"Yahhh ..." Bahu Asha melorot. Mengetahui itu, Yaya segera mendaratkan tangan menepuk-nepuknya. Berharap memberi sugesti tenang dan nyaman.
"Sabar, Sha," katanya. "Terkadang, emang perlu kita, untuk tak berekspetasi tinggi pada seseorang. Lo udah banyak belajar kendaliin diri, sih, Sha. Tinggal kelola lagi aja itu semua."
Asha mengangguk.
Sekali lagi, Yaya benar.
Memang sudah tidak ada celah lagi untuknya, bersama Raka.
Raka terlalu putih untuknya yang hitam. Dan, perbedaan seringkali jadi kunci pengrusak sekaligus peradangnya hubungan.
***
"Ibu suka bikin rawon, ya?"
"Ah, iya, Non Yaya. Ibu kebetulan rindu masak rawon kalau tiap lebaran. Jadi, sekalian merayakan kesembuhan Non Asha, Ibu buat saja."
Sebuah jempol mengacung dari tangan Aldo. "Enaaakkkk bangeeeett, Bu."
Dan, itu, kontan saja membuat senyum Ibu menyembul, "Ah, Den Aldo bisa aja. Ibu cuma masak seperti biasanya, kok, malah, resep ini disempurnakan sama Non Asha?"
"Disempurnakan? Kayak revisi Undang-Undang aja, Bu?" Yaya keheranan.
"Lo salah, Ya," respon Asha yang tengah bantu membawakan mangkuk kaca berisi buah-buahan. "Gue justru dibantu sama Darco."
"Ajegileee, Sha." Yaya bangkit dari tempat duduknya. Menunjuk dengan sendok. "Draco Tanujaya itu, ya? Juara PRESIDENT CHEF tahun ini?"
Alis Raka menukik. Semeninggi rasa penasarannya. Kini, tangannya meremas sendok.
'Draco siapa lagi, astagaaa?? Urusan sama makhluk bernama Aldo saja belum kelar?? Ini plus lagi Draco!!!'
Asha mengangguk.
"Gila, gue ngefens banget sama dia, Sha!"
'Halah, ngefans, kok, sama cowok kemayu sok-sok pinter masak kayak gitu? Gue juga bisa kali,' Raka membatin.
Seriusan! Panas telinganya saat ini.
"Itu dia yang bikin gue kaget waktu nggak sengaja main ke Gramed. Ternyata, dia nerbitin buku resep rahasia yang belum pernah dia demoin di youtube. Tapi, masakan ini selalu jadi trendsetter selama dia buka usaha di Eropa. Ya, gue beli, dong, karena penasaran, eh, tiba-tiba gue nabrak dia."
Yaya makin bersemangat, "Gilaaa, sinetron banget lo! Terus-terus, dia nanyain lo, nggak? Tertarik gitu?"
"NGGAK BISA!"
Semua mata mengarahkan atensi pada Raka yang meledak.
Ya, jelas, mengagetkan.
Bagaimana mungkin, Raka, yang tak ikut bahkan tak tertarik sama sekali dengan perbincangan saat itu lantas menyela dengan penuh emosi?
Dan, yang, memperparah, Yaya, mengerjap-ngerjap.
Ah ... cewek garong.
"Kenape lo?" katanya, tanpa dosa.
Tapi, untunglah ... "Ya, jelaslah, nggak bisa! Kan, lo tahu Asha pacar gue! Nggak bisa lo dukung hubungan Asha sama yang lain kecuali di bawah teritorial gue sebagai kekasih, pacar, dan lelakinya Asha!"
"Betul itu!" Karena tak ada yang mampu membawa benteng aman, jadi, Raka mengiyakannya saja. "Lagian, siapa hayoo yang tahu kalo dia cowok baik-baik?"
"Nah, kaaannnn ..." Aldo menimpali.
Lalu, mereka berdua barengan ngomong, "Don't judge book by his cover."
Kemudian, bertatapan, dan tos.
Tahu reaksi Asha dan Yaya?
Mereka merotasikan bola mata, sepakat bergumam, 'siii beegooo.'
Dan, Ibu terkekeh kecil, mengatakan, "Mereka lucu sekali."
***
Hingga, tibalah waktu di mana mereka harus pulang. Asha sebetulnya sedih. Karena karnaval berbalut love-hate relationship antara Raka dan Aldo lunas begitu saja.
Cara pamitan mereka pun menggemaskan.
"Pamit dulu, ya, Bang." Aldo salim ke Raka. Dan, itu cukup membuat Asha tertawa.
Bagaimana tidak?
Aldo salimnya bak murid minta berkah ke guru ngaji. Penciumannya terlampau menghormati.
Sampai Raka akhirnya mengamuk. "Apaan, sih, lo, jijaaayy, nih gue!"
"Saampun, Bang. Ini jenis cinta dari calon adek ipar!"
"Yang bilang gue ikhlas masukin Asha jadi cewek yang menghuni Kartu Keluarga lo siapa?"
Begitu .... terus ...
Asha sampai pengang mendengarnya.
"Entah, deh, Sha, sampai kapan mereka berhenti berantemnya," komentar Yaya.
Tapi, tak apa, Ya. Mereka ... sangat bisa dinikmati.
Dan, tibalah sekarang waktu quality time mereka berdua. Asha dan Raka. Sebenarnya, sangat asing bagi keduanya untuk 'melakukan kegiatan bersama'. Apalagi dalam konteks spesial. Sekalipun pernah dibarengi satu konsep tertentu yang emang diharuskan ba-to-the-reng, bareng, paling mentok-mentoknya mereka berdua saling menghadiri di satu acara yang sama.
Itu pun dibalut atas nama : formal.
Berhubung Asha juga gabut. Capek juga diskusi sama anak-anak kuliah lainnya, Asha pun memberanikan diri menjajah kamar Raka.
Ini menjelang malam.
Makanya, Asha ingin melihat barangkali Raka memiliki kebiasaan khusus yang bisa mencegahnya dari insomnia.
As we know, guys.
Semakin jenius orang, semakin berkecenderunganlah ia dalam payungan tak bisa atau memang tak mau tidur tepat waktu.
Termasuk, Raka, mayoritas sisa waktu harinya, terkadang untuk ... bergadang.
"Kak Raka ..."
Tadi, Asha mengendap-ngendap. Usai sampai, diliriknya lubang pintu yang bisa memperlihatkan ia akan apa yang Raka lakukan.
Tapi, kok, kosong?
Tidak.
Tidak mungkin abangnya itu mempercepat proses penambahan penyakit bernama rematik untuk mempersingkat hidup dengan mandi malam hari.
Pasti dia hanya sedang sibuk saja atau berada di tempat yang tak terdeteksi lubang pintu. Tapi, di mana?
Kalau pada dasarnya view yang bisa Asha lihat adalah ranjang king size yang penuh dengan job desk dan meja kerja?
Tanpa muka Raka?
"Ah, udahlah, yang penting masuk dulu aja." Asha bertekad.
Sekarang, ia masukkan pin untuk membuka kunci kamar pribadi Raka.
Ingat, kan?
Kalau kastil ini penuh dengan penjagaan ketat?
Pin ini salah satu lock-nya.
"Kak ..." Asha memanggil. Keningnya mengerut bingung. "Iya, ya? Nggak ada siapa-siapa? Aneh."
Asha pun berjalan lagi.
Alangkah takjubnya ia menemukan di depan pintu kamar mandi, ia menemukan lukisan besar bergambar manekin dengan pola yang asimetris. Seolah, lukisan tersebut dibuat seala kadar si pelukisnya. Cat warna jingga yang dominan mewarnai memberi nuansa tersendiri pada Asha yang memperhatikan.
Ada teduh, ada singgasana, dan ada dunia menyenangkan yang bertautan di sana. Cantik, sekaligus, mendebarkan.
"Nggak nyangka, ya, kalo Kakak masih suka ngelukis." Asha terkekeh pelan.
Karena, seingatnya, Raka itu dulu, emang cuma ikut club melukis semasa SMA-nya. Gede ikut arsitektur. Makanya, makin jarang Asha lihat Raka menggambar-gambar lagi kecuali denah, rumus, dan detail.
Sekalipun dulu ditanya ...
"Kadang, kita itu perlu menvisualisasikan perasaan. Memperlihatkan bagaimana yang sebenarnua terberatkan di hati kita. Kayak perasaan sedih, capek, mau nangis, bt, nelangsa, mengutuk hidup. Itu cuma bagian dari 'ya, emang, kita, manusia.' Lantas, kenapa kamu masih cap orang lemah hanya karena dia menangis menunjukkan visualisasi dari bagaimana dia merasakan luka? Harusnya itu proses normal dong?"
Iya, kah, Rak? Apa itu salah satu bentuk kewajaran?
Lalu, bagaimana dengan hasrat alami setiap orang bahwasannya jika diantara kita ada yang berada di antara belantara cinta, kita juga secara dominan, menginginkan kungkungan atensi yang sama?
Berupa pembalasan yang biasa orang sebut dengan, 'cintaku akhirnya berbalas?'
Salah nggak, sih, Rak, kalau Asha jatuh hati padamu di saat yang tak tepat begini?
Huh ... memang aneh, sih.
Asha pun juga merasa begitu.
Tapi, apa daya.
Hati sulit bohong, perasaan tak pernah punya aba-aba untuk menepi.
Seandainya saja ada detik-detik minta konfirmasi apakah Asha mau menganggungnya atau tidak. Pasti sekarang Asha tak akan menganggung perasaan rumit ini.
Dia tak akan jatuh padamu. Dan, berkelit menemukan sejuta alasan baru untuk tak melupakanmu.
Cinta memang begitu, ya, Rak.
Makin pergi, makin tertolak.
Terkadang juga ...
Asha memikirkan satu hal lain.
Yang seandainya bumi berkonspirasi memberinya takdir untuk diadopsi lelaki lain.
Apakah Asha akan jatuh cinta pada orang itu? Sebagaimana Asha luruh pada Raka?
Kalau memang iya. Berarti, yang pantas disalahkan justru Asha sendiri.
Dialah yang mudah tenggelam pada arus sehingga terhanyut dan tangannya terapung-apung.
Inilah yang Asha benci dari cinta.
Saat kita merasakannya, seolah kepingannya terasa bening dan berseri seakan tidak pernah ada istilah fatamorgana yang bisa kita bedakan.
Tapi ... yang membuat Asha terkejut adalah ...
"Shaaa ..."
Raka memeluknya dari belakang.
Loh, dia ini, darimana?