Pengakuan Yang Membuatmu Bersemi

1019 Words
Sudah dua jam mereka main PS. Sungguh kejadulan yang entah kenapa mereka berdua tertantang melakukannya. Sampai-sampai saking tak mau kalahnya, mereka saling otomatis berbalas dan adu teknik perang. Permainan kuno seperti super mario, balap mobil, GTA, sepak bola dan yang lainnya pun, dibablaskan. Seolah sedang mencatatkan skor di berbagai cabang olahraga atletik menuju semi final sampai akhirnya ke tanding final. Abis itu, mendapatkan gelar winner. Yaelah, padahal, tim bugh-nya cuma berdua. Dan, ini cuma bisa dinormalkan dengan gelengan kepala patah-patah dari Asha serta Yaya yang hanya menonton di belakang mereka. Sambil minum jus jeruk. Bersandar di sofa ruang keluarga. "Mungkin ini maksudnya cowok suka tantangan." Asha ketawa. "Iya, tapi nggak childish juga, Ya." "Tetap aja!" protesnya. "Kayak mau ngerebutin piala F1 tahu, enggak? Emang apa, sih, yang bakal mereka dapet sampai sebegitu 'kompetisi'-nya? Elo gitu?" "Ngawur!" Asha menoyor kepala Yaya. "Aw! Gegar otak pala gue, Sha!" "Ya, makanya, ngomong tuh dipikir dulu, ditinjau dulu, dicerna dulu, ditimbang dulu. Jangan asal gasekun gitu, Ya. Merinding gue dengernya." "Yang ada, tuh, ya, bersihin, tuh, otak lo! Ya, mana mungkin gue!" Asha menepok jidat. "Itu lebih nggak mungkin lagi!" "Iya, emang!" "Pake diiyain lagi!" "Kan, kali aja Mbak Asha! Lo nggak lihat, sih, gimana Raka ngekhawatirin lo waktu itu! Lo nyaksiin, gue pastiin nyengiran lo bisa sampe durasi seabad!" Asha memutar bola mata, "Lebayy ..." "Eh, nyet, dengerin dulu." Lalu, Yaya cerita. Waktu setelah menampar Raka, Yaya sebenarnya disergap rasa bersalah. Tapi, puncak dari ngamuknya adalah mendapati Asha yang sampai tak sadarkan diri dan diwajibkan untuk segera lari ke rumah sakit. Yaya memang menduga ini terjadi. Toh, salah satu di antara dirinya maupun Asha yang tergores atau terluka itu sama dengan resiko yang akan mereka hadapi kelak. Jadi ... wajar, dong? Cuman, yang nggak wajar itu satu. Kekhawatiran Yaya akan keselamatan Asha. Apalagi, Asha harus dikejut agar jantungnya kembali normal. Itu titik di mana sumpahnya mengembung menjadi ... 'Pokoknya, kalo Asha nggak bangun, gue cincang itu Raka! Nggak perduli status dia Yayangnya Asha, nggak perduli! Dia udah bikin Asha tiada!' Untungnya, takdir melaknat niat dalam batin Yaya. Asha selamat. Meski tak sadarkan diri. Tapi, setidaknya, Yaya bisa bernapas lega. "Ya? Gue sorry banget, nih, Nenek gue dateng ke Jakarta sama Nyokap. Gue harus balik dulu. Lo tahulah betapa gapteknya mereka berdua kalo di Jakarta. Gue cuma takut, ya ... mereka kesasar." Yaya mengiyakan. "Iya, Do. Gue tahu, kok, gue juga pernah stress abis ngehadepin Nenek lo. Yang, yah ... pendengarannya agak sakit. Jadi, hati-hati, ya." "Iya, Ya. Lo kalo ada apa-apa, telepon gue aja, ya?" "Siap, Pak Bos." Seperti biasa. Aldo mengacak rambutnya. "Ihhhhh .... Aldoo ..." "Manis banget, sih, kayak King Kong." "Gue coret lo, ya, dari Kartu Pertemanan!" "Yah, Yaaa ..." "Sini lo!!" Dan, Aldo keburu menjauh. Sudah lari. Tapi, ada satu orang lagi yang mendekati Yaya. Dialah muara dari semua kekesalan dan kegerundalan Yaya. Namanya, Raka. "Mau apa lo kesini?" 'Ya, itu kata yang jahat,' bisik hati Yaya pada dirinya. Dan, ya ... Yaya tahu itu, jelas. Itu juga bukan kata yang sepatut, sepantas, sekaligus seharusnya untuk diucapkan kepada orang terdekat Asha yang memang berniat untuk membersamainya. Yaya juga sebenarnya kasihan, sih, melihat Raka yang menunduk pilu memainkan dua jari jempolnya seolah sedang memikirkan hal terburuk yang akan terjadi. Bahkan, di saat ini saja, bisa Yaya lihat bagaimana carut marut di kepala Raka mendominasi. "Sumpah, ya, Sha! Mukanya kusut banget, aseli! Gue nggak pernah lihat Raka yang perfeksionis dan serba baik mendadak jadi lusuh sekaligus kerut dalam satu waktu. Persis kayak tanaman yang akhirnya layu akibat jarang dikasih pupuk juga air hujan. Seolah ... pusat dunianya, tuh, hilang!" Bahkan, di saat ini pun dia diam aja. "Udah, ngomong." Yaya berdecak. "Bt kali didiemin!" Memandang Yaya yang begitu, Raka hanya mengucapkan satu hal, "Maaf. Aku cuma terlalu mencintai Asha." Dan ... reaksi mereka ... "WOAAHHHHHH!!!" Sampai Aldo akhirnya berjengit. "WOI, ELAH, NYELO!! KAN, NGGAK JADI DAPET JACKPOT GUE!!" Yang jawab malah Raka, "APAAN? GUE, NIH, YANG HARUSNYA MENANG!! GEGARA LO KAGET, MOBIL LO JADI NABRAK TRUCK GUE!! KAN, GUE JADI OLENG MASUK KE JURANG!! TANGGUNG JAWAB, LO!" "YAELAH, MOBIL MAINAN INI!" "FINAL KITA INI FINAL!!" "YA, UDAH, SIH, GUE INI YANG MENANG!" "KAN, GUE NGGAK RESTU SAMA LO!" "LAH, APA HUBUNGANNYA, HULK, SAMA RESTU?!!" "JELAS ADA, LAH, INI MENYANGKUT KELESTARIAN HARGA DIRI WALI YANG BAKAL MEMBAWA LO KE JALAN MENGHALALKAN!" "YA, TAPI, KAN, LO NGGAK RESTU!" "JUSTRU ITU, GUE MAU LO PUTUS SAMA ASHA LEWAT GAME GINIAN! POKOKNYA NGGAK RIDHO ILAHI GUE!" "ASTAGA ...." Aldo memijat keningnya. "JUSTRU, BAGUS LO NGGAK SUKA SAMA GUE! ARTINYA, LO NGGAK BAKAL NGEREBUT GUE DARI ASHA!" Raka kontan mendidih, "HEH, PANCI! LO PIKIR GUE HOMO, EH?" "Kan, kali aja lo demennya ama sespesies, orang lo nggak pernah pacaran!" "TUBIR LO AMA GUE, TUBIR?" "HAYUK, LAH, TUBIR. NGGAK TAKUT GUE!" Raka meletakkan kedua tangannya ke pinggang. d**a naik jumawa. "DASAR CALON MANTU DUHAKA!" "ELO KAKAK IPAR DURJANA!" balasnya. Seketika itu, balik lagi mereka main game sumo. Manghadeh emang ... Gimana nggak bengek Asha sama Yaya kalo tim geludnya aja kayak begindang? Makanya, daripada berusaha memisahkan mereka, lebih baik, Asha dan Yaya kembali pada ... ghibah. "Seriusan, lo, Ya, dia ngomong gitu?" Asha penasaran. Dengar. Kata cinta itu terlampau ekstotis dan jauh dari pemikiran Raka. Maka, boleh jadi, sekalinya cowok itu bilang cinta ini harus menjadi persoalan dan pertanyaan panjang. "Ciyussss, atuh, Sha." Yaya memaku statment, menancapkannya agar jauh lebih kuat. "Masa, ya, gue bohong?" "Ya, gue, sih, percaya sama lo. Lo juga besplen gue. Tapi, Ya ... aneh aja gitu. Seorang Raka Nugraha? Cinta sama gue?" "Ya, lo jangan baper dulu, anoa!" Asha dilempar stick kentang bumbu balado di toplesnya Yaya. "Nih, ya, cinta itu memang definisinya berat ke satu titik. Tapi ... cinta bisa diinterpretasikan ke berbagai hal dan macam-macam tergantung dibidiknya di mana." "Kayak misal gue ke Raka pembalasan rasa di Raka bisa beda gitu, Ya?" "Iya!" Yaya menjentikkan telunjuk dan jempol menguatkan. "Lo pasti sering denger, kan, kalo cinta nggak selamanya tentu berbalas? Ini persis konsepnya kayak lo dan Raka. Lo anggep Raka, cowok dengan perasaan cinta senormalnya cewek ke cowok. Tapi, Raka cinta sama lo, selayaknya normalnya kakak ke adiknya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD