Penyelamatan Yaya

1045 Words
Hingga ... Kring ... Kring ... Bunyi hp berdering berasal dari saku Aldo. Lampunya berkedip menyala terang, sebuah telepon mendarat ke sana. Membuat dahi Aldo spontan mengancing serta bertanya, "Yaya?" Aneh, kan, baru pagi ini mereka makan bareng dan berantem? Lagipula, kalau urusan kerjaan keduanya juga sudah kelar. Jadi ada urusan apa si cewek doyan sms itu sampai meneleponnya? Tapi, ya, sudah, Aldo menepis perkataan tersebut. Dia menggeleng sejenak dan mengangkatnya, "Iya, Ya?" "Aldooooo ...." Yaya berteriak di sana, napasnya nampah terengah, ada isak tangis tertahan di sana. Aldo jadi khawatir. "Eiyyy, lo kenapa?" Tentu ini di luar dari kata aneh dan jelas tak terduga. Yaya, loh, ini. Cewek yang bahkan sama Asha aja nggak pernah ngeluh. Kebingungan itu sama tercopynya melihat ekspresi Bu Gran, Tuan Hang, dan Raka yang sama-sama tak mengerti. "Asha, Do ... Asha ..." Aldo langsung menegang, telinga Raka ikutan berdiri, "Asha kenapaaa, Ya?" "Diculik, Do!!" kata Yaya tergesa. Terdengar empat lima langkah kabur Asha dan tapakkan sepatu yang keras menghantam tanah. Seolah ada yang membuntuti dan mengejar. "Tolong, jemput gue di perempatan! Asha sekarat! Sekarang! AKH!" Telepon terputus. Mata Aldo membeliak, "YA? WOI, YAYA?" Aldo memejamkan mata frustasi. "Sial!" Sementara Raka bersigap menarik tangan laki-laki itu menuju mobil anti pelurunya. Untuk kali ini, bekerjasama, dalam tujuan yang sama, menolong Asha. Hanya kali ini saja. *** Urusan kenapa Yaya bisa menemukan Asha, semua bermulai dari sini. Jadi, Yaya memang berniat untuk menjenguk sahabatnya itu yang barangkali tengah gundah gulana menelan asinnya lautan. 'Meski Asha di tahap tersakiti, setidaknya dengan hadirnya teman, dia pasti akan lebih baik, kan?' Begitu pikir Yaya. Makanya dia bela-belain naik gojek untuk segera sampai ke rumah Raka, menemui Asha dan ngerumpi dengannya. Tapi, naas, "Pak, kok, jalannya dipercepet, sih?" selalu di gang itu, hampir setiap pengendara melajukan kendarannya. "Selau, Pak. Saya cuma mau ketemu teman saya. Bukan anak jenderal atau calon Sekretariat Negara. Dia anaknya supel dan biasa aja, kok, Pak. Jadi jam karet, tuh, udah jadi perhiasan bagi dia. Sans aja, Pak. Seloo ..." Dan, lagipula, nanti yang Yaya akan bahas adalah soal : keputusan garong untuk melepas Raka sialan. Makanya dia mau memberi tenggat waktu agar ke-haluan Asha bisa melaju bebas terlebih dulu sebelum akhirnya ia pangkas total. Iyaps. It's just take care. Seorang sahabat juga nggak mau dan ogah, kan, kalo sahabat lainnya langganan nyemplung jurang? Sama. Yaya pun begitu. Hiks. Tapi, apa jawaban si Bapak Gojek? Dia bilang, "Takut, Neng. Di sini banyak sindikat gelap. Kayak perdagangan manusia, transfer PSK, sampe pasar gelap di sini semua. Bapak ngeri soalnya di berita terbaru, dominan begal terlatih lulusan sini semua." "Lah? Ada pula begal terlatih?" Bapak terkekeh. "Ada, Mbak. Meski Bos mereka mafia tingkat jagat raya dan kekuasaannya seramai galaksi bima sakti, tapi, yang namanya protokol tugas harus selalu bisa lewat dari ranah hukum, kan? Setiap orang wajib untuk berjaga-jaga, Mbak. Karena berjaga-jaga itu, bentuk dari becus." Oh, Yaya's seee ... Pantesan, di jalan yang katanya pintas banget ke rumah Raka tanpa perlu belok sana belok sini, tuh jarang dilewati, ternyata ini alasannya. Yaya pun manggut-manggut, "Ya udah, deh, Pak. Kayaknya next time saya nggak mau lewat sini lagi. Ngeri." "Sama, Mbak, sayang nyawa." Tapi, masalahnya, takdir suka berkata lain. Kupluk kece badai yang bertengger di kepala Yaya terbang. "Yah, jatuh, Pak." Dan, disitulah awal big bang menggeparkan segalanya  *** "Bentar, Pak, saya ambil dulu." Tapi, mata Bapak justru membeliak, "Eh, nggak usah, Neng. Nggak papa. Toh juga nggak bakal ada yang ngambil. Kita tinggal aja, ya, Neng. Nanti Bapak beli lagi saja buat penggantinya." Yaya tertawa. "Yaelah, Pak, masa takut sampai segitunya?" Yaya menggelengkan kepala tak habis pikir. "Ini, tuh, siang, Pak. Banyak rumah tetangga. Kalau mereka berani macam-macam, ya, saya teriak, Pak. Bapak juga punya ponsel, kan? Punya nomor polisi? Nah, kita udah terlalu lengkap buat mereka ngapa-ngapain, Pak. Selo saja, santai ..." "Tapi, Mbak ..." "Bapak ..." Yaya sedikit memelankan intonasi, membujuk. "Saya lomba juara dua silat nasional kategori wanita. Jadi urusan tangkas, taktik, metode, dan perhitungan, saya ahlinya." Bapak pun memakirkan motonya, kemudian menghela napas panjang sembari menelan ludah. "Masalahnya, anak Bapak, yang juara nasional lomba silat nasional juara satu kategori pria, meninggal di tangan mereka, Mbak. Dia laki-laki. Pulang tinggal kepala doang. Istri saya sampe trauma berat dan stress berkepanjangan. Enggak menduga kalau anaknya akan sestragis itu." Yaya mendengung. Dia menoleh di belakang. Bapak hanya mengode, memintanya cepat-cepat. Memang, apa benar semenakutkan itu? Oh, no ... tidak. Yaya tidak menantang. Dan, dirinya juga tidak suka bercanda dengan bahaya yang jelas mengancam aset bernama : nyawanya. Yaya tentu punya skala prioritas yang harus ia lakukan bahkan untuk saat itu. Tapi, begitu mendengar ... "AKH!" Ada rintihan seorang wanita seorang disakiti, Yaya menegang. Dia curi-curi pandang ke salah satu rumah yang dijaga kepolisian setempat. Memunculkan sebuah kalimat di benak Yaya, 'Gila!!! Mereka se-power ini???!!!' Dengan langkah terburu-buru, Asha segera merogok kocek 50.000-an untuk diberinya kepada Bapak. Bapak lantas mengerutkan kening, "Eh, kenapa ini, Mbak?" "Nggak papa, Pak. Bapak pulang saja. Saya mau disini, ada hal yang mau saya cek." Karena, Yaya melihat ada tas Asha yang tergeletak dan sepotong kain serbet yang baunya menyengat. Sepertinya baru tadi sekali, ditambahkan tahanan. Makanya, Yaya mau coba tahu ada siapa dan ada apa. "Sudah, Bapak duluan saja." Bapak pun duluan. Tapi, karena nurani dan moralnya ada, sang Bapak menelponkan ke polisi serta mengatakan ada keributan yang akan terjadi. Dan itu, satu jam sebelum Raka juga menghubungi pihak berwajib. Lanjut ke Yaya. Perempuan itu mengendap-ngendap. Bak maling cari celah dan memikirkan siasat untuk menyusup serta menghitung di detik keberapa dia enyah. Rumah ini sangat tidak mencurigakan. Nyarisss. Interior normal. Isi di dalamnya juga normal. Malah, tampak asri dengan beberapa semak juga pepohonan sibuk menyaingi satu sama lain. Tapi, yang menggerus Yaya tentunya ... "LEPASIN, BERENGSEK!" Itu suara ... "LEPASIN!!!" Asha! Yaya pun buru-buru mendempetkan tubuhnya dengan jendela. CCTV dilemparnya dengan batu, hingga remuk, hingga pecah. Agar perhatian teralihkan dari penjaga dan Yaya bisa memasuki dari dalam. Oh, tidak. Dari pintu belakang di sini, isinya banyak tali dan senjata api. Yaya mengerang, ternyata hanya di depan saja yang tampak manusiawi. Dari dalamnya, busuk dan lebih pantas dicap sebagai rumah jagal. Yaya pun makin memberanikan diri mendekat, menuju ruang tengah. Beberapa laki-laki, bertubuh macho tengah terbirit dan beberapa sisanya tampak sibuk menyiapkan .... euhm ... syuting?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD