Rembulan mengambil salah satu buku di rak sains. Matanya menyapu ke seluruh rak, memilih buku-buku yang akan dibacanya saat ini. Tadi, Pak Susanto selaku guru fisika memberikan tugas karena beliau harus menghadiri acara seminar di sekolah lain. Jadi, di sinilah kelas Rembulan berada, di perpustakaan yang mengharuskan mereka mengejakan di sana agar lebih mudah dipantau oleh penjaga perpustakaan. Begitu kata Pak Susanto.
Rembulan sudah santai karena dia sudah selesai mengerjakan tugasnya dengan mudah. Meski memang beberapa nomor membuat Rembulan sedikit kesulitan dan lupa dengan rumus, tapi tidak membuat Rembulan menyerah. Rembulan mencari-cari referensi buku-buku yang bisa dijadikan rujukan untuk mencari rumus fisika. Sedangkan teman-temannya yang lain masih sibuk mengerjakan tugas di meja perpustakaan.
Kepala Rembulan celingukan mencari suara decakan dan u*****n yang terdengar di telinganya. Rembulan mencari sumber suara dan mendapati Iren tengah kesulitan menjangkau buku yang posisinya di atas kepalanya. Rembulan mendengar Iren meringis beberapa kali mengingat kemarin dia terjatuh saat pengambilan nilai lari estafet pelajaran olahraga.
Lutut dan telapak tangannya berdarah. Terlebih yang Rembulan dengar bahwa lututnya sedikit robek saat Iren dibawa ke UKS kemarin. Melihat Iren yang masih kesulitan dan terlihat menyerah karena tidak sampai menggapai buku di atas, Rembulan menghampiri Iren dan mengambil buku yang semula hendak Iren ambil.
Iren terkejut bukan main mendapati Rembulan menyodorkan buku ke hadapannya. Namun, sedetik kemudian dia mendengkus.
"Nggak usah sok baik deh, Lan. Nggak usah berlagak mau dikasih ucapan makasih sama gue. Gue nggak butuh bantuan lo, gue tahu lo cuma sok baik. Gue tahu lo pasti ngetawain gue kemarin, kan." Iren mengibaskan tangan, belum menerima buku yang disodorkan oleh Rembulan. "Nggak usah munafik!" ujar Iren lalu berjalan tertatih membuat Rembulan mengejarnya.
"Ren! Gue nggak ngerti apa yang lo omongin." Rembulan mengerjapkan matanya. Tangannya masih terangkat menyodorkan buku di hadapan Iren. "Gue cuma mau bantu ambil buku ini buat lo aja." Rembulan membaca judul buku yang tertera. "Paket fisika. Lo butuh ini untuk ngerjain soal, kan?" tanya Rembulan membuat Iren menghela napas.
Dengan cepat Iren menarik buku yang disodorkan oleh Rembulan. Iren kembali melangkah, tapi suara Rembulan membuatnya terpaksa menghentikan langkahnya.
"Ren!" panggil Rembulan.
"Apaan sih?" tanya Iren malas, tapi dia tetap berbalik menunggu apa yang akan dikatakan oleh Rembulan.
"Kaki lo ... udah mendingan?" tanya Rembulan hati-hati. Sedangkan Iren hanya mengangkat bahu. Sebelum Iren kembali melangkah, Rembulan bicara lagi. "Lo kenapa benci banget sama gue, Ren?" tanya Rembulan menatap Iren yang tengah mendengkus setelah mendengar pertanyaan Rembulan.
Itu adalah pertanyaan retorik yang Rembulan lontarkan kepada Iren. Seharusnya Rembulan memang sudah tahu bahwa sikap Iren yang membencinya adalah bentuk bahwa Iren iri dengan Rembulan yang selalu meraih peringkat pertama. Namun, Rembulan tidak habis pikir, mengapa Iren terus-menerus membencinya? Rembulan hanya ingin berteman baik tanpa ada permusuhan. Sedangkan Iren sepertinya sama sekali tidak ingin memikiki hubungan pertemanan yang baik dengan Rembulan.
"Kenapa lo nanya ke gue?" Iren mengernyitkan kening, menatap Rembulan dengan sinis. "Lo nggak nyadar emang, Lan?" balas Iren, kentara sekali dengan wajahnya yang tak ramah menjawab pertanyaan Rembulan.
"Ren—"
"Lo nggak nyadar kalau lo udah merebut apa yang seharusnya bisa gue dapatkan. Lo sama sekali nggak kasih kesempatan ke gue buat show up. Seolah-olah semuanya harus tertuju sama lo, Lan." Beruntung di dekat rak sains hanya ada mereka berdua karena teman-temannya yang lain masih sibuk mengerjakan soal. "Gue nggak ngerti apa yang ada di kepala lo, Lan. Setiap kali gue berusaha, lo selalu mematahkan apa udah gue usahakan. Lo selalu pengin jadi yang pertama, Lan." jelas Iren dengan suara menahan marah.
"Tapi, Ren, kenapa lo sebegitu bencinya sama gue sih?" tanya Rembulan lagi. Dia hanya ingin memastikan asumsinya selama ini dibenci oleh Iren.
Iren tersenyum miring, menatap Rembulan lekat-lekat. "Karena lo pintar. Dan, gue benci itu!" balas Iren sarkas.
Usai mengatakan itu, Rembulan terdiam membiarkan Iren berjalan tertatih meninggalkannya. Rembulan sudah menduga dan ternyata dugaannya selama ini benar. Iren membencinya karena Iren iri dengan kemampuan Rembulan. Lantas, apa yang harus Rembulan lakukan agar Iren mau berteman baik dengannya? Mengapa Iren tidak mau bersaing secara sehat dengan Rembulan dan menerima apa pun yang sudah terjadi dalam hidupnya?
Jangan salahkan Rembulan karena dia juga berusaha keras. Namun, mengapa teman-temannya selalu saja memiliki banyak alasan untuk tidak mau berteman dengan Rembulan? Apa yang salah dengan Rembulan?
***
Sudah satu minggu Rembulan melaksanakan misi yang Yura dan Pita berikan. Namun, hanya beberapa misi yang berhasil dijalankan Rembulan. Seperti berangkat ke sekolah jalan kaki, tapi pulang sekolah Rembulan akan memilih naik angkutan umum karena lelah. Rembulan juga sudah menahan diri untuk tidak makan malam di jam yang telah ditentukan, tapi porsi makannya masih belum ideal untuk seseorang yang sedang proses mengurangi berat badan.
Beberapa kali Pita mengabsen misi yang berhasil Rembulan jalankan dan berakhir mendapat helaan napas panjang dari Pita dan Yura. Mereka sudah mencoba banyak cara untuk membantu Rembulan. Namun, sepertinya Rembulan kesulitan untuk menjalankan semua misinya.
"Ternyata lo bisa mengalami hal sulit juga, ya, Lan." ujar Pita menopang dagunya ke meja. "Gue kira, orang pinter kayak lo bakalan mudah semuanya. Ternyata nggak gitu, ya." Pita menghela napas gusar, menggelengkan kepalanya.
"Ta, setiap manusia itu diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Porsi kita nggak akan bisa sama. Kayak lo sama Rembulan punya otak yang berbeda. But sorry to say, lo sama Rembulan juga punya perbedaan. Lo makan banyak, tapi tetep aja kurus. Beda sama Rembulan. Iya, kan, Lan?" tanya Yura meminta persetujuan dari Rembulan.
Rembulan sedang sibuk menikmati jajanannya pun jadi mengangguk. Dia menelan makanan di mulutnya sebelum berbicara. "Tiap orang itu punya privilege-nya masing-masing. Gue sama kalian nggak akan sama. Begitu pun lo berdua, masing-masing akan berbeda. Tapi, kan, manusia selalu lihat yang bedanya aja. Yang kelihatan mencolok, itu yang biasanya diomongin jadi pandangan masyarakat sekitar." jawabnya lalu kembali menikmati jajanan yang tadi dia beli di kantin.
"Lan,"
Obrolan ketiganya terhenti ketika mendapati Mina, teman sekelasnya, menghampiri meja mereka. Mina menyodorkan buku ke hadapan Rembulan. "Lo, kan, pinter, bisa bantuin gue nggak ngisi soal yang ini?" tanya Mina membuat Yura dan Pita saling pandang.
Rembulan membaca soal di buku yang Mina berikan. "Gue coba, ya, Na. Gue kasih rumusnya aja. Nanti lo yang ngerjain biar lebih paham." Rembulan mengambil alih buku Mina setelah meletakkan jajannya ke meja. Rembulan mulai menjelaskan materi dan soal yang ditanyakan oleh Mina membuat Yura dan Pita kembali saling pandang. Mereka hanya bisa menghela napas sembari mengangkat bahunya. "Kalau ini nggak bisa pake cara substitusi, Na. Ini harus pake cara yang tadi kita pelajari pas jam matematika. Lo nyatet nggak?" tanya Rembulan mendongak melihat Mina.
Mina menggeleng. "Nggak, Lan, males soalnya kebanyakan." jawab perempuan jangkung itu dengan santai. "Lo pasti nyatet, kan? Gue boleh pinjem nggak, istirahat kedua gue balikin." ujar Mina membuat Rembulan mengerjap.
"Oh ... boleh." Rembulan dengan cekatan mengambil buku dari dalam tasnya, memberikannya kepada Mina yang langsung diterima oleh perempuan itu. "Gue udah tulis lengkap sih di buku. Lo lihat aja cara-caranya di sana." tunjuk Rembulan pada buku yang diberikannya kepada Mina.
Mina mengangguk, menutup bukunya setelah merasa cukup dengan penjelasan Rembulan yang mudah dimengerti. "Thanks, Lan." ucap Mina tersenyum.
"Sama-sama." Rembulan kembali fokus dengan jajanannya ketika Mina sudah pergi dari mejanya. Rembulan menoleh mendapati Yura dan Pita yang geleng-geleng kepala. "Kenapa?" tanya Rembulan menatap Yura dan Pita bergantian.
"Lan, lo itu terlalu baik." ucap Pita menghela napasnya. "Lo itu dimanfaatin, Lan. Sadar dong, sekelas ada baiknya ke lo karena ada maunya. Kenapa lo malah welcome-welcome aja sama mereka dan bantuin mereka? Padahal mereka aja nggak pernah peduli sama lo, bahkan lihat lo aja nggak mau, Lan. Emang mereka pernah ngajak lo temenan? Atau seenggaknya ke kantin bareng kek, apa kek. Kayak kemarin tuh pas pembagian kelompok olahraga, nggak ada yang peduli sama lo, Lan. Inget aja mereka nggak. Apalagi si Mina," Pita memutar bola matanya jengah mengingat bagaimana kemarin Rembulan dilupakan begitu saja oleh teman-teman kelasnya. "Kemarin aja dia nggak mau sekelompok sama lo, kan?" tanya Pita menghela napas panjang.
"Iya, Lan. Lo baiknya jangan keterlaluan gitu dong. Maksudnya, jangan terlalu welcome sama mereka yang butuh bantuan lo. Mereka cuma manfaatin lo aja, Lan." tambah Yura membuat Rembulan berhenti mengunyah dan menelannya.
"Kenapa? Gue emang tadi ngelakuin apa sih?" tanyanya bingung. "Gue, kan, cuma ngasih tahu cara yang Mina minta dan ngasih pinjem buku aja. Nggak ada yang istimewa, kok." balas Rembulan mengangkat bahunya.
"Lan," Yura menarik napas panjang. "Justru itu, mereka datang di saat lo bisa diandalkan. Mereka datang di saat butuh aja." ucap Yura menatap Rembulan serius.
"Emang manusia, kan, selalu datang di saat butuh aja. Kalau lagi susah, baru nyari orang yang bisa diandalkan. Kalau udah senang, begitulah, kacang lupa kulitnya." Rembulan mengangkat bahunya masa bodo.
"That's point, Lan. Itu maksud gue. Itu, kan, lo udah tahu. Tapi kenapa masih welcome aja?" Pita gemas sendiri dengan Rembulan. Dia tahu bahwa Rembulan memang baik kepada siapa saja, tapi Pita hanya tidak ingin jika Rembulan hanya dimanfaatkan kebaikannya oleh teman-teman yang lain.
"Ta, Ra," Rembulan menatap Yura dan Pita bergantian. "Apa salah gue bantuin temen yang kesulitan? Gue nggak apa-apa kok. Kalau mereka kesulitan dan gue bisa bantu, why not?" Rembulan mengangkat alis, menarik napas sebelum kembali berbicara. "Gue nggak bisa nolak permintaan orang yang minta bantuan ke gue. Gue nggak masalah kalau seandainya mereka lupa sama apa yang udah pernah gue bantu. It's okay. Gue ikhlas bantuin karena gue percaya balasannya itu akan datang nggak harus dari orang yang pernah kita bantu aja. Setiap perbuatan itu pasti ada balasannya. Entah itu dari siapa pun, gue yakin selalu ada hal baik kalau gue mau melakukan hal baik." jelas Rembulan panjang lebar. Menatap kedua temannya meminta pengertian seolah mengatakan bahwa dia tidak apa-apa.
"Tapi zaman sekarang, baik aja nggak cukup, Lan. Sekarang lebih mementingkan good loking, good rekening, good segalanya. Baik aja nggak cukup di mata orang-orang." protes Yura yang mendapat anggukan antusias dari Pita.
"Terlalu baik juga kadang nggak baik, Lan." ucap Pita menjentikkan jarinya di hadapan Rembulan.
"Lho, kenapa kalau kita baik selalu ada nggak baiknya?" Rembulan menatap teman-temannya bergantian. "Selalu ada hal baik untuk orang yang baik. Terlalu baik, gue rasa gue nggak begitu baik. Cuma gue berusaha untuk menjadi baik, apa pun caranya." jelas Rembulan lagi. "Gue tahu kok rasanya ketika butuh sesuatu, tapi nggak ada yang bantuin. Makanya itu juga jadi salah satu alasan kenapa gue bantuin Mina tadi. Gue tahu rasanya ketika nggak ada yang nolongin, Ta, Ra. Rasanya nggak enak, kan?" tanya Rembulan menatap Yura dan Pita bergantian.
"Lan," panggil Pita seraya menegakkan tubuhnya. "Gue nggak tahu hati lo sebaik apa. Gue juga nggak tahu kenapa orang-orang selalu memandang fisik daripada hati yang tulus? Hati lo cantik, Lan. Dan jarang ada orang yang punya hati cantik. Mungkin semua orang bisa berlomba-lomba mempercantik wajah, merias dirinya. Tapi kadang mereka juga lupa untuk mempercantik dan merias hatinya." jelas Pita setelah menarik napas panjang sebelum berbicara.
"Ta, lo bijak tumben banget? Mentang-mentang lo suka nulis. Kesambet apaan lo barusan, Ta?" tanya Yura yang berhasil membuat Rembulan tertawa.
***