Tak Bisa Melawan

1130 Words
"Mama, harus berapa kali, sih, aku bilang, aku nggak mau kencan buta! Nggak ada gunanya, Ma!" Ini gila. Ya, masa, Raka harus seminggu full menghadapi selusin perempuan tak dikenal dengan beragam riwayat mencengangkan yang kata Mamanya sangat pantas jadi 'miliknya'? Ya, ampun. Raka bisa gila. Dan, di sambungan telepon tersebut, Mamanya cuma bisa mengeluhkan napas berat. Mungkin ... sama tersiksanya. "Mama nggak ngerti, deh, sama jalan pikiran kamu," katanya. "Kenapa kamu masih menjoblo di usia yang seharusnya menikah?" "Ma, aku 20 tahun! Nikah itu umur 27!" Mama makin mengeluhkan napas kasar. Memang, Ma, sulit sekali bicara dengan Raka. Apalagi yang memang bukan ketentuan dan maunya. "Raka, dengerin, Mama. Temen-temen Mama bahkan yang anaknya laki-laki saja itu udah pada punya anak semua. Nggak kayak kamu! Bujang terus! Mama, kan, malu tiap arisan di sini atau bahkan temu-pulang di Jakarta, cuma Mama yang anaknya nggak laku-laku." Giliran Raka yang menggaruk pelipis, memejam mata, astagaaa ... Mamanya ini. Kenapa malah kebalik dengannya, sih? Harusnya dia yang ngebet segera menghalalkan, ini malah Mamanya yang antusias menjodohkan? "Mana coba title anak Mama yang hebat dan jadi idola setiap masa sekolahnya?" "Ma, ini bukan soal laris nggak laris, bagi Raka, Ma, yang namanya nikah harus siap lahir-batin." "Kan, kamu udah siap lahir-batin." "Nggak ada perempuan mau aku nikahi!" terang Raka. "Nggak ada satupun yang mampu bikin aku yakin bahwa dia yang selama ini aku cari, Ma!" "Ya, makanya, Mama nyariin yang menurut Mama satu cover sama kamu!" Mama berkeras. "Mama juga udah datengin ahli primbon, baca zodiak, mampir ke psikolog nanya-nanya soal kamu." Astaga, Mama ... Raka mengusap wajah. Kehabisan kata, kehilangan tuas tangkisan. "Ini, tuh, usaha, Raka. Bukan mau mengurung kamu! Ini cara terbaik dari seorang Ibu yang mengasuh anaknya dari bayi sampai sebesar ini untuk membawa anaknya ke satu perempuan yang kayaknya bisa ambil alih amanat Allah buat jagain kamu!" jelas Mama. "Iya, Ma, aku tahu, tapi aku—" "Atau jangan-jangan, kamu suka sama perempuan lain?" DEG. "Mama ngaco, deh, udah, ah! Pokoknya aku nggak mau lagi kencan buta! Entah sama pesohor Z, anaknya perusahaan C, cucunya penjabat D, nggak mau, titik!" Raka pun menutup teleponnya. Suka perempuan lain? Huh, yang benar saja. Yang ada, ya, Mama Raka, Raka itu sama sekali tidak pernah sedikitpun menyukai perempuan. Belum ada seorang pun yang mempu membuatnya jadi debu. Cerai berai dan berserpihan menjadi spiral-spiral karena terlanjur mencintainya. Kecuali yang menggangu pikiran, ada. Namanya Asha. Ah ... dia lagi. Dia bikin Raka turn on buat menghajar Aldo hingga babak belur. Awas saja. *** Asha melenguh malas. Kalau memang jalan dari sini, rumah Raka akan terasa jauhnya. Ini memang kebodohan yang haqiqi. Kan, bisa pegal kaki Asha kalau terpaksa menuruni berundak-undak tangga dan melewati gang penuh perumahan sampai akhirnya tiba ke 'kastil' tempatnya bersama Raka. Tapi, justru inilah yang dia inginkan. Sepanjang perjalanan, Asha terus menggumamkan apa yang harus ia lakukan sekarang. Dia bahkan nggak bisa curhat sama Yaya. Nggak bisa minta pendapat objektif meski gesreknya Aldo. Asha betul-betul merasa dirinya muram. Ini terlalu menyebalkan untuk jadi kenyataan, huh ... "Eh, ada cewek ..." Tepat di setengah perjalanan, Asha melihat ada gerombolan laki-laki yang sepertinya seumuran dengannya. Tapi, mereka memiliki tampilan yang agak euhmmm ... menyeramkan. Ah, tidak, mereka jatuh di tahap 'ancaman'. Asha pun menundukkan wajah dan berjalan segera melewati mereka. Berkata, "Permisi ..." "Eiy ..." Tapi dihadang cowok yang bertopi merah. Ada tulisan fox di sana. Wajahnya Kaukasian. "Kenapa buru-buru, sih, cantik? Temenin kita dulu kali." Oke, total mereka empat. Tapi, itu bukan fakta yang bisa Asha syukuri karena mereka kompak menghadang dari segala sisi empat mata angin. Mereka terlalu komplit untuk ditemukan celah. Kan, nggak mungkin Asha tiba-tiba terbang hingga akhirnya mereka tak bisa menangkapnya? Haha. Lawak emang. "Saya mau lewat, maaf." Sekarang, tangan Asha dicekal, mendekat ke d**a bidang cowok yang wajahnya paling putih. Dia tertampan di antara b*****h yang ada di sini. Tapi, sekali lagi, itu bukan fakta yang bisa disyukuri. Karena, niat keempat-empatnya sama-sama nggak jelas! "Lewatnya nanti aja, kali, Yang. Hepi-hepi dulu sama kita berempat," ujarnya, mengeluarkan smirk. "Tempat masih aman, nggak, bro?" "Aman," jawab mereka. Dia makin melebarkan senyum, "Kita dokumentasiin kenangan manis kita ini, ya, Sayang ..." Tidak ... Baru saja tangan Asha ditarik, Asha pun memukul dagu salah satu laki-laki disitu dengan kepalanya. Membuat sang empu mengaduh sakit. Dia sesegera mungkin lari dari tempat tersebut dan berteriak minta tolong. Hampir sesekali mobil hampir menabrak Asha karena kecepatannya melewati. "TOLONG ..." Raka ... Raka ... Raka ... Raka ... Hanya teringat nama laki-laki itu saja yang bergema di kepalanya. Hingga akhirnya ... "AKH!" Tubuh Asha ditawan. Pinggangnya ditarik, hingga akhirnya tangan gadis itu diikat dan digendung layaknya membawa karung beras. Asha tak bisa berteriak karena mulutnya diikat sapu tangan. Ini tepat setelah Asha berada di persimpangan jalan. Mungkin, butuh 600 meter lagi untuk sampai ke rumah Raka. Menciumnya membuat Asha pusing. Raka ... Raka ... Raka ... Tolong ... Hingga yang bisa Asha lakukan hanyalah menangis sampai akhirnya kesadarannya sempurna menghilang. Kini, tinggal riwayat 'kelam' lagi yang datang padanya. *** Di lain tempat ... "Den Raka, ini makanannya ..." Bu Gran membawakan telur balado yang memang Raka pesan untuk dimasak hari ini. Aroma masakan yang lezat menggugah selera Raka. Ngomong-ngomong dia baru pulang usai mengurus kerjasama bisnis dengan kolega. Tentu itu juga setelah misuh-misuh dengan Jenderal sejuta umat. Iya, Mamanya. Makhluk yang teramat sangat semangat mendukung Raka 'gol' di singgasana pelaminan. Bahkan, kalau di cek isi hp Raka, semuanya dominan daftar nama makcomblang terbaik, aplikasi cari jodoh terrecommended, sampai lokasi-lokasi wisata dengan rasio terbaik untuk mendapatkan gandengan. Kadang-kadang, Raka suka sakit kepala dengan kelakuan Mamanya. Sampai saking geregetannya, Raka balas. Raka Ma, nanti Raka ke dukun aja, deh, ya, Ma. Biar dimantra jadi amoeba aja. Nggak perlu menikah buat punya anak. Cukup membelah diri. Langsung, daftar kutukan mulai jadi ikan koi sampai jadi king kong bertebaran di aplikasi tukar pesan yang Raka gunakan. Dan, Raka, lagi, menghela napas panjang. Saat dia mengunyah masakan untuk memindah pikiran-pikiran yang bertengger di kepalanya, dia sadar satu hal. "Asha mana, Bu?" Bu Gran yang lagi sibuk di dapur pun mendekat. Dia sedang menuang minuman pulpy orange yang Raka mau. "Loh, bukannya tadi siang ke restoran buat ketemu Aden?" Raka bingung, "Nggak, kok, nggak ketemu saya. Emang dia mau ngapain, Bu?" Bibi mendengus, "Itu, Den, Non Asha protes karena nggak diijinin pergi sama temen-temannya. Apalagi mau batalin pergi, hpnya disita sama Aden. Makanya, Non Asha pergi, Den. Mau protes langsung saja sama Aden." "Tapi, saya bener-bener nggak ketemu dia, Bi." "Bibi nggak tahu, Den, beneran, Non Asha cuma pamit begitu." Apa jangan-jangan Asha ... pergi menemui si berengsek Aldo? Raka mengepal. Ini jam 5 sore. Artinya, sudah tiga jam Asha menghilang. Terpaksa, untuk kali ini, Raka masukkan nomor kontak si berengsek Aldo ke dalam hpnya, menelepon, "WOI, DI MANA LO NYEMBUNYIIN ASHA?"  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD