Raka Jadi Kacau

1155 Words
Mendengar teriakan Asha, Raka pun bergegas mengambil selimut kamar gadis itu. Membawanya dengan tidak masuk ke pintu. Hanya tangannya yang mentransferkan. "Saya ..." Raka berdehem, kikuk, sampai super formal menyebut dirinya 'saya' alih-alih pakai kata 'aku'. "Nggak lihat apa-apa." Lalu, menggigit bibir, menarik napas. Mungkin berusaha menjernihkan kepala. "Kamu nggak perlu takut." Asha mengangguk lemah. Segeralah ia menyelimuti tubuhnya yang tampak hina ini. Bahkan memang sudah daridulu hina. Pipinya pias dan memanas karena ya ... memang, sih, dia ingin mencoba mengetes Raka, tapi, ya, tidak dengan gini juga! Masa harus ada adegan kepeleset segala? Hancur sudah martabatnya depan Raka! Dan, belum selesai Asha mengumpat dalam hati merutuki kebodohannya, Raka kembali berkata, "Sudah belum?" Asha segera menghapus bulir-bulir air mata yang tadinya marathonan. Menjawab, "Sudah." Dan, Raka pun masuk ke kamar mandi. Asha cemas karena detakkan kencang di dadanya yang tidak bisa kompromi. Wajah itu, mata itu, pesona itu, semuanya selalu tak pernah bosan memendarkan auranya. Asha tak pernah lelah. Menatapnya. Dan Asha makin ingin memekik saat Raka menyentuh dagunya, menaikkan. "Lecet, ya?" Jemarinya menyentuh leher Asha, ada sensasi nyeri di sana. Asha lantas memundurkan diri. Tapi, satu tangan Raka yang lain, menyentuh tengkuknya, seolah memintanya mendekat. Sekarang, Asha bisa mendengar napas Raka yang beritme dan beraturan. Asha makin tak bisa berkata. Hanya mematung. "Kamu lain kali itu hati-hati. Kan, jadi sayang, banyak luka gini." Kini tatapannya berpusat pada Asha yang tengah menunduk. Tak menatapnya. Sungguh. Kalau Asha tahu dan jika kepalanya bisa bicara, ia ingin Asha tahu betapa berbahayanya gadis itu dengan balutan pakaian tadi. Meski Raka tak sampai hilang akal, tapi rautan pesona yang dipancarkan Asha cukup membuat Raka lupa daratan soal apa yang dilihatnya tadi. Untuk kali pertama, Raka terpaku. Sekaligus ... malu. Pada Asha. Ditambah lagi bibir ranum cantik yang bisa ia bidik di jarak sedekat ini. Asha betul-betul cantik. Wajahnya, tangannya, ceruk di lehernya, semuanya menarik. Tidak pernah ketinggalan satupun kecacatan yang ada di sana. Makanya, sedari tadi, jika Asha memperhatikan, jakun Raka naik turun karena menelan ludah berkali-kali. Gadis ini ... bisa berbahaya. Raka harus tahan untuk tidak bermacam-macam karena hanya satu masalah ini saja, insting berburunya meledak dalam kecepatan tak wajar. Jadi, langsung saja, Raka menggedongnya ala bridal style, mengatakan, "Dan, jangan melawan." "Euh, Kak, suruh Bu Gran saja. Nanti Bu Gran yang bantu aku jalan." "Dengan tertatih-tatih begitu?" "Ya, tapi ..." Raka mengusap wajah. Asha, sudah, aku cuma nggak mau kamu semakin sakit lagi! Tapi, sayang, Asha tidak akan mengerti. Dan, Raka lebih gengsi bahkan geli untik mengatakan hal tersebut. Hingga yang keluar dari mulutnya, "Aku nggak tertarik buat macem-macemin kamu!" DEG. Asha mematung. Beberapa detik setelahnya, membenamkan wajah ke tanah, menunduk. Atmosfer terasa sedemikian dingin untuk mereka eja. Ternyata ... "Kenapa?" Asha bertanya. Dan, Raka justru menundukkan badan untuk memposisikan diri di depan Asha, bersiap mengusapkan salep. Menyeka selimut di bagian kaki. "Udah, kamu diem." Tapi, Asha lantas menggenggam tangan Raka memberhentikannya. "Jawab dulu. Kenapa?" Raka mengerutkan kening, "Apa aku betul-betul harus tertarik sama kamu, Sha?" DEG. Hati Asha mencelos. "Udah, lepas, luka kamu harus diobatin." Asha menggeleng, "Nggak usah, aku obati sendiri saja." "Sha ..." "Atau nggak Bu Gran yang bantu aku." Dengan kata lain, Asha ingin menutup semua perasaan yang sudah terlanjur dialamatkan pada Raka. Ini terlanjur tidak benar dan teramat sangat tidak benar. Sudah waktunya Asha berhenti dan menyelesaikannya. "Kamu kenapa, sih?" "Kakak yang kenapa!" "Apa?" Dahi Raka mengancing. Dia tak mengerti kenapa lantas ini ditimbal balikkan padanya. "Kenapa Kakak selalu nggak sopan?" seloroh Asha. "Kakak dulu nggak kayak gini!" "Bagian nggak sopan apanya, sih, Sha?" tanya Raka bingung. "Sekalipun aku nggak sopan, aku nggak sopan di ranah, waktu, kondisi, dan situasi yang tepat!" "Termasuk ngehina Aldo?" Ngaco! "Apa yang semalam itu termasuk ngehina?" Raka mendecah. "Kalo iya, maka, itu artinya kamu yang berlebihan," tuturnya. "Aku cuma bilang bahwa kamu masih kuliah dan anak kuliahan itu alangkah lebih baiknya menyelesaikan perkuliahannya dulu. Ini, baru cinta, udah ngajakin nikah! Dia harus belajar jadi laki-laki yang—" "Gay kayak Kakak, kan?" Mata Raka membulat. "GAY?!" "Iya. Kakak nggak pernah tertarik sama wanita. Ngebiarin hidup kakak gitu aja dengan nggak menjalin hubungan apapun sama cewek manapun. Kakak nggak normal, kan?" Tepat di kata 'tidak normal' tersebut, Raka menindih gadis itu di ranjang kamar Asha. Tangan gadis itu diletakkan di atas kepalanya. "Kalau aku harus membuktikan kenormalanku dengan ngelecehin kamu, mending aku jadi nggak normal." Asha terpaku. Sedetik kemudian, dia menyembulkan tawa, melepaskan tangan Asha yang bertautan dengannya. "Lagian, kamu ada-ada aja, deh, Sha. Kakak itu memang suka dengan perempuan. Tapi, suka itu harus diseriusin. Makanya kakak nggak pernah jatuh cinta." Ish. Dasar. Asha mengumpat dalam hati. Semakin mengumpat tatakala tangan besar Raka mengacak-acak rambutnya. "Cieee ... perhatian sama kakaknya." "Udah lepas!!!" Malah dipiting. "Utututurtu ...." Raka memonyong-monyongkan bibir, meledek Asha. "Ini selimutnya nanti lepas! Kak, aduh!!" Dan, seketika iitu pun, Raka melepasnya. Dia termenung. Diam. Mendadak, terbersit satu pertanyaan yang sebenarnya tadi sempat bermunculan cuma baru ia ingat lagi sekarang. "Tapi, untuk apa kamu make baju seperti ini? Darimana kamu dapetnya?" 'DEG.' "Ah ... itu ..." Dan ... 'ting.' Suara notifikasi handphone milik Asha berdering. Karena Raka juga tadi sempat bermain-main dengan ponsel juga, memotret banyak hal, dia pun buru-buru membuka siapa yang mengirimkan Asha pesan. Rupaya ... Aldo Sha, makasih, ya, kamu cantik banget hari ini. Aku suka. Bak api disiram minyak tanah, kobaran dalam d**a Raka membuncah. "KENAPA KAMU BERANI-BERANINYA DANDAN KAYAK GINI SEBELUM MENIKAH DENGAN b*****h ITU???!!" Oke. Itu pertama kalinya bagi Asha mendengar nada tertinggi Raka. Saat marah. *** "Ibu, aku cuma mau kumpul sama teman-teman aku! Dan, di sana nggak cuma ada Aldo doang! Ada Yaya, ada Nini, ada Winto, ada Belle! Kami ke sana cuma mau hangout!" Asha berkeras. Dirinya sudah dandan cantik dan rapi-rapi, tapi tak diizinkan pergi. Padahal, tadi pagi, Asha sudah melayangkan jutaan protes untuk segera diizinkan. Hei, bagaimanapun ini tidak adil, tahu! Masa dalam seminggu terakhir Asha dilarang ketemu Aldo? Sekalipun ada teman, itu pun Yaya, perempuan. Padahal, kan, mereka harus segera melancarkan aksi mereka selanjutnya. Untuk rencana terbaru. Tapi, kenapa malah jadi begini? "Ibu, harus berapa kali saya bilang, itu Aldo lagi kena dare buat sayang-sayangan sama saya!" Itu kalau ada Raka di sana, dia bakal bilang, 'Jadi kamu mau dijadiin bahan bercandaan dia? Jadi boneka permainan yang mana bisa dipamerin dan ditujuin, gitu? Kenapa, sih, kamu nggak ada harga diri sama sekali?' Sumpah, ya, masalah kesalahpahaman ini terlalu berlarut hingga pelik. Dan, Yaya, yang jadi teman setia Asha untuk nongkrong di rumah pada beberapa waktu lalu, bilang, "Kenapa dia jadi seposesif itu, ya, Sha? Waktu gue sampe jelasin ke dia, dia sama sekali nggak perduli sama gue! Asem nggak, tuh? Dan, yang dia bilang, 'Yaudah, kalo gitu, kamu, kan, temennya Asha sama Aldo, nih, bujuk mereka berdua saja buat putus.' Nah, loh. Gimana gue nggak kaget?" Asha meringis. Ikutan jantungan sebetulnya. Mengerti Raka adalah bab pelajaran hidup paling tak dianjurkan untuk dipelajari. Ada apa dengan kamu sebenarnya, Raka? Kenapa dengan ini semua?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD