500 juta aja lo nggak mampu?” Awalnya Papa sesegukan, hingga kemudian cekikikan. Tunggang. Mabuk. Kepala Mama dihempas oleh Papa sampai membentur tubuh mungil Asha yang berada di ujung mobil jok nomor dua. Diredam ketakutan. Bisa Asha lihat jelas Sang Mama tengah terisak yang hanya bisa mengepalkan tangan. Seolah ingin melayangkan tinju sebagai perlawanan. Tapi apa daya. Tadi di rumah, Mamanya mengancam pakai tongkat bisbol agar tak dipukuli lagi malah dibalas guci oleh Papa. Perang benda di balas pecahan benda lainnya tak bisa dihindari. Benar-benar nggak ada akhir, nggak ada habis. Pecah. Sungguh kekerasan. Sang Papa pun mencengkram dagu Mama, memperjelas kalimatnya, “Lo tuh oke jadi p*****r. Ahlinya malah. Ratu dari segala ratu pemuas. TAHU?!" Kemudian, menyeringai setan, dan berbisik. “Iya, kan, murahan?” Sesegukan lagi. “Apalagi puteri kita yang super cantik ini. Tahu nggak? Udah gue daftarin sama pemilik club buat jadi temen tidur malam!" “b******n!” Mama kemdian mendaprat Papa. Mata Mama memerah, gemas menahan amarah. Tentu saja tidak terima sekaligus tercabik mendengar puterinya dihina oleh mantan suaminya sendiri. Tangan Mama yang terluka juga belum kering malam itu, seolah kembali terisi bahan bakarnya untuk membombardir Papa hingga tersungkur di lantai. Agaknya, perempuan itu sudah tidak perduli kalau pada hari itu juga, dia mati di tangan mantan suaminya sendiri. Ataupun jadi tersangka pembunuhan. Tidak perduli. Mama seakan telah muak dan lelah menghadapi ini semua. Benci! Sesak! Mati saja semuanya! “Jangan berani-berani kau sebut anakku p*****r! Dia bukan sampah sepertimu!” Air mata Mama mengalir, giginya bergemerlutuk, menjambak rinai rambut dirinya sendiri. Frustasi. Sementara Papa terbatuk memuntahkan darah. Masih menarik satu sudut bibir dengan bengis. “Apa belum cukup aku membayar hutang judimu 700 juta dengan bekerja 5 tahun terakhir secara gila-gilaan? Itu agar kau hidup bahagia dengan anak hasil selingkuhanmu! Juga dengan istri barumu!" teriak Mama. Suaranya menyambar kerongkongan. Saking dongkolnya. "Kau sungguh biadab, Alex! Kau memerasku, mengancamku, memperalat puteriku, dan menyiksa kami semua! Bahkan kau memintaku untuk membayar orang yang membantumu membereskan pembunuhan isteri baru dan anak bayimu! Manusia macam apa kau ini, Lex?!” Papa tertawa, mencebikkan bibir. “Kalau nggak berguna, ya, dibunuh. Begitu seharusnya!” Mama menggelengkan kepala. “Sampai kau memutarbalik fakta bahwa pembunuh tersebut cleaning service yang ada di sana? Kau sungguh keterlaluan!" “Kenapa? Lo mau coba gue bunuh?” “k*****t!” Perkelahian menjadi. Sang Papa dan Mama saling memukul tanpa henti. Asha yang melihatnya hanya bisa berteriak minta tolong dan menangis sejadi-jadinya. Mungkin berharap agar ada yang mendengar. Karena, jika Asha yang ke sana, Asha akan ditawan dan nyawanya seketika bisa menjelma jadi senjata. Kini, tak Asha perdulikan pita suaranya menjelma menjadi melengking, hingga rasanya mau putus karena volume berani-beraninya terlalu tinggi. Tidak. Mamanya … DIA BISA MATI! Walau aku tahu, usahaku sia-sia. Rumah keluarga tersebut berada di kawasan perkebunan penuh pohon cemara dan jati. Penerangannya minim, jauh dari kata seadanya, serta jalanan yang jarang dilalui orang. Kawasan yang serius sepi penduduk. Bisa dihitung, dalam jarak 800 meter sekali ada satu rumah. Ah, tidak, beberapa malah gudang penyimpanan beras juga semacamnya. Tidak ada yang menginap meninggali. Jujur, Asha tak bisa menonton perkelahian tak sebanding ini begitu saja. Papanya kuat, ditambah lagi kini Papa mencengkram leher Mamanya. Yang setelahnya hendak mengambil gergaji yang tergeletak di salah satu meja sisi teras bekas para tukang bangunan yang hari ini datang menangani kebocoran rumah kami. Apa Papanya itu akan membunuh Mama? Tidak. Itu tidak boleh terjadi! Sang Mama kemudian mengerang, sumpah serapah bergema, tutup mata, siap sedia jika inilah ajalnya bertemu malaikat pencabut nyawa dalam kondisi mutilasi dan tubuh tercabik. Tapi, sebelum gergaji itu melayang ke arahnya … DAR! Asha menembak gergaji tersebut dengan pistol Papanya hingga membuatnya terlempar jauh. Tadi dicuri dari dasbor mobil di mana berbagai alat pertahanan seperti pisau dan yang lainnya dihartakarunkan. Setelahnya, segera dipapah Mamanya begitu kaki Sang Papa sebelumnya ditembak agar tak bertindak diluar batas. “AYO, MA!" Asha bisa melihat betapa terguncangnya Mamanya lewat wajah kusut penuh peluh dan kesulitannya menelan ludah. Kantung mata yang begitu tebal seolah mengisyaratkan sudah lama sekali dirinya dipasung ketidakadilan. Asha pun memuncak. Usai ditutup rapatnya pintu mobil sekaligus menguncinya, Asha pun melarikan kabur mobil Sang papa menuju ke segala tempat. Nggak tahu. Yang penting jauh. Ujung duniapun Asha mampu. Asal bersama Mamanya. Kalaupun belenggu yang mengoyak hak-hak keduanya dipatah dan dilesapkan. “Darimana seorang anak SMP baru lulus bisa sebegajulan ini bawa mobil?” Mama memegang erat seat belt. Wajahnya khawatir. “Bukannya Mama nggak pernah ajarin kamu?” “Om-om kenalan Papa yang nyuruh aku ngelayanin, Ma, yang ajarin." Mama melotot. “Kamu jual diri?” “Aku jual ahli,” kataku, “sebagai asisten.” Mama mengembuskan napas lega. Asha kemudian ceritakan tangkisan omongannya yang betapa bahayanya memperkerjakan PSK di bawah umur apalagi yang masih segel model kayak kayak dia. Iya. Asha mengancam Bapak itu dengan rentetan hukum undang-undang dan bukti rekaman suara yang live dia aktifkan juga menyebarkan bukti tersebut kepada teman-teman dekatnya agar tak kecolongan hilang untuk dilaporkan. Tentu. Untuk memakai seorang Asha Nayana, taktikmu harus lebih teliti dari gadis itu. Mama cuma geleng kepala melihat putrinya tersebut. Ada seiris bulan sabit kecil menyembul dari bibirnya. Senyum terhibur meski letak keduanya jelas ada di antara hidup dan mati. “Kamu ada-ada saja.” “Well, kita perlu bombastis buat menangani mereka yang di luar kendali manusia, Ma.” Alias jelmaan setan. Mama mengangguk, “Kamu benar, As. Karena kita korban yang sewaktu-waktu nyawanya bisa berakhir tragis kapanpun dan dimanapun.” Itulah yang nggak Asha sendiri suka dari hidupnya, jiak saja sang Mama itu mampu mendengar suara hatinya. Teman Asha bernama kejahatan, bayangnya tak ada keamanan, hidup boro-boro bisa tenang, ayah ahli jadi kurang ajar, takdir pun b******n. Semuanya rata dalam pancarloba. Asha tentu dengan mudah bisa terserang kombinasi penyakit kronis dan berbahaya karena saking seringnya berkencan dengan dark life. Lalu, tiba-tiba Mama menyadarkan sarkasmenya. Bilang, “As, Papamu mengejar!” Sial! Di tikungan miring dan harus turun ke bawah otomatis laju Asha pun ... wajib diturunkan. Sang Papa bahkan jauh lebih ngebut daripada dugaan gadis muda itu. Yang tentunya membuktikan betapa ahlinya dia sebagai kriminal sekaligus buronan bintang lima. Dia juga membawa senjata laras panjang untuk menembaki kaca belakang mobil. Fantastic! Hei, dia nggak sayang uang sekian ratus juta yang digunakan untuk membeli kendaraan ini? Tidakkah Papa menghargai betapa Mamanya setiap hari menguras keringat untuk mendapatkannya? Hanya untuk bisa mengantar Asha ke sekolah yang lebih layak dan bermartabat? Sialan! “Pegangan, Ma!” DARK! Selanjutnya, keduanya pun terjengkang sebentar. Agak melompat ke atas yang berlanjut terjeduk atap mobil berkat ketiba-tibaan kendali Asha Nayana yang banting stir ke arah kiri. Nekat melewati bebatuan dan semak belukar hingga menuruni perbukitan kecil menuju jalan antar desa yang membentang. Parahnya, penuh lalu lalang kontainer. Benar-benar cari mati! Nahas, karena laju kecepatan Asha yang berlagak menandingi pesawat, rem pun sampai tak bisa mengendalikkan apapun. DAR! Tubrukan pun tak terhindarkan. Makin gila karena mobil jeep Sang Papa menabraknya dari belakang. Kecelakaan beruntun pun terjadi. Asha kehilangan cahaya. Gelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD