Part 11

2077 Words
"Eh, apaan nih rame-rame?" Pita mengambil roti dalam kantung plastik yang dia beli di kantin tadi seraya memerhatikan keadaan kelas yang ramai di jam istirahat. Pita membelah kerumunan teman kelasnya menuju papan tulis. "Pembagian kelompok lari estafet buat jam pelajaran terakhir, kan, olahraga." jawab Mina, teman satu kelasnya yang tadi sibuk menunjuk papan tulis. Mulut Pita membentuk huruf O, dia mengecek namanya yang berada di kelompok tiga. "Kok gue di kelompok tiga?" tanyanya kepada siapa saja yang ada di sana. "Lo sama gue, Ta. Soalnya, kan, lo kalau lari cepet. Biar kelompok kita dapet nilai paling bagus." Mina menaik-turunkan alisnya. Perempuan yang memiliki tubuh jangkung dan kurus itu rupanya memiliki strategi. "Gue kelompok mana?" Yura dan Rembulan menghampiri Pita. "Sekelompok bareng sama lo nggak, Ta?" tanya Yura kepada Pita yang masih sibuk memerhatikan nama-nama teman yang berada satu kelompok dengannya. Pita menggeleng, mengurungkan niatnya untuk memakan roti setelah tahu bahwa dia berada dalam satu kelompok dengan Iren. Rasanya benar-benar memuakkan. Baiklah, Pita akui bahwa Iren memang pintar dalam segala hal. Namun, apakah pintar saja cukup jika tidak memiliki rasa sopan santun sedikit pun? Tak sedikit yang mengeluh hanya karena ingin satu kelompok dengan Iren—karena selain pintar akademik, Iren juga pintar olahraga, mulai dari lari, volly, badminton, dan beberapa bidang olahraga lainnya meski tidak semua. "Yah, kita nggak sekelompok nih?" tanya Yura, matanya membaca deretan teman yang akan menjadi satu kelompoknya untuk mata pelajatan olahraga hari ini. "Nggak. Males banget deh gue sekelompok sama Nenek Lampir." cerocos Pita mendengkus sebal, matanya melihat Iren yang tengah berbincang dengan teman-teman lain di dekat meja guru. "Nenek Lampir?" tanya Yura yang langsung diangguki Pita dengan malas. Seketika Yura menahan tawanya setelah membaca nama-nama kelompok Pita. "Sabar, ya, Ta. Hidup ini ujian." ujar Yura terkekeh melihat ekspresi Pita. "Sabar ... sabar ...," Pita menarik napas berulang kali, matanya masih membaca tulisan di papan tulis—entahlah siapa yang menulisnya, paling juga sekretaris kelas atau sekretaris dadakan. "Eh, Lan, lo di kelompok mana?" tanyanya pada Rembulan yang masih sibuk menatap papan tulis. "Nggak tahu, nama gue kok nggak ada?" Rembulan justru sibuk mencari namanya. Membaca satu per satu nama yang tertera di papan tulis, takut-takut jika ada yang terlewatkan. "Apa belum ketulis?" tanyanya bingung. "Iya, Lan. Nama lo nggak ada." Mata Pita sampai harus menyipit untuk memastikan keberadaan nama Rembulan. "Woi!" teriak Pita yang langsung membuat teman-teman di sekitarnya jadi menoleh. "Ini kok nama Rembulan nggak ada? Apa belum ketulis?" tanya Pita yang membuat sekelas mendadak hening. "Siapa yang nulis?" Mata Pita tertuju pada Iren yang kini berjalan mendekat seraya memerhatikan papan tulis. "Lo yang nulis, Ren?" tanya Yura ketika Iren masih membaca tulisan di papan tulis. Iren mengerutkan kening, menggeleng. "Bukan gue." Iren melipat tangannya di d**a, mengibaskan tangan di depan Rembulan. "Gue, kan, udah sering bilang kalau Rembulan itu dibutuhinnya cuma bagian pelajaran eksak aja. Mana ada temen-temen yang mau sekelompok sama dia kalau bukan cuma mau memanfaatkan otaknya doang. See? Pelajaran olahraga materi lari estafet, nggak ada yang mau sekelompok sama Rembulan. Kelompoknya pasti kalah kalau ada Rembulan. Jelas nggak ada yang mau. Badan gendut kalau lari, kan, susah." jelas Iren. Telak. Perkataan Iren barusan berhasil menancap dengan tepat di ulu hati Rembulan. Bagaikan belati, hati Rembulan tersayat perih. Rembulan tidak mengerti mengapa teman-temannya tidak mau berada dalam satu kelompok yang sama dalam pelajaran olahraga. Rembulan tahu bahwa dia memiliki tubuh overweight. Lantas, salahkah jika Rembulan juga ingin berusaha mendapatkan nilai dalam materi lari estafet? Beberapa teman-teman yang lainnya justru tertawa setelah mendengar perkataan Iren. Ada juga yang memilih diam, pura-pura tidak tahu dan tidak mendengar. Sudah yang ke sekian kalinya. Seharusnya Rembulan tidak perlu bertanya mengapa namanya tidak ada. Toh, seperti yang sudah-sudah, nama Rembulan selalu terlupakan dalam pembagian kelompok mata pelajaran olahraga. "Gue yakin, ini semua pasti lo yang nulis, kan, Ren? Lo—" "Bukan Iren, Ta. Tadi gue yang nulis." Ucapan Pita terhenti ketika Desi si sekretaris kelas baru saja memunculkan batang hidungnya. "Kok nama Rembulan nggak ada, Des?" tanya Yura, sesekali melirik Iren yang tersenyum puas. Rembulan lebih banyak diam. Ketika dirinya dipojokkan, hanya Pita dan Yura yang mau membelanya, melindunginya. Bukan Rembulan tak ingin melawan atau bersuara, hanya saja dia sudah terlalu lelah. Bertahun-tahun mengalaminya, Rembulan benar-benar lelah dengan apa yang harus dia terima. Tentang orang-orang yang hanya memanfaatkan kepintarannya saja. "Eh, emang, ya?" Desi menoleh melihat ke arah papan tulis. "Gue nggak ngeuh, Lan. Sori, ya. Ini juga bebas kelompoknya. Soalnya Pak Wawan ngebebasin kita buat milih kelompok masing-masing, nggak diatur gitu, Ta. Jadi, anak-anak pada sibuk pengin sekelompok sama si ini, sama si itu. Gue cuma kebagian nulis aja." ucap Desi yang tidak ingin terlibat lebih jauh karena murni, dia hanya menuliskannya saja. "Ini, ada sekelompok yang kurang satu. Lo masuk sini nggak apa-apa, ya, Lan?" tanya Desi menunjuk kelompok terakhir. "Iya, nggak apa-apa, Des." Hanya kalimat itu yang selalu Rembulan ucapkan. Yura dan Pita saling pandang, seolah mengerti bagaimana perasaan Rembulan saat ini. "Kata lo, kelompoknya bebas, kan, Des? Gue sama Yura maunya sekelompok sama Rembulan. Bisa, kan?" tanya Pita yang membuat sekelas hening. "Kenapa harus diganti-ganti sih?" tanya Iren memutar bola matanya jengah. "Lebay banget cuma pisah kelompok aja udah berasa pisah benua lo pada. Ini itu udah rapi, kalau diganti lagi nanti acak-acakan. Lagian, emangnya lo mau dapet nilai jelek di pelajaran olahraga, Ta?" tanya Iren kepada Pita yang menatapnya tak suka. "Harus lo inget juga dong, temen lo itu pinternya di bidang eksak. Kalau nggak dibantu nilai lain, susah dia. Olahraga aja nilainya kecil." "Terus masalahnya buat lo apa, Ren? Ini yang nuliskan Desi, bukan lo. Lagian, suka-suka kamilah mau bareng mau nggak. Toh, Pak Wawan ngizinin kita milih kelompok secara bebas kok." balas Yura jengkel dengan ucapan Iren. Tidak habis pikir dengan Iren. Bisakah dia sehari saja bersikap santun dan tidak mencari masalah dengan Rembulan? "Emang lebay kalian cuma pisah kelompok aja udah kayak—" "Kenapa, Ren?" tanya Rembulan setenang mungkin. "Lo iri karena nggak punya temen yang setia kawan kayak Pita dan Yura, Ren?" balas Rembulan menatap Iren. Tatapannya berusaha untuk tenang meski sebenarnya hatinya sesak. *** Jam pelajaran olahraga dimulai. Seluruh siswa diperkenankan untuk melakukan pemanasan sebelum olahraga dimulai. Yura, Pita dan Rembulan berada dalam satu barisan. Setelah perdebatan beberapa jam yang lalu, akhirnya mereka bisa berada dalam satu kelompok yang sama. Pak Wawan selaku guru olahraga mulai memberikan arahan dan instruksi mengenai pengambilan nilai materi lari estafet—karena minggu sebelumnya, mereka sudah diberikan materinya. Jadi, minggu ini khusus pengambilan nilai saja. "Panas banget, ya?" keluh Pita mengibaskan tangannya. Mengusap peluh di dahinya yang menetes. "Kenapa jadwal olahraga kelas kita kebagiannya siang coba? Nggak adil banget sama yang kebagian jadwal pagi." Pita mendengkus, suara Pak Wawan sudah tidak lagi menjadi fokusnya saat ini. Terik panas matahari membuat siapa saja yang ada di lapangan merasa gerah. Keringat membanjiri tubuh mereka. Namun, Pak Wawan tetap bersemangat dan memberikan semangat kepada murid-muridnya. "Bapak tahu cuacanya sangat terik sekali. Tapi, penilaian harus tetap berjalan dengan baik. Ayo, semangat, Anak-anak!" Pak Wawan menepuk kedua tangannya dua kali, lalu beliau menyuruh muridnya untuk bergabung dengan masing-masing kelompok yang sudah dibuat. Pita, Yura, Rembulan dan tiga teman sekelasnya yang lain menjadi kelompok terakhir. Ada Adera, Ahmad, dan Baim. "Nanti lo lari yang cepet, ya, Lan." ujar Baim kepada Rembulan di sebelahnya. "Bisa, kan?" tanya Baim. "Insya Allah, gue usahain bisa kok, Im." balas Rembulan, matanya kembali fokus melihat satu per satu kelompok yang sudah mulai menjalankan tugasnya. Kelompok satu, mereka menjadi pusat perhatian karena sebagai contoh dan kelinci percobaan dalam pengambilan nilai kali ini. Awalnya, Baim dan Ahmad hanya saling pandang ketika tahu berada dalam satu kelompok dengan Rembulan. Mereka pikir bahwa mereka harus membuat strategi untuk pengambilan nilai terbaik dalam materi kali ini. Pasalnya, ini bukan sesuatu yang biasa saja. Pak Wawan menjamin nilai terbaik mendapatkan nilai 98. Mendekati sempurna bukan? Meski memang nilai bukanlah segalanya, tapi apakah salah jika ingin mencoba memberikan yang terbaik? Giliran kelompok tiga, yakni kelompok Iren yang membuat Pita dan Yura mendengkus melihat perempuan itu berdiri di garis awal. "Kita lihat aja deh, bisa apa sih dia?" Pita melipat tangannya di d**a dengan mata yang masih fokus memerhatikan Iren. Ketika peluit Pak Wawan sudah berbunyi, lari dimulai. "Biasa aja, kan, ya, Ra, Lan?" tanya Pita pada Yura dan Rembulan di sebelahnya. "Jangan gitu, Ta. Gue akui, Iren emang pinter, kan, kalau olahraga. Volly, badminton, dia aja bisa. Apalagi cuma lari—" Belum sempat Rembulan menyelesaikan ucapannya, tawa menggema membuat Rembulan ikut mengalihkan perhatian teman-temannya yang lain. Iren yang semula berlari menuju teman sekelompoknya tiba-tiba saja jatuh dengan posisi tengkurap karena menginjak tali sepatunya sendiri. Yura dan Pita benar-benar puas menertawakan Iren. "Ngakak sumpah! Padahal beberapa jam yang lalu dia baru aja nyombongin diri sendiri. Lan, menurut lo kayak gitu jago olahraga?" Tawa Pita masih menghiasi wajahnya yang kian memerah. Di tengah lapangan, wajah Iren benar-benar memerah menahan malu sekaligus sakit di lutut dan telapak tangannya. Iren dibantu oleh teman-teman satu kelompoknya ketika Pak Wawan menghentikan permainan mereka. Iren berjalan tertatih dibantu oleh Mina dan Tiara. Pita dan Yura masih berusaha menahan tawanya ketika Iren melewati kelompok mereka begitu saja. "Bilangnya tadi lo jago olahraga, Ren? Kok jatoh sih?" tanya Pita menahan tawanya. "Nginjek tali sepatu sendiri." Pita tertawa terpingkal-pingkal. "Mukanya merah tuh, Ren. Malu, ya?" Pita benar-benar puas menertawakan Iren, sama halnya dengan Yura dan teman-teman yang lain ketika melihat ekskpresi wajah Iren. "Makanya jangan sombong dulu, Ren! Jatoh, malu, kan!" seru Yura, sedangkan Rembulan ikut menahan tawanya. Iren hanya menunduk sembari berjalan. Pak Wawan menyuruhnya untuk segera ke UKS untuk diobati agar tidak ada yang infeksi. Sementara kelompok Iren menunda permainan, dilanjutkan dengan kelompok-kelompok berikutnya. Rembulan beberapa kali menanyakan bagaimana tip dan trik agar permainan berjalan mulus kepada Baim dan Ahmad. Meski rasanya akan sulit, tapi Baim dan Ahmad tetap menjelaskannya. Bagimanapun mereka berada dalam satu kelompok yang sama dan mengharuskan kerja keras satu tim. Giliran kelompok terakhir yang dipanggil. Mereka menjadi pusat perhatian karena ada Rembulan di sana. Di kelasnya, hanya Rembulan saja yang memiliki tubuh overweight. Teman-temannya memiliki tubuh standar dan ideal. Rembulan mendadak panik ketika Bintang melewati lapangan dan matanya menoleh ke arah kelompoknya. Meski Rembulan yakin bahwa Bintang tidak melihat ke arahnya, tapi tetap saja melihat keberadaan Bintang berhasil membuat Rembulan mendadak terkena serangan gugup. "Lan, fokus!" seru Pita dari jarak beberapa meter ketika mengetahui bahwa Bintang melewati lapangan. "Fokus, Rembulan!" teriaknya lagi yang langsung diangguki oleh Rembulan. Rembulan menarik napas panjang ketika mendapat aba-aba dari Pak Wawan. Rembulan meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia pasti bisa. Terlebih teman-teman satu kelompoknya yang Rembulan yakini pasti sangat membantu nilai mereka. "Sedia! ... Siap! ... Mulai!" Peluit Pak Wawan terdengar nyaring membuat permainan segera berlangsung. Semua mata tertuju pada permainan. Terlebih ketika giliran Rembulan yang berlari untuk memberikan tongkat pada pelari terakhir. Yura dan Pita berseru heboh meneriaki nama Rembulan, menyemangati Rembulan yang tengah berlari dengan jarak beberapa meter. "Ayo, Rembulan! Gue yakin lo pasti bisa!" Yura meletakkan kedua tangan di sisi mulutnya, meneriaki nama Rembulan. "Ayo, Lan! Ayooo, dikit lagi!" Yura mendadak menjadi supporter untuk Rembulan. "Ayo, Lan! Ahmad, siap-siap!" teriak Pita ketika Rembulan hampir saja sampai di garis dekat Ahmad yang sudah ancang-ancang menerima tongkat dari Rembulan. "Fokus, Mad!" Tidak butuh waktu lama, Rembulan dengan sempurna memberikan tongkat estafet kepada Ahmad sebagai pelari terakhir. Ahmad hanya butuh waktu sebentar saja hingga di akhir finish. Seharusnya lari estafet ini dilakukan secara bersamaan dengan kelompok lain. Namun, Pak Wawan menginginkan konsep yang lain untuk memudahkannya menilai siswa yang sudah mengerti permainan atau belum secara utuh. Selain itu, Pak Wawan juga membutuhkan penilaian waktu yang paling cepat dan tepat sasaran. Jadi, Pak Wawan menyuruh satu per satu kelompok yang memulai permainan. Tepukan tangan terdengar ketika permainan sudah usai dengan baik. Rembulan menghela napas lega, setidaknya dia sudah mencoba untuk memberikan yang terbaik. Beberapa kali Rembulan mengatur napanya yang tersengal karena lelah berlari, tapi dia tersenyum ketika Yura dan Pita menghampirinya. "Bagus, Lan!" Yura dan Pita bertepuk tangan seraya tersenyum lebar. "Keren!" ujar mereka bersamaan seraya mengangkat jempolnya. Seru Yura dan Pita bersamaan, mereka melakukan high five bergantian seolah-olah baru saja menenangkan pertandingan. Padahal mereka belum tahu hasil nilainya berapa. "Gue bilang juga apa, kan, lo pasti bisa, Lan." seru Pita menepuk pundak Rembulan berkali-kali. Menyemangati temannya agar tidak pesimis lagi. Rembulan tersenyum lebar, menatap Yura dan Pita bergantian. "Makasih, ya, Ta, Ra." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD