Raka mengerang. Kepalanya memecah jadi lautan biru yang penuh ombak akan amarah dan kekalutan.
Aldo berengsek.
Dia pasti sengaja melakukan ini agar bisa macam-macam dengan Asha dan mengambil kesempatan.
Memikirkan itu, Raka lantas makin punya tenaga dan napsu untuk melantangkan amarah, "JAWAB b*****h, DI MANA LO NYEMBUNYIIN ASHA?!"
Klik.
"Mati?"
Sekarang giliran kata-k********r lain yang merambati.
Gila!
Dasar!
Kurang ajar!
Sensasi panas itu melebur menjadi gunung yang selalu siap memuntahkan lava.
Di kepala Raka, ia ingin sekali menghajar Aldo.
Ia pun bergegas mengambil jas yang tadi ia kenakan sebelum sampai ke rumah ini dan bejalan menuju dapur. Berpamitan pada Bu Gran untuk menjaga rumah ini.
Tapi, sebelum itu, alangkah terkejutnya ia melihat Aldo yang membawa nampan berisi kue pie nanas kesukaan Raka.
Dengan dinginnya menatap Raka.
Seolah ada perintah auto di otak Aldo, laki-laki itu pun menghajar Raka tanpa aba-aba. Tak memperdulikan kue pie yang luruh ke tanah. "ELO YANG b*****h! DARI AWAL NGGAK PERNAH BISA MENGHARGAI ORANG LAIN!"
Bagi cowok, ini adalah tahap pengajaran dan etika memberitahu agar mereka sadar bahwa ada yang salah dalam diri mereka.
Tapi, tetap saja, pengrobanan dari perselisihan semacam 'gelud' akan menghasilkan memar dan luka di sudut orang yang ditonjoknya.
Raka mengerang, 'What the hell?' pikirnya.
Dan, dengan telak pula, ia menghajar Raka usai tersungkur di tanah. "NGGAK SALAH? SIAPA DI SINI YANG NGERUSAK DIA DAN NYURUH DIA BUAT NGELAKUIN HAL YANG NGGAK SEHARUSNYA DILAKUIN, BERENGSEK!!"
Aldo terkekeh pelan. Satu sudut bibir naik. "DAN, LO, KENAPA SAAT WAKTU ITU TERJADI, LO YANG 'WAH' INI NGGAK NGASIH KESEMPATAN BUAT ASHA JELASIN APA YANG SEBENARNYA TERJADI? NGGAKKAH LO SADAR BAHWA YANG ADA DI KEPALA LO ADALAH SALAH PAHAM?"
Emosi Raka beresonasi. "TUTUP MULUT LO!" Dia telah mencengkram kerah Aldo dengan sempurna.
Sungguh, benci nian Raka pada b******n satu ini.
"KALO GUE TERUS NGEBIARIN KESALAHPAHAMAN INI BERLANJUT, LO BAKAL TERUS MINTA LEBIH DAN SEMAKIN MENGHANCURKAN ASHA!"
"TAPI, LO HARUS SADAR SIAPA SEBENARNYA YANG ANTAGONIS DI SINI?" tantang Aldo. "LO YANG BERLAGAK PUNYA NIAT BAIK, TAPI LO SENDIRI YANG MENGEKANG DIA ATAU GUE YANG EMANG PUNYA NIAT BAIK, NGGAK MENJERUMUSKAN, JUGA NGGAK PERNAH MENGEKANG?"
"DASAR NGGAK TAHU DIUNTUNG!" Raka melepas kerahnya dan langsung memukul perut Aldo hingga berbedum di tanah.
Raka tidak pernah mengukung Asha.
Dia sayang sama Asha.
Dia ingin yang terbaik untuk Asha.
Raka nggak mau dunia yang telah berkhianat pada Asha lantas datang lagi dengan gemerlap yang berbeda tapi akan menjerumuskan ke hal-hal yang sama kelamnya.
Aldo, kamu nggak akan ngerti itu. Dan, lidah Raka terlampau kelu untuk menjelaskan kedalaman rasa seorang Raka Nugraha pada Asha Nayana.
Yang tak pernah terlukiskan.
Tapi, di mata Aldo, Raka adalah sosok paling pantas disumpah serapah dan wajib dimasukkan ke dalam Undang-Undang sebagai Daftar Larangan.
Raka itu ... menyebalkan.
Dia emosian, tak tahu malu, dan mengandalkan intuisi bernama 'ego'.
Raka tak pantas untuk disukai. Dan, adegan yang tersaji sekarang soal mereka, lebih dari cukup untuk memberi bukti betapa tak 'kerennya' menyukai Raka.
Ah, tidak, tidak, boro-boro keren.
Sangat tidak manusiawi dan epik.
Dan ... kamu, Asha, maafkan aku karena akan membuat cowok yang kamu sukai selama ini lebam, biru, dan babak belur.
Hingga ... mereka kembali melanjutkan pertarungan hebat mereka.
"Ya ampun ..." Bu Gran yang tengah membawa nampan, tambahan kue pie yang tadi ia cetak bersama Aldo, lantas menghampiri mereka, usai meletakkan nampan di salah satu meja ruang tamu. "Sudah, sudah, lepas, Den Raka, Den Aldo, sudah, sadarrrrrrn!!!"
Bu Gran panik.
Makin mendekat, makin besar tensi dua laki-laki rupawan itu untuk bertengkar.
Bu Gran yang berusaha melerai, dihempaskan tangannya.
Meski tak sampai membuatnya terduduk di tanah, itu sudah cukup untuk membuatnya sadar kalau Bu Gran butuh kekuatan yang lebih besar untuk memisahkan keduanya.
"TUAN HAAANGGGGG!!!! TUANNN HANGGG!!!! TOLONGGGGG!!!"
Bu Gran, berlari ke depan pintu, Tuan Hang yang sedang mengobrol dengan satpam, mendatangi Bu Gran. "Ada apa?"
"Itu ... itu ..."
Tuan Hang mengikuti arah mata Bu Gran. "Ya ampunnnnnnnn!!!!!"
Tuan Hang segera beranjak ke mereka. Menengahi keduanya. "Sudah-sudah ..." Lalu, mencengkram lengan Raka.
Di antara keduanya memang Raka yang dadanya paling naik turun. Seolah paling berusaha menahan emosi. "Sudaaahhhh!!"
Sementara Aldo ditahan Bu Gran, wajahnya pias dan tampak lelah. Mereka berdua masih menatap penuh menyilat saling melemparkan sengatan.
"SUDAH, DUDUK KALIAN BERDUA DAN IBU OBATI LUKANYA!" Dan, baru saja mereka membuka mulut protes, Bu Gran menginterupsi, "TIDAK ADA TAPI-TAPIAN!!! DUDUK!!!!"
Oke. Itu kali pertama bagi Raka melihat Bu Gran memaksa kehendak.
***
"Aduh, Bu Gran, jangan disitu, sakittttttt." Raka mengaduh. Bu Gran tengah menempelkan kapas berisi obat merah untuk meredakan lukanya. Dan, Raka malah menjerit.
Membuat Aldo yang memang sedang di tahap api, tak tahan untuk membakarnya, "Cihhh, gitu aja, kok, awwwwww!!"
Kualat emang, Aldo. Raka pun tertawa meremehkan. Tuan Hang yang tadinya mendesah pun mengatakan, "Bapak heran dengan kalian berdua. Apa yang membuat kalian berdua, lelaki dewasa yang penuh pengamanan, dan perhitungan, bertengkar sepeerti anak kecil?" tanya Tuan Gran, tak habis pikir. "Ini sangat memalukan."
Raka jadi ikutan mendengus. Kompakkan dengan Aldo yang lelah. Karena Raka yang paling tampak keruh, Tuan Gran meminta penjelasan padanya. "Den Raka ..."
Raka kesal, "Tuan, Tuan tanya saja pada biang kerok b*****h ini! Dia yang mulai!"
Aldo nggak terima, balas menuding, "Dia!"
"Dia!"
"CUKUPPP!!!" Bu Gran merentangkan tangan. "TOLONG, SELESAIKAN DENGAN JANTAN YANG PUNYA KEPALA!!"
Senada Tuan Hang yang memegang kepala, frustasi, "Tapi, mereka malah selalu menyelesaikan dengan urat!"
"Ya, sudah, kalau gitu, Bu Gran yang tanya." Bu Gran mangambil alih introgasi. "Kenapa kalian berdua berantem."
Karena tak ada yang menjawab dan hanya bersitatap sebal, Bu Gran pun melayangkan pandang menuntut keterangan kepada Raka.
Raka yang tanggap dan memang mengerti tanpa perlu disuruh dua kali, menjelaskan.
"ASHA HILANG, BU! ASHA HILANG KARENA b*****h INI!"
"EH, LO KALO NGOMONG SARING DULU!" bantah Aldo. Sumpah, dia sangat tidak tahan pada setan satu ini.
"Den Raka, Ibulah yang meminta Den Aldo untuk datang ke sini!"
Seketika, hening.
Yang terdengar hanyalah suara rintik hujan yang menggema.
"Apa?!"
"Bu Gran sedih, Den, lihat Non Asha yang sepertinya tertekan sama peraturan Aden! Non Asha kelihatan frustasi tidak bisa pergi dengan temannya! Dibatasi dan tak bisa menghubungi! Ini juga akan mempersulit kita kalau Non Asha berada dalam situasi genting!"
Raka tertegun.
Benar juga.
Memang akhir-akhir ini Asha tampak murung dibanding biasanya.
Wajah cantik Asha memudar sebentar yang diterjemahkan Raka sebagai hanya infestasi kata 'manja' karena tak dituruti kemauannya.
"Tapi, ini untuk kebaikkan dia, Bu!"
"Tapi, apa Den Raka sudah betul-betul meminta penjelasan lengkap dan mengerti Non Asha? Maksud Ibu, mungkin perkataan Non Asha ada benarnya. Dan, Aden tahu, Non Asha tidak mungkin mlakukan hal semacam itu! Hal sehina itu! Sekalipun ia menyukai oranglain, Den!"
Raka terdiam, merutuk dirinya sendiri di kepala yang membenci betapa sempitnya pemikiran dirinya terhadap Asha.