Terdesak

1140 Words
Apa mereka Production House film pendek? Apa mereka sebenarnya tim layar kaca? Oke, kepala Yaya bergerak miring, patah. Ini mulai aneh. Hingga pembicaraan itu memberinya satu informasi baru. "Jadi bakal di uvvu rame-rame gitu si Mbaknya?" kata cowok yang lagi gulung kabel. Berbandana di dahi. "Iya," jawab temannya. "Kabarnya, sih, juga mau pake mainan juga." Kemudian, matanya berbinar dan intonasinya tampak antusias. "Bakal mahal, dong, video dia." "Yoi." Cengiran melebar. "Entar gue langsung masukin ke daftar premium aplikasi plus plus kita." "Keren, lah, yang lulusan Animasi." Dia mengacungkan jempol, dua. Padahal, di mata Yaya, harusnya jempol itu terbalik. Percuma punya bakat dan kemampuan jika digunakan untuk hal tak berguna seperti itu. Ingin rasanya Yaya muntah. Tapi, tetap, dia harus perhitungan dan serba angka. "Eh, tapi, dia mau kita selesein nggak kayak biasa-biasanya?" "Yaelah, lo kayak anak baru aja." Menepuk pundak, melanjutkan, "Yang namanya pemain eksklusif, yang cantik kayak dia, ya, kita jual lah. Taro jadi artis gituan di Jepang gitu misal. Kan, lumayan, ngalir duit kita. Atau nggak taro ke pasar gelap aja. Dijual organ tubuhnya. kan, lumayan." Tertawa. "Asik juga ide lo." "Pastinya ..." Sekarang, tangan Yaya mengepal. Bagaimanapun dia harus menyelematkan Asha yang sedari tadi berteriak-teriak meminta tolong. Yaya sungguh tak kuasa mendengarnya. Dia tak bisa menerima kemungkinan terburuk yang harus dihadapi sahabatnya itu jika Yaya tak berhasil menyelamtkannya. Dan, untungnya Yang Maha Besar berbaik hati pada Yaya, ada beberapa laki-laki lain yang tengah mengangkat lemari. Dengan berbekal kupluk sekaligus berlagak ala laki macho pada umumnya, Yaya menyelinap. Intensitas nekatnya meninggi. Dia juga punya kenalan polisi, jadi sudah memberitahu akan ada keributan di sini. Berarti total ada tiga orang yang melapor hari itu. Dengan pura-pura mengeratkan slyer hitam yang Yaya dapat persediannya disitu, ia pun lantas mendekat. Dilihatnya Asha duduk di kursi dengan tali melilit di sekujur tubuh. Sungguh, terlatih sekali mereka ini. Ada beberapa alat khusus. Pencahayaan. Sampai microphone. Yaya bisa memuji betapa keakuratan mereka menciptakan kejahatan. Dengan, ya, misal, seperti film-film, sulit menemukan benda tajam untuk melepaskan temali. Ya, mereka sekeren itu. PLAK. "Diem aja lo! Gila! Diajak enak, kok, nggak mau!" Mereka menampar Asha karena menggigit tangannya hingga hampir saja berdarah. "Nggak sudi!" jawab Asha menentang. Yaya pun langsung berdeham. "Ekhem." Semua mata lantas menuju ke arahnya. "Saya salah satu anggota yang dikirim atasan buat menangani hal ini hari ini. Atasan telah berjanji memberi investasi besar kalau kalian berhasil melaksanakan ini. Jadi ... apa kalian nggak keberatan buat saya cek langsung?" Yaya mengetahui informasi ini dari pembicaraan dua cowok tadi. Dia pun memandang mereka sekilas, menatap tenang. "Oh, oke. Emang biasanya anak atasan, tuh, suka sok misterius pake slyer. Dan, lo jelas salah satunya." Mereka terkekeh meremehkan. Yaya diam-diam senyum. Yash! Inilah gunanya informasi dan riset. Berhasil! "Well, kalian, kan, tahu, kami, para petinggi, nggak mau main kotor." "Iyain, dah, yang duitnya enak." Tertawa bergerombol. Yaya pun mengarah ke Asha. Memegangi dagu dan mengikuti ekor matanya. Tepat ketika mereka semua agak menjauh dari mereka semua, memberi jarak privat. Ini kesempatan emas untuk Yaya menarik kabur Asha dari tempat menjijikan ini. "Sha, ini gue Yaya." Begitu mendengarnya, Asha lantas balik memandangnya. "Lo nggak usah takut. Kita akan keluar dari sini. Gue udah tahu titik buruk rumah ini. Jadi, ini memperbesar kita buat berhasil." "Ya ampun, Ya." Asha menangis. "Terus nangisnya, Sha. Biar mereka yakin intimidasi anak buah atasan selalu lebih sadis dari biasanya." Asha melebarkan bibir. Melengkung, menunduk, dan menangis tersedu. Sebenarnya lega akan adanya harapan. Hangat karena adanya yang melindungi. Sedih karena kemalangan tak pernah libur untuk menimpa siapapun. Asha kemudian mengangguk. Yang kontan saja mendapat respon, "Wihhh ... emang nggak pernah main-main, ya, atasan kalo suruh utus orang. Ini, kita ngapa-ngapain sekian jam nggak nurut, sekalinya turun tangan, langsung blas ... taat. Makin cepet kita eksekusi ini, mah. Iya, nggak?" "Yoiiii." Yaya mengeluarkan smirk. 'Emang enak lo gue kerjain?' Tapi, yang keluar justru kata, "Overrall, lo juga pada becus banget kerjanya. Gue udah approve soal permintaan naik gaji kalian bulan lalu. Sebenarnya, sih, gue kasihan, ya, sama usaha kalian yang dipandang sebelah mata gitu. Padahal kalian, kan, yang bikin industri ini makin jalan dan jaya?" "Nah, iya, tuh bla bla ..." Mulai, deh, ribut. Aspirasi menyala. "Makanya, gue ngotot buat naikkin gaji lo tiga kali lipat bulan ini. Nah, cuman, karena gue suka banget sama tangkapan kalian kali ini, gue mau ngelihatin dia dulu sampe puas." Sumpah. Kalo Aldo lihat saat ini, mungkin dia akan mengecap Yaya psikopat. Tapi, nyatanya, dia orang yang mudah beradaptasi dengan baik. "Gimana, sih, kalian bisa sehebat ini?" Mereka pun merendah untuk meroket. Teknik klasik. Banyak cerita dan nostalgia yang terungkap. Dan, Yaya mengenakkan waktu itu, untuk memukul waktu dengan hitungan ribut. "Jadi, kita itu asasnya ..." Tiga. "Nah, makanya, ini worth it ..." Dua. "Itu dia awal mula kompaknya kita ..." Satu. DAR! "KELUAR SEKARANG! KAMI SUDAH MENGEPUNG!" Mereka siaga senjata api. "Ampun, dah! Bagaimana ceritanya ada polisi, woi?!" "Selamatkan aset!" "Selamatkan!" Tapi ... "Nggak usah! Gue aja yang eksekusi dia! Gue udah bawa temen gue dan kalo gue rame-rame dijaga, ini akan menyulitkan gue buat discuss langsung sama polisinya biar lo nggak ditangkep. Lo, kan, tahu, jaringan kita terlampau luas." Mereka tertawa. "Ah, ya, benar juga. Yaudah, deh, lo duluan aja. Lewat pintu belakang aja, aman." "Ashiap ..." Bersama Asha, dia tertatih-tatih maju. Melindunginya. Di sana, sudah menyambut seseorang. "Makasih, ya, udah dateng." "Nggak papa, demi kamu." Dia mantan Yaya. Menjabat di kepolisian. "Gue pergi dulu." "Iya, hati-hati." Dan, baru beberapa langkah Yaya pergi, dia menginterupsi, "Ya!" "Iya?" Yaya menoleh. "Mobil van warna hitam, naik aja, ada orang kepercayaan gue yang bisa bawa lo." Yaya mengangguk, "Terimakasih." Tapi, sayang, bencana justru bermulai dari sana.  *** Sesuai perkataan mantan, Yaya membopong yang sudah berlumuran darah ke mobil yang dimaksudkan. Di situ, tergolong ramai. Banyak orang tengah ngerumpi. Bermain dengan anaknya. Dan, memang, ada seseorang yang tengah menunggu mereka. Yaya pun, dengan tergesa-gesa, mendesak Asha masuk. Bagaimana pun, Asha butuh, untuk duduk dengan layak. Tapi, begitu Yaya menggoncangkan tubuh si bapak tersebut, sang laki-laki ini justru berbalik menodongkan pistol padanya. "Sial!" gumam Yaya begitu melihat tanda pengenal di baju si Bapak. Harus Yaya lihat bagaimana mantannya itu juga memakai slyer hitam. Dia, kah, yang dimaksudkan si preman tadi kalau mereka punya banyak jaringan? Termasuk di pihak kemanan sekalipun? Yaya mendesah tak habis pikir. Wah ... harusnya Yaya sadar itu semua. Ini di luar prediksi dan pemikirannya. Hingga, tanpa diduga lagi, gedoran dari luar mobil mengema. Hampir seluruh warga mendekati mereka, menggedor dari luar, bahkan membawa batu seperti hendak tawuran. Ini tepat saat Yaya menelepon Aldo dan meminta bantuan padanya. Ternyata ... baik Aldo maupun Bapak yang tadi jadi ojek online itu, memberitahu warga. Sementara Raka, dialah yang membawa polisi sungguhan polisi dan mobil ambulance. Membuat ketakutan itu mudah terurai dan sang pelaku cepat teringkus. Tapi, sayang, Ashha .... "Sha, bangun, Sha. Bangun ..." Dia tak sadarkan diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD