Kegilaan Asha

1140 Words
Pembicaraan Asha, Aldo, dan Yaya, nggak sebenar-benar kosong gitu. Mereka bahkan saling tukar pikiran perihal Raka yang ternyata, amat tidak mudah, untuk didapatkan. Hingga, saat pulang kala itu, saat Asha membaringkan diri menatap langit-langit kamar, ia bertanya pada hatinya semdiri. ‘Apa benar, Raka setidak niat itu pada perempuan?’ Karena setahu Asha, sepanjang tahun ia menemani Raka, menghuni rumah itu sebagai tamu atau adopsi atau apalah, mungkin bahasa paling pasnya adalah makhluk yang mendapat tempat penangkaran layak. Sedikit pun, bahkan jika itu bisa disimbolkan sebagai titik, sungguh … tak pernah Asha melihat Raka, setidaknya bersama perempuan lain. Satupun. Sekalipun, dulu sekali, saat tugas kuliah atau urusan terkait berkomunikasi dengan kelompok, yang Asha lihat---yang tentunya pernah menjalankan tugas di rumah Raka---banyak perempuan mengagumi Raka. Banyak gadis yang teramat menginginkannya. Hingga, gadis-gadis itupun bahkan menyimpan rasa pada Raka. Tapi … selayaknya  nasib itu semacam tradisi, ketidakpekaan atau memang keengganan Raka soal itu, pun, juga berbekas padanya. Seolah … ‘boro-boro kamu, Sha, kita yang temenan sama Raka sejak orok pun, buat dapetin hatinya, mendingan milih mundur. Raka … keterlaluan nggak normalnya.’ Dan, jika, hal semacam itu sudah dijadikan bahan ghibah perkumpulan, dengan senang hati Asha katakan, ‘Iya, lelah aku, tuh, sama Raka. Apatisnya mendarah daging. Susah dipotong. Dikuliti pun, nggak bisa.’ Raka di matanya sudah seperti tembok besi yang amat tinggi hingga tak ada satupun yang mampu melewatinya. Pun, dirinya sekalipun. Ya. Batas itu … sekali lagi, hanya Raka dan Yang Maha Esa yang tahu. “Huftttt …” Asha mengembuskan napas lelah. *** “Sha, ini laporan dari bagian gue sama Kinaya, ya. Tinggal ngikutin kesepakatan kita sebelumnya.” Itu Maharani. Teman kuliah yang kebetulan ada tugas bareng Asha. Kelompok, sih. Asha yang menerima map warna kuning lemon itu pun segera memberikan senyum terbaik. “Thanks, ya.” “Aih …” Maharani menepuk pundak Asha. “Justru kita tahu yang harusnya terima kasih. Semua ide lo nggak ada yang nggak disukai dosen. Emang bener kata anak-anak, kalo joinnya sama lo, nilai auto meroket.” Asha yang emang malu atau memang berlagak pencitraan mengelung anak rambut di belakang daun telinga pun, mengatakan, “Ah … biasa aja. Tuh, titisan hulk, Yaya-Aldo, tetap aja perlu dipertanyakan.” Maharani ketawa. “Dipertanyakan manusia atau bukan, sih.” Lalu, mengangguk-angguk kecil. “Orang sempurna banget gitu.” “Manusia jadi-jadian kali, ah. Orang ngintilin gue mulu.” Yang kemudian, mereka berbincang-bincang sebentar. Soal dosen pembimbing, opini, kelanjutannya bagusan digimanain atau barangkali ada inovasi baru buat memperbagus tugas, yang akhirnya, selesai mereka bicarakan. “Yaudah, Sha, gue cabut duluan, ya. Ufrad udah jemput gue, tuh.” Maharani menunjuk kepada motor ninja merah yang terpakir di aula kampus. Kontan saja, Asha senyum. “Cie … udah ofc aja. Padahal dulu hajar balas hajar.” Maharani, yang dengar itu, langsung ketawa. “Sha … yang namanya cinta itu, salah satu rumusnya, ya, benci jadi cinta. Dan, itu udah jadi rahasia umum siapapun yang ngerasainnya. Gue pun juga termasuk.” DEG. Dalam hati, sentilan itu nampak terasa. Bagaimanapun, Maharani benar. Tak jarang, kasus semacam benci jadi cinta seringkali terjadi karena ketiba-tibaan melihat sisi lain dari orag yang tak pernah kita anggap serius, yang membuat kita lantas terpesona akan pesonanya. Ini mengingatkan Asha pada Raka. Akankah laki-laki itu bisa juga merasakan hal yang sama dengannya? Asha menunduk. Jawabannya jelas telah tercetak dalam sentilan kata yang lain, dalam hatinya, mengatakan, ‘Bisa, Sha, nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini. Asal kamu mau berusaha keras untuk itu.’ *** Sesuai tekadnya, Asha telah membulatkan maunya menjadi … mengetahui dulu Raka sebenarnya kenapa. Ini demi kelancaraan pelepasan panah-panah jatuh cinta dan asmara yang akan gadis itu lontarkan. Hal pertama yang harus ia tuntaskan adalah : MENGECEK BETULKAH RAKA INI GAY ATAU BUKAN? Asha jelas tahu ini amat sangat aneh. Bahkan terkesan kejam. Tapi, baginya, ini justru strategi paling penting yang harus ia laksanakan. “Iya, bagaimanapun juga, aku harus melakukannya.” Asha mengepalkan kedua tangan di depan dadanya, menyemangati. “Ini penting. Dan, setiap pengorbanan selalu berakhir sebuah ending yang menghasilkan jawaban.” Hingga, tepat saat itu pula, sebuah suara menganggu indra pendengarannya. “NON … ADA PAAAAKEEEETTT!” Oke. Itu suara Ibu Gran. Melonglong dari luar kamarnya. Asha kontan merespon, “Iya ... Letakkan aja di meja, Bu …” “Baik, Non …” Terdengar sudah suara tapakkan kaki yang menjauh dari kamarnya. Usai suara itu menghilang sepenuhnya, Asha pun sepatah demi sepatah kaki menuju ke depan. Wajahnya menyembul di daun pintu yang kemudian ia menemukan sebuah bungkus warna hitam, tampak empuk, yang sepertinya penuh buble wrap, dibawa masuk olehnya. Sedemikian detik, Asha menarik napas. “Tak apa, Asha, kamu bisa. Semangat. Kamu pasti bisa. Fighting.” Begitulah ia menyemangati dirinya sendiri. Jeda beberapa lama berkat menyiapkan peralatan unboxing sekaligus membukanya, Asha pun menemukan sebuah lingerie hina warna merah menyala yang tampak … eung, menggoda. Asha menganga. “Aku jelas akan membuat macan bangun sekali pakai.” Dia pun menggelengkan kepala. “Ah, tidak-tidak, bagaimanapun, tekadku sudah bulat. Ini demi Raka. Keberlangsungannya dan demi segala hal yang terkait sama dia. Ya, ini demi masa depannya. Bagaimanapun, kenormalannya, juga tanggung jawabku.” Anggukan sekali itu diamini oleh tingkah lakunya. Asha yang memang sudah seniat itu, ia pun melangkahkan kaki ke kamar mandi, mencobanya, dan menatap dirinya sendiri di depan cermin yang menggantung di kamar mandi pribadinya tersebut. “Wah … aku tampak mengerikan sekarang.” Dia menutup dadanya dengan ala-ala butterfly hug. Sungguh, tak pernah terbayangkan dalam benaknya, ia akan memakai pakaian ini untuk … meggoda Raka. Sontak saja, matanya membulat sempurna. Pipinya pun memerah. “MEMALUKKKKAAAAAANNNN.” Dan, berkat teriakan itu, tubuhnya sontak terjatuh. Kaki Asha dalam kecepatan sepersedemikian detik, terkilir berkat jatuh dalam kondisi yang amat tiba-tiba dan buruk. Suara bedebumnya pun kencang sekali, terdengar sampai keluar kamar. Membuat Raka yang baru datang dari urusan kantor dan kuliahnya, mengernyit bingung. “Itu suara apa, Bu?” Ibu yang juga tak tahu mengapa ada suara itu pun menggeleng. “Entahlah, Den. Baru kali ini Ibu dengar ada suara bedebum begitu.” Dengan menarik napas panjang, Raka pun memutuskan mencari suara tersebut. Yang ternyata, menjadi dua kali. Yap. Asha memang tadi berusaha berdiri yang kini justru membuatnya semakin sakit karena jatuh lagi. Yang bedanya, kali ini lebih kencang sampai Asha tak kuasa menahan ngernyihan sakit. Mendesis keras, “AKHHHH …” Yang tanpa diduga pula, entah ini keberuntungan karena tak perlu Asha mencari momen pas, Raka sudah berdiri di hadapannya, atau entah pula ini kesialan karena Rakalah orang pertama yang melihat dirinya, begini. Serius. Asha malu banget saat Raka mengatakan. “Kamu ada apa, Sha?” Tapi, percayalah, itu hanya beberapa detik, karena setelahnya, Raka tampak menelan ludah mirip seperti pemangsa yang saat perjalanan menemukan mangsanya. Asha pun berteriak. Sungguh tatapan Raka kali itu semakin membuat wajahnya memanas. “AAKHHHHH!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD