Kasur = Saksi

1033 Words
Mendengar teriakan tersebut, baik Raka maupun Asha, kontan mengerjap-ngerjap berusaha menyamakan sinar yang bergiliran masuk menauti tempat mereka. Namun, ketika, kelopak mata mereka bertemu, mereka sama-sama tak bisa menyamarkan keterkejutan mereka. Dan ... "AW!" Kepala mereka sama-sama terjeduk. Saling menubruk satu sama lain sembari kompakkan mengaduh sakit. "Nyeri tahu, Kak!" Giliran Raka yang berteriak, "KAMU NGAPAIN DI SINI?" *** Itu lucu sekali. Rasanya untuk tidak senyum saja Asha tak bisa. Raka, yang mega keren, seketika berubah jadi orang paling parah di dunia pengetahuannya. Ya, pikir, aja. Masa baru dijeda sepersekian jam, udah lupa aja kejadian yang terjadi semalam? Itu membuat sarapan pagi mereka memiliki atmosfer merah jambu, penuh malu. Apalagi, Raka, yang kikuk malu-malu tapi tetap penasaran soal apa yang telah terjadi. Berbeda dengan Bu Gran yang tak bosan-bosan memperingatkan, "Den, Non, Ibu tahu kalian berdua saling menyayangi dan mencintai." 'Saya aja sayang setengah mati sama Raka, Bu. Meski, kata itu tak terwakilkan dari Ibu, tapi hati saya selalu otomatis melantangkan.' Asha mengepung bahasanya dalam hati. Ibu pun meneruskan kalimatnya, "Tapi, Den, Non, saudara mana yang bahkan tidur bersama di usia yang sudah sama-sama dewasa?" Raka menautkan dahi. Matanya naik menatap Asha dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Tapi, ketika tatapan mereka bertemu, Raka justru memalingkan. 'Ada apa lagi denganmu, Raka, hem? Apa mulai tumbuh getar-getar tak diduga yang bersetru bernama mulai tertarik padaku?' Aduh ... kalau Asha mulai berpikiran ke situ, yang bisa ia lakukan sebagai penetralan cuma ... mengulum bibir ke dalam. Seolah ... mau tapi malu. Aisshhh! Sekarang, makin aneh tingkah Raka usai meminum cepat air putihnya. Jakun yang naik-turun menandakan adanya kesenjangan yang bergolak dan bertarungan. Aihhhh, apa ada yang kamu sembunyikan dari Asha, Rak? Ampun, deh, kamu lucu kalau lagi merona begitu! Sampai nggak buka pembicaraan sama Asha sama sekali. Asha, kan, jadi gemas, Raka! - flashback : off- "Hei ... do you hear me?" Seorang lelaki berparas tampan khas kaum blasteran yang nyaris gak ada kata 'nggak sempurna' dengan keluarga bersih dari catatan-catatan yang tak jelas sekaligus mapan, rupawan, serta karirnya yang juga bagus, melambaikan tangan teratur di depan wajah Asha. Berusaha menyadarkannya. Maklum, Asha, kan, masih 'berkelana' di dunia lamunan penuh mata air sumber bahagianya yang membuatnya kini tersenyum dengan mata menengadah ke atas. Seolah bayang-bayang itu punya nilai rasa tinggi bertajuk indahnya mentari pagi. Rasanya ... beuh ... amat eksklusif. Sementara Aldo dan Yaya, hanya menganggap itu sebagai ... "Udah belum, Do?" Aldo mendecak, "Woi, lo pikir baca ayat kursi semudah yang lo bayangin? Ini gue dah bolak-balik aplikasi kitab, nggak ada tulisannya ayat kursi!" "Masa, sih?" Yaya mengerutkan alis. "Iya!" "Sini coba lihat." Aldo pun menyerahkan ponsel canggihnya. "Buset, pop-up notifikasi wasap lo, cewek semua! Udah kayak juragan ternak asrama putri lo!" Aldo pun nyengir, "Ini yang dinamakan investasi, Yayang Yaya ..." Yaya pun memutar bola mata, berlagak akan muntah. "Investasi apaan?! Yang ada, ya, lo tuh sok eksklusif dengan gegayaan baperin cewek-cewek tahu nggak! Kualat lo entar!" "Yaudah, sih, yang penting gue naksir satu cewek ini." 'Tapi, nggak peka ceweknya, Ya ...' batin Aldo. Yaya kemudian menangani netral serepetan curhatan nggak guna Aldo daripada dia emosi untuk mengembalikan atensi ke arah mengecek ponsel cowok itu. Dan, benar saja, Yaya menemukan kedodolan yang amat tak ada daya guna dan indahnya untuk dijadikan masalah. Alhasil, Yaya pun memanggilnya usai mata Yaya dikedipkan lama, mungkin itu semacam sugesti menahan amukan, "Do?" "Hem," komentarnya singkat, maklum, lagi nyantap pangsit. "Udah ketemu?" Yaya menggelengkan kepala, yang justru dianalisis Aldo sebagai saking susahnya masalah sampe sulit menemukan intinya. "Enggak papa, Ya. Kadang ... emang banyak banget hal yang nggak perlu kita terusin. Konflik, cinta, termasuk yang ini, nih. Susah!" Dan, yang malah terjadi adalah ... "YA, AMPUN! YAYA!" Aldo menjerit. Sampai dilihatin anak-anak yang lain. "Wahai, lo kalo nyubit kekuatannya lebih lakik dari gue!" Sekarang, Yaya yang menyembur, "LAGIAN, PARAH, SIH, LO!" Aldo pun menelengkan kepala menghadap teman-teman lain yang agaknya ikutan jantungan. "Maaf, ya, maklum, lagi tubir, entar baikkan, kok." Yeh ... si Aldo ... Padahal emang kerjaan squad dia kalo tubir itu jadi makanan wajib. Emang Aldo, suka ada-ada aja. Dia pun mendekatkan wajahnya ke Yaya, "Yaya cayang... pelan-pelan aja, ya, lain kali, Bu Haji ngegasnya. You can selow, so jangan ngestyle ala ngamuk-able begitu ..." "Tahu, ah! Sebel gue sama lo!" Ya, gimana enggak? Aldo itu, dia justru ngetik tulisan 'ayat kursi' di kolom pencarian aplikasi baca Al-Quran. Di mana-mana buat tahu Ayat Kursi itu apa, kan, ya, lo cari tahu dulu di kolom pencarian serba tahu! Di browser yang terkoneksi langsung sama google! Lah, ini? Astaga! Dia—seriusan, ya ...—bikin Yaya sukses jantungan dengan debaran yang sukses mencenat-cenutkan kepala. Alias ...            Aldo emang minta dihajar! Kalo perlu, dia aja yang diruqyah! So, balik ke topik. Draco, kalau diibaratkan, dia itu emang betul-betul semacam oase buat laki-laki seumuran dan pada umumnya, deh. Chef muda berbakat yang bermandikan popularitas serta tahta dan harta. Meski, sayang, hopeless urusan wanita. Ya, mirip-miriplah sama Raka. Eh, atau jangan-jangan emang Asha ditakdirin ketemu cowok yang rata-rata begini, ya? Ups! Hahaha. Back to topic. Karena merasa tak mendapat respon berarti dari Asha, Draco pun menepuk pundaknya, berkata, "Hei!" Asha pun tersentak, spontan menoleh, "Eh, iya, Do, gimana?" Draco menoleh, "Oh ... jadi bayangin Aldo, nih, ceritanya? Saya enggak?" Aldo mengerjap-erjapkan mata. Seperti biaya, salah ambil kesimpulan, "Gile, lu, Sha! Jomblo sampe segitunya! Apa di dunia ini cowok tinggal gue seorang sampe kehopelessan lo soal pasangan lo alihkan wajah tamvan bin ganteng gue!" Yaya langsung esmosi, "Woi, Bambang, sadar diri! Sejak kapan lo emejing? Ngaca, woi, ngaca!" "Dih, Yaya!" Aldo membalasnya dengan nggak kalah sewot. "Ati-atj jodoh entar lo ama gue!" Yaya gaya capedeh. "Ampunnnn, deh, gueee ..." Asha geleng-geleng, lalu nyengir menatap Draco, "Maaf, yaa, nungguin, ya?" Ya, gimana nggak pasang ekspresi gitu? Asha, kan, jelas ngerasa 'bersalah' banget ninggalin takjil setamvan Babang Draco bin calon jodoh beginiihhh ... Ups. Draco senyum, ngacak rambut Asha. "Nggak, kok. Aku justru yang seneng lihat kamu." "Aw! Meyeyeh, nih!" Draco jadi salting, tangannya agak melesap menepis Asha, "Udah, ah! Jangan bikin kemaskulinan saya jadi uvvu begini." "Iya, deh, masnya ..." Asha memonyongkan bibir emesh. Si Draco yang ngelihat jadi ikutan hepi plus yemesh. "Yang mau jaga image sebelum gandengan sama yayangnya nanti."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD