Hingga ... tanpa Asha duga, Raka ambil tindakan yang tak pernah Asha sangka sebelumnya.
Tangan laki-laki itu menariknya. Meletakkan tubuhnya hingga terbanting ke atas ranjang. Tentu itu membuat Asha tercengang sekaligus mengaduh dalam keadaan tak tenang. Belum lagi, Asha harus memekik tertahan usai terkejut teramat sangat berkat Raka yang memeluknga erat, dari belakang.
Jadi posisi tidur mereka berdua adalah saling membelakangi. Tapi, masih tetap dengan kebiasaan adiktif yang Raka aktifkan sekarang, yaitu, mengendus leher Asha yang putih bersih.
Seolah itu telah menjadi candu baru bagi dirinya.
Sayangnya, itu tak baik bagi kesehatan jantung Asha.
"Rak ...?" Asha mencoba memanggil. Barangkali alam sadar Raka kembali bangkit dan mengambil alih seluruh kewarasan yang tersisa. "Kak Rak ...?"
Namun yang muncul justru dekapan lebih kencang dan mengetat di pinggang Asha. Itu jelas membuat Asha makin panas-dingin. Seolah empat musim di negara barat bersatu padu menggoda pipi serta suhu tubuhnya.
"Sha ..." Raka memanggil.
Dengan takut-takut pun Asha membalas, "Ya?"
"Ini hari meninggalnya Papa yang kedua."
Iya, kah?
Dan, yang keluar dari mulut Asha adalah ... "Ya, sudah. Lain kali, kalau datang hari meninggalnya orang yang kita sayang, kita nggak boleh lagi memaklumi kesedihan dengan mabuk-mabukkan."
Di kondisi temaram tersebut, sayang sekali, Asha tak berkesempatan melihat satu sudut bibir melekung puas di wajah Raka yang berbalut juga dengan beragam emosi atraktif. Mendominasi kepalanya.
Rasanya, Raka kali ini, terguncang.
"Tapi, rasanya tidak pernah baik, Sha. Nggak pernah berakhir baik."
Lalu, Raka pun bercerita. Tentang sebuah masa lalu yang seharusnya tak pernah ia buka. Terlebih, setiap cacat itu, menghadirkan satu kelemahan baru yang selalu bisa melahirkan cacat lainnya.
"Padahal, dulu, aku anggap Papa sebagai figur laki-laki terbaik yang pernah aku temui. He's cool, perfect, and everything yang berkenaan dengan beliau, semuanya amaizing. Dia bikin aku punya satu tujuan tinggi. Bahwa, bagaimanapun, laki-laki, ya, harus kayak gitu. Tak perduli tidak mampu maupun tak mungkin, selama kita percaya kita bisa, kita pun pantas mendapatkannya."
Raka menghela napas kasar, terlihat lelah dan gerah. "Tapi, aku ternyata dikhianati, Sha." Sekarang, dengusannya amat berat, itu pasti hal yang tak bisa dikontrol Raka sebagai suatu kewajaran.
"Eughmmm ... kalau bagi Kakak ini terlalu nyakitin hati, mending dipendam saja, nanti tambah sakit kalau cerita," tutur Asha. Bagaimanapun, dia ikut andil dalam menjaga perasaan Raka.
"Enggak, honey ..." Raka mengelus rambutnya, senyum laki-laki itu tampak berusaha untuk tegar. Ada sedikit sisa tangis di pelupuk mata.
Astagaaa ... bagaimanapun, ini tidak baik untuk keberlangsungan jalan napas Asha!!
"Setiap kita itu, memang perlu mengeluarkan rasa sakit dari yang paling terdalam untuk merasakan sembuh."
Kini, giliran Asha yang menarik napas kasar. Seriusan! Dia ingin sekali segera minggat dari situasi ini karena, ya ... ini akan membuatnya berekspetasi lebih lagi. Dan, dia nggak mau itu. "Ya, udah, kalau itu yang Kakak mau."
Raka pum lanjut menghimpun sisa-sisa memorinya.
Asha singkat saja.
Hingga, pada hari di mana yang seharusnya menjadi momen paling membahagiakan di hidupnya, sebuah ulang tahun untuk Raka, sang Papa ternyata ketahuan selingkuh.
Parahnya, dengan pembantu yang selama ini dianggap Mama Raka sebagai sahabat sekaligus tangan kanan Mama sendiri.
Oke, jabatan Mama memang manajer di berbagai brand market terkenal yang bercabang di seluruh Indonesia, by the way, namun usaha yang ditekuni Papa adalah pendidikan, sekolah yang ditempuh Asha kala SMA, tapi ... usai mengetahui adanya permainan di belakang, perseteruan Papa-Mama perlahan menjelma jadi santapan wajib Raka setiap harinya.
Hingga kemudian mereka berdua pun bercerai. Pembantu itu menikah dengan Papa. Meski, pada akhirnya, Papa meninggal dunia di usia yang memang terbilang cukup wajar. Apalagi, Raka sekarang berusia 20 tahun.Cukup untuk dibilang ... matang.
Hanya saja, yang membuat luka itu terlalu dan teramat membekas adalah berbagai rasa sakit yang Raka terima saat Papa dan Mamanya bertengkar.
"Aku, yang berusaha melindungi Mama dari amukan Papa, tak jarang terkena pukulan atau bahkan hal-hal tumpul lainnya. Meski luka fisiknya telah sembuh, tapi rasanya, jiwaku seolah merintih terus menerus atas tragedi tersebut."
Asha tercengang.
Astaga ... Raka?
"Hari itu, sampai aku bertekad pada diriku sendiri, Sha. Cukup Papa yang seperti itu. Aku tidak usah. Aku tidak boleh. Dan, aku tidak bisa."
"Papa mungkin pecundang yang segala perlakuannya tak bisa dikatakan sejatinya laki-laki, tapi, aku punya pilihan untuk keluar dari jurang tersebut dan menjadi sejadi-jadinya diriku sendiri."
Asha menepuk lengan Raka, hanya menjawab, "Iya, Raka. Sekarang kamu bahkan nggak cuma berhasil membuktikan semuanya. Tapi, sukes, menyaingi diri kamu sendiri buat jadi sebenar-benarnya diri kamu." Asha mendekap tangan Raka yang melingkar di pinggangnya. Menepuk-nepuk lembut, sembari mengatakan, "Makasih, ya, Rak. Udah jadi baik."
Pada dasarnya memang begitu.
Nggak pernah ada orang sebening itu di dunia ini.
Mereka pasti punya titik kelam.
Punya masalah.
Mengantongi fase kegelapan.
Terlebih, saat Raka mengatakan, di tahun-tahun pertama perceraian Mama-Papa, itu adalah tahun hancur terbesar Mama.
Karena yang menghidupi Mama adalah usaha Papa, Mama lantas dipecat dan disuruh pergi. Di mana Papa yang seharusnya memberi Raka sedikit uang untuk asupan nutrisi, Papa malah sibuk dengan formasi keluarga baru yang lebih membahagiakan dibanding sebelumnya.
Beruntunglah, Raka yang masih kecil itu, memiliki teman yang sejak kecil, juga berjuang disambi belajar. Namanya, Bana. Laki-laki yang membuatnya ikut terkesima pada sisi luar biasa sebuah teknik arsitektur.
Iya. Raka menata hidupnya dengan menjadi kuli. Tapi, kuli yang eksklisif. Kuli yang paham kompas uang bergerak kemana. Dengan uang sedikit demi sedikit, bersama Mama, mereka menanam saham dan memanennya bersama-sama.
Asha tertegun, 'Sungguh, Rak. Kamu segalanya di mataku.'
Mereka pun tidur berdua di atas ranjang. Dengan posisi yang berbeda, yaitu ... berpelukan mesra.
Sungguh ... astaga.
***
Dan ... keastagaan itu ditangani dengan parah bersama Ibu Gran.
Jadi gini ...
Ibu Gran, punya kebiasaan tiap pagi, untuk mendisiplinkan bangun seluruh anggota rumah untuk tetap setia menjaga kesehatan tubuh.
Maksudnya, untuk jogging atau kegiatan lari pagi.
Terutama, untuk Raka.
Yang emang menginginkan supaya badannya selaku fit dan terjaga.
Makanya, datanglah hari itu di mana Bu Gran hanya melaksanakan kesediannya bekerja sebagaimana biasanya.
Bu Gran juga tidak mengetuk pintu. Kenapa? Ya, karena itu tadi. Raka memang membuat peraturan untuk tidak apa-apa menerobos masuk.
Toh, dia yang butuh untuk segera dibangunkan.
Namun, apa daya, saat Bu Gran masuk, alangkah terkejutnya ia melihat Raka dan Asha saling berpelukan yang parahnya bibir Raka menyapu pipi Asha. Seolah hendak mengarah ke bibir gadis itu juga.
Intinya, mereka dalam posisi sangat intens yang sampai-sampai kalau ada anggota baru di kastil ini melihat mereka, akan mengira jika keduanya paling maklumnya, ya, pacarannya.
Atau paling sahnya sebagai suami-istri.
"YA, AMPUN, DEN RAKA, NON ASHA!!!" Bu Gran yang shock menepuk-nepuk kaki mereka dengan sapu. "BUKAN MUHRIM, DEN, NON!"