Sementara itu, di proyek ...
"Pokoknya, minggu depan sudah harus selesai!" mandat Raka.
Sontak, semua yang ada di ruangan itu pun membukatkan mata.
Salah satu angkat bicara, "Tapi, Pak, katanya untuk target, dua minggu ke depan."
"Ya, itu, kan, minggu lalu kalo target kita yang kita bicarain waktu itu kecapai, tapi apa sekarang buktinya? Fall, kan? Crash, kan? Makanya, untuk menambal kerugian kita, kita harus segera dan mempercepat gerakan."
Sekali lagi, ada yang ingin menginterupsi, "Tapi, Pak—"
"Nggak ada tapi-tapian, Pokoknya, se-le-sai-kan!"
Awalnya bersistatap, sampai akhirnya mantap mengambil keputusan yang sama, serempak memgatakan, "BAIK, PAK!"
Akhirnya, mereka pun bubar.
Sebenarnya, mereka heran, tumben sekali Pak Raka datang ke lokasi pembangunan mengingat jabatan Pak Raka yang lebih tinggi dari yang bekerja di sana itu sendiri.
Tapi, melihat moodnya yang tidak baik, para pekerja pun lantas mengerti. Seolah mengucapkan, 'Ya, sudah, mungkin dia emang lagi butuh pelepasan. Makanya energi negatifnya dikeluarkan semua ke sini. Besok-besok juga mereda.'
Dan, benar.
Di restoran Italia bintang lima di mana Raka merencang sendiri arsitekturnya, dia seolah memotong pizza tersebut cepat-cepat. Mencacak potongan sosis yang bertebaran juga membuatnya berantakan. Seakan sibuk melampiaskan sesuatu yang tak akan pernah bisa ia ungkapkan.
Tapi, sang lawan bicara, tak perduli sama sekali. Dia sibuk bercerita ini itu tanpa tahu sang pendengar tak tertarik sama sekali.
"Iya, jadi pas aku di Spanyol, tuh, banyak banget yang naksir. Tahu, nggak, sih, sampe ada yang mau bayarin aku satu miliar per bulan. Tapi, aku nggak mau. Dan, akhirnya ... dengan kamu, ya, Rak, cowok yang sealumni sama aku waktu zaman SMA."
Dia terkekeh kecil. Gigi kelincinya menyapa lucu. Dan, Raka, tersenyum miring, 'Bodo amat kamu dicintai satu dunia, bukan urusan. Sekalipun ada yang harus diperhitungkan agar kamu memperbaiki diri, ya, ngaca! Enggak kah kamu sadar kalau kamu terlalu ... aneh dan menjijikan karena terlalu membanggakan diri? Meroket boleh, nyebelinnya jangan.'
By the way, ini adalah kegiatan rutin Raka setiap Minggu sore. Dia harus ... kencan buta dengan perempuan-perempuan pilihan Mamanya yang tak sabar menggendong cucu.
Astaga.
Padahal Raka masih berumur dua puluh tahun pas dan tentunya itu terlampau muda untuk menjadi ... Papa.
Oke, Raka, bukan Papa.
Tapi, untuk memangsa jodoh menjadi miliknya itu sangat ... tak masuk akal.
***
Asha menghentakkan flat shoesnya.
Demi Tuhan!
Dia sudah tak tahan!
Laki-laki itu telah mengurungnya sekian hari hanya untuk apa? Terjaga?
Astaga. Rasanya Asha mau tertawa. Dia itu sudah besar. Sudah mengerti mana rupawan mana b******n. Semuanya tampak mudah untuk dihitam dan diputihkan. Tapi, lagi-lagi, selalu saja Raka bersikap begitu.
Asha nggak ngerti, lagi.
Dan, walhasil, itu memunculkan tekad untuk protes pada Raka hari ini.
Asha, dari rumah, memesan grab car untuk bertandang ke tempat di mana Raka berada sekarang yang katanya lagi duduk-duduk mewah di restoran Italia.
Enak, ya, dia?
Setelah membuat Asha uring-uringan karema kesal, dia justru bersemedi berlagak hidupnya seindah surga.
Ya, walaupun, kenyataannya memang begitu. Asha tidak memungkiri.
Tapi, hal tak berakhlak yang dimilikinya adalah : kenapa dia berani-beraninya bahagia di atas penderitaan orang lain?
Asha harus beritahu dia. Itu tidak boleh dan tidak diperkenankan. Moral harus jadi aset nomor satu yang wajib dimiliki setiap insan.
Raka harus mengerti itu.
"Neng, kebanyakan."
"Enggak buat Bapak aja."
Sekarang, mereka sudah sampai di tempat yang dituju. Sepanjang jalan, meski pembangunan Jakarta setiap harinya menjadi lebih elit dan estetik, tak sedikitpun cukup meredakan amarahnya.
Mungkin karena terlalu lama terpendam.
Mungkin juga karena terlalu lama jadi dendam.
Hingga pada akhirnya ...
"Makasih, ya, sampai jumpa lagi ..."
RAKA DICIUM PEREMPUAN!
Nah, loh, Sha.
***
Asha berbalik. Hatinya terasa penuh dan mendung menggelayut ke kelopak matanya, membuat hujan berduyun-duyun yang biasa disebut orang dengan ...
Tangisan.
Iya, Asha menangis.
Dia menangis karena memang Raka bukan untuknya.
Menangis karena kebodohannya.
Menangis karena kenapa tak dari dulu ia tepis perasaan itu untuk Raka jauh-jauh sebelum hatinya remuk di sini?
Asha menyesal.
Asha seharusnya tak begitu mudahnya luluh pada sikap Raka yang perhatian.
Karena mereka ... tak pernah bisa untuk jadi lebih dari kata 'apa-apa'.
"Iya, Non?"
"Pak, jemput saya di tempat tadi, ya, saya mau kembali ke tempat pas kita berangkat."
"Baik, Non."
Tut.
Asha mematikan ponselnya.
***
"Kamu, kok, diem aja, sih?" Perempuan itu masih bergelayut manja di lengan Raka.
Tapi, asal dia tahu, kepalanya tak pernah berhenti memikirkan Asha dan Aldo.
Cinta memang ahlinya menyesatkan. Dan, yang, bergema di kepala Raka adalah dugaan-dugaan bahwa setelah ini Asha akan melakukan lebih untuk Aldo.
Apa ... mereka akan ... tidur bersama?
Ah, tidak, tidak.
Itu tidak mungkin dan sampai itu terjadi, itu sangat tidak etis. Asha terlampau beriman untuk melakukan hal semacam itu.
Tapi, kan, Rak, buktinya malam itu dia buka-bukaan.
Raka pun memejamkan mata lama dan mendecak keras, begitu berbalik ...
CUP.
Perempuan ini mencium pipinya. Tangan perempuan itu kembali bergamit di lengannya.
"Aku senang banget bisa sama kamu."
Tapi, yang justru muncul di kepala Raka adalah ...
Apa mereka sudah pernah berciuman?
Astaga.
Bisikan setan ini!
Kenapa terus menerus menggelegar?
Karena, setiap laki-laki memang menyukai adanya adegan skinship pada setiap hubungan.
Asha harus ada di dalam daftar pengecualian yang memberikan ciuman, pelukan, atau bahkan hal-hal dewasa lainnya.
Tapi, Raka, pacaran macam apa yang bahkan se-'suci' itu?
Masa kamu mau memenjara cara pasangan mengekspresikan cinta?
Raka masuk ke mobil dengan mengerang.
Frustasi.
***
Seperti gedung perkotaan yang menjulang dan beranak pinak, semacam itu jugalah kepala Asha berdentuman.
Tidak ada yang bisa mengobati rusuh, kalut, penat, dan lara di dadanya. Bahkan, meski, harus menatap langit tinggi tanpa tiang yang membiru.
Dulu, kalau Asha sakit hati, tak mendapat yang ia inginkan atau bahkan tak menerima yang ia mau, Ibu selalu bilang, 'Lihat langit, tinggi, nanti hatimu akan lapang.'
Iya, sih, Bu.
Karena bisa lapang sebab masih tersisa harapan.
Tapi, kali ini, Asha pupus pada kenyataan.
Salah dan dosanya mengharap sesuatu yang tidak akan pernah jadi mungkin untuk bertransformasi jadi miliknya.
Tes.
Air mata kembali menetes di wajahnya. Asha mengulum bibirnya ke dalam, mengecap perih.
"Non, Non yakin mau di sini saja turunnya?"
Asha mengangguk, "Iya, Pak, di sini saja."
Bapak tampak cemas, "Saran Bapak, sih, kita sampai rumah saja, Non, soalnya—"
Belum selesai sang Bapak supir Grab itu ngomong, Asha memotongnya.
"Nggak perlu, Pak." Karena, Asha perlu menormalkan wajahnya yang babak belur usai babak baru sakitnya pada Raka. "Saya jalan sendiri saja." Asha pun merogoh kocek di tasnya. "Ini, Pak, uangnya."
Dan, Asha bergegas membenarkan tali tas hendak beranjak keluar dari mobil..
"Ya, sudah, Non. Bapak cuma pesan hati-hati, ya."
Asha mengangguk. "Terimakasih, ya, Pak."
Sang Bapak menatap Asha lamat, memastikan, mengawasi, takut ada hal buruk terjadi.
Namun, begitu muncul order yang memintanya menjemput, mau tak mau, ia pun harus segera pergi.
Dalam hati, Sang Bapak bergumam, 'semoga gadis itu baik-baik saja.'
Dia pun, memutar balik.