“Sumpah, ya, nggak jelas banget, si Raka!”
Nah, iya.
Itu aja Yaya ngumpat.
Apalagi Asha yang kepalanya lantas keroaller coaster dan bingung harus ngomong apa.
Asha benar-benar nggak habis pikir.
Seorang Raka, yang nyaris tidak pernah tersulut emosi apalagi masalah sepele seperti ini, marah dan melarangnya?
Gila. Kiamat itu namanya.
“Malah bahkan semalem waktu Aldo balik gue bahkan masih debat sama dia, Ya.”
Aldo menyerongkan kepala, agar ikut tersorot kamera, terlihat mendengus kecil. Ah, kejadian semalam itu lagi. Aldo takut akan melukai Asha jika dipaksakan mengingat dan bercerita. “Udah, Sha, nggak usah, entar gue aja yang ngasih tahu tuyul satu ini.”
Ya, hari ini mereka lagi video call.
Ngomong-ngomong di perkuliahan, ketiganya memang beda jurusan. Tapi, urusan sahabatan, beuh ... jangan ditanya, langgeng. “Ish, Aldo! Enak aja ngatain gue tuyul!” protesnya.
"Lagian, ya, kalo sama lo yang cerita, yang ada gue kebanyakan kemakan derita! Ya, gimana nggak? Ceritanya kagak, ledekannya sepanjang sungai Musi. Kan, keburu emosi guenya!” Yaya tampak menggelengkan kepala. Sementara Aldo berusaha membekap mulut tapi malah dijotos sama Yaya.
Wow, garong style.
“Sekali lagi, gue cincang lo!”
Asha tertawa. Melihat kedua sahabatnya tersebut selalu bisa menghadirkan energi bahagia dalam dirinya.
Asha pun melengkungkan senyuman manis, “Makasih, Do, tapi gue cerita aja sama Yaya. Gue nggak papa, kok.”
“Nah, cakep, tuh,” balas Yaya.
“Buru kasih tahu.”
Asha pun menghela napasnya, menjetikkan jari ke hidung, mengambil posisi ternyaman.
-flashback on-
“Ah, udah, udah. Non Asha, Den Raka, sudah, yuk, kita makan saja.” Bu Gran berusaha menenangkan atmosfer sedingin es batu dan sepanas lahar gunung merapi yang tersaji di depannya. “Ayo, keburu dingin nanti opor ayamnya. Udah, yuk, makan.”
Sementara Asha sudah bersiap untuk melemparkan ocehan meski sudah dituntun ke meja makan. Sedia menjentikkan jemari menantang.
Please, ya, Raka Nugraha—tersayang—, kamu itu kalau nggak ada rasa mendingan nggak usah kasih perhatian.
Perasaan tiba-tiba yang menyelip bernama cinta itu sudah cukup menyesakkan hati Asha. Masa mau ditambah kelakuan yang berpotensi menimbulkan harapan?
Kepala Asha bisa meledak! Tahu!
“Dan, dengar sekali lagi, ya, Tuan Raka Nugra—”
“Auhm, enak, kan, Non Asha? Kan, bareng Non belanja di supermarketnya.”
Asha mengunyahnya dengan kasar. Dengan bt dan parah kesalnya. Mengetahui mood Asha sedang tidak baik, Aldo pun menawarkan diri, “Ah, Bibi Gran bisa saja. Biar saya saja yang suapi.” Lalu, Raka mengangkat sendoknya, menegosiasi Asha untuk kembali tersenyum. “Ahhh~”
Pak Hang tersenyum, “Manis sekali mereka, ya, Bu.” Kemudian menyenggol pundak Bu Gran yang sementara itu menatap wajah penuh badai Raka. Perasaan Bu Gran mendadak tidak enak. “Jadi ingat kenangan masmud dulu.”
Dan, BBRAAAKKK!
Raka menggebrak meja. Dia mengambil sapu tangan dan langsung menyeka sisa kotoran di sela-sela bibirnya.
Bu Gran yang merasa bersalah kembali menyenggol bahu Pak Hang, berbisik, "Lain kali amati wajah Tuan Muda, dia tampak sangat tidak ... suka."
Pak Hang melebarkan mata, “Bagaimana mungkin Tuan suka pada Non Asha yang diadopsinya selama belasan tahun terakhir?”
Mereka bersitatap. Bu Gran memejamkan mata sekali mempertegas seakan ini bukan waktu yang tepat untuk membicaakan hal tersebut. Sementara Pak Gran makin hilang akal. “Tuan Muda terlalu waras, terlalu pintar, terlalu bermoral, untuk hal gila seperti itu, Bu!”
Dan, sekarang, giliran Raka yang angkat bicara, “Menjijikan.”
WAHHHH ... INI SANGAT LUAR BIASA.
Asha menutup mulut nggak nyangka. Seluruh aliran darah berkompromi untuk melakukan satu tindak anarkis yang bahkan tidak pernah ia lakukan dan tak pernah ia duga. Dalam mode slow motion, Asha menarik lengan kiri Raka yang berbalut coat tersebut, langsung saja ia tampar laki-laki yang selama ini berjasa bagi hidup, kesehatan, kemakmuran, serta keindahan dunia di matanya.
Dan ... Raka tercengang, memegangi pipi yang rasa sakitnya terasa berangsur-angsur. Dia jelas tak percaya.
“Bisa nggak, sih, sopan?!” tutur Asha. “Kakak keterlaluan banget, tahu nggak, sih?!”
Raka yang tersulut emosi, ikut menantang. “Lantas siapa di sini yang lebih benar?” Dia meletakkan salah satu tangannya bossy ke saku celana. “Dia yang akan mengacaukan kuliahmu atau—”
“KAMU, KAK!” potong Asha, nadanya meninggi. Kilatan emosinya tak kalah galak dari tatapan Raka yang memuntah, marah.
“KAMU YANG BAHKAN NGGAK PERNAH BIARIN AKU MANDIRI DAN PILIH PILIHANKU SENDIRI! KAMU YANG MASIH IKUT CAMPUR MASALAH HIDUPKU! KAMU YANG SELALU ANGGAP AKU NGGAK BECUS PADA APAPUN YANG AKU LAKUKAN! KAMU!”
Asha menitikkan air mata. Dadanya turun melemparkan napas kesal.
Ini bahkan jauh lebih menyempitkan. “Kamu selalu anggap aku ada untuk taat sama apapun yang kamu mau. Kamu yang menghancurkan aku, Kak. Dari dalam!"
Iya.
Selama ini, memang Rakalah yang andil besar dalam pergerakan Asha. Soal jurusan yang akan diambil. Soal karir mana yang cocok. Soal pemilihan pertemanan. Soal perbatasan di kampus agar terjaga. Pakaian. Semuanya.
Raka seolah tidak memberikan ruang bebas untuk Asha memilih. Bahkan untuk ini, orang yang Asha suka? Asha bisa gila!
Dia tahu bahwa dirinya sungguh terlalu banyak hutang dan saking banyaknya Asha harus sadar diri bahwa dirinya memang bukan siapa-siapa dalam artian tak pantas minta apa-apa. Tapi, apakah balasan sebuah jasa harus sedemikian meremas dadanya?
Tolong berhenti Raka!
Berhenti membuat Asha meneriakkan namamu dan bersaksi atas nama semesta karena terlanjur mencintaimu!
Sudahilah semua kekhawatiran, kepedulian, dan kesiagaan perlindungan yang bahkan selalu kamu hadirkan agar Asha nyaman didekatmu!
Sungguh, Asha tidak mengerti jalan pikiranmu sama sekali, Raka.
Dia ingin sadar secara totalitas dan jadi ahli urusan tidak mengganggumu tapi kenyataan soalmu membuat Asha tak kuasa untuk selalu mengkhayalkan betapa beruntungnya dia dari sekian juta triliunan perempuan di dunia ini, karena pernah mengenalmu.
Asha menyeka tangisannya. Ini memalukan. Dan ... amat berlebihan. Aldo yang berusaha menenangkan, ditepis Asha dengan sopan. Asha sampai tidak mampu mengatakan, ‘gue nggak papa, Do,’ padanya. Dia lebih memilih berbalik badan dan pergi ke kamarnya yang terletak di lantai dua. Bergegas menaiki tangga.
Sakit.
Sementara tanpa Asha sadari, dari tadi, Raka juga tak bergeming meremas erat coatnya. Sial! Kenapa dia malah jadi begini?
-flashback off-
“Kayaknya dia punya rasa, deh, sama lo.” Yaya beropini. Tapi langsung dijitak sama Aldo.
Asha malah menyemburkan tawa. Mereka selalu saja nggak akur.
“Lo nggak usah nenangin dia, tuyul! Orang udah jelas-jelas dia tersakiti dan mau move on, malah lo kasih harapan lagi! Sebelas dua belas, nih, sama Mamas Royko!”
“Sejak kapan target kita ganti nama jadi Royko?!” Asha jadi menepuk jidat.
“Ya, daripada manggil dia pake inisial R-A atau Mawar yang kayak oknum pedagang nyebar boraks, ya, mending Royko lah,” ujar Aldo. “Serbaguna bumbu nyebelinnya.”
“Atau jangan-jangan lo, nih, yang suka sama Asha? Makanya jelek-jelekin target biar Asha ngalihin pandangan sama lo?” curiga Yaya.
“Wish, sembarangan!” tolak Aldo.
"Amit-amit gue naksir sama cewek yang pelit dimintain pisang keju!”
Yaya memekik, “Gila! Kualifikasi cewek idaman lo semurah pisang keju? Pantesan riwayat perburuan cintanya nggak pernah akur!”
“Eiy, gini-gini gue menawan, ya!”
“Sariawan yang ada lo!”
Dan, begitulah, nggak pernah berhenti.
Yaya dan Aldo masih kuat untuk saling tanding mulut satu sama lain. Sebuah kemistri yang jarang dimiliki apalagi di persahabatan perempuan dan laki-laki. Hingga, saat tiba di penghujung telepon, Asha pun mengatakan sesuatu,
“Makasih banyak, ya, guys. Berkat kalian, gue bisa jadi tertawa lagi.”